<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Vara Jambak &#187; BI</title>
	<atom:link href="http://www.varajambak.com/tag/bi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.varajambak.com</link>
	<description>On Minangkabau, matriarchy, Islam, patriarchy, politics and culture</description>
	<lastBuildDate>Wed, 28 Jul 2010 14:34:35 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<!-- podcast_generator="podPress/8.8" -->
		<copyright>&#xA9; </copyright>
		<managingEditor>vjambak@varajambak.com ()</managingEditor>
		<webMaster>vjambak@varajambak.com()</webMaster>
		<category></category>
		<itunes:keywords></itunes:keywords>
		<itunes:subtitle></itunes:subtitle>
		<itunes:summary>On Minangkabau, matriarchy, Islam, patriarchy, politics and culture</itunes:summary>
		<itunes:author></itunes:author>
		<itunes:category text="Society &amp; Culture"/>
		<itunes:owner>
			<itunes:name></itunes:name>
			<itunes:email>vjambak@varajambak.com</itunes:email>
		</itunes:owner>
		<itunes:block>No</itunes:block>
		<itunes:explicit>no</itunes:explicit>
		<itunes:image href="http://www.varajambak.com/wp-content/plugins/podpress/images/powered_by_podpress_large.jpg" />
		<image>
			<url>http://www.varajambak.com/wp-content/plugins/podpress/images/powered_by_podpress.jpg</url>
			<title>Vara Jambak</title>
			<link>http://www.varajambak.com</link>
			<width>144</width>
			<height>144</height>
		</image>
		<item>
		<title>Restianrick Bachsjirun Chaniago: SKANDAL BANK CENTURY DAN KEMUNGKINAN PEMAKZULAN PRESIDEN-WAKIL PRESIDEN</title>
		<link>http://www.varajambak.com/2010/01/25/restianrick-bachsjirun-chaniago-skandal-bank-century-dan-kemungkinan-pemakzulan-presiden-wakil-presiden/</link>
		<comments>http://www.varajambak.com/2010/01/25/restianrick-bachsjirun-chaniago-skandal-bank-century-dan-kemungkinan-pemakzulan-presiden-wakil-presiden/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jan 2010 14:24:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[bailout Bank Century Tbk]]></category>
		<category><![CDATA[bailout Century]]></category>
		<category><![CDATA[Bank Century]]></category>
		<category><![CDATA[Bank Century Tbk]]></category>
		<category><![CDATA[BI]]></category>
		<category><![CDATA[Bibit]]></category>
		<category><![CDATA[Chandra]]></category>
		<category><![CDATA[Dewan Perwakilan Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Faisal Basri]]></category>
		<category><![CDATA[Irman Gusman]]></category>
		<category><![CDATA[Ketua DPD]]></category>
		<category><![CDATA[Ketua DPR]]></category>
		<category><![CDATA[Ketua MK]]></category>
		<category><![CDATA[Ketua MPR]]></category>
		<category><![CDATA[Konstitusi]]></category>
		<category><![CDATA[korupsi]]></category>
		<category><![CDATA[KPK]]></category>
		<category><![CDATA[KSSK]]></category>
		<category><![CDATA[Mahfud MD]]></category>
		<category><![CDATA[Mahkamah Konstitusi]]></category>
		<category><![CDATA[Majelis Permusyawaratn Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Marzuki Alie]]></category>
		<category><![CDATA[Menkeu]]></category>
		<category><![CDATA[Menteri Dalam Negeri]]></category>
		<category><![CDATA[Menteri Luar Negeri]]></category>
		<category><![CDATA[Menteri Pertahanan]]></category>
		<category><![CDATA[Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[orang Minagkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Pansus Century]]></category>
		<category><![CDATA[pasal 7A]]></category>
		<category><![CDATA[pasal 7B]]></category>
		<category><![CDATA[Pasal 7C]]></category>
		<category><![CDATA[pasal 8]]></category>
		<category><![CDATA[pejabat publik]]></category>
		<category><![CDATA[pemakzulan]]></category>
		<category><![CDATA[penghianatan terhadap negara]]></category>
		<category><![CDATA[penyuapan]]></category>
		<category><![CDATA[pimpinan lembaga tinggi negara]]></category>
		<category><![CDATA[pimpinan tertinggi pemerintahan]]></category>
		<category><![CDATA[presiden SBY]]></category>
		<category><![CDATA[sidang paripurna]]></category>
		<category><![CDATA[Taufik Kiemas]]></category>
		<category><![CDATA[tindakan pidana berat]]></category>
		<category><![CDATA[UUD tahun 1945]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.varajambak.com/?p=1641</guid>
		<description><![CDATA[


Isu kriminalisasi KPK sukses membebaskan Bibit dan Chandra dari tuntutan hukum dan mengembalikan keduanya ke kursi pimpinan KPK. Sekarang isu kriminalisasi digunakan kembali oleh Faisal Basri ketika di undang oleh Pansus Century dalam kapasitas sebagai ahli ekonomi – Faisal Basri menggunakan isu kriminalisasi dalam konteks bailout Bank Century Tbk. Kebijakan yang berpotensi merugikan Negara Rp. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:center;margin: 12px;"><script type="text/javascript"><!--
google_ad_client = "pub-4808480940768749";
/* 468x60, created 4/9/09 */
google_ad_slot = "2872038909";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//-->
</script>
<script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js">
</script></div><p style="text-align:justify;">Isu kriminalisasi <em><span style="color:#ff0000;">KPK</span></em> sukses membebaskan <em><span style="color:#ff0000;">Bibit</span></em> dan <em><span style="color:#ff0000;">Chandra</span></em> dari tuntutan hukum dan mengembalikan keduanya ke kursi pimpinan KPK. Sekarang isu kriminalisasi digunakan kembali oleh <em><span style="color:#ff0000;">Faisal Basri</span></em> ketika di undang oleh <span style="color:#ff0000;">Pansus Century</span> dalam kapasitas sebagai ahli ekonomi – Faisal Basri menggunakan isu kriminalisasi dalam konteks <span style="color: #3366ff;"><em>bailout Bank Century Tbk</em></span>. Kebijakan yang berpotensi merugikan Negara Rp. 6,7 triliun itu, tidak bisa dipersalahkan karena hal itu adalah kebijakan yang melekat pada pejabat Negara. Akankah isu kriminalisasi kebijakan Century mampu meyakinkan masyarakat? Mahasiswa dan kelas menengah Indonesia umumnya berpendapat bahwa ada yang keliru dan salah dalam kebijakan <span style="color: #3366ff;"><em>bailout Century</em></span>. Kebijakan itu harus dipertanggungjawabkan, bukan hanya oleh <em><span style="color:#ff0000;">Menkeu</span></em> selaku ketua <em><span style="color:#ff0000;">KSSK</span></em>, melainkan juga <span style="color:#ff0000;"><em>Presiden</em></span> sebagai pimpinan tertinggi pemerintahan.</p>
<p style="text-align:justify;">Isu kriminalisasi kebijakan ini yang juga dikemukakan<em><span style="color:#ff0000;"> Presiden SBY</span></em> pada pertemuan dengan tujuh <span style="color: #3366ff;"><em>pimpinan lembaga tinggi Negara</em></span> di Bogor, Kamis (21/1). Mereka antara lain <span style="color: #3366ff;"><em>Ketua MPR</em> </span><em><span style="color:#ff0000;">Taufik Kiemas</span></em>,<span style="color: #3366ff;"> <em>Ketua MK</em></span> <em><span style="color:#ff0000;">Mahfud MD</span></em>, <span style="color: #3366ff;"><em>Ketua DPR</em></span> <em><span style="color:#ff0000;">Marzuki Alie</span></em> dan <em><span style="color:#ffcc00;"><span style="color: #3366ff;">Ketua DPD</span> </span><span style="color:#ff0000;">Irman Gusman</span></em> .</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color: #3366ff;"><em>Berbagai bukti, menunjukkan bahwa Century bangkrut atau gagal operasi karena dirampok oleh pemiliknya</em></span>. Kegagalan Century sama sekali tidak berdampak sistemik. Century terlalu kecil untuk membuat efek domino yang dahsyat. Penyelamatan Century lebih didasari kepentingan tertentu, yang kini tengah diselidiki <em><span style="color:#ff0000;">Pansus</span></em> dan KPK. Psikologi Pasar yang dijadikan alasan utama bailout Century sulit diterima karena ketika dana penyelamatan digelontorkan, tidak ada antrean nasabah yang menarik dananya. Dana bailout Century justru ditarik oleh sejumlah nasabah besar dan untuk menyiasati aturan, dananya dipecah ke rekening yang lebih kecil, sampai-sampai seorang sopir taksi memperoleh Rp. 200 miliar.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagian besar saksi dan ahli yang diundang Pansus menyatakan, Century tidak layak diselamatkan. Ada pelanggaran hukum serius dalam bailout Century. Pada 21 November 2008, angka bailout sebesar Rp. 6,7 triliun sesungguhnya sudah diketahui <em><span style="color:#ff0000;">BI</span></em> dan para petinggi KSSK. Dari kesimpulan sementara ini, sebagian anggota <em><span style="color:#ff0000;">Dewan</span></em> merencanakan untuk meminta pertanggungjawaban langsung dari Presiden SBY. Ada anggota Dewan dan sebagian pengamat yang melihat peluang pemakzulan atau mosi tidak percaya kepada pimpinan tertinggi pemerintahan.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;">JIKA TERBUKTI MELANGGAR HUKUM</span></p>
<p style="text-align:justify;">Jika pada akhirnya bailout Century terbukti melanggar hukum dan <span style="color:#ff0000;"><em>K</em><em>onstitusi</em></span>, dan itu melibatkan <span style="color: #3366ff;"><em>pimpinan tertinggi pemerintahan</em></span> maka hal ini memungkinkan untuk dilakukan <em><span style="color:#ff0000;">pemakzulan</span></em> atas mereka sebagaimana telah diatur dalam <em><span style="color:#ff0000;">UUD Tahun 1945</span></em> sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:#ff0000;">Pasal 7A</span></em>:<br />
