Aku mulai epic dari Bundoku ini tahun 1965, ketika aku berumur 5 tahun. Di sebelah tangan kiri dijinjingnya dalam tas rotan sabun ATK 50 batang, tangan kanan membawa 5 kaleng susu bagian tentara, dikepala dijunjungnya garam, gula, kopi, sardencis dll seberat 25 Kg. Semuanya dia dapatkan dari ibu-ibu asrama di Cicalengka untuk minta tolong dijualkan, sedangkan aku disuruhnya menenteng satu karung baju korsikan yang beliau dapatkan dari donsanaknya (baca: saudaranya), seorang panggaleh kaki limo (baca: pedagang kaki lima) di Bandung dengan sistim konsinyasi.
Tempat tinggal kami di Rancaekek didepan rumah H. Maksum yang meminta ayah kami tinggal untuk menjaga beliau karena sering ada rampok menyatroni rumahnya. Bapak haji ini kebetulan orang terkaya di Rancaekek waktu itu. Sampai sekarang , ayah kami dari bataliyon Pagaruyung yang ditugaskan untuk memberantas DI/TII, adalah seorang prajurut pait yang diistilahkan orang Sunda parab mariem (yang pertama kali dihantam meriam jika berperang).
Maka berjalanlah kami setelah sembahyang subuh dan sarapan ubi rebus menyusuri kampung kampung di sekitar warung cina, melambung berputar ke desa Sayang, tembus ke Cipacing dan berhenti sejenak di Cileunyi. Dalam perjalanan door to door tersebut, aku heran karena semua orang begitu menyayangi emakku. Sambil membuka barang dagangan ada yang membeli cash, ada juga yang berhutang, selalu menyediakan makanan untuk emak ku, ada ranginang, talas rebus, goreng pisang, dan sampai di Cileunyi ada yang menyediakan makan siang dengan goreng ikan mas, lalab dan sambel, dengan nasi merah yang bergizi tinggi.
Emak ku orang minang tulen dari desa Karanaur Pariaman yang rumah gadangnya dibakar tentara jepang karena tak mau berkolaborasi dengan mereka. Sepanjang jalan mancari pitih (baca: uang), beliau menceritakan padaku betapa pahitnya dijajah, sekarang kita harus saling bunuh antar bangsa sendiri. Orang Minang disuruh membunuh Kartosuwiryo dengan pasukan dan pendukungnya, sedangkan orang Sunda (bataliyon Siliwangi) disuruh membunuh Ahmad Husen beserta dunsana-dunsana (baca: saudara-saudara) kita yang mendukungnya sebagai gerombolan pemberontak PRRI, belum lagi PKI yang menusuk dari belakang. Sungguh kacau dan sia-sia perjuangan para pendahulu yang memerdekan Indonesia. Setelah merdeka kita malah bertengkar karena alasan politik.
Emak ku orang hebat, setidaknya bagiku yang masih berusia dini. Beban berat yang ditanggungnya dijalaninya dengan senang dan canda tawa sepanjang galengan(batas antar sawah). Sepanjang jalan dari rumah ke rumah, ada ada saja yang beliau ceritakan tentang keluhuran budaya Minang yang adiluhung, tentang perkasanya perempuan Minang yang tidak tergantung pada laki-laki seperti beliau, dimana penghasilan beliau dari berniaga seperti ini dapek labo (baca: laba/untung) dua kali lipat gajih abak ku.
Kau Bujang, jangan kalah sama emak. Emak dan abakmu tidak sempat mengecap pendidikan tinggi karena tak ada kesempatan dan biaya untuk itu. Hanya sampai SR (Sekolah Rakyat) dua tahun. Sekedar menulis dan membaca yang kami bisa. Bahkan abak mu masuk tentara pada usia muda agar tidak membebani ungku (kakek) dan inyik (nenek) kau karena yang hanya kusir bendi di Kuraitaji. Emak akan berusaha menyekolahkanmu walau badan emak remuk dengan baban barek (baca: beban berat) ini. Aku menangis sepanjang jalan dan dibentak dengan sayang oleh emak bahwa laki-laki tidak boleh cengeng, harus setegar batang karambi (baca: kelapa) yang ditiup badai pun tidak pernah rubuh.
