<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Vara Jambak &#187; Bundo Kanduang</title>
	<atom:link href="http://www.varajambak.com/tag/bundo-kanduang/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.varajambak.com</link>
	<description>On Minangkabau, matriarchy, Islam, patriarchy, politics and culture</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Sep 2010 20:30:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
	<!-- podcast_generator="podPress/8.8" - maintenance_release="8.8.5.3" -->
	<copyright>2006-2007 </copyright>
	<managingEditor>vjambak@varajambak.com (Vara Jambak)</managingEditor>
	<webMaster>vjambak@varajambak.com (Vara Jambak)</webMaster>
	<category>posts</category>
	<image>
		<url>http://www.varajambak.com/wp-content/plugins/podpress/images/powered_by_podpress.jpg</url>
		<title>Vara Jambak &#187; Bundo Kanduang</title>
		<link>http://www.varajambak.com</link>
		<width>144</width>
		<height>144</height>
	</image>
	<itunes:subtitle></itunes:subtitle>
	<itunes:summary>On Minangkabau, matriarchy, Islam, patriarchy, politics and culture</itunes:summary>
	<itunes:keywords></itunes:keywords>
	<itunes:category text="Society &amp; Culture" />
	<itunes:author>Vara Jambak</itunes:author>
	<itunes:owner>
		<itunes:name>Vara Jambak</itunes:name>
		<itunes:email>vjambak@varajambak.com</itunes:email>
	</itunes:owner>
	<itunes:block>no</itunes:block>
	<itunes:explicit>no</itunes:explicit>
	<itunes:image href="http://www.varajambak.com/wp-content/plugins/podpress/images/powered_by_podpress_large.jpg" />
		<item>
		<title>Puti Reno Oesman&#8211;Mantan Diplomat Wanita Siap Pimpin Sumbar</title>
		<link>http://www.varajambak.com/2010/02/16/puti-reno-oesman-mantan-diplomat-wanita-siap-pimpin-sumbar/</link>
		<comments>http://www.varajambak.com/2010/02/16/puti-reno-oesman-mantan-diplomat-wanita-siap-pimpin-sumbar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Feb 2010 13:55:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Australia]]></category>
		<category><![CDATA[Bundo Kanduang]]></category>
		<category><![CDATA[Bundo Kanduang-Bundo Kanduang]]></category>
		<category><![CDATA[Bung Hatta]]></category>
		<category><![CDATA[calon gubernur Sumbar]]></category>
		<category><![CDATA[Departemen Luar Negeri]]></category>
		<category><![CDATA[Deplu]]></category>
		<category><![CDATA[H. Soetan Oesman]]></category>
		<category><![CDATA[Jerman]]></category>
		<category><![CDATA[KBRI]]></category>
		<category><![CDATA[M. Yamin]]></category>
		<category><![CDATA[Minister Counsellor]]></category>
		<category><![CDATA[Moscow]]></category>
		<category><![CDATA[Muhamad Yamin]]></category>
		<category><![CDATA[One]]></category>
		<category><![CDATA[Padang]]></category>
		<category><![CDATA[Padang Panjang]]></category>
		<category><![CDATA[Pancasila]]></category>
		<category><![CDATA[para Bundo Kanduang Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Penanggungjawab Bidang Pensosbud KBRI]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan-perempuan Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Pilkada Sumbar]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Proklamator]]></category>
		<category><![CDATA[Puti Reno Usman]]></category>
		<category><![CDATA[Rahmah El Yunusiyah]]></category>
		<category><![CDATA[raja perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[ranah Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Rusia]]></category>
		<category><![CDATA[Sumbar]]></category>
		<category><![CDATA[Sumbar pascagempa]]></category>
		<category><![CDATA[Thailand]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.varajambak.com/?p=1663</guid>
		<description><![CDATA[Setelah menjadi seorang diplomat dan mengembara diberbagai negara karena ditugaskan pemerintah pusat, Puti Reno Oesman pulang untuk membangun Ranah Minang. Puti Reno Oesman yang akrab dipanggil &#8220;One&#8221; adalah diplomat senior di Depertemen Luar Negeri (Deplu) yang telah memiliki pengalaman selama 31 tahun. Ia merupakan Bundo Kanduang yang dilahirkan di Padang, tahun 1947 lalu. Putri dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">
