<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Mamak-mamak tidak tahu diuntung-Bagian 1</title>
	<atom:link href="http://www.varajambak.com/2009/01/20/mamak-mamak-tidak-tahu-diuntung-bagian-1/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.varajambak.com/2009/01/20/mamak-mamak-tidak-tahu-diuntung-bagian-1/</link>
	<description>On Minangkabau, matriarchy, Islam, patriarchy, politics and culture</description>
	<lastBuildDate>Fri, 18 Jun 2010 07:36:59 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
	<item>
		<title>By: Vara</title>
		<link>http://www.varajambak.com/2009/01/20/mamak-mamak-tidak-tahu-diuntung-bagian-1/comment-page-1/#comment-164</link>
		<dc:creator>Vara</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Mar 2009 05:12:33 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://moendg07.wordpress.com/?p=724#comment-164</guid>
		<description>:)

Tampaknya anda tidak benar2 membaca artikel2 saya... Dan kisah ini bukan kisah mengenai saya...Dan tidak ada kalimat yang saya tulis yang mengatakan bahwa itu berlaku untuk semua orang Minang....Baca dulu berulang2...tampaknya anda kalap sekali...

Artikel ini adalah hasil penelitian dan rangkuman kisah2 orang Minang sendiri...

Saya sarankan anda sebelum memaki-maki tidak tentu, baca lagi tulisan saya...jangan hanya baca sebagian lalu langsung ngotot2. Dari pernyataan anda, tampaknya anda juga masih salah mengartikan kata &quot;niniak mamak&quot;....

:)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p> <img src='http://www.varajambak.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Tampaknya anda tidak benar2 membaca artikel2 saya&#8230; Dan kisah ini bukan kisah mengenai saya&#8230;Dan tidak ada kalimat yang saya tulis yang mengatakan bahwa itu berlaku untuk semua orang Minang&#8230;.Baca dulu berulang2&#8230;tampaknya anda kalap sekali&#8230;</p>
<p>Artikel ini adalah hasil penelitian dan rangkuman kisah2 orang Minang sendiri&#8230;</p>
<p>Saya sarankan anda sebelum memaki-maki tidak tentu, baca lagi tulisan saya&#8230;jangan hanya baca sebagian lalu langsung ngotot2. Dari pernyataan anda, tampaknya anda juga masih salah mengartikan kata &#8220;niniak mamak&#8221;&#8230;.</p>
<p> <img src='http://www.varajambak.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Abdul Manan</title>
		<link>http://www.varajambak.com/2009/01/20/mamak-mamak-tidak-tahu-diuntung-bagian-1/comment-page-1/#comment-163</link>
		<dc:creator>Abdul Manan</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Mar 2009 04:17:31 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://moendg07.wordpress.com/?p=724#comment-163</guid>
		<description>Assalammu&#039;alaikum.

Menanggapi ulasan saudari Vara, apapun pengalaman yang di alami oleh keluarga saudari Vara bukan berarti semua ninik mamak seperti itu, saya setuju dengan pendapat saudara Edwar yang mana ninik mamak beliau dapat mengayomi para kemenakannya.Disini yang jadi masalah bukanlah masalah &quot;Adat Minang&quot;-nya tetapi adalah individunya. Ini sama saja dengan pemerintahan dalam suatu negara yang mana disetiap negara mempunyai sistem yang berbeda-beda tetapi dengan tujuan yang sama yaitu untuk menuju kebaikan bersama.Dalam masalah ini,Anda tidak lihat secara objektif, yang Anda kedepankan hanyalah pendapat,pandangan emosioanal dan arogansi Anda saja.

