<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Orang Batak, Orang Minang, Orang Jawa</title>
	<atom:link href="http://www.varajambak.com/2009/02/26/orang-batak-orang-minang-orang-jawa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.varajambak.com/2009/02/26/orang-batak-orang-minang-orang-jawa/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=orang-batak-orang-minang-orang-jawa</link>
	<description>On Minangkabau, matriarchy, Islam, patriarchy, politics and culture</description>
	<lastBuildDate>Sat, 27 Aug 2011 17:34:39 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
	<item>
		<title>By: Sutan Rusydi</title>
		<link>http://www.varajambak.com/2009/02/26/orang-batak-orang-minang-orang-jawa/comment-page-1/#comment-4443</link>
		<dc:creator>Sutan Rusydi</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 19 Jan 2011 02:29:33 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://moendg07.wordpress.com/?p=799#comment-4443</guid>
		<description>Saya senang membaca diskusi jujur mengenai dua suku bangsa keras dari sumatra ini (meskipun ditulis oleh Minang). Saya sendiri orang Minang asli dan tinggal diperantauan. Kota tempat saya tinggal tercatat sebagai salah satu kota dengan keragaman suku dan keakuran yang tertinggi di Indonesia. Biasa saya memang, pedagang emas Minang ngobrol dengan pedagang bawang kaki lima yang Batak didepan tokonya atau Notaris Batak yang membahas politik di kedai kopi dengan supir angkot yang orang Minang. Begitu juga dengan suku-suku lain. Hanya saja, stereotip yang dibuat oleh &#039;beberapa keluarga&#039; yang mungkin pernah berhadapan dengan kejelekan2 dua suku tadi menjadi menurunkan konsep2 jelek itu tadi.
Ir. Sukardiman di atas tidak ada yang melarang anda mau jadi Batakkabau, kalaupun bosan jadi Minang tapi malu juga jadi Batak. malah di situlah terlihat perilaku menjelek-jelekan berdasarkan SARA. Saya tidak akan melepaskan label keturunan Minang saya sedang saya masih bisa hidup akur, hormat menghormati malah hidup serumah berkeluaraga dengan orang Batak. 
Saya terlahir dari ayah bergelar Sutan dan saya juga bergelar Sutan, teman2 saya yang orang Batak juga banyak ternyata yang bergelar Sutan, jadi apa beda kita dalam kehidupan masyarakat?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya senang membaca diskusi jujur mengenai dua suku bangsa keras dari sumatra ini (meskipun ditulis oleh Minang). Saya sendiri orang Minang asli dan tinggal diperantauan. Kota tempat saya tinggal tercatat sebagai salah satu kota dengan keragaman suku dan keakuran yang tertinggi di Indonesia. Biasa saya memang, pedagang emas Minang ngobrol dengan pedagang bawang kaki lima yang Batak didepan tokonya atau Notaris Batak yang membahas politik di kedai kopi dengan supir angkot yang orang Minang. Begitu juga dengan suku-suku lain. Hanya saja, stereotip yang dibuat oleh &#8216;beberapa keluarga&#8217; yang mungkin pernah berhadapan dengan kejelekan2 dua suku tadi menjadi menurunkan konsep2 jelek itu tadi.<br />
Ir. Sukardiman di atas tidak ada yang melarang anda mau jadi Batakkabau, kalaupun bosan jadi Minang tapi malu juga jadi Batak. malah di situlah terlihat perilaku menjelek-jelekan berdasarkan SARA. Saya tidak akan melepaskan label keturunan Minang saya sedang saya masih bisa hidup akur, hormat menghormati malah hidup serumah berkeluaraga dengan orang Batak.<br />
Saya terlahir dari ayah bergelar Sutan dan saya juga bergelar Sutan, teman2 saya yang orang Batak juga banyak ternyata yang bergelar Sutan, jadi apa beda kita dalam kehidupan masyarakat?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Epit "evil"</title>
		<link>http://www.varajambak.com/2009/02/26/orang-batak-orang-minang-orang-jawa/comment-page-1/#comment-3750</link>
		<dc:creator>Epit "evil"</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 30 Nov 2010 18:59:37 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://moendg07.wordpress.com/?p=799#comment-3750</guid>
		<description>Thanks saya senang dengan coment2 diatas. Bahasa vulgar dan tanpa tedeng aling2, juga pembiasaan agar tdk mudah tersinggung dan lebih bersabar. Sehingga pendapat yang kasar sekalipun harus diterima dengan keluasan hati. 