<div style="margin: 2px 5px 3px 3px; float: left; width: 300px;"><a href="http://www.varajambak.com/wp-content/uploads/2010/02/thumb_puti-reno-usman.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1558" title="thumb_Puti Reno Usman" src="http://www.varajambak.com/wp-content/uploads/2010/02/thumb_puti-reno-usman.jpg" alt="" width="279" height="219" /></a></div>
<div style="padding-left: 120px; text-align: justify; margin: 2px 5px 3px 3px;">Setelah menjadi seorang diplomat dan mengembara diberbagai negara karena ditugaskan pemerintah pusat, <em><span style="color: #ff0000;">Puti Reno Oesman</span></em> pulang untuk membangun <em><span style="color: #ff0000;">Ranah Minang</span></em>. Puti Reno Oesman yang akrab dipanggil &#8220;<em><span style="color: #ff0000;">One</span></em>&#8221; adalah diplomat senior di <span style="color: #0000ff;"><em>Depertemen Luar Negeri</em></span> (<em><span style="color: #ff0000;">Deplu</span></em>) yang telah memiliki pengalaman selama 31 tahun. Ia merupakan <em><span style="color: #ff0000;">Bundo Kanduang</span></em> yang dilahirkan di <em><span style="color: #ff0000;">Padang</span></em>, tahun 1947  lalu. Putri dari <em><span style="color: #ff0000;">H. Soetan Oesman</span></em> (alm) ini telah membulatkan tekad akan ikut bertarung dalam <em><span style="color: #ff0000;">Pilkada Sumbar</span></em> pada Juni 2010 ini.</div>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Saya pulang dan ingin membangun kembali Ranah Minang. <span style="color: #0000ff;"><em>Saatnya Minangkabau merasakan sentuhan tangan perempuan dalam memimpin</em></span>, ungkapnya. Dikatakannya, sudah cukup lama dorongan untuk ia maju sebagai gubernur di <em><span style="color: #ff0000;">Sumbar</span></em>, namun <em><span style="color: #ff0000;">Minister Counsellor</span></em> ini masih memilih menyelesaikan tugas di Deplu. Terakhir One adalah <span style="color: #0000ff;"><em>Penanggungjawab Bidang Pensosbud KBRI</em></span> <em><span style="color: #ff0000;">Moscow</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Rusia</span></em>. Sebelumnya ia pernah ditugaskan di <em><span style="color: #ff0000;">Thailand</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Jerman</span></em>, dan <em><span style="color: #ff0000;">Australia</span></em>.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;<span style="color: #0000ff;"><em>Melihat langsung kondisi Sumbar pascagempa, saya bertekad harus membangun kembali berbagai sarana yang rusak, memulihkan mental masyarakat agar mereka tetap semangat menjalani hidup. Kini saya sudah pensiun dari Deplu dan ingin fokus membangun kampung halaman</em></span>, &#8220;ungkapnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakannya, dulu <em><span style="color: #ff0000;">Minangkabau</span></em> pernah memiliki<em><span style="color: #ff0000;"> raja perempuan</span></em>.<em><span style="color: #ffcc00;"> <span style="color: #0000ff;">Seorang Bundo Kanduang dengan segala potensi yang dimiliki dan perasaan yang halus akan bisa memberikan ketentraman bagi masyarakat</span></span></em>. Hingga saat ini Minangkabau menjadi terkenal di seluruh dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Saya telah berkeliling dunia dalam melaksanakan tugas kenegaraan, orang di luar tahu kalau Minangkabau adalah suku bangsa yang unik dan sangat menghargai perempuan. Kini saatnya Minangkabau mengembalikan itu semua, &#8220;ungkapnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan One, Minangkabau juga terkenal melahirkan banyak tokoh nasional yang berjuang untuk bangsa. Kemerdekaan Indonesia tak lepas dari peran besar orang Minangkabau, sebut <em><span style="color: #ff0000;">Bung Hatta</span></em> sebagai <em><span style="color: #ff0000;">Proklamator</span></em>. Lahirnya <em><span style="color: #ff0000;">Pancasila</span></em> dari pemikiran <em><span style="color: #ff0000;">M Yamin</span></em>. <em><span style="color: #ff0000;">Perempuan Minangkabau</span></em> juga telah memberikan kontribusi besar dalam perjuangan dan pendidikan, seperti <em><span style="color: #ff0000;">Rahmah El Yunusiah</span></em> di <em><span style="color: #ff0000;">Padang Panjang</span></em>.