PKS = Partai Kelamin Sejahtera

Partai Kontol Sejahtera
Partai Kontol Stress
Partai Kontol Seributiga
Partai Kontol Socmed
Partai Kontol Sepi
Partai Kontol Sedih
Partai Kontol Semilir
Partai Kontol Siluman
Partai Kontol Sangek
Partai Kontol Setan
Partai Kontol Silit
Partai Kontol Sakti
Partai Kontol Sembrono
Partai Kontol Sekali
Partai Kontol Sedunia
Partai Kontol Sedikit
Partai Kontol Selet
Partai Kontol Sholat
Partai Kontol Sekali
Partai Kontol Sial
Partai Kontol Sundelan
Partai Kontol di-Sunat
Partai Kontol Sapi
Partai Kontol Sipilis
Parte Kontol Semua
Peler Kontol Semua
Pria Kontol Sedang
Posisi Kontol Salah (Mlengsong)
Puki Kontol Sipilis
Peler Kontol Semua
Partai Kenthu Sejahtera
Partai Kimpet Semua
Pornsite Kegemaran Sejatinya
Partai Kentot Sejahtera
Prosetan Kontolik Sesat
Pantat Kena Sodomi
Partai Kelamin Sejahtera
Partai Kelamin Sosial
Partai Kelamin Sakti
Partai Kelamin Sekali
Partai Kelamin Sarap
Partai Kelamin Signifikan
Partai Kelamin Sejati
Partai Kelamin Sekenn
Partai Kelamin Sange
Partai Kelamin Secend
Partai Kelamin dan Sekitarnya
Pariporno Kelamin Sejahtera
Parte Kelamin Sejahtera
Penjahat Kelamin Serikat
Partai Kelamin dan Surga
Partai Kelaminnya Samar-samar
Partai Keranjingan Syahwat
Partai Keinginan Syahwat
Pejuang Kesejahteraan Syahwat
Partai Kelamin dan Seks
Partai Kelamin Suka seks
Partai Kehidupan Sex
Partai Kerjaannyanya kok ngeSex
Partai Kelamin n Seks
Partai Kepentingan Seks
Partai Kehidupan Seks
Pemuja Kontol dan Seks
Pak Kontol Satu centi kali
Partai Kemaruk Seks
Partai Keblinger Seks
Partai Kentot Seks
Partai Kentot Sejahtera
Penjahat Kelamin Semua
Penjahat Kelamin Sejati
Penjahat Kelamin Selalu
Penjahat Kelamin Sekali
Partai Kutu Selangkangan
Partai Keranjingan Selangkangan
Partai Kesejahteraan selangkangan
Partai Kesenengannya Selangkangan
Partai Khusus Selangkangan
Partai Keadilan Selangkangan
Partai Kemaruk Selangkangan
Partai Korupsi dan Selangkangan
Partai Kesejahteraan Selangkangan
Pikirin Kenikmatan Selangkangan
Partai Kepentingan Selangkangan
Partai Keblinger Selangkangan
Piawai Kobok-kobok Selangkangan
Pikirin Kenikmatan Selangkangan tok
Pencinta Kekuasaan dan Syahwat
Pemuja Kelamin dan Syahwat
Partai Kumpulan Setan
Partai Kelompok Setan
Partai Kesurupan Setan
Partai Koplaxx Setan
Partai Kepala Setan
Partai Kayak Setan
Partai Keluarga Setan
Partai Kroninya Setan
Partai Kemasukan Setan
Partai Kerabat Setan
Partai Kebangkitan Setan
Partai Kaum Setan
Partai Kesatuan Setan
Partai Kesambet Setan
Partai Keadilan Setan
Partai Kyai Setan
Partai Kaya Segera
Partai Kiriman Setan
Partai Keluarga Setan
Partai Kristen Setan
Partai Kontol Setan
Partai Kemesraan Setan
Partai Kontule Setan
Partai Kemenangan Setan
Partai Kawan Setan
Partai Kesurupan Setan
Partai Kumpulan Setan
Partai Kemaksiatan Setan
Partai Kebangkitan Setan
Partai Koalisi Setan
Partai Kemunafikan Setan
Partai Kesejahteraan Setan
Partai Kemasukan Setan
Partai Kesatuan Setan (Benarkah PKS pro rakyat Indonesia?)
Preman Kerasukan Syetan
Partai Kesurupan Syetan
Partai Kader Syetan
Pengikut Kaum Syetan
Partai Kerabat Syaiton
Partai Kumpulan Syaithon
Partai Kerasukan Syaithon
Partai Kenthut Syaithon
Partai Koalisi Syaithon
Partai Kiriman Syaiton
Pesugihan Kaum Santri
Pesugihan Kaum Sarungan
Pesugihan Kaum Saudian
Partai Kawin Siri
Partai Kawin Selalu
Partai Kelompok SHomoseksual (maksa dikit)
Pelacur Kampung Semua
Perempuan Kerudung Sperma
Perilakunya Kadang Sembarangan
Pengumpul Kotak Setoran
Pikiran Khas Sontoloyo
Penodong Kekuasaan Semata
Pengkhianat Kami semua
Punya Kesan Sombong
Partai Keluarga Saud
Partai Kesukaan Soeharto
Partai Keluarga Suharto
Partai Kurma Saudi?
Prennya Keluarga Soeharto
Partai Komunis Sejati
Partai Komunis Sejahtera
Partai Komunis Sosialis
Partai Komunis Sekali
Partai Kapitalis Sekuler
Partai Khusus Santri
Partai Korupsi Sejahtera
Partai Koruptor Serakah
Partai Kotor Sekali
Partai Kafir Sekali (banyak kader PKS yang hafal Al qur’an tapi punya pimpinan kaya SETAN)
Partai Kemaksiatan Sejahtera
Partai Kebathilan Sejati
Partai Kasihan Sekali
Partai Keblinger Sekali
Partai Kental Syariah
Partai Kurang Sensual
Partai Kenyang Sabda
Partai Kantong Sampah
Partai Kebanyakan Sujud
Partai Kurang Susu
Partai Kelebihan Sholat
Partai Kurang Sejahtera
Partai Kebanyakan Spanduk
Partai Keranjang Sampah
Partai Klaim Sekali
Partai Kasian Sekali
Partai makan Kenyang Sekali [sehari? seminggu? sebulan?]
Partai Kebingungan Sekali
Partai Kambingers & Jilbabers Sejahtera
Partai Kontroversial Sekali
Partai Kebanyakan Singkatan
Poligami yuk Ketimbang Selingkuh
Partai Keterlaluan Sekali (Elitenya suka jilat ludah sendiri)
Partai Keenakan Slalu (selalu nunut menang)
Partai Kejar jabatan dan Sejahtera
Partai Kasep Sekali
Partai Koleng Sementara (Koleng=Linglung; kenapa Sementara? Karena Kader PKS masih berharap banyak utk partai ini)
Partai Kesen Sekali
Partai Kampungan Sekali
Partai Konyol Sekali
Partai Kemunafikan Sejahtera
Partai Kemunafikan Sejati
Partai Kemunafikan Sekali
Partai Kegedean ambiSi
Partai munafiK Sejati
Partai munafiK Sekali
Partai Kaum Sampah
Partai gaK Sejahtera
Partai Kita Semuakah?
Partai soK Suci
Partai Kedekut Sangat
Partai Kentut Sontoloyo
Partai Kedalam Sempak
Pesona Kolor Salibis
Partai Kartunis Sejahtera
PKS! PKS! PSK! PSK!!
Partai Sex dan Kelamin
ARIFINTO=PKS=SELANGKANGAN
PKS=“Hizbusy Syaithan”, artinya Partai Syetan
PAJERO = Pasukan Jenggot Rosul
PKS=PSK=Penjaja Sex Komersial

***

Seluruh singkatan di atas mengacu kepada PKS atau Partai “Keadilan Sejahtera” yang bisa dengan mudah ditemukan di dunia maya. Postingan ini merupakan yang ke-20 yang ditampilkan di blog ini mengenai rencana pelaksanaan Kongres Kebudayaan Minangkabau 2010 atau yang dikenal sebagai KKM 2010 oleh para patriarch Minangkabau seperti Saafroeddin Bahar dan Mochtar Naim. KKM 2010 telah berganti nama menjadi Seminar Kebudayaan Minangkabau Gebu Minang (SKM GM) yang telah dilaksanakan beberapa bulan yang lalu.

Dari singkatan-singkatan yang dibuat oleh banyak orang Indonesia, sudah jelas terbaca apa yang ada di pikiran orang-orang ketika mendengar atau membaca singkatan PKS yaitu segala hal yang berhubungan degnan kelamin laki-laki, perilaku mengumbar syahwat dan bahkan sebutan Setan. Banyak anggota PKS, para simpatisan PKS termasuk para Hidayat Nur Wahidis termasuk ke dalam orang-orang dan kelompok-kelompok di dalam dan di luar masyarakat Minangkabau yang berkehendak dan berupaya untuk menghancurkan budaya Minangkabau yang menurut mereka “tidak Islami“, “jahiliyah” dan sebutan lainnya yang dimaksudkan untuk penistaan  seperti sebutan “Yahudi“. Singkatan-singkatan di atas juga menggambarkan dengan jelas  bagaimana posisi orang-orang maupun simpatisan PKS yang telah memberi sebutan kepada budaya Minangkabau dengan sebutan “jahiliyah” ini di mata masyarakat Indonesia.