Saya pikir, sejarah Batak dan Minang memang ada benang merahnya. Ada titik2 kesamaan yang khas. Persoalannya, intervensi budaya asing dan pengaruh kolonial dan fasisme, kemudian meretakkan hubungan dua bangsa besar yang memiliki kesamaan sejarah ini. Karena konon, sebelum menuju pelabuhan tua di Barus di tanah Batak,pendatang juga melewati Teluk Bayur yang ada di Sumatera Barat. Sehingga keduanya mendapatkan asimilasi budaya dari para pendatang. 
Ke depan, pengetahuan tentang Indonesia harus di ekstrak lagi. Karena tidak ada Indonesia tanpa ada kesepatakan suku2 di Indonesia. Apakah dengan menjadi Indonesia lalu tabu menyebut sukunya. Bukankah dengan menyebut suku maka otomatis orang itu menjadi Indonesia. 
Saya orang Batak, tidak keberatan disebut anjing, kafir, atau titit tidak bersunat, selama itu bukan bentuk streotif terhadap kesukuan saya. Karena dalam bahasa pergaulan kadangkala kita menyebut teman dengan kata &quot;Monyet, kura, dan sebagainya&quot; Masalah &quot;kafir&quot; lidah orang boleh berkata apa saja...tetapi Pemilik Dunia dan Langit yang memiliki hak untuk memutuskan itu. 
Tentang sunat, adalah tradisi nenek moyang yahudi dan arab...jadi tidak bersunat bukan berarti tidak jadi manusia...tetapi yang jelas bukan menjadi orang yahudi atau arab. ada Batak Islam atau Batak Kristen, Batak Parmalim, atau Padang Islam atau padang Hindu/Budha itu bukan menjadi masalah apalagi pemisah. Untuk itu nafsu dominasi harus dihapuskan...karena persoalan dominasi yang memjadikan dunia ini kacau. Tetapi kesatuan dari dasar darah dan keturunan itulah yang semestinya dikedepankan, karena ajaran2 agama juga hasil pola pikir manusia...did we have to interview GOD? Sehingga banyak tafsir yang dipakai untuk pemenuhan nafsu kemanusiaan &quot;Tapi apa itu Kehendak Tuhan?&quot; 
So, Uni Vara...lanjutkan tulisan2 yang mencerdaskan karena kita perlu itu untuk pencerahan negara ini ke depan....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Thanks saya senang dengan coment2 diatas. Bahasa vulgar dan tanpa tedeng aling2, juga pembiasaan agar tdk mudah tersinggung dan lebih bersabar. Sehingga pendapat yang kasar sekalipun harus diterima dengan keluasan hati.<br />
Saya pikir, sejarah Batak dan Minang memang ada benang merahnya. Ada titik2 kesamaan yang khas. Persoalannya, intervensi budaya asing dan pengaruh kolonial dan fasisme, kemudian meretakkan hubungan dua bangsa besar yang memiliki kesamaan sejarah ini. Karena konon, sebelum menuju pelabuhan tua di Barus di tanah Batak,pendatang juga melewati Teluk Bayur yang ada di Sumatera Barat. Sehingga keduanya mendapatkan asimilasi budaya dari para pendatang.<br />
Ke depan, pengetahuan tentang Indonesia harus di ekstrak lagi. Karena tidak ada Indonesia tanpa ada kesepatakan suku2 di Indonesia. Apakah dengan menjadi Indonesia lalu tabu menyebut sukunya. Bukankah dengan menyebut suku maka otomatis orang itu menjadi Indonesia.<br />
Saya orang Batak, tidak keberatan disebut anjing, kafir, atau titit tidak bersunat, selama itu bukan bentuk streotif terhadap kesukuan saya. Karena dalam bahasa pergaulan kadangkala kita menyebut teman dengan kata &#8220;Monyet, kura, dan sebagainya&#8221; Masalah &#8220;kafir&#8221; lidah orang boleh berkata apa saja&#8230;tetapi Pemilik Dunia dan Langit yang memiliki hak untuk memutuskan itu.<br />