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Saya yakin kalau kita komit dalam membangun kembali Minangkabau ini, kita akan jauh lebih baik dari kondisi yang ada sekarang. Apalagi kalau sumberdaya manusia  kita digali dengan bijak,  &#8220;katanya.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><a href="http://padang-today.com/?today=news&amp;id=12745"><span style="color: #ff00ff;">Foto dan tulisan dari Padang Today</span></a></em></p>
<p style="text-align: justify;">***</p>
<p style="text-align: justify;">Tulisan ini saya peruntukkan untuk <em><span style="color: #ff0000;">para Bundo Kanduang Minangkabau</span></em> yang telah berjasa dalam membangun kebudayaan, dalam mendidik anak-anak menjadi orang yang berjiwa merdeka dan peduli terhadap masyarakat, serta yang telah membangun hubungan dalam rumah gadang dan kaum.</p>
<p>Tulisan ini juga ditujukan untuk para <em><span style="color: #ff0000;">Bundo Kanduang-Bundo Kanduang</span></em> lain di Indonesia dan seluruh dunia yang dipanggil dengan sebutan <em><span style="color: #ff0000;">Inang</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Bunda</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Ibu</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Buk’e</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Simbok</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Umi</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Mama</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Omak</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Mande</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Mandeh</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Mother</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Amma</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Amai</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Amak</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Mamak</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Mami</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Mamih</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Induak</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Induah</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Mutter</span></em>,<em> <span style="color: #ff0000;">Mutti</span>, <span style="color: #ff0000;">Ande</span>, <span style="color: #ff0000;">Madre</span>, <span style="color: #ff0000;">Maika</span></em><em>,</em><em> <span style="color: #ff0000;">Maman</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Mom</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Mère</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Mommy</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Um</span></em> dan <em><span style="color: #ff0000;">Mata</span></em>. Ini hanyalah sebagian saja dari nama-nama yang dipakai untuk menyebut perempuan yang telah mengandung dan melahirkan seluruh manusia yang ada di dunia ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><span style="color: #ff0000;">Puti Reno Oesman</span></em>, sebagaimana banyak <em><span style="color: #ff0000;">perempuan Minangkabau </span></em>lainnya, menunjukkan kepedulian kepada masyarakat, kemampuan dan kemauan perempuan Minangkabau pada umumnya dalam memimpin keluarga dan masyarakat.</p>