Postingan di atas juga berkenaan dengan perbuatan-perbuatan biadab kaum Padri sekitar 200 tahun yang lalu, terhadap orang Minangkabau dan budaya Minangkabau, serta usaha-usaha penghancuran dan patriarkalisasi budaya Minangkabau yang berlangsung secara terus menerus, yang sudah dimulai jauh-jauh hari sebelum masa kaum Padri dan yang masih terus berlanjut sampai sekarang. Kini usaha-usaha itu menjadi semakin intensif dan memiliki beragam motif; mulai dari penghancuran dan penjinakan masyarakat Minangkabau oleh bapak-bapak penguasa Republik Indonesia atau para patriarch Republik Indonesia sampai kepada soal-soal seperti penerapan Syariat Islam, kekhalifahan Islamiyah, arabisasi, arab-saudisasi maupun peng-Islam-an orang Minangkabau lebih lanjut yang dianggap belum menjalankan “Islam yang benar”, “orang Minangkabau dan budaya Minangkabau yang Jahiliyah” dan lain-lain ungkapan penistaan terhadap budaya Minangkabau dan orang Minangkabau.

Meet Minangkabau Girls

Below are some pictures of Minangkabau girls in traditional costume. Nowadays, traditional Minangkabau clothing is worn mostly in adat ceremonies or on formal occasions such as weddings.

Slideshow:
Fullscreen:

Rosihan Anwar: Rangkayo Rasuna Said Ditahan

Membaca sumber-sumber dokumen Belanda dahulu niscaya menambah pengetahuan kita mengenai sejarah. Misalnya surat Jaksa Agung Verheijen kepada Gubernur Jendral De Jonge, dari Medan, tanggal 23 Juli 1933. Dalam surat itu Verheijen mengatakan, ia bersikukuh pada pendirian agar larangan mengadakan rapat (vergader verbod) dilaksanakan di Sumatra Barat. Apa alasannya? Karena di Sumatra Barat telah begitu banyak pemimpin dibina. Mereka dengan mudah mengambil alih tugas pemimpin yang tua-tua, sebab hampir tiap orang Minang pintar berbicara dan mempengaruhi massa. Argumentasi lain yang tidak boleh dianggap sepele ialah apabila dibandingkan dengan daerah lain, kaum perempuan di Sumatra Barat sangat menaruh perhatian terhadap pergerakan serta perkembangan politik. Perempuan mengobar-ngobarkan gerakan politik. Perempuan terkadang lebih hebat daripada kaum laki-laki.

Tokoh-tokoh seperti Rasuna Said dan Rasimah Ismail sama sekali tidak sedikit. Pada banyak rapat kaum perempuan merupakan mayoritas. Kerap kali mereka berpidato dengan lebih tajam dan lebih bersemangat dibandingkan dengan kaum lelakiPemerintah Hindia-Belanda melihat kemungkinan kesulitan yang lebih besar di masa datang, sehingga jika perlu melarang seorang perempuan berbicara di sebuah rapat. Di antara pembicara-pembicara perempuan itu tentu ada yang keras kepala dan mengambil sikap membangkang. Lebih-lebih sering dicontohkan tentang India yang melawan pemerintah kolonial secara pasif dan tanpa kekerasan, sebagaimana diajarkan oleh Mahatma Gandhi. Pendapat pejabat Belanda itu jelas menunjukkan bahwa Belanda menaruh hormat terhadap kaum perempuan Minangkabau yang berperan dalam gerakan politik.

Rasuna Said yang dipanggil Kak Una, anggota pimpinan Permi yang diketuai oleh Haji Moechtar Loetfi, tercatat sebagai pendiri sekolah Thawalib di Padang. Rasuna Said, yang lahir pada 1910, pada usia 23 tahun dihukum oleh Belanda, dimasukkan dalam penjara Semarang. Ia baru bebas ketika Perang Dunia II pecah tahun 1939. Di zaman Jepang ia berada di Sumatra Barat dan di zaman Republik pindah ke Jawa menjadi anggota Badan Pekerja KNIP, kemudian anggota Parlemen RI. Dari 1959 hingga 1965, saat ia meninggal dunia, Kak Una menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung RI. Tatkala dipenjarakan tahun 1933 Rasuna Said didatangi oleh Controleur BB di Tanah Batak (Balige) dan di ranah Minang (Payakumbuh), Dr. Daniel van der Meulen, yang membujuknya agar ia meninggalkan pergerakan nasionalis dan keluar dari Permi. Van der Meulen sesungguhnya melakukan brainwashing atau cuci otak terhadap Rasuna. Hasilnya nol. Kak Una, perempuan Minang yang garang itu, tidak bisa ditundukkan.

Dalam memoarnya, Hoort jij die donder niet? (Apakah Anda tak dengar bunyi petir itu?) yang terbit tahun 1977, Dr. Daniel van der Meulen, yang pernah menjadi Asisten Residen di Palembang dan Makasar, menuturkan lebih jauh percakapannya dengan Rasuna Said. Rasuna adalah guru sekolah menengah Islam di Padang Panjang yang dipimpin oleh Rahmah el-Yunussi, dengan jumlah pelajar perempuan lebih dari 1.000 orang. Sebagai pemimpin Permi, Rasuna biasa berpidato berapi-api menentang kekuasaan Pemerintah Hindia-Belanda. Untuk membungkamnya, pemerintah kolonial terpaksa menangkap Rasuna Said.

Controleur Van der Meulen, yang melakukan pemeriksaan atas Rasuna Said, tiap malam bercakap-cakap dengan perempuan ini di dalam selnya. Ia mengorek kehidupan Rasuna, yang menikah dengan rekannya, guru di sekolah yang sama. Mereka mempunyai seorang putri. Tapi perkawinan mereka tidak bahagia.

Rasuna, karena perbuatan Anda sendiri, Anda akan dihukum. Saya akan mengajukan hal-hal yang meringankan. Usia Anda masih muda, Anda berbakat pidato, wajah Anda elok, tetapi semua ini tidak akan mencegah penghukuman. Pakailah waktu untuk berpikir mengenai kegagalan-kegagalan Anda. “Usahakan berbuat sesuatu yang baik, dan janganlah kembali ke jalan politik,” demikian ujar Van der Meulen.

Rasuna tak bisa dibujuk untuk menyerah. Ia dihukum dan masuk penjara perempuan di Semarang.

Kini di Jakarta, di daerah Kuningan, ada jalan Rangkayo Rasuna Said. Sebagai kenang-kenangan kepada seorang perempuan Minangkabau yang bergerak di bidang politik melawan pemerintah kolonial Belanda.

***

Tulisan mengenai Rasuna Said di atas ditampilkan di blog ini dalam rangka mengenang orang Minang, wartawan senior Indonesia yang dikenal dengan nama  Rosihan Anwar, yang baru saja meninggal dunia. Tulisan dari Beliau ini bisa dibaca langsung dalam bukunya Sejarah Kecil “Petite Histoire” Indonesia Jilid I. Buku ini juga memuat sejarah kecil-sejarah kecil lainnya dari banyak daerah di Indonesia termasuk peristiwa-peristiwa seperti perang Aceh, RMS Maluku dan Timor Timur. Buku ini sangat layak menjadi bacaan orang-orang yang ingin  mengetahui Indonesia lebih jauh serta mereka yang berminat dalam bidang sejarah pada umumnya.

Tulisan ini saya peruntukkan untuk para Bundo Kanduang Minangkabau yang telah berjasa dalam membangun kebudayaan, dalam mendidik anak-anak menjadi orang yang berjiwa merdeka dan peduli terhadap masyarakat, yang telah berjuang melawan kekuasaan penjajah dan para patriarch dunia dan yang telah membangun hubungan dalam rumah gadang dan kaum.

Disamping itu, tulisan ini juga ditujukan untuk para Bundo Kanduang-Bundo Kanduang lain di Indonesia dan seluruh dunia yang dipanggil dengan sebutan Inong, Inang, Bunda, Ibu, Buk’e, Simbok, Umi, Mama, Omak, Mande, Mandeh, Mother, Amma, Amai, Amak, Mamak, Mami, Mamih, Induak, Induah, Mutter, Mutti, Ande, Madre, Maika, Maman, Mom, Mère, Mommy, Um dan Mata. Ini hanyalah sebagian saja dari nama-nama yang dipakai untuk menyebut perempuan yang telah mengandung dan melahirkan seluruh manusia yang ada di dunia ini.

Rasuna Said, sebagaimana umumnya perempuan Minangkabau lainnya, menunjukkan sifat perempuan Minang yang cerdas, keras hati dan pemberani, tingginya kepedulian mereka kepada masyarakat serta kemampuan dan kemauan perempuan Minangkabau pada umumnya dalam memimpin keluarga dan masyarakat.

***

Cerita mengenai Rasuna Said ini merupakan tulisan ke-19 di blog ini mengenai rencana pelaksanaan Kongres Kebudayaan Minangkabau 2010 atau yang dikenal sebagai KKM 2010 oleh para patriarch Minangkabau seperti Saafroeddin Bahar dan Mochtar Naim. KKM 2010 telah berganti nama menjadi Seminar Kebudayaan Minangkabau Gebu Minang (SKM GM) yang dilaksanakan beberapa bulan yang lalu.