Disetiap perhentian di berinya aku buku untuk dibaca. Beliau mengoleksi buku tentang petualangan Karl May, dengan tokoh Winetou dan Old Saterhand, Kho Ping Ho perpuluh puluh jilid, Maria Curie dan tokoh-tohoh dunia seperti Winston churcil, Abraham Lincoln dan buku-buku Balai Pustaka yang salah satunya adalah Tenggelamnya kapal van der Wijk karangan Buya HAMKA. Emak dan Abak mu, bagai laskar Salahudin al Ayubi yang membakar perahunya ketika sampai di pantai Gibraltar, untuk tidak kembali ke ranah minang sebelum kalian kakak baradik dapat emak pentaskan menjadi urang di rantau ini apapun yang terjadi. Pada hari tua emak nanti, emak ingin kalian dapat membangun kampung halaman, dan emak beristirahat dengan tenang di kampung, dan emak menghayalkan pagi-pagi emak bangun setelah sembahyang subuh emak makan katan jo (baca: dengan) pisang goreng, katupek (baca: ketupat) gulai paku dan kemudian emak main ka pasir Karanaur menyaksikan bagan kanai dengan ikan yang berlimpah, dan itu bagan emak sendiri.
Sungguh itu telah dicapainya. Anak-anak beliau semuanya sarjana, dan menyebar di seluruh Indonesia dan manca negara, ada yang di Bandung, di Jakarta, di Lombok, di Jambi, Swedia, Amerika Serikat dan yang paling besar di Karanaur menemani beliau sampai akhir hayatnya di Karanaur. Banyak cerita tentang emakku, dan ini hanya sepenggal dari episode yang beliau lalui yang membekas dalam di sanubariku. Emakku orang Minang tulen yang tidak lekang oleh panas dan tak lapuk kehujanan dan aku bangga jadi anaknya. Lain kali aku akan ceritakan bagaimana beliau menempa kami menjadi mandiri dan berani tampil ke depan, baik dalam bermasyarakat maupun menggali ilmu pengetahuan.
Catatan:
Kisah di atas adalah kisah nyata daripada Bunda dari Ir. Sukardiman yang pernah menulis pengakuan mengenai orang Batak di blog ini. Kisah ini merupakan kisah pertama dari rangkaian kisah-kisah mengenai para Bundo Kanduang di ranah Minang yang akan saya tampilkan di blog ini. Kisah ini bisa dijadikan pelajaran bagi orang-orang yang telah, sedang merencanakan atau akan “merevolusi” tatanan kekeluargaan matrilineal atau bahkan melecehkan Bunda dan merendahkan Bunda mereka sendiri. Kisah ini membuktikan bahwa para Bunda memang merupakan super hero sejati bagi setiap pribadi-pribadi manusia yang lahir ke dunia ini. Apakah kisah di atas adalah mengenai “kekuasaan Ibu” seperti yang banyak diklaim oleh beberapa pihak, ataukah perbuatan yang berdasarkan rasa kasih Ibu untuk anak-anaknya? Saya rasa kita semua bisa menilainya sendiri.


Perempuan minang adalah perempuan yang gigih, yang gak mau disuapi aja oleh suami, perempuan minang adalah pekerja keras walau harta warisan sudah bakalan didapati kelak nantinya.\par
perempuan minang adalah seorang yang di dengarkan pendapatnya. \par
nice post uni
terharu bana ambo membacanya…teringat uwo (nenek) kisah ini mirip2 perjuangan nenek yg sering diceritakan Ibuku…menjadi perempuan minang, adalah sebuah anugerah
Dear Vara,
Saya tertarik melihat website anda yang isinya cukup lengkap mengenai Minangkabau namun yang lebih tertarik lagi adalah dengan adanya sosok Ibu Puti Reno Oesman sebagai bakal calon Gubernur Sumbar yad. Sebagai orang dari suku Jambak, Pondok, Padang saya sangat bangga dengan beliau karena berani maju sebagai calon dalam kondisi di tanah air yang masih sangat semrawut terlebih di Padang setelah hancur dihantam gempa bumi beberapa waktu yang lalu. Seorang calon tentunya akan lebih senang jika mereka dapat mengajukan diri dalam keadaan yang normal tetapi justru seorang pemimpin sejati muncul pada saat yang kritis sebab dia harus siap meninggalkan segala kesenangan yang seharusnya dapat dinikmatinya jika dia bukan sebagai pemimpin. Beberapa peristiwa telah membuktikan hal itu seperti dalam sejarah Islam, dunia dan khususnya di Indonesia. Seperti Nabi Muhammad SAW termasuk seluruh Rasul dan Nabi, muncul dalam keadaan krisis moral dimana manusia telah melupakan ajaran agama dan Tuhannya yang esa. Di Indonesia sejak zaman dahulu, baik para raja, pemimpin agama, pahlawan nasional/perjuangan selalu muncul dalam keadaan/peristiwa yang sangat tidak menyenangkan seperti ketidakadilan, ketertekanan dan penjajahan.
Selamat untuk anda! Merdeka!!!