<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Saya Bangga Jadi Perempuan Minangkabau</title>
	<atom:link href="http://www.varajambak.com/2009/03/21/saya-bangga-jadi-perempuan-minangkabau/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.varajambak.com/2009/03/21/saya-bangga-jadi-perempuan-minangkabau/</link>
	<description>On Minangkabau, matriarchy, Islam, patriarchy, politics and culture</description>
	<lastBuildDate>Fri, 18 Jun 2010 07:36:59 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
	<item>
		<title>By: Ir. Sukardiman</title>
		<link>http://www.varajambak.com/2009/03/21/saya-bangga-jadi-perempuan-minangkabau/comment-page-1/#comment-188</link>
		<dc:creator>Ir. Sukardiman</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Mar 2009 09:15:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://moendg07.wordpress.com/?p=876#comment-188</guid>
		<description>Emak ku Hj. Nurma Abubakar Piliang-Perempuan Minang Tulen

Aku mulai epic dari bundo ku ini tahun 1965, ketika aku berumur 5 tahun, disebelah tangan kiri dijinjingnya dalam tas rotan sabun ATK 50 batang, tangan kanan membawa 5 aleng susu bagian tentara, dikepala dijunjungnya garam, gula,kopi,sardencis dll seberat 25 Kg semuanya dia dapatkan dari ibu-ibu asrama di cicalengka untuk minta tolong dijualkan, sedangkan aku disuruhnya menenteng 1 karung baju korsikan yang beliau dapatkan dari donsanaknya panggaleh kaki limo  di bandung dengan sistim konsinyasi.
Tempat tinggal kami  di rancaekek didepan rumah H. Maksum yang meminta ayah kami tinggal untuk menjaga beliau karena sering ada rampok menyatroni rumahnya yang kebetulan orang terkaya di rancaekek waktu itu sampai sekarang , Ayah kami dari bataliyon pagaruyung yang ditugaskan untuk memberantas DI/TII, adalah seorang prajurut pait yang diistilahkan orang sunda parab mariem (yang pertama kali dihantam meriam jika berperang)
Maka berjalanlah kami setelah sembahyang subuh dan sarapan ubi rebus menyusuri kampung kampung di sekitar, warungcina, melambung berputar  ke desa sayang, tembus ke cipacing dan berhenti sejenak di cileunyi.
Dalam perjalanan door to door aku heran semua orang begitu menyayangi emak ku, sambil membuka barang dagangan ada yang membeli cash, ada juga yang berhutang, selalu menyediakan makanan untuk emak ku, ada ranginang, talas rebus, goreng pisang, dan sampai di cileunyi ada yang menyediakan makan siang dengan goreng ikan mas, lalab dan sambel, dengan nasi merah yang bergizi tinggi.
Emak ku orang minang tulen dari desa karanaur pariaman yang rumah gadangnya dibakar tentara jepang karena tak mau berkolaborasi dengan mereka , sepanjang jalan mancari pitih beliau  menceritakan padaku betapa pahitnya dijajah, sekarang kita harus saling bunuh antar bangsa sendiri orang minang disuruh membunuh Kartosuwiryo dengan pasukan dan pendukungnya, sedangkan orang sunda (bataliyon siliwangi) disuruh membunuh Ahmad Husen beserta dunsana-dunsana kita yang mendukungnya sebagai gerombolan pemberontak PRRI, belum lagi PKI yang menusuk dari belakang, sungguh kacau dan sia-sia perjuangan para pendahulu yang memerdekan Indonesia, setelah merdeka kita bertengkar karena alasan politik.
Emak ku orang hebat, setidaknya bagiku yang masih berusia dini, beban berat yang ditanggungnya dijalaninya dengan senang dan canda tawa sepanjang galengan(batas antar sawah), Sepanjang jalan dari rumah ke rumah ada ada saja yang beliau ceritakan tentang keluhuran budaya minang yang adiluhung, perkasanya perempuan minang yang tidak tergantung pada laki-laki seperti beliau, dimana penghasilannya dari berniaga seperti ini dapek labo 2 kali lipat gajih abak ku.
Kau Bujang, jangan kalah sama emak, emak dan abakmu tidak sempat mengecap pendidikan tinggi karena tak ada kesempatan dan biaya untuk itu, hanya sampai SR 2 tahun sekedar bisa menulis dan membaca yang kami bisa, bahkan abak mu masuk tentara pada usia muda agar tidak membebani ungku dan inyik kau karena yang hanya kusir bendi di kuraitaji.