Presiden dan/atau Wakil Presiden dapat diberhentikan dalam masa jabatnnya oleh <span style="color: #3366ff;"><em>Majelis Permusyawaratan Rakyat</em></span> atas usul <span style="color: #3366ff;"><em>Dewan Perwakilan Rakyat</em></span>, baik apabila terbukti telah melakukan pelanggaran hukum berupa <span style="color: #3366ff;"><em>pengkhianatan terhadap Negara</em></span>, <span style="color: #3366ff;"><em>korupsi</em></span>, <span style="color: #3366ff;"><em>penyuapan</em></span>, <span style="color: #3366ff;"><em>tindak pidana berat</em></span> lainnya, atau <span style="color: #3366ff;"><em>perbuatan tercela</em></span> maupun apabila <span style="color: #3366ff;"><em>terbukti tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden</em></span>***).</p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:#ff0000;">Pasal 7B</span></em>:</p>
<p style="text-align:justify;">(1) Usul pemberhentian Presiden dan/atau Wakil Presiden dapat diajukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat kepada Majelis Permusyawaratan Rakyat hanya dengan terlebih dahulu mengajukan permintaan kepada <em><span style="color:#ff0000;">Mahkamah Konstitusi</span></em> untuk memeriksa, mengadili, dan memutus Dewan Perwakilan Rakyat bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela; dan/atau pendapat bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden.***)</p>
<p style="text-align:justify;">(2) Pendapat <em><span style="color:#ff0000;">Dewan Perwakilan Rakyat</span></em> bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden telah melakukan pelanggaran hukum tersebut ataupun telah tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden adalah dalam rangka pelaksanaan fungsi pengawasan Dewan Perwakilan Rakyat.***)</p>
<p style="text-align:justify;">(3) Pengajuan permintaan Dewan Perwakilan Rakyat kepada Mahkamah Konstitusi hanya dapat dilakukan dengan dukungan sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang hadir dalam <span style="color: #3366ff;"><em>sidang paripurna</em></span> yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat.***)</p>
<p style="text-align:justify;">(4) Mahkamah Konstitusi wajib memeriksa, mengadili, dan memutus dengan seadil-adilnya terhadap Dewan Perwakilan Rakyat tersebut paling lama sembilan puluh hari setelah permintaan Dewan Perwakilan Rakyat itu diterima oleh Mahkamah Konstitusi.***)</p>
<p style="text-align:justify;">(5) Apabila Mahkamah Konstitusi memutuskan bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden terbukti melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela; dan/atau terbukti bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau wakil Presiden, Dewan Perwakilan Rakyat menyelenggarakan sidang paripurna untuk meneruskan usul pemberhentian Presiden dan/atau Wakil Presiden kepada Majelis Permusyawaratan Rakyat.*** )</p>
<p style="text-align:justify;">(6) Majelis Permusyawaratan Rakyat wajib menyelenggarakan sidang untuk memutuskan usul Dewan Perwakilan Rakyat tersebut paling lambat tiga puluh hari sejak Majelis Permusyawaratan Rakyat menerima usul tersebut. ***)</p>
<p style="text-align:justify;">(7) Keputusan Majelis Permusyawaratan Rakyat atas usul pemberhentian Presiden dan/atau Wakil Presiden harus diambil dalam rapat paripurna Majelis Permusyawaratan yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya ¾ dari jumlah anggota dan disetujui oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota yang hadir, setelah Presiden dan/atau Wakil Presiden diberi kesempatan menyampaikan penjelasan dalam rapat paripurna Majelis Permusyawaratan Rakyat.***)</p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:#ff0000;">Pasal 7C</span></em>:</p>
<p style="text-align:justify;">Presiden tidak dapat membekukan dan/atau membubarkan Dewan Perwakilan Rakyat.*** )</p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:#ff0000;">Pasal 8</span></em>:</p>
<p style="text-align:justify;">(1) Jika Presiden mangkat, berhenti, diberhentikan atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya, ia digantikan oleh Wakil Presiden sampai habis masa jabatannya.*** )<br />
(2) Dalam hal terjadi kekosongan Wakil Presiden, selambat-lambatnya dalam waktu enam puluh hari, Majelis Permusyawaratan Rakyat menyelenggarakan sidang untuk memilih Wakil Presiden dari dua calon yang diusulkan oleh Presiden.*** )</p>
<p style="text-align:justify;">(3) Jika Presiden dan Wakil Presiden mangkat, berhenti, diberhentikan, atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya secara bersamaan, pelaksanaan tugas Kepresidenan adalah <em><span style="color:#ff0000;">Menteri Luar Negeri</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Menteri Dalam Negeri</span></em> dan <em><span style="color:#ff0000;">Menteri Pertahanan</span></em> secara bersama-sama. Selambat-lambatnya tiga puluh hari setelah itu, Majelis Permusyawaratan Rakyat menyelenggarakan sidang untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden dari dua pasangan calon Presiden dan wakil Presiden yang diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calon Presiden dan Wakil Presidennya meraih suara terbanyak pertama dan kedua dalam pemilihan umum sebelumnya, sampai berakhir masa jabatannya.****)</p>
<p style="text-align:justify;">***</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai anak bangsa tentu kita setuju dengan semangat yang sedang bergelora dalam tubuh <em><span style="color:#ff0000;">Pansus Century</span></em> untuk membongkar secara tuntas skandal tersebut. Kebijakan yang salah, yang terbukti menyalahgunakan kekuasaan, harus dikenakan tindakan hukum. Bukan kriminalisasi kebijakan, tapi memberikan pelajaran kepada <span style="color: #3366ff;"><em>pejabat publik</em></span> untuk berhati-hati dalam mengambil keputusan. Proses pengambilan keputusan harus transparan dan tidak melanggar hukum yang berlaku. Nah akhirnya, apakah Pansus Century dapat menuntaskan skandal yang telah jelas fakta-faktanya ini sesuai dengan UUD Tahun 1945 atau malah Pansus Century ikut-ikutan melanggar UUD Tahun 1945? Mari kita semua tunggu?!</p>
<p class="addtoany_share_save_container">
    <a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?sitename=Vara%20Jambak&amp;siteurl=http%3A%2F%2Fwww.varajambak.com%2F&amp;linkname=Restianrick%20Bachsjirun%20Chaniago%3A%20SKANDAL%20BANK%20CENTURY%20DAN%20KEMUNGKINAN%20PEMAKZULAN%20PRESIDEN-WAKIL%20PRESIDEN&amp;linkurl=http%3A%2F%2Fwww.varajambak.com%2F2010%2F01%2F25%2Frestianrick-bachsjirun-chaniago-skandal-bank-century-dan-kemungkinan-pemakzulan-presiden-wakil-presiden%2F"><img src="http://www.varajambak.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Save/Bookmark"/></a>

	</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.varajambak.com/2010/01/25/restianrick-bachsjirun-chaniago-skandal-bank-century-dan-kemungkinan-pemakzulan-presiden-wakil-presiden/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>RIZAL RAMLI: Ini Perampokan Bank Difasilitasi BI dan Menkeu</title>
		<link>http://www.varajambak.com/2009/12/21/rizal-ramli-ini-perampokan-bank-difasilitasi-bi-dan-menkeu/</link>
		<comments>http://www.varajambak.com/2009/12/21/rizal-ramli-ini-perampokan-bank-difasilitasi-bi-dan-menkeu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Dec 2009 11:22:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Anggodo]]></category>
		<category><![CDATA[audit investigasi]]></category>
		<category><![CDATA[Aulia Pohan]]></category>
		<category><![CDATA[B.J. Habibie]]></category>
		<category><![CDATA[Bank Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Bank Century]]></category>
		<category><![CDATA[BI]]></category>
		<category><![CDATA[Boediono]]></category>
		<category><![CDATA[BPK]]></category>
		<category><![CDATA[Burhanuddin]]></category>
		<category><![CDATA[Century]]></category>
		<category><![CDATA[DPR]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Fox Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[gubernur bank sentral]]></category>
		<category><![CDATA[Gubernur BI]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[Habibie]]></category>
		<category><![CDATA[impeachment]]></category>
		<category><![CDATA[kasus Bank Bali]]></category>
		<category><![CDATA[kasus Bulog]]></category>
		<category><![CDATA[kasus Century]]></category>
		<category><![CDATA[KBI]]></category>
		<category><![CDATA[Ketua Bulog]]></category>
		<category><![CDATA[Ketua Komite Indonesia Bangkit]]></category>
		<category><![CDATA[Ketua KSSK]]></category>
		<category><![CDATA[Komite Indonesia Bangkit]]></category>
		<category><![CDATA[KPK]]></category>
		<category><![CDATA[Menko Perekonomian]]></category>
		<category><![CDATA[Mentri Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[orang Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Padang]]></category>
		<category><![CDATA[pemerintahan Habibie]]></category>
		<category><![CDATA[pengawasan bank]]></category>
		<category><![CDATA[PPATK]]></category>
		<category><![CDATA[Presiden Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[proses bail out]]></category>
		<category><![CDATA[Rizal Ramli]]></category>
		<category><![CDATA[sanksi pidana]]></category>
		<category><![CDATA[skandal Bank Century]]></category>
		<category><![CDATA[skandal keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[Sri Mulyani]]></category>
		<category><![CDATA[tim kampanye]]></category>
		<category><![CDATA[tindak kriminal pidana]]></category>
		<category><![CDATA[UU]]></category>
		<category><![CDATA[UU Antikorupsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.varajambak.com/?p=1606</guid>
		<description><![CDATA[&#8212; Ibarat main catur, kalau Presiden tidak mau mengorbankan ster atau menteri, maka raja yang akan kena.
