Minangkabau Tidak Sendirian

Banyak orang menyangka, termasuk orang Minangkabau sendiri, bahwa hanya orang Minangkabaulah yang berbudaya matriarkat. Sehingga banyak orang beranggapan bahwa sudah selayaknya budaya itu dihapuskan sama sekali dari kehidupan sehari-hari masyarakat Minangkabau, baik di ranah Bundo Kanduang ataupun di rantau. Maksud itu diutarakan tidak saja dari kalangan bukan Minangkabau, akan tetapi bahkan dari tengah-tengah masyarakat Minangkabau sendiri, yang terkagum-kagum atau banyak diuntungkan dengan budaya patriarchaat (misalnya oleh Azwar Anas, yang “berkuasa” di Minangkabau sebagai perpanjangan tangan Suharto). Dengan dalih seperti yang sudah banyak kita kenal, bahwa budaya matriarkat adalah budaya “tradisional”. Pengertian tradisional ini tentu saja jika diperbandingkan dengan budaya patriarkat, yang sudah “mendunia” atau “umum. Tapi apa benar begitu?

Ternyata pendapat itu keliru. Minangkabau ternyata tidak sendirian. Di seluruh benua di dunia, kecuali Eropa, masih banyak masyarakat dan suku bangsa yang masih menganut budaya dan sistim kekeluargaan matriarkat. Contohnya adalah masyarakat Mosuo di Cina, Nair dan masyarakat matriachal lainnya di Kerala India, Arawak, Navajo, Apache serta suku-suku bangsa Amerindian (Indian Amerika) lainnya dan Tuareg di Afrika Utara.

Masih banyak lagi yang belum disebutkan disini. Hasil penelitian dalam bidang Antropologi, Sosiologi dan hasil-hasil penelitian tentang masyarakat matriarkat dunia menemukan bahwa masyarakat matriarkat adalah bentuk tata masyarakat yang umum, sebelum terbentuknya budaya patriarkat yang beorientasi kepada perang, perampokan dan penghancuran, yang merembet ke seluruh dunia. Budaya yang bersandar pada bentuk kekeluarga kecil yang terdiri dari Bapak yang disembah seperti Raja dan sekaligus Tuhan (dalam bentuk paling extrimnya), serta Ibu dan anak yang harus “mematuhi hukum sang Bapak“.

Share

7 comments to Minangkabau Tidak Sendirian

  • awak suko baco blog iko… berpikiran maju

  • ~padusi~

    Ass.wr.wb Vara. Uni dah mancigok blog vara iko. Tampilannya sama dengan blog bundokanduang. bagus juga kerjasama kita, karena pemikiran bundokanduang berada di hulu, sedang pemikiran Vara Jambak berada dihilir. Kedua menjadi sinergi ditengah realitas kemajuan berpikir, dimana sebagian lelaki minang mulai menganggap berpedoman kepada ajaran islam lebih utama dibandingkan mempertahankan adat. Padahal kedudukan wanita menurut adat minang berbeda kedudukannya dalam islam. Oleh karena itulah diblog bundokanduang, uni ada menulis artikel ini dalam judul ” wanita minang dan pria minang saling komplementer. Silahkan vara masukkan artikel itu dalam blog Vara ini. Email uni adalah hyvny@yahoo.com. terima kasih atas kerjasamanya. Wassalam

  • Vara

    @Uni Hyvny

    iyo tampilannyo samo. Waktu ambo memilih thema ko, ambo alun mancaliek blog Uni. Ambo satuju soal kesamaan pemikiran kita. Ambo se lah manulih tentang nagari dan reduksi peran padusi Minang hanya dalam peran “Bundo Kanduang” sajo tapi indak di peran sebagai “cadiak pandai” dll.

    Ambo caliek, Uni lah manulih tentang masalh ko.

    Ambo bisa ambik tulisan Uni sebagai referensi.

    Iyo, ambo bisa tampilkan artikel Uni tu…. samo bana pikiran awak…

    blog Uni lah ambo link dengan namo: “Bundo Kanduang” di bawah label “minangkabau”

    salam

  • Luar bisa sebenarnya ya, Vara, Mingakabau menjadi budaya matriarchat terbesar di dunia…. belum diungkap hal ini. nanti kalau aku menulis soal ini, boleh kutip darimu ya?

  • alahmdulillh dapek info semacam ko!

    am not alone

  • putirenobaiak

    hidup matriachat! walau agak gak nyambung, tapi dikehidupan sosial fauna, gajah adalah kelompok matriachat juga hehe

  • Vara

    @iwan piliang

    soal kutip-mengutip dipersilahkan. Agar membantu menyebarkan informasi ini supaya orang-orang yang ingin menghancurkan budaya Minangkabau ini tidak mempunyai alasan lagi untuk itu.

    Perlu juga diingat Minangkabau mempunyai pepatah yang menyatakan adaik Minangkabau akan bertahan apapun yang terjadi:

    Adaik indak lakang dek paneh, indak lapuak dek hujan
    Adat tidak lekang karena panas, tidak lapuk karena hujan (Bahasa Indonesia)

    @Ichal
    mudah-mudahan informasi di blog ini bisa berguna

    @putirenobaiak.
    tidak. nyambung kok .Memang para peneliti dan ilmuwan dalam bidang zoologi mengatkan hal yang sama. Gajah menganut sistem matriarchat. Dengan gaya hidup kommunal dan kekeluargaan yang “dipimpin” oleh nenek/niniak.

    Manusia juga sama. Matriarchat adalah hal yang alamiah. Karena itualh usaha untuk merubah tatanan kekeluargaan dan kemasyarakatan matriarkal ini membutuhkan proses kekerasan yang maha dahsyat yang berlangsung selama beribu-ribu tahun. Pada masyarakat Minangkabau dan masyarakat matriarkal dunia lainnya, proses ini masih terus berlangsung dalam banyak bentuk.

Leave a Reply

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>