Kembali saya kutip pernyataan dr. Hardy diatas :
&quot;Seberapa banyak mamak mamak kita yang mengaku kemenakan hanya jika kita berhasil dirantau, tanpa peduli sebelumnya bagaimana keadaan kita, bagaimana perjuangan kita, menurut uni bagaimana?&quot;

Jangan selalu menyalahkan ninik mamak !!! Coba anda tinjau lagi kebelakang,sejauh mana keeratan hubungan silaturahmi Anda (atau orang-orang yang benci dengan mamak)dengan para ninik mamak Anda. Dalam adat Minang dan adab kesopanan, yang lebih muda yang mencari orang tua (nan ketek manuruik ka nan labiah tuo). Sekarang timbul pertanyaan saya kebalikan dari pernyataan dr.Hardy diatas:

&quot;Berapa banyak golongan muda baik yang belum berhasil dan yang telah berhasil kalau pulang kampung mencari ninik mamaknya ???&quot; 

Kenyataan yang ada di kampung sendiri adalah apabila orang-orang (baca :kemenakan) yang telah berhasil dirantau apabila pulang kampung,sangat sedikit sekali yang datang menemui ninik mamaknya. Dan kalaupun bertemu,kecendrungan yang ada,mereka menjaga wibawa mereka di depan ninik mamak dan meningkatkan prestise didepan ninik mamaknya. JANGAN ANDA PUNGKIRI HAL INI !!! Sebab kecendrungan psikologis umum yang ada pada orang-orang perantau apabila pulang kampung,mereka merasa lebih hebat,lebih pintar,lebih kaya dan lebih segalanya daripada orang-orang yang berada dikampung dan ninik mamak mereka.Berapa banyak kemenakan yang ingin melangkahi kepala ninik mamaknya ??? 

Ditambah lagi dengan pernyataan Anda:

&quot;Dan kami tidak mengakui lagi ninik mamak kami itu&quot; ( tapi nyatanya dia masih menjadi ninik mamak (baca: mamak laki-laki) tanpa persetujuan kami yang seharusnya menjadi anak buahnya).

&quot;Tapi saya rasa saya tidak akan mewariskan budaya adat yang sekarang berlaku dikampung kami kepada kedua puteri saya.&quot;

Apabila Anda mengaku &quot;Bangga Menjadi Orang Minangkabau&quot;, Anda mau tak mau harus menerima orang-orang tersebut sebagai ninik mamak Anda dalam keadaan bagaimanapun.Biarlah sikap dan perilaku &quot;kabau&quot; yang melekat pada mereka,bukan pada diri Anda dan keluarga Anda. Bencilah pada &quot;orang-orangnya&quot; tetapi jangan benci dengan adat dan budaya, kalau Anda benci dengan adat dan budaya Minangkabau lebih baik Anda tarik pernyataan Anda &quot;SAYA BANGGA MENJADI PEREMPUAN MINANGKABAU&quot;..

Pernyataan Anda dan artikel Anda ini ibarat &quot;MAHAMPOK TALUA BUSUAK KA TANGAH BALAI&quot; (melempar telur busuk ke tempat orang ramai). Anda ingin melempar satu orang,tetapi semua orang yang kena cipratannya.

Alangkah bijaknya Anda dan keluarga Anda apabila mengikuti kata nenek Anda :

&quot;Apapun yang sudah kita berikan kepada orang lain( dalam hal ini diberikan kepada penduduk kampung kami) adalah bukan milik kita lagi&quot;, biarlah itu mungkin sudah Tuhan yang mengaturnya , jangan terlalu dirisaukan karena karena kami telah rela melepaskan dan memberikan tanah itu kepada masyarakat dengan niat agar bisa dipergunakan untuk kebaikan.

Saran saya, objektiflah dalam berpikir dan membuat artikel,apalagi yang menyangkut tentang suatu suku atau bangsa.Jangan sampai mengundang SARA dan kericuhan bagi orang lain.

Mohon maaf apabila ada kata-kata saya yang kurang berkenan, tetapi itu hanyalah niat tulus untuk meluruskan dan mengingatkan Anda..Hanya Allah Yang Maha Sempurna...