<p style="text-align: justify;">Tulisan mengenai Bundo Kanduang <em><span style="color: #ffcc00;"><span style="color: #0000ff;">calon gubernur Sumbar</span> </span></em>ini adalah salah satu dari rangkaian tulisan yang khusus menampilkan <em><span style="color: #ff0000;">perempuan-perempuan Minangkabau</span></em> beserta karya-karya mereka ataupun kiprah mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">***</p>
<p style="text-align: justify;">Baca juga tulisan-tulisan berikut ini mengenai <em>perempuan Minangkabau</em>:</p>
<ul>
<li><a href="http://www.varajambak.com/2009/03/21/saya-bangga-jadi-perempuan-minangkabau/"><em><span style="color:#ff00ff;">Saya Bangga Jadi Perempuan Minangkabau</span></em></a></li>
</ul>
<ul>
<li><a href="http://www.varajambak.com/2009/03/25/emakku-hj-nurma-abubakar-piliang-perempuan-minang-tulen/"><em><span style="color:#ff00ff;">Emakku Hj. Nurma Abubakar Piliang-Perempuan Minang Tulen</span></em></a></li>
</ul>
<ul>
<li><a href="http://www.varajambak.com/2010/01/20/meiy-piliang-negeri-nurani-mati/"><em><span style="color:#ff00ff;">Meiy Piliang: Negeri Nurani Mati</span></em></a></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">
<ul>
<li><a href="http://www.varajambak.com/2010/02/11/hanifah-damanhuri-oayobada-lapau-maya/"><em><span style="color: #ff00ff;">Hanifah Damanhuri Oayobada: Lapau Maya</span></em></a></li>
</ul>
<ul>
<li><a href="http://www.varajambak.com/2009/04/21/daftar-politikus-berpoligami-dan-pendukung-poligami/"><span style="color: #ff00ff;"><em>Daftar Politikus Berpoligami dan Pendukung Poligami</em></span></a></li>
</ul>
<ul>
<li><a href="http://moendg07.wordpress.com/2009/10/16/poligami-bagian-4/"><span style="color: #ff00ff;"><em>Poligami-Bagian 4</em></span></a></li>
</ul>
<ul>
<li><a href="http://www.varajambak.com/2008/12/05/perempuan-minangkabau-sebagai-mamak-dan-penghulu/"><span style="color: #ff00ff;"><em>Perempuan Minangkabau sebagai Mamak dan Penghulu</em></span></a></li>
</ul>
<ul>
<li><a href="http://www.varajambak.com/2009/06/17/hanifah-damanhuri-oayobada-bersatulah-perempuan-minang/"><span style="color: #ff00ff;"><em>Hanifah Damanhuri Oayobada: Bersatulah Perempuan Minang</em></span></a></li>
</ul>
<ul>
<li><a href="http://www.varajambak.com/2009/01/20/mamak-mamak-tidak-tahu-diuntung-bagian-1/"><em><span style="color: #ff00ff;">Mamak-mamak tidak tahu diuntung-Bagian 1</span></em></a></li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://www.varajambak.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.varajambak.com/2010/02/16/puti-reno-oesman-mantan-diplomat-wanita-siap-pimpin-sumbar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hanifah Damanhuri Oayobada: Lapau Maya</title>
		<link>http://www.varajambak.com/2010/02/11/hanifah-damanhuri-oayobada-lapau-maya/</link>
		<comments>http://www.varajambak.com/2010/02/11/hanifah-damanhuri-oayobada-lapau-maya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Feb 2010 17:31:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vara</dc:creator>
				<category><![CDATA[pantun/puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Bengkulu]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Bundo Kanduang]]></category>
		<category><![CDATA[Bundo Kanduang Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Bundo Kanduang-Bundo Kanduang]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[Hanifah Damanhuri]]></category>
		<category><![CDATA[Hanifah Damanhuri Oayobada]]></category>
		<category><![CDATA[Hanifah Oayobada]]></category>
		<category><![CDATA[Hj. Nurma Abu Bakar Piliang]]></category>
		<category><![CDATA[kebudayaan]]></category>
		<category><![CDATA[lapau maya]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat matriarkal Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[matriarkat]]></category>
		<category><![CDATA[Meiy Piliang]]></category>
		<category><![CDATA[Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[orang Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[orang Oayobada]]></category>
		<category><![CDATA[pantun]]></category>