Emak akan berusaha menyekolahkanmu walau badan emak remuk dengan baban barek ini, aku menangis sepanjang jalan dan dibentak dengan sayang oleh emak bahwa laki-laki tidak boleh cengeng, harus setegar batang karambi yang ditiup badai pun tidak pernah rubuh.
Disetiap perhentian di berinya aku buku untuk dibaca, beliau mengoleksi buku tentang petualangan Karl May, dengan tokoh Winetou dan Old Saterhand, Kho Ping Ho perpuluh puluh jilid, Maria Curie dan tokoh-tohoh dunia seperti Winston churcil, Abraham Lincoln dan buku-buku balai pustaka yang salah satunya tenggelamnya kapal vander wijk karangan Buya HAMKA.
Emak dan Abak mu, bagai laskar salahudin al ayubi yang membakar perahunya ketika sampai di pantai giblartar, untuk tidak kembali ke ranah minang sebelum kalian kakak baradik dapat emak pentaskan menjadi urang di rantau ini apapun yang terjadi.
Pada hari tua emak nanti, emak ingin kalian dapat membangun kampung halaman, dan emak beristirahat dengan tenang di kampung, dan emak menghayalkan pagi-pagi emak bangun setelah sembahyang subuh emak makan katan jo goreng, katupek gulai paku dan  kemudian emak main ka pasir karanaur menyaksikan bagan kanai dengan ikan yang berlimpah, dan itu bagan emak sendiri.
Sungguh itu telah dicapainya, anak-anak beliau semuanya sarjana, dan menyebar di seluruh Indonesia dan maca Negara, ada yang di Bandung, di Jakarta, di lombok, di jambi, swedia, Amerika  dan yang paling besar di karanaur menemani beliau sampai akhir hayatnya di karanaur.
Banyak cerita tentang emak ku, dan ini hanya sepenggal dari episode yang beliau lalui yang memebekas dalam di sanubariku.
Emak ku orang minang tulen yang tidak lekang oleh panas dan tak lapuk kehujanan dan aku bangga jadi anaknya, lain kali aku akan ceritakan bagaimana beliau menempa kami menjadi mandiri dan berani tampil ke depan, baik dalam bermasyarakat maupun menggali ilmu pengetahuan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Emak ku Hj. Nurma Abubakar Piliang-Perempuan Minang Tulen</p>
<p>Aku mulai epic dari bundo ku ini tahun 1965, ketika aku berumur 5 tahun, disebelah tangan kiri dijinjingnya dalam tas rotan sabun ATK 50 batang, tangan kanan membawa 5 aleng susu bagian tentara, dikepala dijunjungnya garam, gula,kopi,sardencis dll seberat 25 Kg semuanya dia dapatkan dari ibu-ibu asrama di cicalengka untuk minta tolong dijualkan, sedangkan aku disuruhnya menenteng 1 karung baju korsikan yang beliau dapatkan dari donsanaknya panggaleh kaki limo  di bandung dengan sistim konsinyasi.<br />
Tempat tinggal kami  di rancaekek didepan rumah H. Maksum yang meminta ayah kami tinggal untuk menjaga beliau karena sering ada rampok menyatroni rumahnya yang kebetulan orang terkaya di rancaekek waktu itu sampai sekarang , Ayah kami dari bataliyon pagaruyung yang ditugaskan untuk memberantas DI/TII, adalah seorang prajurut pait yang diistilahkan orang sunda parab mariem (yang pertama kali dihantam meriam jika berperang)<br />
Maka berjalanlah kami setelah sembahyang subuh dan sarapan ubi rebus menyusuri kampung kampung di sekitar, warungcina, melambung berputar  ke desa sayang, tembus ke cipacing dan berhenti sejenak di cileunyi.<br />
Dalam perjalanan door to door aku heran semua orang begitu menyayangi emak ku, sambil membuka barang dagangan ada yang membeli cash, ada juga yang berhutang, selalu menyediakan makanan untuk emak ku, ada ranginang, talas rebus, goreng pisang, dan sampai di cileunyi ada yang menyediakan makan siang dengan goreng ikan mas, lalab dan sambel, dengan nasi merah yang bergizi tinggi.<br />
Emak ku orang minang tulen dari desa karanaur pariaman yang rumah gadangnya dibakar tentara jepang karena tak mau berkolaborasi dengan mereka , sepanjang jalan mancari pitih beliau  menceritakan padaku betapa pahitnya dijajah, sekarang kita harus saling bunuh antar bangsa sendiri orang minang disuruh membunuh Kartosuwiryo dengan pasukan dan pendukungnya, sedangkan orang sunda (bataliyon siliwangi) disuruh membunuh Ahmad Husen beserta dunsana-dunsana kita yang mendukungnya sebagai gerombolan pemberontak PRRI, belum lagi PKI yang menusuk dari belakang, sungguh kacau dan sia-sia perjuangan para pendahulu yang memerdekan Indonesia, setelah merdeka kita bertengkar karena alasan politik.<br />