Tentang sunat, adalah tradisi nenek moyang yahudi dan arab&#8230;jadi tidak bersunat bukan berarti tidak jadi manusia&#8230;tetapi yang jelas bukan menjadi orang yahudi atau arab. ada Batak Islam atau Batak Kristen, Batak Parmalim, atau Padang Islam atau padang Hindu/Budha itu bukan menjadi masalah apalagi pemisah. Untuk itu nafsu dominasi harus dihapuskan&#8230;karena persoalan dominasi yang memjadikan dunia ini kacau. Tetapi kesatuan dari dasar darah dan keturunan itulah yang semestinya dikedepankan, karena ajaran2 agama juga hasil pola pikir manusia&#8230;did we have to interview GOD? Sehingga banyak tafsir yang dipakai untuk pemenuhan nafsu kemanusiaan &#8220;Tapi apa itu Kehendak Tuhan?&#8221;<br />
So, Uni Vara&#8230;lanjutkan tulisan2 yang mencerdaskan karena kita perlu itu untuk pencerahan negara ini ke depan&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ruswandi tan</title>
		<link>http://www.varajambak.com/2009/02/26/orang-batak-orang-minang-orang-jawa/comment-page-1/#comment-3508</link>
		<dc:creator>ruswandi tan</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 16 Oct 2010 13:49:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://moendg07.wordpress.com/?p=799#comment-3508</guid>
		<description>itu kan perasaan lae saja, saya saja adalah orang minang yang beristri batak tulen, ngak pernah kami saling hina, kelurga saya dan keluarga istri saya juga memperlakukan kami sebagai manusia, mungkin lae kenal orang minang di tempat yang kurang pendidikannya atau lae tinggal di sumatera utara yang belum tersentuh orang minang , atau hal yang lainnya. jadi minang sama batak sama saja, karena saya juga pesta dengan adat batak dan adat minang, sallam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>itu kan perasaan lae saja, saya saja adalah orang minang yang beristri batak tulen, ngak pernah kami saling hina, kelurga saya dan keluarga istri saya juga memperlakukan kami sebagai manusia, mungkin lae kenal orang minang di tempat yang kurang pendidikannya atau lae tinggal di sumatera utara yang belum tersentuh orang minang , atau hal yang lainnya. jadi minang sama batak sama saja, karena saya juga pesta dengan adat batak dan adat minang, sallam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: victor mangunsong</title>
		<link>http://www.varajambak.com/2009/02/26/orang-batak-orang-minang-orang-jawa/comment-page-1/#comment-321</link>
		<dc:creator>victor mangunsong</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 21 Jun 2009 12:00:33 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://moendg07.wordpress.com/?p=799#comment-321</guid>
		<description>Orang tua/kolega suku Minang: Batak itu seperti ini dan bla2.......

Orang tua/kolega suku Batak: Orang Minang itu seperti ini dan bla2....

Inilah warisan orang tua dan atau kolega kita dan pertanyaan saya, masih akan  kita turunkan ke anak dan cucu kita?....
???????????????????????????????????????????????????????????????