Kisah di atas juga berkenaan dengan perbuatan-perbuatan biadab kaum Padri sekitar 200 tahun yang lalu, terhadap orang Minangkabau dan budaya Minangkabau, serta usaha-usaha penghancuran dan patriarkalisasi budaya Minangkabau yang berlangsung secara terus menerus, yang sudah dimulai jauh-jauh hari sebelum masa kaum Padri dan yang masih terus berlanjut sampai sekarang. Kini usaha-usaha itu menjadi semakin intensif dan memiliki beragam motif; mulai dari penghancuran dan penjinakan masyarakat Minangkabau oleh bapak-bapak penguasa Republik Indonesia sampai kepada isu-isu seperti penerapan Syariat Islam, kekhalifahan Islamiyah, arabisasi, arab-saudisasi maupun peng-Islam-an orang Minangkabau lebih lanjut yang dianggap belum menjalankan “Islam yang benar”, “orang Minangkabau dan budaya Minangkabau yang Jahiliyah” dan lain-lain ungkapan penistaan terhadap budaya Minangkabau dan orang Minangkabau.

Kisah dari Rasuna Said, salah seorang perempuan Minangkabau, memberikan gambaran yang baik mengenai bagaimana budaya matriarkal Minangkabau membentuk perempuan. Keberanian serta kemandirian dari kaum perempuan Minangkabau inilah yang hendak dirusak oleh para patriarch Minangkabau selama ini yang menginginkan kaum perempuan Minangkabau menjadi perempuan-perempuan yang tunduk sepenuhnya di bawah kaki laki-laki dan berlaku sebagai budak laki-laki di rumah sebagaimana layaknya perempuan-perempuan dari budaya patriarkal di seluruh dunia seperti perempuan Batak, perempuan Jawa, perempuan Sunda, perempuan Bali, perempuan Lombok, perempuan Bugis, perempuan Papua, perempuan India, perempuan Cina, perempuan Jepang,  perempuan Arab dan perempuan Barat.

Kisah kehidupan dari seorang Bundo Kanduang yang bernama Rasuna Said ini merupakan salah satu dari rangkaian tulisan di blog ini yang khusus membahas mengenai perempuan-perempuan Minangkabau beserta karya-karya mereka maupun kiprah mereka dalam keluarga dan masyarakat termasuk dalam bidang politik, perjuangan nasional dan perjuangan melawan para patriarch dunia.

***

Baca juga tulisan-tulisan berikut ini mengenai perempuan Minangkabau lainnya:

Silek

Silek is the name of Minangkabau martial arts. It is popularly known in Indonesia and the Malay World as Silat. Even though it is wrongly considered as sports, it is to the Minangs much more than just mere “sports”. It is one of the most important aspects of Minangkabau culture and serves as methods for individual self-defence and self-development. Its training serves as an arena for entertainment, “sports” and socializing. It is usually performed at night, since it is quiet and deemed the best time for other activities other than daily work. Minangkabau dances and theatre performance (Mk. randai) are based on and largely incorporate Silek movements.

Many famous Minangkabau personalities like Tan Malaka, Gusmiati Suid and Inyiak Upiak Palatiang were trained in Silek during their childhood as part of their education. Many Minangs teach Silek in many regions in the Malay world and Europe. Many Silek students founded their own Silek schools and styles and spread the teachings to other parts of the world like United States and Africa. Gusmiati Suid, an important figure in Indonesian contemporary dance and the founder of the Gumarang Sakti dance company, used Silek movements as the basis for her choreography. Inyiak Upiak Palatiang, aged 106, is a Minang Silek mistress who is famous in the Silat world for being the world’s oldest pandeka (Silek or Silat master) and the defender of the Minangkabau tradition. And yet she still carries out her daily activities ranging from being a farmer, a midwife, a singer of Minangkabau folk songs and a saluang player (Minangkabau traditional flutes) regularly.

The first video from youtube below shows a Minangkabau Silek pandeka and teacher at the Silek school known as Silek Sentak which he founded and leads in Vienna, Austria. His partner in this performance is his daughter who is also a Silek pandeka and teacher. The second video shows Sofyan Nadar, another Minangkabau Silek pandeka of the styles known as Silek Bayang and Silek Sunua, presenting some Silek movements to some Silat students in France.

Nurliswandi Piliang: Rosihan Sakit dan Penyakit Wartawan

Wartawan senior Rosihan Anwar kini dirawat di rumah sakit. Usia telah membuat fsisiknya kini renta. Namun integritas dan kepribadian serta kegigihannya membaca, tauladan bagi  semua wartawan, juga bagi masyarakat luas.

Di menjelang pukul 06 pagi  pada 11 April 2011. Bubu, cocker spaniel berbulu coklat, anjing peliharaan kami seakan paham bahwa tuannya ingin mampir di rumah nomor 13, Jl Surabaya, Jakarta Pusat. Dia menuntun saya menghampiri rumah kediaman Rosihan Anwar, wartawan senior, kini sedang terbaring sakit di RS Harapan Kita. Tak terasa, sudah lima hari ini kami tinggal bertetangga berjarak tiga rumah saja.

Sebuah palem botol  dua kali tinggi orang dewasa, batangnya tak lagi gemuk  ke tengah. Tujuh daun di bagian atas mengkerut ciut. Di bawah pelepah kecil, butiran buah, bakal palem baru, bermunculan. Seakan  mewartakan  bahwa generasi baru harus mengambil peran melanjutkan hidup dan kehidupan.

Saya bertanya kepada seorang pemuda berpakaian batik printing merah putih tampak merawat taman kediaman Rosihan.  Apakah Pak Rosihan masih sakit?

“Masih Mas. Ia masih  dirawat di rumah sakit Harapan Kita.”

“Sudah berangsur membaik.”

Majalah TEMPO 14-20 Maret menulis Memoar tentang Rosihan.  Di wawancara itu terlihat sekali bagaimana Rosihan kini sudah sulit berbicara panjang. Beberapa kali wawancara TEMPO, harus terhenti, karena Rosihan harus menghirup oksigen selalu tersedia di kediamannya.

Di saat membaca TEMPO,  ingatan saya melayang kepada  wartawan senior TEMPO, almarhum Budiman S. Hartoyo.  Sosok Budiman berbadan kecil,  seukuran badan Rosihan, lebih muda, sudah duluan berpulang pada 11 Maret 2010 lalu. Rosihan yang acap menulis obituari tidak sempat menuliskan sosok Budiman. Saya menulis Sketsanya.

Saya masih ingat ketika enam tahun lalu berdua Budiman sowan ke Rosihan.  Sebagai pendiri Persatuan Wartawan Indonesia Reformasi (PWI-Reformasi), Budiman, mengenalkan saya  yang menjabat Ketua Umum kala itu.

Kami berbincang tentang penyakit wartawan di era reformasi kini.

Kepada dua orang sosok senior itu, saya menghinakan diri saya  suka salah menulis ejaan. Terkadang di menyatakan tempat masih saya tulis  dimuka, seharusnya di muka.

Lebih parah lagi,  kerendahan hati membaca, sebelum menulis juga kurang. Akibatnya, menulis menjadi datar, pengetahuan menjadi mediocare. Di era digital pula,  berita instan menggila. Akibatnya kemampuan reportase, khususnya dalam mendeskripsi,  vital mengantarkan seseorang menjadi penulis feature bahkan literair handal,  bukan lagi syarat mutlak.

Kenyataan ini menjadi suatu pengingkaran; mengingat medium online mampu menampung beribu kata dalam satu naskah; dapat sebagai ujian menulis  penulis, agar pembaca berminat  terus mengikuti tulisan hingga habis.

Belum lagi kemampuan berbahasa asing. Sosok seperti Rosihan menguasai lebih dari tiga bahasa asing. Ini terjadi akibat  sistem pendidikan di jaman Belanda, mengharuskan siswa menguasai lebih dari satu bahasa asing. Selain Belanda, Inggris, Jerman, bahkan latin.

Kini bahasa Inggris saja saya pah-poh. Apatah pula berbahasa Belanda, Jerman, Perancis. Sehingga berdiri di depan rumah Rosihan pagi ini: saya seakan dicibirkan oleh palem botol yang daunnya dikibas angin.

Wartawan juga sosok gaul.  Dengan pergaulan, mengantarkannya memiliki wisdom tentang kehidupan; karena ia berada di masyarakat dari berbagai lapisan. Wartawan harus mencium anyir got butek di Jl. Surabaya, menuliskannya, bertanya ke Pemda DKI, mengapa hingga kini got-got di Jakarta mampet? Bukankah surga di mana air mengalir?

Bertanya adalah satu tugas wartawan.

Kerendahan hati bertanya, mengantarkan kepada pengumpulan fakta, data, cerita apa adanya.

Masih ingat obrolan kami bertiga  bagaimana wartawan harus tetap menjaga integritasnya, tidak menerima uang dari sumber berita.  Baik amplop apalagi transfer ke rekening.

“Yang lebih memprihatinkan saya, wartawan kini menganut jurnalisme ludah,” ujar Budiman kala itu

“Artinya tidak melakukan verifikasi, verifikasi dan verifikasi, asal kutip.”

Di ranah wawasan bermasalah.  Kerja instan. Menerima angpao menjadi target: itulah setidaknya kongklusi  penyakit wartawan yang sempat kami bahas.

Hari ini, penyakit itu  tidak kian berkurang.

Di banyak daerah wartawan sudah menjadi bagian kekuasaan. Sebaliknya  jika mereka  berbuat dengan idealisme pers, fisik wartawan,  berhadapan  dengan ancaman kematian. Tuntutan hidup; keadaan lapangan; membuat  wartawan sejati seperti sosok Rosihan, bagaikan barang langka.

Entah karena kelangkaan itulah, agaknya, Rosihan bersikukuh membela para pedagang barang antik di sepanjang ruas Jl Surabaya agar tidak diugusur Pemda. Walaupun kekerapatan warga, umumnya pendatang baru, pernah berencana mengusulkan menggusur pedagang barang antik  kawasan itu, agar property  mereka  bernilai lebih tinggi harganya.