Wassalam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assalammu&#8217;alaikum.</p>
<p>Menanggapi ulasan saudari Vara, apapun pengalaman yang di alami oleh keluarga saudari Vara bukan berarti semua ninik mamak seperti itu, saya setuju dengan pendapat saudara Edwar yang mana ninik mamak beliau dapat mengayomi para kemenakannya.Disini yang jadi masalah bukanlah masalah &#8220;Adat Minang&#8221;-nya tetapi adalah individunya. Ini sama saja dengan pemerintahan dalam suatu negara yang mana disetiap negara mempunyai sistem yang berbeda-beda tetapi dengan tujuan yang sama yaitu untuk menuju kebaikan bersama.Dalam masalah ini,Anda tidak lihat secara objektif, yang Anda kedepankan hanyalah pendapat,pandangan emosioanal dan arogansi Anda saja.</p>
<p>Kembali saya kutip pernyataan dr. Hardy diatas :<br />
&#8220;Seberapa banyak mamak mamak kita yang mengaku kemenakan hanya jika kita berhasil dirantau, tanpa peduli sebelumnya bagaimana keadaan kita, bagaimana perjuangan kita, menurut uni bagaimana?&#8221;</p>
<p>Jangan selalu menyalahkan ninik mamak !!! Coba anda tinjau lagi kebelakang,sejauh mana keeratan hubungan silaturahmi Anda (atau orang-orang yang benci dengan mamak)dengan para ninik mamak Anda. Dalam adat Minang dan adab kesopanan, yang lebih muda yang mencari orang tua (nan ketek manuruik ka nan labiah tuo). Sekarang timbul pertanyaan saya kebalikan dari pernyataan dr.Hardy diatas:</p>
<p>&#8220;Berapa banyak golongan muda baik yang belum berhasil dan yang telah berhasil kalau pulang kampung mencari ninik mamaknya ???&#8221; </p>
<p>Kenyataan yang ada di kampung sendiri adalah apabila orang-orang (baca :kemenakan) yang telah berhasil dirantau apabila pulang kampung,sangat sedikit sekali yang datang menemui ninik mamaknya. Dan kalaupun bertemu,kecendrungan yang ada,mereka menjaga wibawa mereka di depan ninik mamak dan meningkatkan prestise didepan ninik mamaknya. JANGAN ANDA PUNGKIRI HAL INI !!! Sebab kecendrungan psikologis umum yang ada pada orang-orang perantau apabila pulang kampung,mereka merasa lebih hebat,lebih pintar,lebih kaya dan lebih segalanya daripada orang-orang yang berada dikampung dan ninik mamak mereka.Berapa banyak kemenakan yang ingin melangkahi kepala ninik mamaknya ??? </p>
<p>Ditambah lagi dengan pernyataan Anda:</p>
<p>&#8220;Dan kami tidak mengakui lagi ninik mamak kami itu&#8221; ( tapi nyatanya dia masih menjadi ninik mamak (baca: mamak laki-laki) tanpa persetujuan kami yang seharusnya menjadi anak buahnya).</p>
<p>&#8220;Tapi saya rasa saya tidak akan mewariskan budaya adat yang sekarang berlaku dikampung kami kepada kedua puteri saya.&#8221;</p>
<p>Apabila Anda mengaku &#8220;Bangga Menjadi Orang Minangkabau&#8221;, Anda mau tak mau harus menerima orang-orang tersebut sebagai ninik mamak Anda dalam keadaan bagaimanapun.Biarlah sikap dan perilaku &#8220;kabau&#8221; yang melekat pada mereka,bukan pada diri Anda dan keluarga Anda. Bencilah pada &#8220;orang-orangnya&#8221; tetapi jangan benci dengan adat dan budaya, kalau Anda benci dengan adat dan budaya Minangkabau lebih baik Anda tarik pernyataan Anda &#8220;SAYA BANGGA MENJADI PEREMPUAN MINANGKABAU&#8221;..</p>
<p>Pernyataan Anda dan artikel Anda ini ibarat &#8220;MAHAMPOK TALUA BUSUAK KA TANGAH BALAI&#8221; (melempar telur busuk ke tempat orang ramai). Anda ingin melempar satu orang,tetapi semua orang yang kena cipratannya.</p>
<p>Alangkah bijaknya Anda dan keluarga Anda apabila mengikuti kata nenek Anda :</p>
<p>&#8220;Apapun yang sudah kita berikan kepada orang lain( dalam hal ini diberikan kepada penduduk kampung kami) adalah bukan milik kita lagi&#8221;, biarlah itu mungkin sudah Tuhan yang mengaturnya , jangan terlalu dirisaukan karena karena kami telah rela melepaskan dan memberikan tanah itu kepada masyarakat dengan niat agar bisa dipergunakan untuk kebaikan.</p>
<p>Saran saya, objektiflah dalam berpikir dan membuat artikel,apalagi yang menyangkut tentang suatu suku atau bangsa.Jangan sampai mengundang SARA dan kericuhan bagi orang lain.</p>
<p>Mohon maaf apabila ada kata-kata saya yang kurang berkenan, tetapi itu hanyalah niat tulus untuk meluruskan dan mengingatkan Anda..Hanya Allah Yang Maha Sempurna&#8230;</p>
<p>Wassalam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ayruel Chana</title>
		<link>http://www.varajambak.com/2009/01/20/mamak-mamak-tidak-tahu-diuntung-bagian-1/comment-page-1/#comment-162</link>
		<dc:creator>Ayruel Chana</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Feb 2009 15:43:15 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://moendg07.wordpress.com/?p=724#comment-162</guid>
		<description>Assalamu alaikum wr wb