Coba melihat orang bukan hanya dari sukunya tetapi coba juga dari sisi sifat perorangannya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Orang tua/kolega suku Minang: Batak itu seperti ini dan bla2&#8230;&#8230;.</p>
<p>Orang tua/kolega suku Batak: Orang Minang itu seperti ini dan bla2&#8230;.</p>
<p>Inilah warisan orang tua dan atau kolega kita dan pertanyaan saya, masih akan  kita turunkan ke anak dan cucu kita?&#8230;.<br />
???????????????????????????????????????????????????????????????</p>
<p>Coba melihat orang bukan hanya dari sukunya tetapi coba juga dari sisi sifat perorangannya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: bedulkabau</title>
		<link>http://www.varajambak.com/2009/02/26/orang-batak-orang-minang-orang-jawa/comment-page-1/#comment-173</link>
		<dc:creator>bedulkabau</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 21 Mar 2009 11:31:59 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://moendg07.wordpress.com/?p=799#comment-173</guid>
		<description>Orang yang suka mengakfirkan org lain adalah orang yg paling rendah derajatnya di antara binatang pula! Kerbau adalah binatang sengsara yg seumur hidupnya dicucuk menjadi budak penggerek selamanya, malang nian dikau!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Orang yang suka mengakfirkan org lain adalah orang yg paling rendah derajatnya di antara binatang pula! Kerbau adalah binatang sengsara yg seumur hidupnya dicucuk menjadi budak penggerek selamanya, malang nian dikau!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ir. Sukardiman</title>
		<link>http://www.varajambak.com/2009/02/26/orang-batak-orang-minang-orang-jawa/comment-page-1/#comment-171</link>
		<dc:creator>Ir. Sukardiman</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Mar 2009 09:55:19 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://moendg07.wordpress.com/?p=799#comment-171</guid>
		<description>Testimoni
Tapi hari demi hari, saya makin simpati pada barisan Batak ini. Saya melihat kejayaan orang Minangkabau masa lalu pada kaum pemakan celeng ini. Cerita kesuksesan kaum minoritas Minangkabau di masa lalu, terulang pada kaum Batak.
Saya berharap ada kaum Batakkabau yang menerima saya menjadi bagiannya, dengan senang hati saya rubah suku Piliang ini menjadi marga Simatupang.

Si Batak, from Anjing to Kerbau 
SEPERTI banyak orang Minang yang tumbuh dan besar di Bandung, saya naturally tidak punya kesan dan persepsi yang bagus tentang orang Batak.
Batak adalah kafir pemakan anjing. Tentu juga makan babi, tidak beradat, maling, perampok, mabuk, dan ujung titit tidak dipotong, adalah hal-hal lainnya yang worth to mention.
Tentu berbeda sekali dengan orang Minangkabau yang islami, beradat dan santun, serta berbudaya.. Berbeda sekali dengan orang Minang yang katanya berpendidikan dan berpengaruh dalam sejarah Indonesia. Orang Batak adalah kaum yang malang berbudaya rendah dan sayangnya juga mantiko, menyebalkan dan berpeluang besar jadi sampah masyarakat.
Mungkin tidak hanya saya, banyak Batak sendiri yang mencoba membangun jarak dengan kebatakan mereka. Lihatlah, betapa Mandailing, Angkola, dan juga sebagian Karo atau Dairi-Pakpak mencoba memutuskan asosiasi dengan kebatakan mereka. Bahkan, banyak yang terang-terangan di pantai timur menjelma menjadi Melayu.
Namun, belakangan, banyak hal-hal baru tentang orang Batak yang saya ketahui. Nggak semua batak jadi kernet bus, banyak yang jadi sopir juga, dan sekaligus pemiliknya. Banyak juga Batak yang motong ujung tititnya, nggak makan anjing, nggak makan celeng. Banyak batak yang rajin ke mesjid, bernama arab, dan berjilbab ria. Banyak Batak yang mentereng, wangi, mengkilat, dan gak berjigong. Banyak batak jadi camat, lurah, menteri, bupati, gubernur, rektor, dan pengusaha. Banyak Batak yang cantik jelita, tampan rupawan, ganteng rumanteng.
Di Bandung, saat nyasar sekolah di jurusan dan fakultas top di kampus yang katanya paling top se-Indonesia, saya baru menyadari betapa banyak Batak cerdas berseliweran. Kalau minang perantauan diexcluded, surely lebih banyak si Batak pintar di kampus ini daripada si minang. Batak-batak ini tak hanya senang bergitar, mereka juga pintar bernyanyi bersama dalam paduan suara harmonis. Dan saya nggak sempat lihat mereka makan anjing, malah pada rajin ke restoran padang.
Selain berambut hitam, berjakun, dan berpantat dua, banyak kenalan dekat Batak saya yang berhati lembut, santun, dan pemurah hati. Ingin rasanya saya menuliskan nama-nama teman lama Batak itu di sini.
