Rosihan Anwar: Rangkayo Rasuna Said Ditahan

Membaca sumber-sumber dokumen Belanda dahulu niscaya menambah pengetahuan kita mengenai sejarah. Misalnya surat Jaksa Agung Verheijen kepada Gubernur Jendral De Jonge, dari Medan, tanggal 23 Juli 1933. Dalam surat itu Verheijen mengatakan, ia bersikukuh pada pendirian agar larangan mengadakan rapat (vergader verbod) dilaksanakan di Sumatra Barat. Apa alasannya? Karena di Sumatra Barat telah begitu [...]

Share

Puti Reno Oesman–Mantan Diplomat Wanita Siap Pimpin Sumbar

Setelah menjadi seorang diplomat dan mengembara diberbagai negara karena ditugaskan pemerintah pusat, Puti Reno Oesman pulang untuk membangun Ranah Minang. Puti Reno Oesman yang akrab dipanggil “One” adalah diplomat senior di Depertemen Luar Negeri (Deplu) yang telah memiliki pengalaman selama 31 tahun. Ia merupakan Bundo Kanduang yang dilahirkan di Padang, tahun 1947 lalu. [...]

Share

Hanifah Damanhuri Oayobada: Lapau Maya

Sajak ado lapau maya — Sejak ada lapau/warung maya
Sajak awak jadi anggota — Sejak saya jadi anggota
Awak barubah jadi paota — Saya berubah jadi tukang ngobrol

Namono paota — Yang namanya tukang ngobrol
Ado sajo bahan ota – Ada saja bahan obrolannya
Tema ota — Tema obrolan
Tagantuang jo sia ma ota — Tergantung kepada siapa yang mengobrol
Atau [...]

Share

Meiy Piliang: Negeri Nurani Mati

Kututup mata, kutulikan telinga,
pada berita-berita sengsara di media
tak kubaca berita-berita hangat
yang katanya hebat
yang dijual di mana saja!

aku tak mau muntah
muak!
Bah!

Namun
zaman bablas informasi ini
mereka datang sendiri
memaksaku

Membuka surel, berita sensasi bertebaran

Aku melengos
televisi tetangga berbunyi
berita selebriti, mencari sensasi
ramai-ramai orang menonton sambil ngerumpi
Ada yang bangga, membuka aurat, menjual aib, demi popularitas

Naik kendaraan umum
radio berbunyi
berita [...]

Share

Emakku Hj. Nurma Abubakar Piliang-Perempuan Minang Tulen

Aku mulai epic dari Bundoku ini tahun 1965, ketika aku berumur 5 tahun. Di sebelah tangan kiri dijinjingnya dalam tas rotan sabun ATK 50 batang, tangan kanan membawa 5 kaleng susu bagian tentara, dikepala dijunjungnya garam, gula, kopi, sardencis dll seberat 25 Kg. Semuanya dia dapatkan dari ibu-ibu asrama di Cicalengka untuk minta tolong [...]

Share

Saya Bangga Jadi Perempuan Minangkabau

Karena perempuan-perempuan Minangkabau telah dan selalu melawan kekuasaan-kekuasaan yang datang silih berganti yang berusaha menghancurkan ranah Minang entah itu atas nama jihad Islam kaum padri, Barat, pemerintah daerah ataupun pemerintah pusat yaitu para Bundo Kanduang, para Niniak/Niniek/Ninik (nenek), atau nama-nama seperti Siti Manggopoh, Rohana Kudus, Rasuna Said, Dr. Ranny Emilia, Yeni Rosa Damayanti, Prof. Dr. Dewi [...]

Share

Mamak-mamak tidak tahu diuntung-Bagian 1

Ternyata selain masalah matrilinealitas (keturunan dari garis ibu) dan “warisan” (baca: harta bersama kaum), ulah-ulah para mamak yang tidak tahu diuntung, merupakan alasan daripada banyak orang Minangkabau untuk “membenci” budayanya atau bahkan untuk “keluar” dari budaya Bundanya tersebut.

Syech Achmad Chatib adalah contoh orang Minangkabau yang memilih keluar dari budaya Minangkabau dan masuk ke budaya Arab/Islam dan [...]

Share

Perempuan Minangkabau sebagai Mamak dan Penghulu

Berikut adalah artikel yang dimuat di Rubrik, Harian Kompas, tanggal 6 Agustus 2001 dengan judul Vitalnya Partisipasi Politik Wanita Minang. Artikel ini berisi kenyataan sejarah mengenai perempuan-perempuan Minangkabau yang berperan sebagai mamak dan penghulu dan kaitannya dengan posisi wali nagari atau bahkan presiden serta anggapan banyak orang Minangkabau (terutama laki-lakinya) bahwa penghulu dan wali nagari tidak [...]

Share