Sado alah nan laki2 ka jadi mamak juonyo...
Mangkonyo untuak salanjuikyno dibantuak mamak nan sabana mamak.
Memang babarapo kajadian nan lalu walau ndak sabarapo do tapi manjadi gadang,manjadi palajaran ka depan ntuak awak basamo...ndech...banyak tugas nampaknyo ko mach...

Mampartahankan adaik jo budayo lach manjadi pr no 1 untuak kami nan tingga di kampuang.kini ditambah jo mandidik generasi ka depan nan terpelajar nan mangarati adaik jo budayo.ndech mamak ...sadangkan nan cadiak2 dari minang lach abih tabang kasadonyo,.lach jarang pulang malach ado nan ndak pulang2.tingga kami nan bodoh2 di kampuang lai.walau kami lai mangarati nan cadiak2 nan barasa dari minang kan dicetak taruih juonyo,dek karano alam nan manjadi guru.

Kato adat pulo amal kato sorak maliputi,paham niaik akal bicaro,pena ndak main jo karateh.
Puntiang ndak suruik ka hulunyo,suruik ka asal mulo jadi.

Wassalam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu alaikum wr wb</p>
<p>Sado alah nan laki2 ka jadi mamak juonyo&#8230;<br />
Mangkonyo untuak salanjuikyno dibantuak mamak nan sabana mamak.<br />
Memang babarapo kajadian nan lalu walau ndak sabarapo do tapi manjadi gadang,manjadi palajaran ka depan ntuak awak basamo&#8230;ndech&#8230;banyak tugas nampaknyo ko mach&#8230;</p>
<p>Mampartahankan adaik jo budayo lach manjadi pr no 1 untuak kami nan tingga di kampuang.kini ditambah jo mandidik generasi ka depan nan terpelajar nan mangarati adaik jo budayo.ndech mamak &#8230;sadangkan nan cadiak2 dari minang lach abih tabang kasadonyo,.lach jarang pulang malach ado nan ndak pulang2.tingga kami nan bodoh2 di kampuang lai.walau kami lai mangarati nan cadiak2 nan barasa dari minang kan dicetak taruih juonyo,dek karano alam nan manjadi guru.</p>
<p>Kato adat pulo amal kato sorak maliputi,paham niaik akal bicaro,pena ndak main jo karateh.<br />
Puntiang ndak suruik ka hulunyo,suruik ka asal mulo jadi.</p>
<p>Wassalam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: alris</title>
		<link>http://www.varajambak.com/2009/01/20/mamak-mamak-tidak-tahu-diuntung-bagian-1/comment-page-1/#comment-161</link>
		<dc:creator>alris</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 28 Jan 2009 16:12:57 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://moendg07.wordpress.com/?p=724#comment-161</guid>
		<description>siapa yang menanam aka menuai. jadi silahkan mau nanam kebaikan atau sebaliknya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>siapa yang menanam aka menuai. jadi silahkan mau nanam kebaikan atau sebaliknya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ir. Sukardiman</title>
		<link>http://www.varajambak.com/2009/01/20/mamak-mamak-tidak-tahu-diuntung-bagian-1/comment-page-1/#comment-160</link>
		<dc:creator>Ir. Sukardiman</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 27 Jan 2009 13:51:47 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://moendg07.wordpress.com/?p=724#comment-160</guid>
		<description>Kejadian diatas persis dengan tanah pusako kami di pariaman, dimana hampir 4(empat) hektar tanah dijual oleh mamak-mamak kami yang sekarang sudah meninggal dimana sekarang berdiri menjadi Lembaga Pemasyarkatan Pariaman, waktu itu kami masih kecil-kecil dan hidup di rantau (di bandung), emak kami sebelum meninggal mengamanatkan untuk mengurusnya dan kebetulan ada program sertifikasi tanah pusako dari pemerintah, yang baru-baru ini sudah diserahkan oleh BPN sebanyak 6000 lebih sertifikat untuk seluruh masyarakat sumatra barat dengan upacara resmi di di pantai cermin pariaman.