MANTAN Menko Perekonomian Rizal Ramli membandingkan skandal Bank Century dengan kasus Bulog yang menjatuhkan Presiden Gus Dur dan kasus Bank Bali yang meruntuhkan pemerintahan Habibie. Menurutnya, kasus Century lebih dahsyat dan menyeramkan dibanding dua kasus itu. “Ini perampokan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><em>&#8212; Ibarat main catur, kalau Presiden tidak mau mengorbankan ster atau menteri, maka raja yang akan kena.</em></p>
<p style="text-align:justify;">MANTAN <span style="color: #0000ff;"><em>Menko Perekonomian</em></span> <em><span style="color:#ff0000;">Rizal Ramli</span></em> membandingkan <span style="color: #0000ff;"><em>skandal Bank Century</em></span> dengan <span style="color: #0000ff;"><em>kasus Bulog</em></span> yang menjatuhkan <em><span style="color:#ff0000;">Presiden Gus Dur</span></em> dan <span style="color: #0000ff;"><em>kasus Bank Bali</em></span> yang meruntuhkan pemerintahan <em><span style="color:#ff0000;">Habibie</span></em>. Menurutnya, <em>kasus Century</em> lebih dahsyat dan menyeramkan dibanding dua kasus itu. “<span style="color: #0000ff;"><em>Ini perampokan yang difasilitasi BI dan Menteri Keuangan</em></span>,” ujar Rizal Ramli kepada Sri Widodo dari <a href="http://www.indonesia-monitor.com/main/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=3787&amp;Itemid=33"><em><span style="color:#ff00ff;">Indonesia Monitor</span></em></a>, Selasa (24/11). Berikut ini petikan wawancara dengan <span style="color: #0000ff;"><em>Ketua Komite Bangkit Indonesia</em></span> (<em><span style="color:#ff0000;">KBI</span></em>) itu.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8212; Bagaimana Anda melihat hasil <span style="color: #0000ff;"><em>audit investigasi</em></span> <em><span style="color:#ff0000;">BPK</span></em>?</p>
<p style="text-align:justify;">Agak mengecewakan karena tidak ada aliran dana. Padahal, harusnya ada laporan audit sampai lima lapis seperti halnya <span style="color: #0000ff;"><em>kasus Bank Bali</em></span>. Dari situ bisa ketahuan siapa saja yang menarik manfaat dari skandal yang sangat besar ini.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8212; Jadi, menurut Anda betul ada rekayasa?</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau kita baca hasil laporan BPK, sulit untuk membantah bahwa <em><span style="color:#ff0000;">Boediono</span></em> dan <em><span style="color:#ff0000;">Sri Mulyani </span></em>telah melakukan<span style="color: #0000ff;"><em> tindak kriminal pidana</em></span> yang memperkaya orang lain dan melanggar berbagai aturan dan <em><span style="color:#ff0000;">UU</span></em> yang berlaku. Dalam banyak kesempatan,<em><span style="color:#ff0000;"> Sri Mulyani</span></em> selalu berkelit.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8212; Siapa yang paling bertanggung jawab?</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak bisa dihindarkan, <em><span style="color:#ff0000;">Boediono</span></em> sebagai <em><span style="color:#ffcc00;"><span style="color: #0000ff;">gubernur bank sentral</span> </span></em>dan <em><span style="color:#ff0000;">Sri Mulyani</span></em> sebagai <span style="color: #0000ff;"><em>menteri keuangan</em></span>. Saya yakin Boediono tidak terima uang, tapi dalam berbagai <span style="color: #0000ff;"><em>skandal keuangan</em></span> biasanya ada motif lain, terutama kekuasaaan. Dulu waktu kasus Bank Bali, gubernur yang kena pidana waktu itu tidak terima uang sepeser pun, tapi ia dibujuk oleh tim sukses, diiming-imingi bahwa kalau <em><span style="color:#ff0000;">Habibie</span></em> terpilih, ia akan ditunjuk kembali sebagai <em><span style="color:#ff0000;">Gubernur BI </span></em>selama lima tahun.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8212; Jadi, motifnya apa?</p>
<p style="text-align:justify;">Motifnya kekuasaan, bukan uang. Sama juga dengan <em><span style="color:#ff0000;">Burhanuddin</span></em> dan <em><span style="color:#ff0000;">Aulia Pohan</span></em>, mereka tidak terima uang satu rupiah pun, tapi mereka ingin mengamankan kekuasaan <em><span style="color:#ff0000;">BI</span></em> dalam <span style="color: #0000ff;"><em>pengawasan bank</em></span>. Apa yang dilakukan Boediono dan Sri Mulyani adalah mengamankan beberapa orang yang terkait dengan kekuasaan.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8212; Sri Mulyani berkali-kali mengatakan bahwa <span style="color: #0000ff;"><em>proses bail out</em></span> sudah sesuai prosedur?</p>
<p style="text-align:justify;">Ini jawaban tipikal birokrat, berkilah telah sesuai prosedur. Pertanyaan saya prosedur yang mana, wong jelas-jelas <em><span style="color:#ff0000;">DPR</span></em> hanya menyetujui Rp 1,3 triliun, tidak ada UU atau kesepakatan dengan DPR untuk mengajukan lebih lanjut, dan mereka lakukan ini secara sembunyi-sembunyi, baru ketahuan oleh publik setelah beberapa bulan kemudian. Padahal, kalau betul sesuai prosedur, ngapain disembunyikan.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8212; Apakah kasus ini hanya akan mentok kepada Boediono dan Sri Mulyani?</p>
<p style="text-align:justify;">Saya kira ada beberapa pejabat level di bawahnya yang juga bisa menghadapi <span style="color: #0000ff;"><em>sanksi pidana</em></span>, karena dalam <em><span style="color:#ff0000;">UU Antikorupsi</span></em> tidak perlu memperkaya diri sendiri, tapi membantu memperkaya orang lain dan merugikan negara, bisa kena.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8212; Apakah Presiden tidak tahu dengan keputusan yang diambil Boediono dan Sri Mulyani?</p>
<p style="text-align:justify;">Saya tidak bisa membuktikan, karena harus ada verifikasi. Tapi dalam hal seperti ini, Menteri Keuangan apalagi sekaligus sebagai <em><span style="color:#ff0000;">Ketua KSSK</span></em>, sepenuhnya sering mengambil keputusan sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8212; Mungkinkah<span style="color: #0000ff;"> <em>kasus Century</em></span> terungkap tuntas?</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau kita baca laporan <em><span style="color:#ff0000;">BPK</span></em>, memang bahasanya teknis. Tapi kalau dijelaskan dalam bahasa sederhana kepada rakyat biasa, ini jauh lebih dahsyat dari kasus <em><span style="color:#ff0000;">Anggodo</span></em>. Anggodo kan Cuma sekitar Rp 5 miliar, kalau <em><span style="color:#ff0000;">Century</span></em> kan Rp 6,7 triliun. Kalau dijelaskan bagaimana perampokan dilakukan bank tersebut, baik oleh manajemen, pemilik, dan <span style="color: #0000ff;"><em>difasilitasi oleh BI dan Menteri Keuangan</em></span>, saya rasa rakyat akan lebih kaget lagi. Saya menyarankan agar kasus ini ditangani oleh <em><span style="color:#ff0000;">KPK</span></em>.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8212; Bagaimana kasus ini jika dibandingkan dengan skandal yang menjatuhkan <em><span style="color:#ff0000;">Gus Dur</span></em> dan <em><span style="color:#ff0000;">Habibie</span></em>?</p>
<p style="text-align:justify;">Gus Dur dituduh dalam kasus Bulog. Ternyata yang nimpe itu tukang pijatnya, senilai Rp 35 miliar. Saya waktu itu <em><span style="color:#ff0000;">Ketua Bulog</span></em>. Waktu saya tangkap ternyata tukang pijatnya punya mobil Ford dan Mercedes beberapa buah. Meski tuduhan tidak benar, tapi Gus Dur jatuh. <em><span style="color:#ff0000;">Bank Bali</span></em> cuma Rp 900 miliar pemerintahan Habibie jatuh. Jadi, kasus ini kalau dibandingkan dengan dua kasus yang menyangkut kekuasaan, kasus ini jauh lebih dahsyat, jauh lebih berat, dan jauh lebih menyeramkan.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8212; Jadi, apa yang harus dilakukan Presiden?</p>
<p style="text-align:justify;">Presiden bisa meminta <em><span style="color:#ff0000;">PPATK</span></em> melakukan <span style="color: #0000ff;"><em>audit finansial</em></span> sebanyak lima lapis. Kalau Presiden sungguh-sungguh, tolong juga diaudit <span style="color:#ff0000;"><em>Fox Indonesia</em></span>,<span style="color: #0000ff;"> <em>tim kampanye</em></span>, dan <span style="color: #0000ff;"><em>yayasan-yayasan</em></span>, dari situ semua akan ketahuan apakah ada aliran dana yang masuk.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8212; Jika kasus ini terbongkar, apakah bisa berdampak kepada<span style="color: #0000ff;"> <em>impeachment</em></span> terhadap Presiden?</p>
<p style="text-align:justify;">Ini ibarat main catur, kalau presiden tidak mau mengorbankan ster atau menteri, maka raja yang akan terkena.</p>
<p style="text-align:justify;">***</p>