Saya pernah menulis Sketsa mendukung sikap Rosihan  terhadap pedagang barang antik itu. Di ranah kehidupan kini  segalanya ditakar  dengan materi, kemuliaan hidup, kabajikan, wisdom seakan tak bernilai.

Hingga pada kata wisdom itulah  jika kawan-kawan bertanya soal mengapa kalimat pejabat publik termulia di negara, seperti kalimat Ketua DPR Marzukie Ali, acap melukai hati warga yang mendengar?

Saya dengan sederhana menjawab: Bapak ketua DPR itu sosok yang pintar bersekolah, hingga master bahkan kini  doktor (atau paling tidak mempersiapkan gelar doktor). Ia anak orang berada. Bisnis  pribadinya pun sempat maju. Lalu ia masuk partai politik. Tiada yang kurang.

Lantas di mana minornya? Di bahasa saya, Ketua DPR itu kurang gaul. Ia tidak acap berdiskusi dan merasakan variasi dan manca-ragam ranah kehidupan. Ia belum pernah merasakan bagaimana sulitnya mencari seliter beras untuk dimakan hari ini.

Jika ranah kehidupannya, cuma kampus, rumah, lalu mutar begitu rutin, akibatnya hidup  kurang berwarna. Sehingga giliran beropini, kehilangan rasa, apakah kata dan kalimat yang diucapkan pantas dan patut. Di sinilah inti persolan.

Sehingga bagi Rosihan, sosok wartawan adalah makhluk yang hidup dan berkehidupan  sangat berwarna.  “Bila tidak bagaimana pula dia mewarnai kehidupan publik menuju meningkatnya mutu peradaban?” tegas Rosihan.

Maka ketika membaca TEMPO yang memuat memoarnya, saya menyimak penuturannya ketika  7 Juli 1949 menjemput Panglima Besar Soedirman bersama Letkol Soeharto. Ia deskripsikan bagaimana perjalanan bersama Land Rover yang disetir Soeharto yang diam sepanjang perjalanan.  Seingat Rosihan, Soeharto hanya mengucapkan kata, “Ayuk minum degan.” Soeharto menawarkannya minum kelapa muda.

Yang tidak dituliskan TEMPO ihwal itu adalah, bagaimana penuturan Rosihan di bukunya, bahwa, sesampai di Jogja, ia melihat sosok pejabat seperti Soeharto sudah berbaju putih baru, sementara  Soedirman turun dari gerilya dengan baju yang sama. Sama degan ketika dia berangkat bergerilya.

Maka sesuai dengan penuturan cucu pertama Soedirman, Ganang Soedirman kepada saya, Rosihan pernah menulis bahwa, “Panglima Soedirman sosok yang jujur pada sejarah. Ia pulang dan pergi dengan baju yang sama.”

Maksud  kalimat Rosihan itu adalah, Panglima Besar itu tetap sosok manusia biasa, Jenderal rakyat yang merakyat.

Hingga kalimat inilah saya menilai, sikap kerakyatan itu yang kini seakan hilang di lintas ranah birokrasi dan trias politika kita. Sampai pada kongklusi ini, Bubu anjing tua kami, barulah  beranjak dari pagar besi abu-abu kediaman Rosihan, sosok langka sosialis, peduli pada human dignity.  Dalam skala kepedulian sosial itu, secara fisik  kini rasanya saya kian dekat saja dengan Rosihan.

***

Tulisan dari Nurliswandi Piliang atau yang lebih dikenal dengan nama Iwan Piliang ini ditampilkan di blog ini dalam rangka mengenang orang Minang, yang dikenal sebagai wartawan senior Indonesia, Rosihan Anwar, yang baru saja meninggal dunia. Tulisan dari Iwan Piliang ini bisa dibaca langsung di Kompasiana. Kunjungi juga blog dari saudara Iwan Piliang di sini, di sini dan di sini.

Nurliswandi (Iwan) Piliang, blogger literair, maju untuk  Pilgub DKI 2012, di jalur independen.

Tan Malaka: Communism and Pan-Islamism

This is a speech presented by Tan Malaka from the Simabua clan at the Fourth Congress of the Communist International in November 12, 1922 to refute the theses drafted by Lenin, the leader of the fundamentalist factions of  “the communist atheism“, on the struggle against Pan-Islamism Tan Malaka was the chairman of PKI (the Communist Party of Indonesia) and barely 25 years old at the time. He argued for a cooperation between the Communists and the oppressed Muslim people. On the contrary, Lenin argued for militant atheism or fundamentalist atheism. It was of course denied.

***

Comrades! After hearing the speeches made by General Zinoviev, General Radek and other European comrades, and having regard to the importance, for us in the East as well, of the question of the united front, I think that I have to speak up, in the name of the Communist Party of Java, for the thousands of millions of the oppressed peoples of the East.

I have to put a few questions to the two generals. Perhaps General Zinoviev was not thinking about a united front on Java; perhaps our united front is something different. But the decision of the Second Congress of the Communist International means in practice that we have got to form a united front with revolutionary nationalism. Given, as we must recognise, that forming a united front is necessary in our country too, our united front cannot be with Social Democrats but has to be with revolutionary nationalists. But tactics used by the nationalists against imperialism very often differ from ours; take, for instance, the boycott and the Muslim liberation struggle, Pan-Islamism. These are the two forms which I am particularly considering, so I ask the following questions. First, are we to support the national boycott movement or not? Second, are we to support Pan-Islamism, yes or no? If yes, how far are we to go?

The boycott, I must admit, is certainly not a Communist method, but it is one of the sharpest weapons available in the situation of politico-military subjugation in the East. Within the last two years we have seen the success of the Egyptian people’s 1919 boycott against British imperialism, and again of the great Chinese boycott at the end of 1919 and the beginning of 1920. The most recent boycott movement has been in British India. We can take it that in the next few years other forms of boycott will be employed in the East. We know that it is not our method; it is a petty bourgeois method, something that belongs to the nationalist bourgeoisie. We can say more; that the boycott means support for home-grown capitalism; but we have also seen that following on the boycott movement in British India, there are now eighteen hundred leaders languishing in jail, that the boycott has generated a very revolutionary atmosphere, indeed that the boycott movement actually forced the British government to ask Japan for military assistance, in case it should develop into an armed uprising. We also know that the Mahommedan leaders in India Dr. Kirchief, Hasret Mahoni and the Ali brothers – are in reality nationalists; we had no rising to record when Gandhi was arrested. But people in India know very well what every revolutionary there knows: that a local rising can only end in defeat, because we have no weapons or other military material there, hence the question of the boycott movement will, now or in the future, become a pressing one for us Communists. Both in India and in Java we are aware that many Communists are inclined to proclaim a boycott movement on Java, perhaps because Communist ideas emanating from Russia have been so long forgotten, or perhaps because there was such an unleashing of Communist feeling in British India as could challenge the whole movement. In any case we are faced with the question: Are we to support this tactic, yes or no? And how far can we go?

Pan-Islamism is a long story. First of all I will speak about our experiences in the East Indies where we have cooperated with the Islamists. We have in Java a very large organisation with many very poor peasants, the Sarekat Islam (Islamic League). Between 1912 and 1916 this organisation had one million members, perhaps as many as three or four million. It was a very large popular movement, which arose spontaneously and was very revolutionary.

Until 1921 we collaborated with it. Our party, consisting of 13,000 members, went into this popular movement and carried out propaganda there. In 1921 we succeeded in getting Sarekat Islam to adopt our programme. The Islamic League too agitated in the villages for control of the factories and for the slogan: All power to the poor peasants, all power to the proletarians! So Sarekat Islam made the same propaganda as our Communist Party, only sometimes under another name.

But in 1921 a split occurred as a result of clumsy criticism of the leadership of Sarekat Islam. The government through its agents in Sarekat Islam exploited this split, and it also exploited the decision of the Second Congress of the Communist International: Struggle against Pan-Islamism! What did they say to the simple peasants? They said: See, the Communists not only want to split, they want to destroy your religion! That was too much for a simple Muslim peasant. The peasant thought to himself: I have lost everything in this world, must I lose my heaven as well? That won’t do! This was how the simple Muslims thought. The propagandists among the government agents exploited this very successfully. So we had a split. [Chairman: Your time is up.]

I have come from the East Indies, and travelled for forty days. [Applause.]

The Sarekat-Islamists believe in our propaganda and remain with us in their stomachs, to use a popular expression, but in their hearts they remain with the Sarekat Islam, with their heaven. For heaven is something we cannot give them. Therefore, they boycotted our meetings and we could not carry on propaganda any more.

Since the beginning of last year we have worked towards re-establishing the link with Sarekat Islam. At our congress in December last year we said that the Muslims in the Caucasus and other countries, who cooperate with the Soviets and struggle against international capitalism, understand their religion better, and we also said that, if they want to make propaganda for their religion, they can do so, though they should not do it in meetings but in the mosques.

We have been asked at public meetings: Are you Muslims – yes or no? Do you believe in God – yes or no? How did we answer this? Yes, I said, when I stand before God I am a Muslim, but when I stand before men I am not a Muslim [loud applause], because God said there are many devils among men! [Loud applause.] Thus we inflicted a defeat on their leaders with the Qur’an in our hands, and at our congress last year we compelled the leaders of the Sarekat Islam, through their own members, to cooperate with us.

When a general strike broke out in March last year, the Muslim workers needed us, as we have the railwaymen under our leadership. The Sarekat Islam leaders said: You want to cooperate with us, so you must help us, too. Of course we went to them, and said: Yes, your God is powerful, but he has said that on this earth the railwaymen are more powerful! [Loud applause.] The railwaymen are God’s executive committee in this world. [Laughter.]