Tahun 1989 kami telah membuat ranji untuk 4(empat) level turunan kami yang ditanda tangani oleh mamak niniek yang masih lengkap waktu itu, tapi ketika akan diajukan untuk disyahkan oleh kerapatan adat nagari sebagai wakil adat dan lurah karanaur sebagai perwakilan pemerintah ada satu turunan dari 4(empat) turunan berdasarkan ranji yang tidak setuju (mungkin mereka yang menjual karena se umur-umur mareka hidup di kampung), sehingga sampai sekarang menjadi terbengkalai pengurusannya, sementara di sebelah kanan tanah pusako kami sudah disertifikatkan oleh dunsana yang kata emak kami adalah dunsana manompang yang dahulu diberi tanah sapaumahan sebagai rasa terima kasih nenek-nenek kami karena telah membantu menggarap sawah dan kebun di tanah kaum kami,dan perlu diketahui bahwa tanah yang mereka sertifikatkan sebanyak hampir 5 (lima) hektar dan merekapun sudah beranak pinak dan bahkan kaum laki-lakinyapun sudah membangun rumah di tanah tersebut yang tentu saja tidak sesuai dengan kaidah adat minang tentang pemanfaatan tanah pusako, dan begitu kami pulang basamo karena emak kami meninggal sempat kami pertanyakan, hasilnya 1 (satu) urang sumando kami meninggal mendadak dan 1(satu) kemenakan kami gila karena focalnya mereka mempertanyakan tentang status tanah tersebut.
Karena kami besar di rantau dan tidak tahu persis  adat istiadat tentang tanah pusako tersebut, maka ketika Gubernur Gamawan Fauzi ke Bandung untuk menghadiri Halal Bihalal Masyarakat Jawa Barat Yang berasal dari Minangkabau, menyarankan untuk mensertifikatkan tanah ulayat yang ada di sumatra barat untuk menghindari sengketa di kemudian hari, karena 82 persen perkara di pengadilan sumatra barat adalah mengenai sengketa tanah, yang dijual oleh mamak-mamak yang berkolaborasi dengan oknum-oknum baik pemerintah maupun yang lain.
Mungkin salah satu yang mengakibatkan tidak hormatnya kamanakan ke mamak niniek dan hancurnya kekerabatan di kampung adalah karena hal tersebut.
Sekarangpun kami di bandung sangat khawatir dengan masa depan dunsana-dunsana parusi kami yang ada di kampung dengan belum tuntasnya masalah tersebut, bagaimana kedepannya jika terjadi penjarahan tanah ulayat kami oleh orang lain sementara bukti legal formalnya tidak kami miliki selain ranji yang untungnya sempat kami buat sebelum mamak niniek kami meninggal yang waktu itu sepakat untuk mensertifikatkan tanah pusako tersebut.
Setelah kami analisa dan selidiki hampir setiap turunan dari mamak2 yang menjual tanah pusako tersebut ada yang idiot dan centang perenang hidupnya, mungkin kena tulah dari moyang kami yang dengan susah payah telah merambah dan menyiapkan tanah sedemikian luas untuk keturunannya tapi sampai hati disalah gunakan oleh oknum mamak niniek yang tidak bertanggungjawab tersebut.
Ini pelajaran untuk kita semua karena makin kesini orang makin hedonis, tak peduli lagi dengan halal haram asal menguntungkan bagi dirinya tak peduli kamanakan yang nota bene sebagai generasi penerus mereka keleleran hidupnya di kemudian hari, dan perlu di cam-kan bagi mamak niniek yang berkhianat kepada turunannya azab akan menimpanya tujuh turunan, mohon ditanggapi sebagai kelengkapan data atau informasi yang sudah kami sampaikan terdahulu tentang kemerosotan moral dan intelektualitas urang kampung di era globalisasi ini.