<p style="text-align:justify;">Rizal Ramli adalah <em><span style="color:#ff0000;">orang Minangkabau</span></em> kelahiran <em><span style="color:#ff0000;">Padang</span></em> yang pernah menjabat sebagai<span style="color: #0000ff;"> <em>Menko Perekonomian</em></span> dan <span style="color: #0000ff;"><em>Mentri Keuangan</em></span>. Pada pilpres lalu Rizal Ramli mencalonkan diri menjadi presiden lewat jalut independen dan kini memimpin <em><span style="color:#ff0000;">Komite Indonesia Bangkit</span></em>.</p>
<p class="addtoany_share_save_container">
    <a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?sitename=Vara%20Jambak&amp;siteurl=http%3A%2F%2Fwww.varajambak.com%2F&amp;linkname=RIZAL%20RAMLI%3A%20Ini%20Perampokan%20Bank%20Difasilitasi%20BI%20dan%20Menkeu&amp;linkurl=http%3A%2F%2Fwww.varajambak.com%2F2009%2F12%2F21%2Frizal-ramli-ini-perampokan-bank-difasilitasi-bi-dan-menkeu%2F"><img src="http://www.varajambak.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Save/Bookmark"/></a>

	</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.varajambak.com/2009/12/21/rizal-ramli-ini-perampokan-bank-difasilitasi-bi-dan-menkeu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jilat-jilat Pantat SBY-Boediono dan Akhir Karir Tidak Terhormat Goenawan Mohamad</title>
		<link>http://www.varajambak.com/2009/12/09/jilat-jilat-pantat-sby-boediono-dan-akhir-karir-tidak-terhormat-goenawan-mohamad/</link>
		<comments>http://www.varajambak.com/2009/12/09/jilat-jilat-pantat-sby-boediono-dan-akhir-karir-tidak-terhormat-goenawan-mohamad/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Dec 2009 13:12:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[anti-komunisme]]></category>
		<category><![CDATA[AS]]></category>
		<category><![CDATA[Bank Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[BI]]></category>
		<category><![CDATA[Boediono]]></category>
		<category><![CDATA[Bondan Gunawan]]></category>
		<category><![CDATA[Bung Karno]]></category>
		<category><![CDATA[Christianto Wibisono]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Frans Aba MA]]></category>
		<category><![CDATA[GMNI]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[IMF]]></category>
		<category><![CDATA[IMF/World Bank]]></category>
		<category><![CDATA[imperialisme]]></category>
		<category><![CDATA[Marsilam Simanjuntak]]></category>
		<category><![CDATA[Marxisme]]></category>
		<category><![CDATA[National University of Malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[pasangan pilkada Jawa Timur]]></category>
		<category><![CDATA[pemuja Barat]]></category>
		<category><![CDATA[Pramudya Ananta Tour]]></category>
		<category><![CDATA[Robert Tantular]]></category>
		<category><![CDATA[SBY]]></category>
		<category><![CDATA[SBY-Boediono]]></category>
		<category><![CDATA[skandal Bank Century]]></category>
		<category><![CDATA[Susilo Bambang Yudhoyono]]></category>
		<category><![CDATA[Washington DC]]></category>
		<category><![CDATA[World Bank]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.varajambak.com/?p=1565</guid>
		<description><![CDATA[Berikut essay dari pendukung fanatik SBY dan Boediono sejak pilpres lalu, Goenawan Mohamad. Goenawan Mohamad adalah orang Jawa pendukung fanatik pasangan pilkada Jawa Timur yang dikenal sebagai SBY-Boediono. Goenawan Mohamad mulai dikenal sebagai &#8220;intelektual&#8221; pada akhir zaman Sukarno dan di zaman Suharto karena posisinya sebagai tokoh kanan, dan tokoh anti-komunisme yang kebetulan  segaris dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Berikut essay dari pendukung fanatik <em><span style="color:#ff0000;">SBY</span></em> dan <em><span style="color:#ff0000;">Boediono</span></em> sejak pilpres lalu,<em><span style="color:#ff0000;"> Goenawan Mohamad</span></em>. Goenawan Mohamad adalah <span style="color: #0000ff;"><em>orang Jawa</em></span> pendukung fanatik<em><span style="color:#ffcc00;"> <span style="color: #0000ff;">pasangan pilkada Jawa Timur</span></span></em> yang dikenal sebagai<em><span style="color:#ff0000;"> SBY-Boediono</span></em>. Goenawan Mohamad mulai dikenal sebagai &#8220;intelektual&#8221; pada akhir zaman <em><span style="color:#ff0000;">Sukarno</span></em> dan di zaman <em><span style="color:#ff0000;">Suharto</span></em> karena posisinya sebagai tokoh kanan, dan tokoh <em><span style="color:#ff0000;">anti-komunisme</span></em> yang kebetulan  segaris dengan kebijakan Suharto yang &#8220;anti komunisme&#8221;. Tulisan kedua dari <span style="color: #0000ff;"><em>inilah.com</em></span> memuat skenario penyelamatan Boediono oleh tokoh pemuja Barat Goenawan Mohamad lewat tangan <em><span style="color:#ff0000;">IMF</span></em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika banyak kelompok menyebut orang-orang beragama sebagai &#8220;kanan&#8221;, maka Goenawan Mohamad yang disebut oleh <em><span style="color:#ff0000;">Pramudya Ananta Tour</span></em> sebagai &#8220;kanan&#8221;, adalah tokoh &#8220;kanan&#8221; dalam arti lainnya yaitu <span style="color: #0000ff;"><em>pemuja Barat</em></span> terutama AS.</p>
<p style="text-align:justify;">Pidato Goenawan ini, tidak jelas ujung pangkalnya walaupun penuh kata-kata keren dan berbunga seperti <em><span style="color:#ff0000;">Marxisme </span></em>dan <em><span style="color:#ff0000;">imperialisme</span></em> ataupun kata-kata Inggris seperti <span style="color: #0000ff;"><em>vote-getter</em> </span>ataupun <span style="color: #0000ff;"><em>last but not least</em></span> (yang bagi seorang pemuja Barat kurang afdol kalau tidak diselipkan satu atau dua). Pidato ini juga hampir hanya berisi hanya puja-puji dan pembelaan tanpa dasar, bahkan bernada fanatik, terhadap Boediono dan  SBY.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p style="text-align: center;">
<object width="560" height="340"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/K1wX-cG-cTw&#038;hl=de_DE&#038;fs=1&#038;"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/K1wX-cG-cTw&#038;hl=de_DE&#038;fs=1&#038;" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="560" height="340"></embed></object></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #0000ff;">Goenawan Mohamad, pembela Boediono (dan IMF/World Bank?)</span></p>
<p style="text-align:justify;">***<br />
<span style="color: #0000ff;"><em>Politik 2009, Keganjilan dan Harapan</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Assalamuaikum wr.wb.<br />
Salam sejahtera bagi kita semua.</p>
<p style="text-align:justify;">Merdeka!</p>
<p style="text-align:justify;">Para hadirin sekalian, kita ingat, di gedung ini, antara 22 Agustus sampai dengan 22 Desember di tahun 1930, <em><span style="color:#ff0000;">Bung Karno</span></em> diadili.  Kita tahu, di bangunan yang dulu tempat peradilan negeri kota Bandung ini, Bung Karno membacakan pleidoinya yang kemudian jadi dokumen sejarah perjuangan kemerdekaan nasional:  sebuah teks yang berjudul Indonesia Menggugat.</p>
<p style="text-align:justify;">Teks itu adalah uraian yang tajam dan menggugah hati tentang apa itu “<em><span style="color:#ff0000;">imperialisme</span></em>”,  khususnya “imperialisme” yang membelenggu rakyat Indonesia.  Dalam kesempatan sore ini,  saya tak bermaksud mengulang tesis-tesis termashur itu. Saya hanya ingin memakai kejadian 79 tahun yang silam itu untuk jadi pangkal percakapan tentang apa yang melibatkan perhatian kita di Indonesia hari ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Hari-hari ini adalah hari-hari pemilihan umum: kita hampir rampung menyelesaikan pemilihan anggota dewan legislatif, dan kita sedang akan memasuki tahap awal pemilihan presiden Republik dan wakilnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi yang penting bukan itu semata-mata.  Kita bertemu di sini karena kita merasa sesuatu yang ganjil tengah terjadi.  Sesuatu yang ganjil dan mengandung harap.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang ganjil adalah bahwa hari ini kita menemukan seorang yang akan dicalonkan jadi wakil presiden – dan orang itu tidak datang dari kancah partai politik.</p>
<p style="text-align:justify;">Boediono – tamu kehormatan kita sore ini — adalah seorang ekonom; ia ekonom yang bekerja dalam pengelolaan perekonomian Indonesia; ia seorang teknokrat.  Ia bukan pemimpin partai. Ia bukan anggota dinasti pemimpin partai.  Ia bukan tokoh terkenal dalam pasaran media seperti para bintang sinetron, komedian dan penyanyi. Ia bukan seorang vote-getter.</p>
<p style="text-align:justify;">Presiden <em><span style="color:#ff0000;">Susilo Bambang Yudhoyono</span></em> memilihnya sebagai calon wakilnya karena Boediono  memenuhi sejumlah syarat.  Bagi saya, yang lebih penting ketimbang syarat-syarat itu adalah kenyataan bahwa Boediono dikenal sebagai seorang yang telah membuktikan dedikasinya untuk perbaikan kehidupan perekonomian bangsa;  dan tak kurang dari itu, ia dikenal sebagai seorang pejabat dan pribadi yang bersih.</p>