But this does not settle the question, and if we have another split we may be sure that the government agents will be there again with their Pan-Islamism. So the question of Pan-Islamism is a very immediate one.

But now one must first understand what the word Pan-Islamism really means. Once, it had a historical significance and meant that Islam must conquer the whole world, sword in hand, and that this must take place under the leadership of the Caliph, and the Caliph must be of Arabian origin. About 400 years after the death of Mohammed the Muslims split into three great states and thus the Holy War lost its significance for the entire Muslim world. It thus lost the meaning that, in the name of God, the Caliph and the Muslim religion should conquer the whole world, because the Caliph of Spain said, I am the true Caliph, I must carry the banner, and the Caliph of Egypt said the same, and the Caliph of Baghdad said, I am the real Caliph, since I am from the Arabian tribe of Quraish.

So Pan-Islamism no longer has its original meaning, but now has in practice an entirely different meaning. Today, Pan-Islamism signifies the national liberation struggle, because for the Muslims Islam is everything: not only religion, but also the state, the economy, food, and everything else. And so Pan-Islamism now means the brotherhood of all Muslim peoples, and the liberation struggle not only of the Arab but also of the Indian, the Javanese and all the oppressed Muslim peoples. This brotherhood means the practical liberation struggle not only against Dutch but also against English, French and Italian capitalism, therefore against world capitalism as a whole. That is what Pan-Islamism now means in Indonesia among the oppressed colonial peoples, according to their secret propaganda – the liberation struggle against the different imperialist powers of the world.

This is a new task for us. Just as we want to support the national struggle, we also want to support the liberation struggle of the very combative, very active 250 million Muslims living under the imperialist powers. Therefore I ask once again: Should we support Pan-Islamism, in this sense?

So I end my speech. (Lively applause).

***

More for Tan Malaka on The Tan Malaka Internet Archive & wikipedia.

Indonesia, the Minangkabau Republic

It cannot be deemed an overstatement to say that Indonesia is the Minangkabau Republic. Tan Malaka, a international communist leader of Minangkabau descent and the founder of the Republic Indonesia, was the first independence activist of the Netherlands Indies who wrote Naar de Republiek Indonesia (en. towards the Republic of Indonesia) in 1923. It was only 22 years afterward that other independence activists such as Sukarno, who is much more famous in the Western world than he, and Muhamad Hatta, another activist of Minang descent, proclaimed the independence of Indonesia, allegedly “without the presence of Tan Malaka” because he spent the most part of his time in jail and in exile.

Tan Malaka himself spent almost two decades in exile trying to avoid the arrest not only by the Dutch authorities but also by their allies. It was during his exile that he wrote the most part of his work. He played a significant and dominant role in linking the communist movement of Europe to the Asian anti-colonial movement. His writings and his life have been inspiring the Indonesian youth since the time of the struggle for the independence up to the present time. Reading or even keeping his books could cause an Indonesian student to go to jail during Suharto’s rule. His name was vilified during the Suharto’s era, and yet, the Indonesian students still tried to keep their spirit alive by reading and discussing his books (most of the time only copies of them) clandestinely.

The majority of the early political parties in Indonesia were founded by the Minangs. It includes among others PSI (Indonesian Socialist Party) founded by Sutan Syahrir, PARI (the Party of the Republic of Indonesia) and Murba (Communist Party) founded by Tan Malaka and Masyumi (a Islamic party) founded by Muhamad Natsir. Tan Malaka, Sutan Syahrir and Muhamad Natsir represented what the Western scholars term “left”, “center” and “right”. However, they still fought for the same cause, that is, the independence of Indonesia. This kind of constellation may seem strange for some people or even scholars coming from patriarchal culture but for the Minangs names or labels are just names, not something to cling to.

As mentioned before, the Minangs do not really care about names or labels. What counts for them is the purposes or obejectives of their activities and how they can achieve it. During the era of the communist movement in Indonesia, it was not uncommon in a family to have brothers or sisters, mothers and mothers’ brothers who held different beliefs ranging from Islam, communist (in most cases atheist), a little of everything or even nothing. Nonetheless, they still supported each other. A moslem member of the family who was more well-off than his/her relatives who were, say communist, would help these relatives for their relatives’ cause, namely “communism” without getting involved in it or even believing in it.

For the Republic of Indonesia, of which he was the founder, architect and defender, Tan Malaka had to meet his end by the bullets acquired for the Republic Indonesia. He was shot to death by the military officers of the Sukarno administration.

Many other Minangkabau personalities have played a significant and hence dominant role in the sociopolitical and cultural arena since the time of the development of the Indonesian national identity . Their role range from languange to literature, from film to journalism and press, from gastronomy to economy, and from politics to the shaping of the character of Indonesians. Alas, they had to succumb to power hungry, Japanese-backed Sukarno who ruled Indonesia for almost 20 years. Sukarno emerged as the sole “power” in the post-independence Indonesia by eliminating many influential Minang personalities from the political arena one by one, and therefore paved the way to one of the most brutal dictator of the 20th century, the West-backed General Suharto.

Malin Kundang

Cerita Malin Kundang yang menggambarkan seorang anak laki-laki yang durhaka kepada Ibunya merupakan cerita dari ranah Minang yang terkenal sampai ke luar alam Minangkabau. Cerita ini memiliki beberapa versi dan menimbulkan tanggapan yang bermacam-macam. Umumnya, tanggapan-tanggapan ini dipengaruhi oleh latar belakang budaya dari orang yang menanggapi cerita ini serta ketidaktahuan orang yang menanggapi akan sejarah dan kisah-kisah hidup di Minangkabau. Tanggapan yang paling keras berasal dari A.A. Navis yang membalikkan cerita Malin Kundang menjadi „sang Ibu yang kejam karena tega mengutuk anaknya menjadi batu“.

A.A. Navis adalah penulis yang terkenal di Sumatra Barat dan memiliki latar belakang bukan orang Minangkabau. A.A. Navis masuk ke ranah budaya Minangkabau lewat statusnya sebagai urang sumando. Urang sumando dalam budaya Minangkabau berarti laki-laki yang kawin dengan perempuan Minangkabau. Istilah ini mengacu baik kepada laki-laki Minangkabau maupun laki-laki bukan Minangkabau. Istilah ini berlaku bagi keluarga pihak perempuan. A.A. Navis, yang juga menulis mengenai surau serta „tradisi homoseksual di Minangkabau“ yang berbasis di surau ini, seperti kebanyakan orang bukan Minangkabau lainnya yang menulis tanggapan mengenai cerita Malin Kundang, menulis tanggapannya dari sisi pandang laki-laki dan dari sisi pandang ketidaktahuannya dan kemungkinan karena ketidakmautahuannya untuk mempelajari sejarah Minangkabau terutama mengenai laki-laki Minangkabau yang memang berlaku seperti Malin Kundang. Bisa dipahamai, mengapa A.A. Navis memiliki tanggapan yang berusaha meletakkan kesalahan ke pihak si Ibu. A.A. Navis banyak menulis cerita berlandaskan Islam yang mewakili nilai-nilai patriarkat masyarakat Arab, dan Islam merupakan pendorong yang paling utama anak laki-laki Minangkabau untuk durhaka kepada Ibunya.

Cerita Malin Kundang juga memiliki banyak gubahan, dengan maksud-maksud tertentu tentunya. Akan tetapi, cerita yang umumnya dikenal ditengah-tengah masyarakat Minangkabau adalah cerita dimana Malin Kundang dikutuk menjadi batu oleh Ibunya. Cerita tersebut memiliki alur sebagai berikut: Malin Kundang pergi merantau untuk waktu yang lama. Ia mengawani perempuan di rantau -dalam artian bukan perempuan Minangkabau-. Setelah waktu yang lama Malin Kundang pulang kembali kekampungnya. Melihat Ibunya yang tampak lusuh yang memperlihatkan dengan jelas kemiskinannya, Malin Kundang merasa malu kepada istrinya dan memilih untuk pura-pura tidak mengenal Ibunya. Ibunya ,yang sengsara menahan rindu kepada anaknya setelah sekian lama tidak bertemu dengan anaknya, merasa sedih luar biasa. Kemudian, kesedihannya yang tak terkira ini memiliki kekuatan untuk membuat anak laki-lakinya, Malin Kundang, menjadi batu.