The reality is tertinggal beratus-ratus kilometer di belakang, Batak melaju kencang, dan dengan mantap menyalip Minang yang senang berlenggak-lenggok seperti banci dengan pantun-pantun dan ayat-ayat al quran berhahasa arab kuno itu.
Di Jakarta, Batak menyelip di antar ratusan pedagang Minang, dan menggeser pelan-pelan, bahkan mendominasi di beberapa titik. Lebih banyak pengusaha baru sukses Batak daripada Minang. Lebih banyak insinyur berkualitas Batak daripada Minang. Lebih banyak eksekutif baru batak daripada minang. Jangan ditanya pengacara, hakim dan jaksa Lebih banyak Batak jadi politikus dan birokrat daripada Minang. O iya, ada Hatta, Sjahrir, Agus Salim, dlliya, di abad lalu
Penulis dan sastrawan? Chairil Anwar, Sutan Takdir Alisjahbana, Idris, Adinegoro, etc? Masih untung masih ada Pak Habe dan Pak Edizal. Dan yang jelas semakin banyak perempuan cantik lebih tergila-gila pada Batak sukses, regardless ujung titit mereka dipotong atau tidak, daripada Padang bau rendang.
Ada beberapa nama Minang yang mencoba terseok-seok menyaingi Batak, tapi mereka lebih Minang perantauan yang tidak terikat pada nilai-nilai primitif Minang.
Yang tersisa? yang tersisa bagi orang Minang adalah keirian, setidaknya bagi Minang seperti saya. Tidak gampang mengubah perspective yang sudah built-in tentang kaum inferior bernama Batak, pemakan anjing, titit berujung, perampok, pemabok, dan yes kafir. Yang ada adalah keirian. Ini sangat berat bagi orang Minang, menghadapi kenyataan menyakitkan ini. 
Tapi hari demi hari, saya makin simpati pada barisan Batak ini. Saya melihat kejayaan orang Minangkabau masa lalu pada kaum pemakan celeng ini. Cerita kesuksesan kaum minoritas Minangkabau di masa lalu, terulang pada kaum Batak.
Menolak adat dan kebiasaan yang tidak sesuai jaman dan tidak produktif; belajar dan mengadopsi peradaban, kebudayaan, dan pengetahuan baru dari Eropa atau Timur Tengah; kritis, berani berbicara dan bertindak; membuka mata, telinga, dan hati lebar-lebar semuanya adalah pondasi kesuksesan orang Minangkabau di masa lalu. 
Hal yang dilupakan telak-telak oleh orang Minangkabau sekarang, diambil alih dengan mantap oleh orang Batak. Orang Minang senang meringkuk dalam tempurung adat bersyandi syarak, dan syarak bersandi kitabullah itu. Rajin menghapal pantun-pantun dan ayat alquran berbahasa arab, dan berpegang padanya erat-erat, very tightly.Tidak punya nyali dan titit untuk melangkah keluar dari tempurung kecil berselimut sabut kelapa jamuran itu.
Setiap kali saya membaca koran, majalah, internet, dan menonton tivi..saya seperti melihat Muhammad Hatta dengan marga Situmorang sedang berbicara atau dibicarakan, saya seperti melihat Sutan Sjahrir dengan marga Panggabean; M Natsir Simbolon, M Yamin Pangaribuan, Agus Salim Butar-Butar, Adinegoro Hutabarat, Chairil Anwar Harahap, Sutan Takdir Alisjahbana Simanjuntak, Marah Rusli Siagian, Rohana Kudus Napitupulu, Rasuna Said Siregar, Abdul Muis Tobing, Tan Malaka Marpaung, Buya Hamka Pardede

Menurut majalah Tempo, 6 dari 10 tokoh Indonesia paling berpengaruh di abad 20 adalah kaum minoritas Minangkabau. Quite possibly, untuk abad 21, enam dari sepuluh tokoh itu adalah dari kaum minoritas Batak.
Nampaknya, mimpi saya untuk melihat orang Minangkabau membangkit batang terendam, mengulangi kejayaan masa lalu tercapai sudah, melalui kaum Batak kafir pemakan anjing ini.
