Meiy Piliang: Negeri Nurani Mati
Kututup mata, kutulikan telinga,
pada berita-berita sengsara di media
tak kubaca berita-berita hangat
yang katanya hebat
yang dijual di mana saja!
aku tak mau muntah
muak!
Bah!
Namun
zaman bablas informasi ini
mereka datang sendiri
memaksaku
Membuka surel, berita sensasi bertebaran
Aku melengos
televisi tetangga berbunyi
berita selebriti, mencari sensasi
ramai-ramai orang menonton sambil ngerumpi
Ada yang bangga, membuka aurat, menjual aib, demi popularitas
Naik kendaraan umum
radio berbunyi
berita negeri
rakyat menangis
yang mati kena bencana
banjir longsor
puting beliung
Wakil rakyat melakukan tinjauan
jalan-jalan ke luar negeri
mengurangi subsidi negeri
Bocah-bocah kurang gizi.
Dinding sekolah doyong atapnya bocor
Bangku siswa bolong-bolong
Perempuan pekerja mati di luar negeri
Masih saja kudengar dengan terpaksa
berita-berita
walau tak ingin
Mestikah kumatikan juga nurani
serupa yang dicontohkan para tetua negeri?
RumahCinta, Ayahanda Medan—8 Januari 2010
***
Tentang penulis Meiy Piliang
Nama lengkap: Harmita Desmerry dari suku Piliang. Pencinta lingkungan, penyuka embun, bunga, gunung, rimba dan isinya, lukisan, bacaan, tulisan, musik, anak-anak, dll. Tinggal di Medan, bersama suami dan 3 anak (2 lelaki dan 1 perempuan). Bersyukur dilahirkan sebagai perempuan Minangkabau dan dididik secara Islam dan adat matriakat.
Sepuluh tahun terakhir aktif bekerja untuk Program Konservasi Gajah Sumatera & Habitatnya pada Divisi Education and Awareness, Fauna & Flora International – Sumatran Elephant Conservation Programme, Medan. Bekerja mobile ke Tangkahan, Sumut, kadang-kadang ke Aceh, Seblat (Bengkulu), dll.
Menulis bagi Meiy yang orang Piliang adalah untuk kebahagiaan dan keseimbangan jiwa raga.
***
Tulisan ini saya peruntukkan untuk para Bundo Kanduang Minangkabau yang telah berjasa dalam membangun kebudayaan, dalam mendidik anak-anak yang berjiwa merdeka dan peduli terhadap masyarakat, serta yang telah membangun hubungan dalam rumah gadang dan kaum.
Tulisan ini juga ditujukan untuk para Bundo Kanduang-Bundo Kanduang lain di Indonesia dan seluruh dunia yang dipanggil dengan Inang, Bunda, Ibu, Buk’e, Simbok, Umi, Mama, Mother, Amma, Amai, Amak, Mamak, Mami, Mamih, Induak, Induah, Mutter, Mutti, Maman, Mom, Mommy, Umm dan Mata. Ini hanyalah sebagian dari nama-nama yang dipakai untuk menyebut seorang perempuan yang telah mengandung, melahirkan, menyusui dan membesarkan setiap manusia di dunia ini.
Puisi ini adalah tulisan pertama dari rangkaian tulisan yang khusus menampilkan perempuan-perempuan Minangkabau beserta karya-karya mereka ataupun kiprah mereka.
***
Baca juga:
Saya Bangga Jadi Perempuan Minangkabau
Emakku Hj. Nurma Abubakar Piliang-Perempuan Minang Tulen














Terimakasih vara, ambo senang dimasukkan sbg salah seorang bundo kanduang
ditunggu bundo kanduang berikutnya….