Bagi orang yang tidak mengetahui bagaimana anak laki-laki Minangkabau memperlakukan Ibunya sepanjang sejarah, yang diketahui oleh orang Minangkabau karena selamat dari usaha-usaha penghilangan bukti-bukti sejarah , maka tanggapan seperti yang ditulis oleh orang luar Minangkabau seperti A.A. Navis adalah masih dapat dimengerti. Walaupun karya-karya A.A. Navis pada umumnya mewakili nilai-nilai patriarkal dalam Islam. Kemungkinan besar juga nilai-nilai patriarkal dari budaya asal A.A. Navis sendiri. A.A. Navis dengan klaimnya mengenai „adanya tradisi homoseksual laki-laki di Minangkabau“, yang disebut dengan „anak jawi“ menunjukkan bahwa dia adalah seorang yang mewakili nilai-nilai patriarkal dalam Islam. Istilah „anak Jawi“ adalah istilah khusus yang hanya dikenal di kalangan homoseksual di Sumatra Barat. Tradisi homoseksual ini erat hubungannya dengan tradisi Islam yang ada di ranah Minang seperti tradisi guru agama dengan muridnya di surau dan tradisi kesenian bernafas Arab di daerah Pariaman yang dikenal dengan nama Indang. Masyarakat Minangkabau sendiri tidak mengenal tradisi homoseksual. Istilah „anak jawi“ adalah istilah buatan dari kaum homoseksual yang berkembang lewat satuan-satuan budaya yang bernafaskan Arab/Islam. Istilah ini tidak dikenal luas sebelum A.A. Navis, entah disengaja entah tidak, memperkenalkannya ke orang Minangkabau. Walaupun begitu, tetap saja sampai hari ini, istilah ini tidak dikenal oleh rata-rata orang Minangkabau, kecuali mereka yang pernah bersentuhan dengan kelompok homoseksual laki-laki ini yang membanga-banggakan istilah „anak jawi“ tersebut. Oleh karena dalam budaya Arab/Islam homoseksualitas dikalangan laki-laki dan kebencian terhadap hubungan cinta antara laki-laki dan perempuan yang dikenal dengan sebutan „heteroseksualitas“ adalah hal yang umum, maka adalah hal yang wajar saja ketika tingkah laki serupa juga berlaku dikalangan orang Minangkabau yang lebih mewakili nilai-nilai Arab/Islam yang menjunjung tinggi homoseksualitas laki-laki daripada nilai-nilai budaya Minangkabau yang menjujung tinggi hubungan cinta kasih antara laki-laki dan perempuan. Oleh karena itulah, menjadi menarik untuk dibahas, dari siapa dan bagaimana sampai A.A. Navis mengenal istilah ini. Apakah dia melakukan wawancara dengan komunitas homoseksual di Sumbar ini, apakah dia berteman dengan salah seorang atau beberapa orang yang berasal dari komunitas ini atau apakah dia sendiri termasuk ke dalam komunitas ini karena pada umumnya, banyak laki-laki homoseksual yang tetap beristri walaupun tetap mempertahankan hubungannya dengan laki-laki di mana hubungan dengan laki-laki ini mempunyai tempat yang lebih tinggi daripada hubungannya dengan istrinya.

Sekarang kita kembali kepada cerita Malin Kundang. Sebagaimana banyak cerita-cerita dari ranah Minang yang lain, cerita Malin Kundang tidak diketahui siapa pengarangnya. Sebagaimana juga jenis kelamin serta asal-usul dan asal daerah pengarangnya yang juga tidak diketahui. Fenomena ini tidak hanya dikenal di ranah Minang melainkan di seluruh dunia. Cerita-cerita seperti ini yang juga dikenal sebagai „cerita rakyat“, pada umumnya berdasarkan kepada kenyataan. Jadi boleh juga dikatakan bahwa cerita ini mengandung nilai sejarah. Cerita ini tetap bertahan sampai sekarang ditengah-tengah masyarakat Minangkabau karena diceritakan secara terus-menerus dan turun-temurun. Setiap perkembangan baru mengenai ulah daripada anak laki-laki Minangkabau yang menistakan Ibunya dan tidak mau mengakui Ibunya, memperlihatkan kebenaran cerita ini.

Mungkin yang menjadi pertanyaan bagi banyak orang adalah, mengapa cerita seperti cerita Malin Kundang ada pada masyarakat Minangkabau sedangkan pada masyarakat lainnya, di Indonesia misalnya, tidak dikenal atau tidak ada. Sebenarnya jawaban dari pertanyaan ini adalah mudah saja. Masyarakat lainnya, adalah masyarakat-masyarakat patriarkal yang dapat digolongkan kedalam masyarakat yang baru atau sedang mengalami perubahan ke masyarakat patriarkal sampai kepada yang sudah tergolong ke dalam masyarakat patriarkal ekstrim. Di dalam masyarakat seperti ini, cerita seperti Malin Kundang, tidak dimungkinkan karena hal-hal berikut ini:

  1. Dalam masyarakat Minangkabau, anak laki-laki yang berlaku seperti Malin Kundang merupakan perkecualian, walaupun jumlahnya semakin hari semakin banyak. Oleh karena itu, cerita Malin Kundang masih mempunyai arti. Sedangkan dalam masyarakat patriarkal, seluruh anak-anak termasuk anak-anak perempuan pada umumnya sudah merupakan Malin Kundang. Jadi tingakah laku seperti Malin Kundang adalah hal yang wajar, hal yang biasa, sehingga tidak perlu lagi dibuat cerita khusus untuk itu, karena semua cerita sudah menceritakan tentang „Malin Kundang“.
  2. Dalam masyarakat lainnya, yang disebut masyarakat patriarkal, tingkah laku seperti Malin Kundang bukan merupakan sesuatu yang aneh. Tingkah laku dan tindak-tanduk seperti itu sudah diterima oleh seluruh anggota masyarakat. Cerita-cerita seperti Malin Kundang, tidak mempunyai arti karena Ibu juga tidak punya arti dalam masyarakat ini. Ibu hanya tinggal kata kosong tidak berarti. Anak adalah anak si bapak. Anak adalah „darah dan daging si Bapak“, walaupun kenyataannya tidaklah demikian. Ibu hanyalah mesin yang dipergunakan untuk „persemaian benih si bapak“. Ibu adalah sebutan kosong untuk pelayan bagi si bapak dan anak-anaknya terutama anak laki-lakinya. Ibu adalah orang yang bekerja mengepel lantai, memasak, menyetrika baju si bapak dan anak-anak si bapak dan melakukan pekerjaan lainnya sementara si bapak membaca koran dan anak laki-laki si bapak bermain play-stasion, walaupun si bapak dan si anak adalah orang-orang dewasa yang bisa mengerjakannya sendiri.

Dalam masyarakat patriarkal, seluruh anak-anak adalah Malin Kundang. Anak-anak tidak lagi mengakui Ibunya sebagai Ibunya. Mereka tidak mengakui Ibunya sebagai orang darimana dia berasal. Anak-anak tidak mengakui bahwa mereka adalah belahan tubuh dan jiwa dari Ibunya. Anak-anak tidak menyadari bahwa dalam proses pembelahan tubuh ini untuk menghasilkan manusia baru, si Ibu harus berhadapan dengan maut, karena untuk membelah diri dan menghasilkan manusia baru, itulah risiko yang harus dihadapi oleh mahluk yang membelahkan dirinya: yaitu menemui ajalnya. Dan untuk menekankan bahwa mereka „berasal dari bapak dan bukannya dari Ibu“, anak-anak ini mengukuhkannya dengan menaruh nama bapaknya atau nama suku bapaknya di belakang namanya. Ini dilakukan untuk menghapus bekas daripada manusia yang sebenarnya menghasilkan mereka, yang disebut dengan „Ibu“.

Dalam masyarakat patriarkal, anak-anak adalah pembunuh Ibu. Dalam masyarakat patriarkal Hindu atau yang berpandangan hidup Indo-Arya misalnya, anak laki-lakilah yang menyulutkan api kepada tumpukan kayu yang akan membakar „Ibunya“ hidup-hidup. Suatu upacara biadab yang di India dikenal sebagai Sati dan merupakan bentuk „pengabdian seorang istri kepada suaminya yang meninggal dunia“. Suami dalam pandangan hidup Hindu India, adalah merupakan Dewa dari sang perempuan yang mendapat sebutan istri. Ketika „sang Dewa“ pergi ke langit, maka sang perempuan penyembah Dewa harus ikut juga dengan Dewanya dengan cara dibakar hidup-hidup atau „membakar diri“.

Dalam masyarakat patriarkal, anak-anak memandang rendah Ibunya, karena Ibunya bukanlah „sumber uang“ atau „sumber nafkah“. Ibu dalam masyarakat patriarkal yang ideal, adalah perempuan yang hanya bekerja sebagai pelayan dalam lembaga bernama rumah tangga dan tidak diperbolehkan untuk mencari nafkah sendiri. Lembaga ini merupakan sebuah lembaga yang dikepalai oleh seorang laki-laki yang merupakan pencari nafkah tunggal. Karena itulah laki-laki yang berfungsi sebagai “kepala rumah tangga“, yang dipanggil bapak oleh „anak-anaknya“, adalah orang yang dipuja sebagai „sumber uang“, „sumber nafkah“ dan karenanya „sumber kehidupan“. Si Ibu, tidak memiliki nilai karena bukan „orang yang menjadi “sumber uang“ atau „sumber nafkah“. Oleh karena itulah, sangat penting dalam masyarakat patriarkal untuk menciptakan dogma-dogma , cerita-cerita dan aturan-aturan hukum yang membuat seorang perempuan menjadi sulit untuk menjadi pencari nafkah, agar „Ibu“ sebagai kata tetap tak memiliki arti dan kata „bapak“ menjadi sama artinya dengan „sang pemberi kehidupan“.

Dalam masyarakat patriarkal, anak-anak laki-laki tidak lagi mencium tangan Ibunya atau bersujud di pangkuan Ibunya, melainkan berdiri didepan Ibunya sebagai „pemimpin bagi Ibunya“ dalam ritual yang dinamakan shalat berjama’ah dalam tradisi Islam ataupun dalm ritual-ritual dari tradisi-tradisi agama-agama patriarkal lainnya yang serupa yang memang dirancang untuk merendahkan posisi Ibu di depan anak laki-lakinya dan untuk menghilangkan arti kata „Ibu“ dari hati dan kepala anak laki-laki.

