Iwan Piliang: JK Kemanusian di Dalam Iqra
Politik pada akhirnya, adalah memilih. Bagi segelintir orang, memilih adalah didasarkan pada kekuasaan. Bagi segelintir yang lain, memilih berarti mendukung orang yang bisa memberikan kemaslahatan bagi orang banyak. Kalaupun tidak ada pilihan, maka memilih bagi segelintir orang seperti ini, berarti memilih orang yang paling sedikit kemungkinannya untuk menghasilkan kemudharatan (akibat buruk) bagi masyarakat. Berikut tulisan Nurliswandi Piliang alias Iwan Piliang mengenai JK di kompasiana.
Sketsa
Jumatan hari ini saya sempatkan lagi mampir shalat di masjid di Kedubes RI di Singapura. Bertepatan hari ini Ulang Tahun Jusuf Kalla (JK), saya memanjatkan doa selamat, agar pribadi JK yang rajin membaca, macam apa yang dituturkan Hamid Awaludin di buku-nya, akan memberi nilai tambah bagi mewujudkan kemaslahatan hidup. Amin.
KETIKA kampanye calon legislatif lalu, dua kali saya diajak JK turut berkampanye. Pertama ketika tujuannya Martapura dan Semarang. Kedua di saat ke Padang. Di Semarang, saya lihat JK mampir ke Soto Bangkong. Lalu saya menulis Sketsa: Semangkok Soto Dalam Kampanye.
Di saat ke Padang, tidak ada kegiatan unik yang dilakukan, saya tidak menulis apa-apa. Namun menarik saya catat, JK selalu memanggil sosok rakyat biasa tampil ke panggung kampanye, berdialog. Di saat panas terik, dari kursinya yg teduh, JK justeru berdiri ke arah panas.
“Saya juga harus berpanas-panas macam Saudara,” ujar JK.
Bayangan saya kala itu, JK akan hadir menjenguk lapak-lapak pedagang kaki lima, yang oleh Pemerintah Sumatera Barat, juga macam di daerah lain, acap digaruk-gusur pedagang tersungkur-sungkur.
Sumpah serapah pedagang kaki lima kepada Pemda Sumbar yang melakukan hal sama dengan daerah lain, saya amini. Mengingat pedagang kaki lima seharusnya menjadi asset luar biasa ranah Minang. Adalah sebuah kenaifan, bila Pemda Sumbar tidak menempatkan langgam berdagang “mandiri” itu menjadi asset utama bernilai, yang kudu ditata berdaya guna.
Pulang dari Padang di jam makan siang sudah di Jakarta lagi. Rombongan JK terus ke Bekasi dan Bogor. Saya memisahkan diri dengan rombongan, mengingat petang berangkat kali ke dua ke Singapura urusan memverifikasi kasus kematian , mahasiswa Indonesia di NTU, yang diduga dibunuh itu, yang hingga hari ini masih menyisakan kegundahan saya; saksi signifikan di ruang profesor Chan Kap Luk dan di tangga darurat tak ada. Alibi kampusnya, NTU, penggalan David di tangga kaca lalu jatuh, menguatkan dia bunuh diri. Plus pula kloning data laptop David, kunci motif, belum bisa saya dapat untuk di-digital forensik secara independen.
Seminggu sudah untuk ketiga kalinya saya di Singapura. Dari jauh saya mengamati peta perpolitikan di tanah air. Dari berjarak, justeru tampak, banyak hal yang membuat geli hati. Namun, satu yang tetap saya ingat, JK adalah sosok yang membaca buku. Buku itu ibarat makan, dia nasi, bukan camilan, macam koran dan majalah.
Biasanya, dari orang-orang yang selalu iqra’ (membaca)lah mutu kehidupan menanjak naik, bukan ambrol ke bawah.














Recent Comments