Sajak ado lapau maya — Sejak ada lapau/warung maya
Sajak awak jadi anggota — Sejak saya jadi anggota
Awak barubah jadi paota — Saya berubah jadi tukang ngobrol
Namono paota — Yang namanya tukang ngobrol
Ado sajo bahan ota – Ada saja bahan obrolannya
Tema ota — Tema obrolan
Tagantuang jo sia ma ota — Tergantung kepada siapa yang mengobrol
Atau tagantuang apo nan takana — Atau tergantung apa yang teringat
Kampuang takana — Kampung teringat
Kampuang jadi ota — Kampung jadi bahan obrolan
Rantau tampek tingga — Rantau tempat tinggal
Indak luput dari ota — Tidak luput dari obrolan
Sambia maota — Sambil ngobrol
Sambia baraja — Sambil belajar
Sambia basuo jo saudara — Sambil bersua dengan saudara
Namono lapau maya — Namanya lapau/warung maya
Kok ado nan babeda — Kalau ada yang berbeda
Ah itu kan biasa — Ah itu kan biasa
Lapau maya — Lapau/warung maya
Indak tampek maota saja — Bukan tempat mengobrol saja
Jadi tampek manyusun rencana — Jadi tempat menyusun rencana
Sia nan kajadi apa — Siapa yang akan jadi apa
Apa untuk siapa
Dimana dibangun apa
Darimana dana untuk apa
Apa rencana kerja
Boleh-boleh aja
Untuk yang bisa dan suka
Bagiku lapau maya
Lebih banyak untuk pelipur lara
Bagiku lapau maya
Lebih banyak untuk baraja (belajar)
Siapa tau suatu masa
Berkat rajin baraja (belajar)
Tulisanku beredar dimana-mana
Rantaunet pasti bangga
Bengkulu, 11 Desember 2009
Hanifah
***
Tentang penulis : Hanifah Damanhuri Oayobada
Hanifah Damanhuri yang orang Oayobada ini adalah Bundo Kanduang Minangkabau yang selain mempunyai kesibukan membesarkan anak, juga bekerja sebagai dosen Matematika di salah satu universitas di Bengkulu, Sumatra. Menulis pantun dan merangkai kata-kata adalah salah satu hobi dari Uni Hanifah Oayobada disamping berjalan-jalan, membaca dan memasak.
Pantun Uni Hanifah Oayobada ini sangat rancak menggambarkan pandangan orang Minangkabau mengenai warung-warung maya seperti facebook.
***
Tulisan ini saya peruntukkan untuk para Bundo Kanduang Minangkabau yang telah berjasa dalam membangun kebudayaan, dalam mendidik anak-anak menjadi orang yang berjiwa merdeka dan peduli terhadap masyarakat, serta yang telah membangun hubungan dalam rumah gadang dan kaum.
Tulisan ini juga ditujukan untuk para Bundo Kanduang-Bundo Kanduang lain di Indonesia dan seluruh dunia yang dipanggil dengan Inang, Bunda, Ibu, Buk’e, Simbok, Umi, Mama, Omak, Mande, Mandeh, Mother, Amma, Amai, Amak, Mamak, Mami, Mamih, Induak, Induah, Mutter, Maman, Mom, Mère, Mommy, Um dan Mata. Ini hanyalah sebagian saja dari nama-nama yang dipakai untuk menyebut perempuan yang telah mengandung dan melahirkan seluruh manusia yang ada di dunia ini.
Hanifah Oayobada, sebagaimana yang dilakukan oleh banyak orang Minangkabau lainnya, adalah salah seorang perempuan Minangkabau yang ditengah kesibukannya yang bertimbun, masih tetap bersibuk diri dengan apa yang menjadi kekuatan masyarakat matriarkal Minangkabau; bukan senjata, otot ataupun perang melainkan kepandaian merangkai kata-kata.
Pantun ini adalah tulisan kedua dari rangkaian tulisan yang khusus menampilkan perempuan-perempuan Minangkabau beserta karya-karya mereka ataupun kiprah mereka.
***
Baca juga:
Saya Bangga Jadi Perempuan Minangkabau
Emakku Hj. Nurma Abubakar Piliang-Perempuan Minang Tulen
Meiy Piliang: Negeri Nurani Mati


Recent Comments