Tapi, sebaiknya saya berhenti mengasosikan Batak dengan anjing, baiknya lah dengan kabau alias kebo. Kerbau adalah simbol kemenangan orang Minang di masa lalu = &quot;Minangkabau&quot;. Namun, kini orang Batak jelas lebih berhak memanggulnya. Batakkabau!

Saya berharap ada kaum Batakkabau yang menerima saya menjadi bagiannya, dengan senang hati saya rubah suku Piliang ini menjadi marga Simatupang.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Testimoni<br />
Tapi hari demi hari, saya makin simpati pada barisan Batak ini. Saya melihat kejayaan orang Minangkabau masa lalu pada kaum pemakan celeng ini. Cerita kesuksesan kaum minoritas Minangkabau di masa lalu, terulang pada kaum Batak.<br />
Saya berharap ada kaum Batakkabau yang menerima saya menjadi bagiannya, dengan senang hati saya rubah suku Piliang ini menjadi marga Simatupang.</p>
<p>Si Batak, from Anjing to Kerbau<br />
SEPERTI banyak orang Minang yang tumbuh dan besar di Bandung, saya naturally tidak punya kesan dan persepsi yang bagus tentang orang Batak.<br />
Batak adalah kafir pemakan anjing. Tentu juga makan babi, tidak beradat, maling, perampok, mabuk, dan ujung titit tidak dipotong, adalah hal-hal lainnya yang worth to mention.<br />
Tentu berbeda sekali dengan orang Minangkabau yang islami, beradat dan santun, serta berbudaya.. Berbeda sekali dengan orang Minang yang katanya berpendidikan dan berpengaruh dalam sejarah Indonesia. Orang Batak adalah kaum yang malang berbudaya rendah dan sayangnya juga mantiko, menyebalkan dan berpeluang besar jadi sampah masyarakat.<br />
Mungkin tidak hanya saya, banyak Batak sendiri yang mencoba membangun jarak dengan kebatakan mereka. Lihatlah, betapa Mandailing, Angkola, dan juga sebagian Karo atau Dairi-Pakpak mencoba memutuskan asosiasi dengan kebatakan mereka. Bahkan, banyak yang terang-terangan di pantai timur menjelma menjadi Melayu.<br />
Namun, belakangan, banyak hal-hal baru tentang orang Batak yang saya ketahui. Nggak semua batak jadi kernet bus, banyak yang jadi sopir juga, dan sekaligus pemiliknya. Banyak juga Batak yang motong ujung tititnya, nggak makan anjing, nggak makan celeng. Banyak batak yang rajin ke mesjid, bernama arab, dan berjilbab ria. Banyak Batak yang mentereng, wangi, mengkilat, dan gak berjigong. Banyak batak jadi camat, lurah, menteri, bupati, gubernur, rektor, dan pengusaha. Banyak Batak yang cantik jelita, tampan rupawan, ganteng rumanteng.<br />
Di Bandung, saat nyasar sekolah di jurusan dan fakultas top di kampus yang katanya paling top se-Indonesia, saya baru menyadari betapa banyak Batak cerdas berseliweran. Kalau minang perantauan diexcluded, surely lebih banyak si Batak pintar di kampus ini daripada si minang. Batak-batak ini tak hanya senang bergitar, mereka juga pintar bernyanyi bersama dalam paduan suara harmonis. Dan saya nggak sempat lihat mereka makan anjing, malah pada rajin ke restoran padang.<br />
Selain berambut hitam, berjakun, dan berpantat dua, banyak kenalan dekat Batak saya yang berhati lembut, santun, dan pemurah hati. Ingin rasanya saya menuliskan nama-nama teman lama Batak itu di sini.<br />
The reality is tertinggal beratus-ratus kilometer di belakang, Batak melaju kencang, dan dengan mantap menyalip Minang yang senang berlenggak-lenggok seperti banci dengan pantun-pantun dan ayat-ayat al quran berhahasa arab kuno itu.<br />
Di Jakarta, Batak menyelip di antar ratusan pedagang Minang, dan menggeser pelan-pelan, bahkan mendominasi di beberapa titik. Lebih banyak pengusaha baru sukses Batak daripada Minang. Lebih banyak insinyur berkualitas Batak daripada Minang. Lebih banyak eksekutif baru batak daripada minang. Jangan ditanya pengacara, hakim dan jaksa Lebih banyak Batak jadi politikus dan birokrat daripada Minang. O iya, ada Hatta, Sjahrir, Agus Salim, dlliya, di abad lalu<br />