<p style="text-align:justify;">Di atas saya sebut, itulah sebuah “keganjilan” – dan di atas saya sebut juga, “keganjilan” itu membawa harap. Diakui atau tidak, ada yang merisaukan dalam kegaliban kehidupan politik kita. Kini <em><span style="color:#ff0000;">SBY</span></em>, dengan memilih Boediono, menunjukkan langkah kepemipinan yang berani – dan itu indikasi bahwa kita, sebagai bangsa, sanggup memperbaiki keadaan yang merisaukan itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Telah luas diketahui, hari-hari ini orang berpolitik dengan semacam sinisme yang gelap: di sebuah zaman ketika semua dapat diperjual-belikan,  orang cenderung percaya bahwa  bahkan partai harus juga dianggap sebagai komoditi.</p>
<p style="text-align:justify;">Para calon anggota legislatif yang berkampanye ke daerah bisa bercerita, bagaimana ratusan juta rupiah dihabiskan untuk memperoleh suara. Sebaliknya  ada juga cerita bagaimana para pemilih mengorgansiir  diri jadi kelompok dan menawarkan dukungan agar dibeli.</p>
<p style="text-align:justify;">Walhasil, ikatan yang terjadi bukanlah ikatan agenda dan cita-cita, melainkan ikatan antara penjaja dan pembeli.</p>
<p style="text-align:justify;">Di tingkat elite politik, sinisme yang lebih gelap  berlaku.  Koalisi antarpartai dibentuk atau ditiadakan bukan berdasarkan program ataupun ideologi, bukan karena apa yang akan diperbuat bagi pemilih dan dengan prinsip yang jelas.  Koalisi antar partai hampir sepenuhnya berkisar di sekitar kedudukan apa untuk siapa. Atau, lebih buruk lagi, rembugan koalisi berkisar di sekitar siapa yang membayar dan siapa yang dibayar.</p>
<p style="text-align:justify;">Di tengah sinisme itu, di antara berisiknya tawar menawar yang seperti pasar ternak itu, pertanyaan pun tumbul:  memang tidak adakah perilaku yang bukan jual-beli dalam politik? Adakah dalam politik prinsip tentang kebaikan dan kebenaran Benarkah semuanya untuk kepentingan subyektif, dan tak ada sesuatu nilai universal yang menggugah hati dan membentuk kesepakatan?</p>
<p style="text-align:justify;">Saudara Boediono dan hadirin yang saya hormati.</p>
<p style="text-align:justify;">79 tahun yang lalu, di ruangan ini, Bung Karno memulai pleidoinya dengan sebuah statement yang menarik.  Sebuah statement yang menunjukkan betapa bisa palsunya klaim pemerintah kolonial, bahwa kebenaran dan keadilan yang hendak ditegakkannya – dalam tubuh hukum – adalah kebenaran dan keadilan yang universal.</p>
<p style="text-align:justify;">Bung Karno menyebut apa yang salah dalam hukum yang dipergunakan hari itu.  “Tuan-tuan Hakim”, katanya, “kami di sini didakwa bersalah menjalankan hal-hal, yang sangat sekali memberi kesempatan lebar pada pendapat subyektif….”</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun jaksa menyatakan Bung Karno bersalah berdasarkan pasal tentang “pemberontakan”.  Tapi Bung Karno menunjukkan, pasal itu, seperti pasal yang menyebut diri “pencegah penyebaran rasa benci” (haatzai-artikelen), mengandung kata-kata yang bisa ditafsirkan seenaknya oleh yang membacanya, terutama para jaksa dan hakim kolonial.  Bung Karno mengulang apa yang sering dikatakan tentang pasal-pasal seperti itu – yakni “aturan karet yang keliwatan kekaretannya.”  Artinya aturan yang dapat direntang dan dikerutkan sesuai dengan kepentingan sepihak, atau apa yang disebut Bung Karno sebagai “subyektif”.</p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang tersirat dari pernyataan Bung Karno ialah bahwa keadilan dan kebenaran, yang seharusnya bersifat universal, telah direduksi jadi pasal-pasal.  Dengan kata lain,  yang universal, yang tak terhingga, telah dikuasai oleh bahasa yang berkuasa, oleh sistem simbolik yang terbatas kepentingannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka Bung Karno pada akhirnya dinyatakan bersalah.  Ia dihukum empat tahun penjara dan dikurung di Sukamiskin.  Tapi tak mudah menerima keputusan itu sebagai ekspresi keadilan.  Pada saat palu diketuk, terasa benarlah  apa yang selalu ditandaskan oleh <em><span style="color:#ff0000;">Marxisme</span></em> – bahwa keadilan dan kebenaran selamanya adalah keadilan dan kebenaran dari kelas yang bekrkuasa. Dengan kata lain, dalam rumusan tentang nilai-nilai selalu ada dimensi politik, pertarungan kekuasaan, dan perebutan hegemoni.</p>
<p style="text-align:justify;">Memang, Marxisme adalah suara jaman modern, bagian dari apa yang disebut hermeneutics of suspiscion, yang meragukan bahwa ada kebenaran yang tak memihak, yang tak subyektif.   Tetapi harus pula diingat, bahwa bahkan dalam Marxisme, kita senantiasa dirundung pertanyaan: benarkah politik hanyalah pergulatan kepentingan “subyektif” atau sepihak? Jika demikian, apa makna perjuangan kaum buruh untuk membebaskan manusia dari ikatan kepentingan kelas-kelas? Bila perjuangan politik tak bisa berangkat dari kebenaran dan keadilan yang berlaku bagi siapa saja, bagaimana ia bisa menggugah banyak orang, mengajak banyak orang, untuk bergerak?</p>
<p style="text-align:justify;">Saya termasuk orang yang percaya, bahwa perjuangan politik justru perjuangan yang terdorong untuk melawan kepentingan-kepentingan yang sempit.  Politik  jelas berbeda dari  pasar ternak.  Ada yang universal dalam nilai-nilai yang membuat kita memenuhi panggilan politik.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi yang universal bukanlah sesuatu yang sudah dirumuskan sepenuhnya. Menurut hemat saya, yang universal adalah apa yang justru dirasakan sebagai kekurangan.  Keadilan jadi sesuatu yang seakan-akan hadir, memanggil-manggil, ketika ketidak-adilan merajalela.  Kebenaran jadi mendesak semua orang ketika dusta menguasai percakapan.  Dalam Indonesia Menggugat, Bung Karno  mengutarakan ini dengan retorika yang memukau:</p>
<p style="text-align:justify;">….Diberi hak-hak atau tidak diberi hak-hak; diberi pegangan atau tidak diberi pegangan; diberi penguat atau tidak diberi penguat, — tiap-tiap machluk, tiap-tiap ummat, tiap-tiap bangsa tidak boleh tidak, pasti achirnja berbangkit, pasti achirnja bangun, pasti achirnja menggerakkan tenaganja, kalau ia sudah terlalu sekali merasakan tjelakanja diri teraniaja oleh suatu daja angkara murka!!”</p>
<p style="text-align:justify;">Kebangkitan mereka yang teraniaya untuk mencapai keadilan dan kebebasan, itulah yang membuat sejarah.  Tapi penting untuk kita ingat, bahwa sejarah tak pernah selesai.</p>
<p style="text-align:justify;">Saudara Boediono dan hadirin yang terhormat,</p>
<p style="text-align:justify;">Kita berada di awal abad ke-21, di sebuah zaman yang mengharuskan kita tabah dan juga berendah hati. Abad yang lalu telah menyaksikan ide-ide besar yang diperjuangkan dengan sungguh-sungguh, namun akhirnya gagal membangun sebuah masyarakat yang dicita-citakan.  Abad yang penuh harapan, tapi juga penuh korban. Abad sosialisme yang datang dengan agenda yang luhur, tapi kemudian melangkah surut.  Abad kapitalisme yang membuat beberapa negara tumbuh cepat, tapi memperburuk ketimpangan sosial dan ketakadilan internasional. Abad Perang Dingin yang tak ada lagi, tapi tapi tak lepas dari  konflik dengan darah dan besi. Abad ketika arus informasi terbuka luas, tapi tak selalu membentuk sikap toleran terhadap yang beda.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan demikian memang sejarah tak berhenti, bahkan berjalan semakin cepat. Teknologi, pengetahuan tentang manusia dan lingkungannya,  kecenderungan budaya dan politik, berubah begitu tangkas,  hingga persoalan baru timbul sebelum jawaban buat persoalan lama ditemukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kini makin jelaslah, tak ada doktrin yang mudah dan mutlak untuk memecahkan problem manusia.  Tak ada formula yang tunggal dan kekal bagi kini dan nanti.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang ada, yang dibutuhkan, justru sebuah sikap yang menampik doktrin yang tunggal dan kekal.  Kita harus selalu terbuka untuk langkah alternatif. Kita harus selalu bersedia mencoba cara yang berbeda, dengan sumber-sumber kreatif yang beraneka.</p>