Di dalam masyarakat patriarkal, Ibu tidak lagi menjadi orang bijak yang mengajarkan anak laki-laki tentang arti kehidupan dan cara menjalani hidup, melainkan hanyalah pelayan yang mengurus segala keperluan dari anak laki-laki tersebut seperti memasakkan makanan, menyetrikakan baju, mengepel lantai, membereskan rumah. Ibu bukanlah tempat mereka mencari nilai-nilai tentang kehidupan, oleh karena anak laki-laki mencarinya pada orang lain yang disebut „guru“, „ustad“, „lama“, „pendeta“, „kyai“, „da’i“ dan “rabbi”, walaupun sebagai imbalannya mereka harus menerima untuk disodomi dan menjadi budak seks daripada para laki-laki yang dalam masyarakat patriarkal memiliki tempat terhormat dan terpandang ini. Anak laki-laki lebih memilih untuk percaya kepada orang-orang yang mengajarkan mereka dogma-dogma untuk memunggungi Ibunya dan untuk menistakan Ibunya, untuk tidak mengakui bahwa Ibunya adalah sumber kehidupan baginya, dan untuk tidak lagi mengakui bahwa dari sang Ibulah mereka berasal. Oleh karena itulah, dalam masyarakat patriarkal terutama zaman dahulu, pengetahuan menjadi milik eksklusif kaum laki-laki yang merupakan patriarch yang utamanya dikenal dalam pandangan hidup Indo-Arya atau Indo-Iran sebagai kasta bahmana. Agar anak laki-laki tidak perlu belajar mengenai hidup kepada ibunya, perempuan dilarang untuk memiliki ilmu. Segala upaya dilakukan oleh para patriarch ini, termasuk pembunuhan dan pembantaian perempuan-perempuan berilmu, sehingga ilmu menjadi sesuatu yang akhirnya hanya dimiliki oleh para patriarch agama. Dan hanya merekalah yang mempunyai hak eksklusif untuk menjadi rujukan ilmu dari kaum laki-laki termasuk anak laki-laki (karena anak perempuan ditutup aksesnya dari ilmu pengetahuan). Karena itulah, pembodohan kaum perempuan merupakan tujuan utama dari kekuatan-kekuatan patriarkal ini. Sampai kinipun, termasuk di Indonesia, ungkapan seperti “perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi ” merupakan ungkapan yang paling sering digunakan untuk menghilangkan semangat perempuan untuk menuntut ilmu.

Dalam masyarakat patriarkal, anak-anak berkeras bahwa mereka „berasal dari bapak“, walaupun mereka dihadapkan dengan kenyataan mengenai matinya sang Ibu ketika sedang melakukan pembelahan untuk menghasilkan mereka. Mereka telah dibutakan dengan dogma-dogma bahwa anak-anak berasal dari laki-laki dan bahwa perempuan berasal dari laki-laki seperti kisah Adam dan Hawa yang menyatakan bahwa Hawa berasal dari tulang rusuk Adam. Walaupun kenyataannya, baik laki-laki dan perempuan berasal dari perempuan dan bahwa seluruh anak-anak baik anak-anak laki-laki maupun perempuan berasal dari sang Ibu.

Karena itulah, perubahan daripada masyarakat matriarkal kepada budaya patriarkal dimulai dengan pembunuhan Ibu baik dalam arti fisik maupun dalam arti kias seperti pembunuhan arti kata ibu dan pandangan hidup mengenai Ibu.

Para Malin Kundang, dalam ranah budaya Minangkabau, adalah anak laki-laki yang melakukan hal-hal yang dilakukan oleh anak-anak dalam masyararakat patriarkal kepada Ibunya. Mereka, para Malin Kundang ini, sama dengan anak-anak lainnya dalam masyarakat patriarkal, menjadi pembunuh-pembunuh Ibunya, menjadi orang yang berkeras untuk tidak mengakui apa yang mereka sebut sebagai „garis ibu“, “nasab ibu” atau „sistim matrilineal“, menjadi orang yang menistakan budaya Ibunya, menjadi orang yang bertujuan untuk membuat Ibunya tunduk kepada bapaknya atau bahkan kepada mereka, menjadi orang yang meninggalkan ranah bundanya untuk tidak kembali lagi karena kebencian yang sangat atas budaya bundanya yang mengakui Ibu sebagai sumber kehidupan daripada anak-anak, menjadi orang yang mengkampanyekan nama ayah untuk dipakai dibelakang nama semua orang Minangkabau sebagai tanda pengakuan akan „nasab ayah“ atau „garis bapak“ atau „sistim patrilineal, menjadi orang yang mengkampanyekan nama suami untuk ditaruh dibelakang nama dari semua perempuan Minangkabau sebagai pernyataan ketertundukan sang perempuan kepada suaminya serta untuk menghilangkan peran si Ibu dan mengangkat peran si bapak yang menurut mereka merupakan „asal kehidupan“ bagi anak-anak, menjadi orang yang mengkampanyekan ke dunia luar mengenai „betapa malangnya kehidupan anak laki-laki dalam masyarakat matriarkal Minangkabau“ walaupun dalam masyarakat matriarkal Minangkabau tidak ada anak-anak yang dicaci sebagai „anak haram“, tidak ada anak yang tidak ber-Ibu, tidak ada anak yang tidak mempunyai suku, tidak ada anak yang tidak mempunyai keluarga besar yang mengurusnya, tidak ada anak yang tidak berumah, tidak ada anak yang tidak bertanah, tidak ada anak yang ber-Ibu tiri, tidak ada anak yang ber-Ibu angkat, tidak ada anak yang menjadi anak gelandangan dan tidak ada anak yang disodomi dan diperkosa oleh bapaknya, oleh ustadnya, oleh kyainya, oleh pendetanya, oleh lamanya, oleh rabbinya atau oleh da’inya.

Mereka menjadi orang-orang yang merampok tanah kaumnya dan mengusahakan peralihan tanah ke pihak laki-laki yang mereka anggap sebagai pihak yang berhak ataupun kepada pihak lainnya dari luar Minangkabau. Dengan ini, mereka merupakan orang-orang yang berusaha agar anak-anak Minangkabau menjadi anak-anak yang tidak berumah, tidak bertanah, tidak ber-Ibu dan tidak memiliki kampung halaman. Mereka menjadi orang-orang yang hanya berambisi untuk menggantikan budaya Ibunya utamanya dengan budaya Arab yang mengagungkan bapak atau budaya Barat yang mengagungkan bapak atau budaya Jawa, Batak dan Papua yang mengagungkan bapak. Mereka menjadi orang yang berusaha merendahkan posisi Ibunya, menjadi orang yang memaksakan pemakaian jilbab kepada Ibunya dan perempuan-perempuan Minangkabau lainnya yang juga akan menjadi Ibu. Mereka menjadi orang yang menguatkan fungsi laki-laki dalam keluarga seperti tungganai, panghulu dan urang sumando serta menguatkan fungsi laki-laki penguasa dalam masyarakat Minangkabau yang mewakili organisasi-organisasi dari pemerintah Indonesia seperti MUI, DPRD dan pemda Sumbar untuk melawan dan mengontrol Ibu-Ibu mereka serta perempuan-perempuan Minangkabau lainnya yang akan menjadi Ibu, agar peran Ibu mereka pada khususnya dan peran para Ibu di ranah Minangkabau pada umumnya lambat laun dapat dihilangkan secara sistematis. Mereka menjadi orang yang tidak mempedulikan pembangunan rumah-rumah gadang dimana mereka dibesarkan oleh Ibunya melainkan rumah-rumah untuk penyembahan Tuhan, yang mereka sebut telah memutuskan bahwa bapak adalah „asal kehidupan mereka“, yang diberi nama mesjid. Mereka menjadi orang yang mendukung dan mengusahakan pembangunan simbol-simbol dari kekuasaan patriarkal di ranah Minangkabau seperti nilai-nilai patriarkal agama Budha dan Hindu Jawa dari „kerajaan Pagaruyuang“ yaitu pembangunan istana palsu yang dikenal sebagai Istano Basa Pagaruyuang.

Para Malin Kundang ini sejak zaman dahulu memiliki banyak label. Ada yang berlabel Muslim atau Arab/Islam, ada yang berlabel Hindu/Budha, ada yang berlabel Belanda, ada yang berlabel Sukarnois, ada yang berlabel Suhartois, ada yang berlabel Susilo Bambang Yudhoyonois, ada yang berlabel Hidayat Nur Wahidis, ada yang berlabel Bin Saudis, ada yang berlabel komunis, ada yang berlabel sosialis, ada yang berlabel Maois, ada yang berlabel Marxis, ada yang berlabel Leninis, ada yang berlabel Stalinis, ada yang berlabel Jawanis, ada yang berlabel Batakis, ada yang berlabel Barat dan masih banyak lagi. Banyak dari mereka yang dikenal sebagai tokoh masyarakat di Indonesia dan Malaysia. Dan anehnya, mereka tidak menyadari bahwa mereka bisa menjadi „tokoh“, karena budaya Minangkabau yang matriarkal. Jika mereka berasal dari Yogyakarta misalnya, bisa saja kehidupan mereka berakhir menjadi abdi dalem, yang harus melakukan upacara Ngabekten dan melakukan „laku dhodok“ di hadapan Sultan Yogyakarta, dan hanya duduk sepanjang hari di tanah di muka keraton sebagai pekerjaan resmi yang harus mereka lakukan.