Penulis dan sastrawan? Chairil Anwar, Sutan Takdir Alisjahbana, Idris, Adinegoro, etc? Masih untung masih ada Pak Habe dan Pak Edizal. Dan yang jelas semakin banyak perempuan cantik lebih tergila-gila pada Batak sukses, regardless ujung titit mereka dipotong atau tidak, daripada Padang bau rendang.<br />
Ada beberapa nama Minang yang mencoba terseok-seok menyaingi Batak, tapi mereka lebih Minang perantauan yang tidak terikat pada nilai-nilai primitif Minang.<br />
Yang tersisa? yang tersisa bagi orang Minang adalah keirian, setidaknya bagi Minang seperti saya. Tidak gampang mengubah perspective yang sudah built-in tentang kaum inferior bernama Batak, pemakan anjing, titit berujung, perampok, pemabok, dan yes kafir. Yang ada adalah keirian. Ini sangat berat bagi orang Minang, menghadapi kenyataan menyakitkan ini.<br />
Tapi hari demi hari, saya makin simpati pada barisan Batak ini. Saya melihat kejayaan orang Minangkabau masa lalu pada kaum pemakan celeng ini. Cerita kesuksesan kaum minoritas Minangkabau di masa lalu, terulang pada kaum Batak.<br />
Menolak adat dan kebiasaan yang tidak sesuai jaman dan tidak produktif; belajar dan mengadopsi peradaban, kebudayaan, dan pengetahuan baru dari Eropa atau Timur Tengah; kritis, berani berbicara dan bertindak; membuka mata, telinga, dan hati lebar-lebar semuanya adalah pondasi kesuksesan orang Minangkabau di masa lalu.<br />
Hal yang dilupakan telak-telak oleh orang Minangkabau sekarang, diambil alih dengan mantap oleh orang Batak. Orang Minang senang meringkuk dalam tempurung adat bersyandi syarak, dan syarak bersandi kitabullah itu. Rajin menghapal pantun-pantun dan ayat alquran berbahasa arab, dan berpegang padanya erat-erat, very tightly.Tidak punya nyali dan titit untuk melangkah keluar dari tempurung kecil berselimut sabut kelapa jamuran itu.<br />
Setiap kali saya membaca koran, majalah, internet, dan menonton tivi..saya seperti melihat Muhammad Hatta dengan marga Situmorang sedang berbicara atau dibicarakan, saya seperti melihat Sutan Sjahrir dengan marga Panggabean; M Natsir Simbolon, M Yamin Pangaribuan, Agus Salim Butar-Butar, Adinegoro Hutabarat, Chairil Anwar Harahap, Sutan Takdir Alisjahbana Simanjuntak, Marah Rusli Siagian, Rohana Kudus Napitupulu, Rasuna Said Siregar, Abdul Muis Tobing, Tan Malaka Marpaung, Buya Hamka Pardede</p>
<p>Menurut majalah Tempo, 6 dari 10 tokoh Indonesia paling berpengaruh di abad 20 adalah kaum minoritas Minangkabau. Quite possibly, untuk abad 21, enam dari sepuluh tokoh itu adalah dari kaum minoritas Batak.<br />
Nampaknya, mimpi saya untuk melihat orang Minangkabau membangkit batang terendam, mengulangi kejayaan masa lalu tercapai sudah, melalui kaum Batak kafir pemakan anjing ini.<br />
Tapi, sebaiknya saya berhenti mengasosikan Batak dengan anjing, baiknya lah dengan kabau alias kebo. Kerbau adalah simbol kemenangan orang Minang di masa lalu = &#8220;Minangkabau&#8221;. Namun, kini orang Batak jelas lebih berhak memanggulnya. Batakkabau!</p>
<p>Saya berharap ada kaum Batakkabau yang menerima saya menjadi bagiannya, dengan senang hati saya rubah suku Piliang ini menjadi marga Simatupang.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Zul Azmi Sibuea</title>
		<link>http://www.varajambak.com/2009/02/26/orang-batak-orang-minang-orang-jawa/comment-page-1/#comment-170</link>