<p style="text-align:justify;">Saudara Boediono tentu sangat akrab dengan kesadaran itu. Seorang ekonom adalah seorang yang sangat dekat dengan kekurangan dan kelangkaan, dan seorang teknokrat adalah seorang yang harus bersua tiap kali dengan kerumitan.  Itu sebabnya Boediono tahu, doktrin seperti “neo-liberalisme”  tak akan pernah akan berhasil, sebagaimana “ekonomi yang etatis”  tak akan pernah sampai di tujuan.</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi sikap pragmatik itu, sebagai sebuah keniscayaan, tak berarti sikap yang hanya mengutamakan hasil, dan tak mempedulikan nilai-nilai, tak mengacuhkan apa yang baik dan yang benar.  Seorang ekonom, terutama di Indoensia, tak mungkin mengabaikan persoalan  korupsi,  ketidak-adilan dalam aturan main, kemandirian lembaga yudikatif – dan last but not least — modal sosial yang dibangun dari sikap percaya mempercayai di masyarakat.</p>
<p style="text-align:justify;">Modal sosial itu hanya bisa dibangun dengan kesetiaan yang tak habis-habis kepada cita-cita negeri ini – kesetiaan untuk tak mementingkan diri sendiri. Kita berbahagia, dan kita bangga, bahwa di antara kita ada Boediono, yang dalam hidup sehari-harinya tak pernah mementingkan diri sendiri dalam kerja – dengan keras tapi juga dengan rendah hati.</p>
<p style="text-align:justify;">Maafkanlah jika tuntutan kami  berlebihan.  Tapi Indonesia  — yang kadang-kadang membanggakan dan kadang-kadang merisaukan  — bukan hanya tempat kita lahir dan menutup mata.  Indonesia adalah sebuah amanat. Kami percaya, Mas Boed, bersama kami, anda tak akan menyia-nyiakan amanat itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka di ruang ini, di hari ini, izinkanlah kami mengucapkan selamat bertugas.</p>
<p style="text-align:justify;">Merdeka,</p>
<p style="text-align:justify;">Wassalamulaikum wr.wb.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari <a href="http://blog.tempointeraktif.com/portal/pidato-gm-politik-2009-keganjilan-dan-harapan/"><span style="color:#ff00ff;"><em>Tempo Interaktif</em></span></a></p>
<p style="text-align:justify;">***</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color: #0000ff;"><em>Skenario Baru Penyelamatan Boediono-Sri Mulyani!</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"> </span>INILAH.COM &#8211; Berbagai upaya dilakukan oleh kelompok-kelompok kepentingan guna mencegah jangan sampai Wapres <em><span style="color:#ff0000;">Boediono</span></em> mengalami pembatalan akibat <span style="color: #0000ff;">skandal Bank Century</span>.</p>
<p style="text-align:justify;">Aktivis senior <em><span style="color:#ff0000;">Bondan Gunawan</span></em> mengungkapkan, pihaknya mendengar berbagai pertemuan dilakukan oleh kelompok intelektual tertentu untuk menjaga agar <em><span style="color:#ff0000;">Boediono-Sri Mulyani</span></em> tidak dibatalkan dari jabatannya akibat isu Century. &#8220;Saya mendengar <em><span style="color:#ff0000;">Goenawan Mohamad</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Marsilam Simanjuntak</span></em> dan lainnya kumpul-kumpul untuk itu,&#8221; kata mantan sekretaris negara era Presiden <em><span style="color:#ff0000;">Gus Dur</span></em> itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Bahkan ada rumor bahwa seorang jurnalis senior Majalah Mingguan terkemuka melalui Boediono mencoba melobi ke Presiden SBY agar bisa jadi dubes di<em><span style="color:#ffcc00;"> Washington DC</span></em>. &#8220;Jika benar rumor itu, sangat disesalkan, mungkin juga sia-sia. Saya mendengar rumor bahwa jurnalis senior mingguan ibukota itu melobi istana untuk menjadi dubes di Amerika Serikat, guna melobi <em><span style="color:#ff0000;">AS</span></em> dan<em><span style="color:#ff0000;"> IMF/World Bank</span></em> guna membantu Boediono dan Sri Mulyani agar didukung IMF dan AS untuk bertahan. Rumor itu perlu klarifikasi dari beliau sendiri, benar atau tidak. Namun rumor itu merebak di kalangan wartawan dan aktivis prodemokrasi. Kami kecewa, semoga rumor itu tak benar,&#8221; kata <em><span style="color:#ff0000;">Frans Aba MA</span></em>, kandidat PhD <em><span style="color:#ffcc00;">National Universify of Malaysia</span></em> dan aktivis <em><span style="color:#ff0000;">GMNI</span></em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Boediono dan Sri Mulyani merupakan dua pejabat tinggi yang disebut-sebut media, terseret kasus Century. Kesalahan kebijakan terkait pengucuran dana Rp6,7 triliun ke Bank Century bisa saja dimasukkan dalam kategori tindak pidana tetapi keduanya pantas dicopot.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut pengamat ekonomi <em><span style="color:#ff0000;">Chistianto Wibisono</span></em> dalam diskusi publik di Jakarta, Senin (7/12), kondisi Century sebelum diselamatkan sudah penuh dengan masalah, termasuk kasus penipuan yang dilakukan <em><span style="color:#ff0000;">Robert Tantular </span></em>selaku pemilik. Dan dia menilai, <span style="color: #0000ff;"><em>Bank Indonesia</em></span> (<em><span style="color:#ff0000;">BI</span></em>) minim dalam mengawasi pengelolaan bank tersebut. &#8220;Ini ketidaksengajaan dalam pengawasan. BI ketipu sama Robert. Mekanisme pengawasan BI ke depan harus ditingkatkan dan kontinyu,&#8221; ujarnya. [ahl/cms]</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.inilah.com/berita/politik/2009/12/07/207911/skenario-baru-penyelamatan-boediono-sri-mulyani/"><span style="color:#ff00ff;"><em> </em></span></a></p>
<p class="addtoany_share_save_container">
    <a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?sitename=Vara%20Jambak&amp;siteurl=http%3A%2F%2Fwww.varajambak.com%2F&amp;linkname=Jilat-jilat%20Pantat%20SBY-Boediono%20dan%20Akhir%20Karir%20Tidak%20Terhormat%20Goenawan%20Mohamad&amp;linkurl=http%3A%2F%2Fwww.varajambak.com%2F2009%2F12%2F09%2Fjilat-jilat-pantat-sby-boediono-dan-akhir-karir-tidak-terhormat-goenawan-mohamad%2F"><img src="http://www.varajambak.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Save/Bookmark"/></a>

	</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.varajambak.com/2009/12/09/jilat-jilat-pantat-sby-boediono-dan-akhir-karir-tidak-terhormat-goenawan-mohamad/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rekam Jejak Boediono, cawapres SBY</title>
		<link>http://www.varajambak.com/2009/06/17/rekam-jejak-boediono-cawapres-sby/</link>
		<comments>http://www.varajambak.com/2009/06/17/rekam-jejak-boediono-cawapres-sby/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Jun 2009 02:03:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Al Haq Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[APBN]]></category>
		<category><![CDATA[B.J. Habibie]]></category>
		<category><![CDATA[Bank Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[BI]]></category>
		<category><![CDATA[BLBI]]></category>
		<category><![CDATA[Boediono]]></category>
		<category><![CDATA[BUMN]]></category>
		<category><![CDATA[Dana Rekap Perbankan]]></category>
		<category><![CDATA[Direktur 1 Bank Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi & keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[hak asasi dan ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[IMF]]></category>
		<category><![CDATA[IMF Board of Governors]]></category>
		<category><![CDATA[kapitalis]]></category>
		<category><![CDATA[Kepala Bappenas]]></category>
		<category><![CDATA[kewenangan luar biasa]]></category>
		<category><![CDATA[Kwik Kian Gie]]></category>
		<category><![CDATA[Menko Ekuin]]></category>
		<category><![CDATA[model ekonomi neoliberal]]></category>
		<category><![CDATA[Neolib sejati]]></category>
		<category><![CDATA[obligor BLBI]]></category>
		<category><![CDATA[pemilu 2009]]></category>
		<category><![CDATA[pemodal global]]></category>
		<category><![CDATA[pengelolaan utang]]></category>
		<category><![CDATA[Privatisasi & Divertasi]]></category>
		<category><![CDATA[Release & Discharge]]></category>
		<category><![CDATA[SBY]]></category>
		<category><![CDATA[SBY-Boediono]]></category>
		<category><![CDATA[Sri Mulyani]]></category>
		<category><![CDATA[Urusan Analisa Kredit]]></category>
		<category><![CDATA[utang]]></category>
		<category><![CDATA[utang asing]]></category>
		<category><![CDATA[utang lura negri]]></category>
		<category><![CDATA[UU Keuangan Negara]]></category>
		<category><![CDATA[UU Keuangan Negara No 17/2003]]></category>
		<category><![CDATA[UU No 25/2004]]></category>
		<category><![CDATA[Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[YLBHI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.varajambak.com/?p=1430</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Al Haq Ramadhan
09/06/2009 &#8211; 15:57
inilah.com, Tambahan Rekam Jejak Boediono
Digempur isu utang luar negeri, calon wakil presiden Boediono tampak tenang. Pendamping SBY ini malah mengimbau masyarakat tidak alergi terhadap utang asing, sepanjang hal tersebut digunakan untuk menyejahterakan rakyat Indonesia serta dalam batas aman dalam melunasinya. Luar biasa.