Salam
Sukardiman
sukardi@indonesian-aerospace.com
Production Assy&amp; Integ.Senior Engineer
Tlp : 62-22-6054746\par
Mobile : 62-085222268221\par
Fax : 62-22-6075176</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kejadian diatas persis dengan tanah pusako kami di pariaman, dimana hampir 4(empat) hektar tanah dijual oleh mamak-mamak kami yang sekarang sudah meninggal dimana sekarang berdiri menjadi Lembaga Pemasyarkatan Pariaman, waktu itu kami masih kecil-kecil dan hidup di rantau (di bandung), emak kami sebelum meninggal mengamanatkan untuk mengurusnya dan kebetulan ada program sertifikasi tanah pusako dari pemerintah, yang baru-baru ini sudah diserahkan oleh BPN sebanyak 6000 lebih sertifikat untuk seluruh masyarakat sumatra barat dengan upacara resmi di di pantai cermin pariaman.<br />
Tahun 1989 kami telah membuat ranji untuk 4(empat) level turunan kami yang ditanda tangani oleh mamak niniek yang masih lengkap waktu itu, tapi ketika akan diajukan untuk disyahkan oleh kerapatan adat nagari sebagai wakil adat dan lurah karanaur sebagai perwakilan pemerintah ada satu turunan dari 4(empat) turunan berdasarkan ranji yang tidak setuju (mungkin mereka yang menjual karena se umur-umur mareka hidup di kampung), sehingga sampai sekarang menjadi terbengkalai pengurusannya, sementara di sebelah kanan tanah pusako kami sudah disertifikatkan oleh dunsana yang kata emak kami adalah dunsana manompang yang dahulu diberi tanah sapaumahan sebagai rasa terima kasih nenek-nenek kami karena telah membantu menggarap sawah dan kebun di tanah kaum kami,dan perlu diketahui bahwa tanah yang mereka sertifikatkan sebanyak hampir 5 (lima) hektar dan merekapun sudah beranak pinak dan bahkan kaum laki-lakinyapun sudah membangun rumah di tanah tersebut yang tentu saja tidak sesuai dengan kaidah adat minang tentang pemanfaatan tanah pusako, dan begitu kami pulang basamo karena emak kami meninggal sempat kami pertanyakan, hasilnya 1 (satu) urang sumando kami meninggal mendadak dan 1(satu) kemenakan kami gila karena focalnya mereka mempertanyakan tentang status tanah tersebut.<br />
Karena kami besar di rantau dan tidak tahu persis  adat istiadat tentang tanah pusako tersebut, maka ketika Gubernur Gamawan Fauzi ke Bandung untuk menghadiri Halal Bihalal Masyarakat Jawa Barat Yang berasal dari Minangkabau, menyarankan untuk mensertifikatkan tanah ulayat yang ada di sumatra barat untuk menghindari sengketa di kemudian hari, karena 82 persen perkara di pengadilan sumatra barat adalah mengenai sengketa tanah, yang dijual oleh mamak-mamak yang berkolaborasi dengan oknum-oknum baik pemerintah maupun yang lain.<br />