		<dc:creator>Zul Azmi Sibuea</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Mar 2009 10:35:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://moendg07.wordpress.com/?p=799#comment-170</guid>
		<description>saya setuju alfia alfia, tapi beda lingkup,  diskusi diatas sedang membicarakan typologi, pada umumnya suku bangsa ini, punya sifat seperti ini , seperti itu - alfia betul bahwa ada perlunya juga  menggunakan referensi kenalan, kawan, intensitas perkawanan, pengamatan seprti yang dilakukan oleh uni vara - makin banyak data akan memperkaya pemahaman kita.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya setuju alfia alfia, tapi beda lingkup,  diskusi diatas sedang membicarakan typologi, pada umumnya suku bangsa ini, punya sifat seperti ini , seperti itu &#8211; alfia betul bahwa ada perlunya juga  menggunakan referensi kenalan, kawan, intensitas perkawanan, pengamatan seprti yang dilakukan oleh uni vara &#8211; makin banyak data akan memperkaya pemahaman kita.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: alfia</title>
		<link>http://www.varajambak.com/2009/02/26/orang-batak-orang-minang-orang-jawa/comment-page-1/#comment-169</link>
		<dc:creator>alfia</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Mar 2009 11:29:37 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://moendg07.wordpress.com/?p=799#comment-169</guid>
		<description>Bismillah.....
singkat saja...saya bersyukur di lahirkan dari perempuan dan lelaki minang sehingga membentuk saya gadis minang khususnya.siapa pun &#039;Anda&#039; yang berpandangan dari butir-butir di atas ADALAH salah...Berarti &#039;Anda&#039; belum mengenal about minang dan orang minang tetapi &#039;Anda&#039; baru mengenal orang padang yang belum tentu &#039;Minang&#039;.so mari kita saling mengenal dan belajar di dalam blog Uni Vara Jambak.
selain itu saya dan keluarga juga memiliki silahturahm dengan orang batak asli : dimulai saat dia baru menikah hingga beranak 3,mulai saya anak-anak hingga dewasa saat ini.bersyukur beliau dan keluarganya tetap mau bersilahturhm dengan keluarga saya.disini intinya kenali dahulu orang-orang yang baru anda kenal sendiri &#039;empat mata&#039;. bukan hanya mendengar, mengenal sesaat ataupun berpendapat dari omongan orang lain..:-) 

   Nan baik cinto di hati
   Ka nan elok tunggang niatan
   Nafsu dikungkuang akal budi
   Pandang ka dunia baukuran 

terimakasih
love, peace, friendsihp</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bismillah&#8230;..<br />
singkat saja&#8230;saya bersyukur di lahirkan dari perempuan dan lelaki minang sehingga membentuk saya gadis minang khususnya.siapa pun &#8216;Anda&#8217; yang berpandangan dari butir-butir di atas ADALAH salah&#8230;Berarti &#8216;Anda&#8217; belum mengenal about minang dan orang minang tetapi &#8216;Anda&#8217; baru mengenal orang padang yang belum tentu &#8216;Minang&#8217;.so mari kita saling mengenal dan belajar di dalam blog Uni Vara Jambak.<br />
selain itu saya dan keluarga juga memiliki silahturahm dengan orang batak asli : dimulai saat dia baru menikah hingga beranak 3,mulai saya anak-anak hingga dewasa saat ini.bersyukur beliau dan keluarganya tetap mau bersilahturhm dengan keluarga saya.disini intinya kenali dahulu orang-orang yang baru anda kenal sendiri &#8216;empat mata&#8217;. bukan hanya mendengar, mengenal sesaat ataupun berpendapat dari omongan orang lain..:-) </p>
<p>   Nan baik cinto di hati<br />
   Ka nan elok tunggang niatan<br />
   Nafsu dikungkuang akal budi<br />
   Pandang ka dunia baukuran </p>
<p>terimakasih<br />
love, peace, friendsihp</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