“Jangan alergi terhadap utang. Itu akan mencekik diri kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: <span style="color:#ff0000;"><em><span style="color: #0000ff;">Al Haq Ramadhan</span></em></span></p>
<p>09/06/2009 &#8211; 15:57<br />
<a href="http://indie.inilah.com/berita/citizen-journalism/2009/06/09/113959/tambahan-rekam-jejak-boediono/"><span style="color:#ff00ff;"><em>inilah.com</em></span></a>, Tambahan Rekam Jejak Boediono</p>
<p style="text-align:justify;">Digempur isu utang luar negeri, calon wakil presiden <span style="color:#ff0000;"><em><span style="color: #ff0000;">Boediono</span></em></span> tampak tenang. Pendamping <span style="color:#ff0000;"><em><span style="color: #0000ff;">S<span style="color: #ff0000;">BY</span></span></em></span> ini malah mengimbau masyarakat tidak alergi terhadap <span style="color:#ff0000;"><em>utang asing</em></span>, sepanjang hal tersebut digunakan untuk menyejahterakan rakyat Indonesia serta dalam batas aman dalam melunasinya. Luar biasa.</p>
<p style="text-align:justify;">“<span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">Jangan alergi terhadap utang. Itu akan mencekik diri kita sendiri</span></em></span>,” ujar Boediono pada diskusi mengenai <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">hak asasi dan ekonomi</span></em></span> di Aula Ali Sadikin Gedung <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia</span></em></span> (<span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">YLBHI</span></em></span>), Jakarta, Rabu (3/6).</p>
<p style="text-align:justify;">Boediono memang pandai bertutur dan tekun bekerja untuk kepentingan para <span style="color:#ff0000;"><em>kapitalis</em></span> dan <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color:#ff0000;">pemodal global</span></em></span>. Tahun 1996-1998 Boediono menjabat sebagai <span style="color:#ff0000;"><em>Direktur 1 Bank Indonesia</em></span> (BI) <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">Urusan Analisa Kredit</span></em></span>. Pada 1997-1998, dikucurkan <span style="color:#ff0000;"><em>BLBI</em></span> sebesar <span style="color:#ff0000;"><em>Rp 400 triliun</em></span> (untuk bank swasta Rp 144,8 triliun &amp; bank pemerintah Rp 267 triliun). Dan ini melibatkan Boediono secara mendalam.</p>
<p style="text-align:justify;">Di era <span style="color:#ff0000;">BJ </span><em><span style="color:#ff0000;">Habibie</span></em>, Boediono (<span style="color:#ff0000;"><em>Kepala Bappenas</em></span>) menyetujui <span style="color:#ff9900;"><em><span style="color: #0000ff;">Dana Rekap Perbankan</span></em></span> <span style="color:#ff0000;"><em>Rp 600 triliyun</em></span>. <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">Akibatnya rakyat Indonesia harus menanggung Rp 80 triliun setiap tahun di APBN hingga tahun 2032</span></em></span>. Di Tahun 2001-2004, Boediono (<span style="color:#ff0000;"><em>Menkeu</em></span>), mengeluarkan kebijakan <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">Privatisasi &amp; Divestasi</span></em></span>. Akibatnya 13 <span style="color:#ff0000;"><em>BUMN</em></span>, yang merupakan aset strategis, dijual dan <span style="color:#ff0000;"><em>obligor BLBI</em></span> diberi status ‘<span style="color:#ff0000;"><em>Release &amp; Discharge</em></span>’ (Dibebaskan dari aspek hukum).</p>
<p style="text-align:justify;">Hingga saat ini Boediono masih menjabat sebagai <span style="color:#ff0000;"><em>IMF Board of Governors</em></span>. Atas pesanan <span style="color:#ff0000;"><em>Bank Dunia</em></span>, di era Menteri Keuangan Boediono, dikeluarkan <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">UU Keuangan Negara No 17/2003</span></em></span>. Undang-undang tersebut memberikan <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">kewenangan luar biasa</span></em></span> kepada Menteri Keuangan dan mengurangi peranan “perencanaan”, sesuai <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">model ekonomi Neoliberal</span></em></span>. Untung kemudian <span style="color:#ff0000;"><em>Kwik Kian G</em></span><em><span style="color:#ff0000;">ie</span></em> sedikit mengoreksinya lewat <span style="color:#ff0000;"><em>UU No 25/2004</em></span>.</p>
<p style="text-align:justify;">Di era Boediono menjabat <span style="color:#ff0000;"><em>Menko Ekuin</em></span>,yang kemudian digantikan <span style="color:#ff0000;"><em>Sri Mulyani</em></span>, utang pemerintah sudah mencapai level tertinggi, yakni 149,67 miliar dolar AS per Desember 2008. Meski begitu, tipe kebijakan <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">pengelolaan utang</span></em></span> dari <span style="color:#ff0000;"><em>SBY-Boediono</em></span> tidak menunjukkan keberpihakan untuk lepas dari cengkeraman utang. SBY telah memilih Boediono dan kini dalam dilema: maju kena, mundur kena.</p>
<p style="text-align:justify;">Boediono jelas seorang <span style="color:#ff0000;"><em>Neolib sejati</em></span> yang berusaha selalu santun dan elegan. Itulah sekelumit rekam jejak Boediono yang berhasil memikat SBY.</p>
<p class="addtoany_share_save_container">
    <a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?sitename=Vara%20Jambak&amp;siteurl=http%3A%2F%2Fwww.varajambak.com%2F&amp;linkname=Rekam%20Jejak%20Boediono%2C%20cawapres%20SBY&amp;linkurl=http%3A%2F%2Fwww.varajambak.com%2F2009%2F06%2F17%2Frekam-jejak-boediono-cawapres-sby%2F"><img src="http://www.varajambak.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Save/Bookmark"/></a>

	</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.varajambak.com/2009/06/17/rekam-jejak-boediono-cawapres-sby/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antara SBY, Budiono dan kepentingan neoliberalisme AS di Indonesia</title>
		<link>http://www.varajambak.com/2009/05/13/antara-sby-budiono-dan-kepentingan-neoliberalisme-as-di-indonesia/</link>
		<comments>http://www.varajambak.com/2009/05/13/antara-sby-budiono-dan-kepentingan-neoliberalisme-as-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 May 2009 19:54:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Ali Wardhana]]></category>
		<category><![CDATA[BI]]></category>
		<category><![CDATA[Budiono]]></category>
		<category><![CDATA[cawapres]]></category>
		<category><![CDATA[Chatib Basri]]></category>
		<category><![CDATA[ekonom dengan mazhab pikiran kapitalisme]]></category>
		<category><![CDATA[ekonom-ekonom neoliberal Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Emil Salim]]></category>
		<category><![CDATA[Fuad Bawazier]]></category>
		<category><![CDATA[globalisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[IMF]]></category>
		<category><![CDATA[Iwan Piliang]]></category>
		<category><![CDATA[Jacob Oetama]]></category>
		<category><![CDATA[Jusuf Kalla]]></category>
		<category><![CDATA[kapitalisme]]></category>
		<category><![CDATA[kebijakan ekonomi Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[libertarian]]></category>
		<category><![CDATA[M. Ikhsan]]></category>
		<category><![CDATA[M. Sadli]]></category>
		<category><![CDATA[Mafia Berkeley]]></category>
		<category><![CDATA[Megawati]]></category>
		<category><![CDATA[Mubyarto]]></category>
		<category><![CDATA[neokolonialisme]]></category>
		<category><![CDATA[neoliberalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Nurliswandi Piliang]]></category>
		<category><![CDATA[pasar bebas]]></category>
		<category><![CDATA[presiden hanya boneka ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[pro-AS]]></category>
		<category><![CDATA[pro-IMF]]></category>
		<category><![CDATA[pro-utang luar negri]]></category>
		<category><![CDATA[pro-WTO]]></category>
		<category><![CDATA[Rizal Malaranggeng]]></category>
		<category><![CDATA[Rizal Ramli]]></category>
		<category><![CDATA[SBY]]></category>
		<category><![CDATA[Soemitro Djojohadikusumo]]></category>
		<category><![CDATA[Sri Edi Swasono]]></category>
		<category><![CDATA[Sri Mulyani]]></category>
		<category><![CDATA[Subroto]]></category>
		<category><![CDATA[Washington Berkeley]]></category>
		<category><![CDATA[Widjojo cs]]></category>
		<category><![CDATA[Wijonomics]]></category>
		<category><![CDATA[Wijoyo Nitisastro]]></category>
		<category><![CDATA[World Bank]]></category>
		<category><![CDATA[WTO]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.varajambak.com/?p=1245</guid>
		<description><![CDATA[Berikut tulisan mengenai kepentingan neoliberalisme AS (IMF, World Bank dan WTO) di Indonesia serta hubungannya dengan ekonom-ekonom neoliberal Indonesia yang salah satu diantaranya adalah Budiono yang kini menjadi cawapres daripada SBY. Neoliberalisme adalah kata lain untuk neokolonialisme, yaitu penjajahan bentuk baru lewat hutang yang &#8220;dipaksakan&#8221; oleh lembaga-lembaga &#8220;dunia&#8221; yang sebenarnya mewakili kartel perbankan AS (&#8221;internasional&#8221;). [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Berikut tulisan mengenai kepentingan <span style="color:#ff0000;"><em>neoliberalisme</em></span> AS (<span style="color:#ff0000;"><em>IMF</em></span>, <em><span style="color:#ff0000;">World Bank</span></em> dan <span style="color:#ff0000;"><em>WTO</em></span>) di Indonesia serta hubungannya dengan <span style="color:#ff0000;"><em>ekonom-ekonom neoliberal Indonesia</em></span> yang salah satu diantaranya adalah <span style="color:#ff0000;"><em>Budiono</em></span> yang kini menjadi <span style="color:#ff0000;"><em>cawapres</em></span> daripada <span style="color:#ff0000;"><em>SBY</em></span>. Neoliberalisme adalah kata lain untuk <span style="color:#ff0000;"><em>neokolonialisme</em></span>, yaitu penjajahan bentuk baru lewat hutang yang &#8220;dipaksakan&#8221; oleh lembaga-lembaga &#8220;dunia&#8221; yang sebenarnya mewakili <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #3366ff;">kartel perbankan AS</span></em></span> (&#8221;internasional&#8221;). Kebijakan para ekonom-ekonom neoliberallah yang menjadikan Indonesia menjadi negara penghamba dan penghutang yang pada gilirannya memiskinan rakyat Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color: #3366ff;">Memandirikan Ekonomi Bangsa</span></em><br />
Oleh: Nurliswandi Piliang alias Iwan Piliang</p>
<p style="text-align:justify;">“Saya lihat dua media besar kita, selalu berpihak kepada <span style="color: #3366ff;"><em>Wijoyonomic</em></span>, yakni Kompas dan Tempo?” tanya <span style="color:#ff0000;"><em>Rizal Ramli</em></span>, mantan Menkoperekonomian di era <span style="color:#ff0000;"><em>Gus Dur</em></span>, kepada Budiarto Shambazy, wartawan KOMPAS yang mengasuh rubrik POLITIKA, di sela rekaman gambar PRESS TALK, bertopik Memandirikan Ekonomi Bangsa, 4 Februari pukul 15.00 -16.00 di studi SWARA, Gedung DPR-RI</p>