Mungkin salah satu yang mengakibatkan tidak hormatnya kamanakan ke mamak niniek dan hancurnya kekerabatan di kampung adalah karena hal tersebut.<br />
Sekarangpun kami di bandung sangat khawatir dengan masa depan dunsana-dunsana parusi kami yang ada di kampung dengan belum tuntasnya masalah tersebut, bagaimana kedepannya jika terjadi penjarahan tanah ulayat kami oleh orang lain sementara bukti legal formalnya tidak kami miliki selain ranji yang untungnya sempat kami buat sebelum mamak niniek kami meninggal yang waktu itu sepakat untuk mensertifikatkan tanah pusako tersebut.<br />
Setelah kami analisa dan selidiki hampir setiap turunan dari mamak2 yang menjual tanah pusako tersebut ada yang idiot dan centang perenang hidupnya, mungkin kena tulah dari moyang kami yang dengan susah payah telah merambah dan menyiapkan tanah sedemikian luas untuk keturunannya tapi sampai hati disalah gunakan oleh oknum mamak niniek yang tidak bertanggungjawab tersebut.<br />
Ini pelajaran untuk kita semua karena makin kesini orang makin hedonis, tak peduli lagi dengan halal haram asal menguntungkan bagi dirinya tak peduli kamanakan yang nota bene sebagai generasi penerus mereka keleleran hidupnya di kemudian hari, dan perlu di cam-kan bagi mamak niniek yang berkhianat kepada turunannya azab akan menimpanya tujuh turunan, mohon ditanggapi sebagai kelengkapan data atau informasi yang sudah kami sampaikan terdahulu tentang kemerosotan moral dan intelektualitas urang kampung di era globalisasi ini.</p>
<p>Salam<br />
Sukardiman<br />
<a href="mailto:sukardi@indonesian-aerospace.com">sukardi@indonesian-aerospace.com</a><br />
Production Assy&amp; Integ.Senior Engineer<br />
Tlp : 62-22-6054746\par<br />
Mobile : 62-085222268221\par<br />
Fax : 62-22-6075176</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Vara</title>
		<link>http://www.varajambak.com/2009/01/20/mamak-mamak-tidak-tahu-diuntung-bagian-1/comment-page-1/#comment-159</link>
		<dc:creator>Vara</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 Jan 2009 07:05:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://moendg07.wordpress.com/?p=724#comment-159</guid>
		<description>@Edwar...
yah memang tidak semua mamak begitu..mamak saya orang baik...baik kepada semua orang..tidak semua mamak begitu..tapi karena blog ini membahas tentang permasalahan yang terjadi di ranah Minang, tetap harus ditulis..karena memang pelaku daripada penjualan tanah ulayat ini biasanya adalah para mamak :)