Emak ku orang hebat, setidaknya bagiku yang masih berusia dini, beban berat yang ditanggungnya dijalaninya dengan senang dan canda tawa sepanjang galengan(batas antar sawah), Sepanjang jalan dari rumah ke rumah ada ada saja yang beliau ceritakan tentang keluhuran budaya minang yang adiluhung, perkasanya perempuan minang yang tidak tergantung pada laki-laki seperti beliau, dimana penghasilannya dari berniaga seperti ini dapek labo 2 kali lipat gajih abak ku.<br />
Kau Bujang, jangan kalah sama emak, emak dan abakmu tidak sempat mengecap pendidikan tinggi karena tak ada kesempatan dan biaya untuk itu, hanya sampai SR 2 tahun sekedar bisa menulis dan membaca yang kami bisa, bahkan abak mu masuk tentara pada usia muda agar tidak membebani ungku dan inyik kau karena yang hanya kusir bendi di kuraitaji.<br />
Emak akan berusaha menyekolahkanmu walau badan emak remuk dengan baban barek ini, aku menangis sepanjang jalan dan dibentak dengan sayang oleh emak bahwa laki-laki tidak boleh cengeng, harus setegar batang karambi yang ditiup badai pun tidak pernah rubuh.<br />
Disetiap perhentian di berinya aku buku untuk dibaca, beliau mengoleksi buku tentang petualangan Karl May, dengan tokoh Winetou dan Old Saterhand, Kho Ping Ho perpuluh puluh jilid, Maria Curie dan tokoh-tohoh dunia seperti Winston churcil, Abraham Lincoln dan buku-buku balai pustaka yang salah satunya tenggelamnya kapal vander wijk karangan Buya HAMKA.<br />
Emak dan Abak mu, bagai laskar salahudin al ayubi yang membakar perahunya ketika sampai di pantai giblartar, untuk tidak kembali ke ranah minang sebelum kalian kakak baradik dapat emak pentaskan menjadi urang di rantau ini apapun yang terjadi.<br />
Pada hari tua emak nanti, emak ingin kalian dapat membangun kampung halaman, dan emak beristirahat dengan tenang di kampung, dan emak menghayalkan pagi-pagi emak bangun setelah sembahyang subuh emak makan katan jo goreng, katupek gulai paku dan  kemudian emak main ka pasir karanaur menyaksikan bagan kanai dengan ikan yang berlimpah, dan itu bagan emak sendiri.<br />
Sungguh itu telah dicapainya, anak-anak beliau semuanya sarjana, dan menyebar di seluruh Indonesia dan maca Negara, ada yang di Bandung, di Jakarta, di lombok, di jambi, swedia, Amerika  dan yang paling besar di karanaur menemani beliau sampai akhir hayatnya di karanaur.<br />
Banyak cerita tentang emak ku, dan ini hanya sepenggal dari episode yang beliau lalui yang memebekas dalam di sanubariku.<br />
Emak ku orang minang tulen yang tidak lekang oleh panas dan tak lapuk kehujanan dan aku bangga jadi anaknya, lain kali aku akan ceritakan bagaimana beliau menempa kami menjadi mandiri dan berani tampil ke depan, baik dalam bermasyarakat maupun menggali ilmu pengetahuan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Catra</title>
		<link>http://www.varajambak.com/2009/03/21/saya-bangga-jadi-perempuan-minangkabau/comment-page-1/#comment-187</link>
		<dc:creator>Catra</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 21 Mar 2009 15:47:31 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://moendg07.wordpress.com/?p=876#comment-187</guid>
		<description>Saya yakin bahwa perempuan minangkabau lah yang membuat para founding father negara kala itu  beserta orang minang lainnya  bisa menjdai orang hebat. dibalik orang besar terdapat wanita yang tangguh</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya yakin bahwa perempuan minangkabau lah yang membuat para founding father negara kala itu  beserta orang minang lainnya  bisa menjdai orang hebat. dibalik orang besar terdapat wanita yang tangguh</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