<p style="text-align:justify;">Budiarto membernarkan bila sosok <span style="color:#ff0000;"><em>Jacob Oetama</em></span> memang memuja <span style="color:#ff0000;"><em>Widjojo cs</em></span>. “Tetapi Kompas juga memberi porsi untuk ekonom macam <span style="color:#ff0000;"><em>Mubyarto</em></span>,” sanggah Budiarto. Selain mereka berdua, tampil kembali <span style="color:#ff0000;"><em>Fuad Bawazier</em></span>, yang dalam PRESS TALK episode Menyigi Kesejahteraan Rakyat … mengatakan, “<span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #3366ff;">Presiden hanya boneka ekonomi</span></em></span>.”</p>
<p style="text-align:justify;">Presiden hanya boneka ekonomi karena cengkeraman kepentingan AS melalui tangan <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #3366ff;">IMF</span></em></span>, <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #3366ff;">World Bank</span></em></span> dan <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #3366ff;">WTO</span></em></span>. Di Indonesia tangan-tangan AS itu diwakili oleh mereka yang diistilahkan <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #3366ff;">Mafia Berkeley</span></em></span>.</p>
<p style="text-align:justify;">Mafia Berkeley adalah nama yang sudah membaku sebagai label atau trade mark untuk sekelompok <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #3366ff;">ekonom dengan mazhab pikiran kapitalisme</span></em></span> yang dianutnya secara konsisten dan militan. Umumya mereka adalah para alumni dari Universitas Berkeley di California. Meski sekarang anggota mafia ini tidak harus lulusan Berkeley. Asal ekonom itu ’setia’ dalam menjalankan kebijakan-kebijakan <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #3366ff;">Washington Consensus</span></em></span>, mereka dinamakan juga sebagai anggota Mafia Berkeley.</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka itu adalah yang meyakini dan menerapkan kapitalisme dan dengan bangganya menyebut dirinya sebagai <span style="color: #3366ff;"><em>liber</em></span><span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #3366ff;">tarian</span></em></span>. Dan ’kebetulan’ mereka mayoritas berasal dari <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #3366ff;">Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia</span></em></span>. Sederat nama bisa kita sebut sebagai anggota mafia ini. <span style="color:#ffcc00;"><span style="color:#ff0000;"><em>Wijoyo Nitisastro</em></span></span> (ketua tim Mafia Berkeley), <span style="color:#ff0000;"><em>Soemitro Djojohadikusumo</em></span>, <span style="color:#ff0000;"><em>Ali Wardhana</em></span>, <span style="color:#ff0000;"><em>Emil Salim</em></span>, <span style="color:#ff0000;"><em>M. Sadli</em></span>, <span style="color:#ff0000;"><em>Subroto</em></span>, adalah generasi angkatan pertama Mafia Berkeley ini. Untuk generasi sekarang diwakili oleh <span style="color:#ff0000;"><em>Boediono</em></span> (Menteri perekonomian), <span style="color:#ff0000;"><em>Sri Mulyani</em></span> (menteri keuangan), <span style="color:#ff0000;"><em>M. Ikhsan</em></span> (LPEM UI), <span style="color:#ff0000;"><em>Chatib Basri</em></span> (ekonom UI) serta <em><span style="color:#ff0000;">Rizal Malangrangeng </span></em>(Freedom Insititute).</p>
<p style="text-align:justify;">Bahkan <span style="color:#ff0000;"><em>Sri Edi Swasono</em></span> mengatakan, nama-nama terakhir ini lebih ‘libertarian’ ketimbang pendahulunya. Merekalah yang saat ini menjalankan <em>agenda-agenda kapitalisme global</em> dengan <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #3366ff;">pro-IMF</span></em></span>, <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #3366ff;">pro-AS</span></em></span>, <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #3366ff;">pro-utang luar negeri</span></em></span>, <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #3366ff;">pro-WTO</span></em></span> dan terkagum-kagum pada <span style="color: #3366ff;"><em>globalisasi</em> </span>dan <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #3366ff;">pasar bebas</span> </em></span>yang diciptakan oleh AS.</p>
<p style="text-align:justify;">Dikatakan oleh Rizal Ramli, bahwa Mafia Berkeley juga berfungsi sebagai alat untuk memonitor agar <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #3366ff;">kebijakan ekonomi Indonesia</span></em></span> sejalan dan searah dengan kebijakan umum yang digariskan oleh Washington.</p>
<p style="text-align:justify;">Kian nyata dan aneh memang, kehidupan ekonomi rakyat kebanyakan hari ini kian sulit, jika prakteknya penjajahan dan ketidakberkembangan ekonomi rakyat, juga ikut disukseskan penghancurannya oleh bangsa sendiri, yang mebawa nafas “tuannya”.</p>
<p style="text-align:justify;">Bisa dibayangkan kita kaya sumber daya alam kian melayang, kian tidak tak tergarap.. Lebih aneh lagi jika media justeru menjadi pendukung “penjajahan” terhadap bangsanya sendiri itu</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #3366ff;">Penayangan episode Memandirikan Ekonomi Bangsa mulai Senin depan di QTV</span></em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Di bawah ini pengantar saya membuaka dialog di acara ini.<br />
Selamat bertemu dengan PRESS TALK, wadah orang media dan orang yang ditulis media bicara, bersama saya Iwan Piliang.</p>
<p style="text-align:justify;">Terima kasih atas segala perhatian dan sambutan Anda kepada program ini. SMS, email yang masuk memberikan kami pemahaman, bahwa kita memang memerlukan alternatif media, alternatif topik, alternatif langgam dan ketajaman. Juga alternatif jernih menyampaikan premis. Anda dapat pula berkomunikasi ihwal program ini di blogs saya. iwanpiliang.blogspot.com.</p>
<p style="text-align:justify;">Pemirsa, topik dialog kita kali ini, Memandirikan Perekonomian Bangsa. Pekan-pekan ini kita menyimak berbalas ungkapan tari antara <span style="color:#ff0000;"><em>Megawati</em></span> dan <span style="color:#ff0000;"><em>Jusuf Kalla</em></span>. Megawati bilang negeri kita bergerak macam poco-poco. Kalla jawab, poco-poco lebih oke daripada dansa.</p>
<p style="text-align:justify;">Negeri kita memang lucu tak terkira..</p>
<p style="text-align:justify;">Di saat banyak anak negeri untuk makan sehari, menjadi kemewahan, dan kian banyak saja suara keriuk cacing yang menai di perut lapar lebih 17.000 anak kurang gizi di NTT, kita hadapi saat ini, misalnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sumber daya alam yang luar biasa, tidak sepantasnya membuat 37 juta lebih pengangguran. 750.000 sarjana baru yang tiap tahun dicetak adalah aneh bin ajaib untuk menganggur.</p>
<p style="text-align:justify;">Negara belum mampu mensejahterakan rakyatnya. Lebih parah kemandirian ekonomi kian pah-poh. Negeri bahari dan pertanian ini mengimpor garam 1,5 juta ton atau 50% dari kebutuhan setahun. Impor sapi mencapai 600.000 ekor, atau 25% kebutuhan nasional. Impor kedelai 2 juta ton, atau 49% dari kebutuhan nasional. Beras tahun ini akan diimpor lebih 2 juta ton. Susu mencapai 90% impornya. 1,3 juta ton gula masih datang dari Autralia. Masih banyak tentu angka-angka lain, bahkan alginat sebagai bahan pengemulsi untuk susu yang bahannya darui rumput laut, kita impor mencapai US $ 60 juta setahun. Entah dilaknat apa kita kiranya?</p>
<p style="text-align:justify;">Pasar dengan penduduk mendekati 250 juta orang ini seakan telanjang; telekomunikasi, perbankan, hingga migas dan lahan tambang lain, dikuasai asing. Pernah dipaparkan di program ini, lahan berdeposit batubara di Kaltim seluas 4.500 ha, dilego ke asing Rp 30 miliar saja. Di dalamnya bukan mustahil beragam mineral, bahkan uranium ada, belum termasuk kandungan hayati lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak ada lagi bank sebagai agent of development. Butir-butir perjanjian dengan IMF, yang ditandatangani 1998, telah membuat <span style="color:#ff0000;"><em>BI</em></span> independen dari pemerintah, tapi tidak independen dari IMF, begitu pula banyak butir kesepakatan lainnya, yang membuat seakan negeri ini terjajah, tidak mandiri mengembangkan SDA-nya, tidak mandiri mengembangkan kekuatan militernya. Patok batas negara kita dipermainkan jiran.</p>
<p style="text-align:justify;">Kenyataan hidup ini timbul lebih karena kepentingan asing dan laku segelintir orang Indonesia yang menjual bangsa, yang dilegalkan melalui Undang-Undang di DPR-RI.</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak fair memang bila Cuma menuding pemerintahan sekarang. Tetapi bila seorang presiden cuma boneka ekonomi, bagaimana kita berbangsa bisa keluar dari kedaan ini?</p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color: #0000ff;">Catatan:</span></em></p>
<p style="text-align:justify;">Tulisan di atas bisa dibaca langsung di blog saudara <a href="http://iwanpiliang.blogspot.com/"><span style="color:#0000ff;"><em><span style="color: #ff00ff;">Iwan Piliang</span></em></span></a>.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Baca juga tulisan terkait:</p>
<ul>
<li><a href="http://www.varajambak.com/2009/01/08/pemerintahan-sby-krisis-utang/"><em><span style="color:#ff00ff;">Pemerintahan SBY dan krisis utang</span></em></a></li>
<li><a href="http://www.varajambak.com/2009/03/31/zeitgeist-addendum/"><span style="color:#ff00ff;"><em>Zeitgeist Addendum</em></span></a> (film dokumentasi mengenai uang, World Bank, IMF dan utang)</li>
<li>Situs web dari <em><a href="http://kau.or.id/"><span style="color: #ff00ff;">Koalisi Anti Utang</span></a></em> mengenai kondisi daripada Utang Luar Negri Indonesia</li>
</ul>
<p class="addtoany_share_save_container">
    <a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?sitename=Vara%20Jambak&amp;siteurl=http%3A%2F%2Fwww.varajambak.com%2F&amp;linkname=Antara%20SBY%2C%20Budiono%20dan%20kepentingan%20neoliberalisme%20AS%20di%20Indonesia&amp;linkurl=http%3A%2F%2Fwww.varajambak.com%2F2009%2F05%2F13%2Fantara-sby-budiono-dan-kepentingan-neoliberalisme-as-di-indonesia%2F"><img src="http://www.varajambak.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Save/Bookmark"/></a>

	</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.varajambak.com/2009/05/13/antara-sby-budiono-dan-kepentingan-neoliberalisme-as-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