Mudah-mudahan kritik ini didengar dan diperhatikan oleh para mamak dan pihak-pihak lain dari keluarga besar orang Minang lainnya...

@Anang
Saya tidak jelas apa yang anda maksudkan...apakah anda orang Minang? apa yang anda maksud dengan bahwa &quot;saya merendahkan budaya&quot;...budaya apa yang anda maksud? Kalau anda baca semua postingan saya, maka anda akan langsung paham bahwa tulisan saya meninggikan budaya Minang dan budaya matriarchat pada umumnya... jadi saya tidak &quot;merendahkan budaya&quot; seperti yang anda maksud..atau yang anda maksud bukan tulisan ini? kalau yang anda maksud adalah tulisan ini, maka ini dimaksud untuk kritik terhadap mamak-mamak yang tidak bertanggung jawab...
faktor sdm apa yang anda maksud? dan kenapa bukan budaya? :)

kalau anda masih mau berdiskusi, bisa dijelaskan lebih lanjut..
salam,</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@Edwar&#8230;<br />
yah memang tidak semua mamak begitu..mamak saya orang baik&#8230;baik kepada semua orang..tidak semua mamak begitu..tapi karena blog ini membahas tentang permasalahan yang terjadi di ranah Minang, tetap harus ditulis..karena memang pelaku daripada penjualan tanah ulayat ini biasanya adalah para mamak <img src='http://www.varajambak.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Mudah-mudahan kritik ini didengar dan diperhatikan oleh para mamak dan pihak-pihak lain dari keluarga besar orang Minang lainnya&#8230;</p>
<p>@Anang<br />
Saya tidak jelas apa yang anda maksudkan&#8230;apakah anda orang Minang? apa yang anda maksud dengan bahwa &#8220;saya merendahkan budaya&#8221;&#8230;budaya apa yang anda maksud? Kalau anda baca semua postingan saya, maka anda akan langsung paham bahwa tulisan saya meninggikan budaya Minang dan budaya matriarchat pada umumnya&#8230; jadi saya tidak &#8220;merendahkan budaya&#8221; seperti yang anda maksud..atau yang anda maksud bukan tulisan ini? kalau yang anda maksud adalah tulisan ini, maka ini dimaksud untuk kritik terhadap mamak-mamak yang tidak bertanggung jawab&#8230;<br />
faktor sdm apa yang anda maksud? dan kenapa bukan budaya? <img src='http://www.varajambak.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>kalau anda masih mau berdiskusi, bisa dijelaskan lebih lanjut..<br />
salam,</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: edwar</title>
		<link>http://www.varajambak.com/2009/01/20/mamak-mamak-tidak-tahu-diuntung-bagian-1/comment-page-1/#comment-157</link>
		<dc:creator>edwar</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 Jan 2009 05:09:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://moendg07.wordpress.com/?p=724#comment-157</guid>
		<description>hi salam kenal...
saya juga orang minang, dan setelah membaca kisah tersebut merasa prihatin juga, dan cuman bisa berucap syukur pada Allah, karena selama ini tidak pernah ada perkara mengenai harta. Saya sendiri juga memiliki ninik-mamak :) dan selama ini mereka bijaksana mengayomi kemenakan-kemenakannya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>hi salam kenal&#8230;<br />
saya juga orang minang, dan setelah membaca kisah tersebut merasa prihatin juga, dan cuman bisa berucap syukur pada Allah, karena selama ini tidak pernah ada perkara mengenai harta. Saya sendiri juga memiliki ninik-mamak <img src='http://www.varajambak.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  dan selama ini mereka bijaksana mengayomi kemenakan-kemenakannya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Anang</title>
		<link>http://www.varajambak.com/2009/01/20/mamak-mamak-tidak-tahu-diuntung-bagian-1/comment-page-1/#comment-158</link>
		<dc:creator>Anang</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 20 Jan 2009 23:26:23 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://moendg07.wordpress.com/?p=724#comment-158</guid>
		<description>Ak sangat menyayangkan jika gara2 segelintir orang,anda merendahkan &quot;budaya&quot; pengalamam ak tgl di beberapa daerah berbeda,masalah tersebut cenderung pada faktor sdm nya,bukan dari budaya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ak sangat menyayangkan jika gara2 segelintir orang,anda merendahkan &#8220;budaya&#8221; pengalamam ak tgl di beberapa daerah berbeda,masalah tersebut cenderung pada faktor sdm nya,bukan dari budaya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