Apa yang dilakukan oleh anak laki-laki Minangkabau dalam cerita yang dikenal sebagai cerita Malin Kundang, masih tergolong sangat sederhana jika dibandingkan dengan apa yang sesungguhnya dilakukan oleh para Malin Kundang yang sebenarnya. Perbuatan-perbuatan daripada Malin Kundang-Malin Kundang ini jauh lebih biadab dan kejam daripada hal-hal yang diperbuat oleh Malin Kundang dalam cerita aslinya. Oleh karena itulah, banyak daripada mereka yang benar-benar menjadi batu. „Menjadi batu“ di sini bisa dipandang sebagai arti kiasan yang merupakan ciri khas bahasa Minangkabau. Malin Kundang adalah sebuah cerita dalam ranah budaya Minangkabau yang memiliki kiasan yang mewakili cerita sebenarnya yang lebih brutal dan menyeramkan. Malin Kundang „menjadi batu“ dalam budaya Minangkabau yang matriarkal, karena yang mereka perjuangkan adalah patriarkalisasi daripada budaya Minangkabau. Walaupun sedikit demi sedikit usaha-usaha mereka ini sudah menampakkan hasilnya, mereka, para Malin Kundang inilah yang menjadi batu pada masanya, karena budaya yang mereka tentang masih tetap kokoh.

Para Malin Kundang ini layaknya menyadari bahwa usaha-usaha patriarkalisasi budaya Minangkabau ini hanya memiliki dua pilihan:

(1) Mereka, para Malin Kundang itu, yang akan menjadi batu dalam budaya Minangkabau yang matriarkal dikarenakan mereka mengusung budaya patriarkal atau,

(2) Budaya Minangkabau yang akan menjadi batu karena berubah menjadi budaya patriarkal dan kemudian menghilang ditelan teriknya matahari dan lapuk diterjang hujan.

Akan tetapi, ranah budaya Minangkabau juga mempunyai sebuah ungkapan yang berbunyi sebagai berikut:

Adaik indak lakang dek paneh, indak lapuak dek ujan

Adat Minangkabau tidak lekang karena panas, tidak lapuk karena hujan

Sampai kini, anak laki-laki Minangkabau yang menjadi Malin Kundang inilah yang menjadi batu.

***

Tulisan kali ini merupakan tulisan ke-18 di blog ini mengenai rencana pelaksanaan Kongres Kebudayaan Minangkabau 2010 atau yang dikenal sebagai KKM 2010 oleh para patriarch Minangkabau seperti Saafroeddin Bahar dan Mochtar Naim. KKM 2010 telah berganti nama menjadi Seminar Kebudayaan Minangkabau Gebu Minang (SKM GM) yang baru saja selesai dilaksanakan beberapa hari yang lalu.

Tulisan di atas berkenaan dengan perbuatan-perbuatan biadab kaum Padri sekitar 200 tahun yang lalu, terhadap orang Minangkabau dan budaya Minangkabau, serta usaha-usaha penghancuran dan patriarkalisasi budaya Minangkabau yang berlangsung secara terus menerus, yang sudah dimulai jauh-jauh hari sebelum masa kaum Padri dan yang masih terus berlanjut sampai sekarang. Kini usaha-usaha itu menjadi semakin intensif dan memiliki beragam motif; mulai dari penghancuran dan penjinakan masyarakat Minangkabau oleh bapak-bapak penguasa Republik Indonesia sampai kepada isu-isu seperti penerapan Syariat Islam, kekhalifahan Islamiyah , arabisasi, arab-saudisasi maupun peng-Islam-an orang Minangkabau lebih lanjut yang dianggap belum menjalankan “Islam yang benar”, “orang Minangkabau dan budaya Minangkabau yang Jahiliyah” dan lain-lain ungkapan penistaan terhadap budaya Minangkabau dan orang Minangkabau.

Minangkabau Pure Democracy and the Appointment of Panghulu

Below are some pictures of the ceremony for the election and appointment of some Panghulu or clan’s representatives. The event took place in the region known as Bukiktinggi in West Sumatra Indonesia. It is held by members of the Koto clan.

As usual, it is  accompanied by oratorical performance and Pancak-based dance. Pancak is the “soft” version of Silek movements . Both are important parts of Minangkabau culture.

These pictures are taken by Erison J. Kambari, a photographer from Bukittinggi.

Slideshow:
Fullscreen:

Sang Patriarch Jawa Penggusur 50.000 warga Kulon Progo, Yogyakarta

Berikut cerita dari DetikNews mengenai 50 ribu warga Kulon Progo, Yogyakarta dan kesultanan Yogyakarta. Ketika media di Indonesia sibuk memberitakan demo-demo beberapa kelompok orang Yogyakarta dengan jumlah yang tidak seberapa besar serta komentar-komentar orang Yogyakarta di sekitar sang Patriarch Jawa, mereka layaknya juga memberitakan pendapat daripada 50 ribu warga Kulon Progo ini mengenai sang patriarch Jawa yang bernama Dorodjatun serta keraton Yogyakarta dalam hubungannya dengan posisi Sultan Yogyakarta.

Rabu, 15/12/2010 13:10 WIB
Kesultanan Yogya Disebut Dukung Penggusuran Lahan Warga Kulon Progo

Jakarta – Kesultanan Yogyakarta disebut-sebut birokrat yang melegitimasi penggusuran lahan milik 50 ribu warga Kulon Progo, Yogyakarta. Lahan tersebut rencananya akan dijadikan lahan eksploitasi pasir besi di pesisir pantai.

Hal ini terungkap dalam sidang uji materiil UU Pertambangan Mineral dan Batubara di Mahkamah Konstitusi (MK). ” Pihak Kesultanan Jogja bilang seperti itu. Lewat sosialisasi (rencana penambangan) kepada warga,” kata warga Kulon Progo, Maryanto.

Maryanto mengungkapkan ini sebagai saksi di depan 9 hakim MK di Gedung MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Rabu, (15/12/2010).

Menurut Maryanto, dulunya tanah di pesisir Kulon Progo tandus dengan gunduk pasir yang berpindah-pindah sehingga membuat sakit seperti flu, radang dan lain-lain. Tapi masyarakat lalu mengelola menjadi lahan peternakan, pertanian padi, palawija, sapi, kambing dan lainnya yang mempu menyejahterakan warga. Namun, pada 2005 ada rencana pembukaan pertambangan pasir besi yang berada di lokasi lahan warga.

” Tanah diklaim punya Kesultanan Yogyakarta. Tapi mereka tidak punya bukti yang menunjukan kepemilikan itu punya Sultan,” tegas Maryanto.

Rencananya, luasan lahan yang akan dieksploitasi untuk penambangan pasir besi sepanjang 22 km dan lebar 1,8 km. Padahal di tanah tersebut telah ada wilayah pertanian, peternakan dan pemukiman yang telah bersertifikat. Akibat pilot project ini sumur di sekitar lahan airnya berkurang dan tanaman sayuran banyak yang rusak.

“Warga sudah punya sertifikat, sudah lama mengelola tanah tersebut. Sudah puluhan tahun,” tutur Maryanto.

Menanggapi pemaparan ini, Kepala Biro Hukum Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sutisna Perwira menanggapi bahwa rencana ini telah disosialisasikan ke warga lewat pemasangan pengumuman di balai desa dan sosialisasi lain.

“Untuk Kulon Progo cara (syarat) mendapatkan pemegang izin sudah dilalui. Yaitu dengan pengumuman balai desa setempat. Tidak mungkin mendatangi satu persatu warga tapi melalu kantor desa setempat,” kata Sutisna.

Menanggaip pernyataan Sutisna, Maryanto menanggapi dingin. “Memang ada sosialisasi. Tapi kami petani, yang jumlanhnya 50 ribu tidak diajak musyawarah. Biasanya pemerintah kan semacam itu, yang pro-pro saja yang diajak,” bantah Maryanto usai sidang.

Uji Materi UU ini diajuukan warga dan LSM. Mereka meminta beberapa pasal dalam UU No 4/2009 di cabut karena tidak berpihak kepada masyarakat kecil dan pelaku usaha menengah ke bawah. Sidang akan dilanjutkan Jumat besok dengan agenda mendengarkan keterangan ahli dari Pemerintah, antara lain mantan Menteri Lingkungan Hidup, Soni Keraf.

***

Tulisan kali ini merupakan tulisan ke-17 di blog ini mengenai rencana pelaksanaan Kongres Kebudayaan Minangkabau 2010 atau yang dikenal sebagai KKM 2010 oleh para patriarch Minangkabau seperti Saafroeddin Bahar dan Mochtar Naim. KKM 2010 telah berganti nama menjadi Seminar Kebudayaan Minangkabau Gebu Minang (SKM GM) yang baru saja selesai dilaksanakan beberapa hari yang lalu.

Tulisan di atas berkenaan dengan perbuatan-perbuatan biadab kaum Padri sekitar 200 tahun yang lalu, terhadap orang Minangkabau dan budaya Minangkabau, serta usaha-usaha penghancuran dan patriarkalisasi budaya Minangkabau yang berlangsung secara terus menerus, yang sudah dimulai jauh-jauh hari sebelum masa kaum Padri dan yang masih terus berlanjut sampai sekarang. Kini usaha-usaha itu menjadi semakin intensif dan memiliki beragam motif; mulai dari penjinakan dan penaklukan masyarakat Minangkabau oleh bapak-bapak penguasa Republik Indonesia sampai kepada isu-isu seperti penerapan Syariat Islam, kekhalifahan Islamiyah , arabisasi, arab-saudisasi maupun peng-Islam-an orang Minangkabau lebih lanjut yang dianggap belum menjalankan “Islam yang benar”, “orang Minangkabau dan budaya Minangkabau yang Jahiliyah” dan lain-lain ungkapan penistaan terhadap budaya Minangkabau dan orang Minangkabau.

***

Berikut beberapa link untuk tulisan-tulisan lainnya mengenai sang patriarch Jawa yang bernama Dorodjatun atau yang lebih dikenal dengan nama “Sri Sultan Hamengkubuwono“.