		<category><![CDATA[para Bundo Kanduang Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan-perempuan Minangkababau]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatra]]></category>
		<category><![CDATA[Uni Hanifah Oayobada]]></category>
		<category><![CDATA[warung maya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.varajambak.com/?p=1655</guid>
		<description><![CDATA[Sajak ado lapau maya &#8212; Sejak ada lapau/warung maya Sajak awak jadi anggota &#8212; Sejak saya jadi anggota Awak barubah jadi paota &#8212; Saya berubah jadi tukang ngobrol Namono paota &#8212; Yang namanya tukang ngobrol Ado sajo bahan ota &#8211; Ada saja bahan obrolannya Tema ota &#8212; Tema obrolan Tagantuang jo sia ma ota &#8212; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">Sajak ado lapau maya &#8212; <span style="color:#ff0000;">Sejak ada lapau/warung maya</span><br />
Sajak awak jadi anggota &#8212; <span style="color:#ff0000;">Sejak saya jadi anggota</span><br />
Awak barubah jadi paota &#8212; <span style="color:#ff0000;">Saya berubah jadi tukang ngobrol</span></p>
<p style="text-align:center;">Namono paota &#8212; <span style="color:#ff0000;">Yang namanya tukang ngobrol</span><br />
Ado sajo bahan ota &#8211;<span style="color:#ff0000;"> Ada saja bahan obrolannya</span><br />
Tema ota &#8212; <span style="color:#ff0000;">Tema obrolan</span><br />
Tagantuang jo sia ma ota &#8212; <span style="color:#ff0000;">Tergantung kepada siapa yang mengobrol</span><br />
Atau tagantuang apo nan takana &#8212; <span style="color:#ff0000;">Atau tergantung apa yang teringat</span></p>
<p style="text-align:center;">Kampuang takana &#8212; <span style="color:#ff0000;">Kampung teringat</span><br />
Kampuang jadi ota &#8212; <span style="color:#ff0000;">Kampung jadi bahan obrolan</span><br />
Rantau tampek tingga &#8212; <span style="color:#ff0000;">Rantau tempat tinggal</span><br />
Indak luput dari ota &#8212; <span style="color:#ff0000;">Tidak luput dari obrolan</span></p>
<p style="text-align:center;">Sambia maota &#8212; <span style="color:#ff0000;">Sambil ngobrol</span><br />
Sambia baraja &#8212; <span style="color:#ff0000;">Sambil belajar</span><br />
Sambia basuo jo saudara &#8212; <span style="color:#ff0000;">Sambil bersua dengan saudara</span><br />
Namono lapau maya &#8212; <span style="color:#ff0000;">Namanya lapau/warung maya</span><br />
Kok ado nan babeda &#8212; <span style="color:#ff0000;">Kalau ada yang berbeda</span><br />
Ah itu kan biasa &#8212; <span style="color:#ff0000;">Ah itu kan biasa</span></p>
<p style="text-align:center;">Lapau maya &#8212; <span style="color:#ff0000;">Lapau/warung maya</span><br />
Indak tampek maota saja &#8212; <span style="color:#ff0000;">Bukan tempat mengobrol saja</span><br />
Jadi tampek manyusun rencana &#8212; <span style="color:#ff0000;">Jadi tempat menyusun rencana</span><br />
Sia nan kajadi apa &#8212; <span style="color:#ff0000;">Siapa yang akan jadi apa</span><br />
Apa untuk siapa<br />
Dimana dibangun apa<br />
Darimana dana untuk apa<br />
Apa rencana kerja<br />
Boleh-boleh aja<br />
Untuk yang bisa dan suka</p>
<p style="text-align:center;">Bagiku lapau maya<br />
Lebih banyak untuk pelipur lara<br />
Bagiku lapau maya<br />
Lebih banyak untuk baraja (belajar)</p>
<p style="text-align:center;">Siapa tau suatu masa<br />
Berkat rajin baraja (belajar)<br />
Tulisanku beredar dimana-mana<br />
Rantaunet pasti bangga</p>
<p style="text-align:center;">Bengkulu, 11 Desember 2009</p>
<p style="text-align:center;">Hanifah</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p style="text-align:justify;">Tentang penulis : <em><span style="color:#ff0000;">Hanifah Damanhuri Oayobada</span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:#ff0000;">Hanifah Damanhuri</span></em> yang <em><span style="color:#ff0000;">orang Oayobada</span></em> ini adalah <em><span style="color:#ff0000;">Bundo Kanduang Minangkabau</span></em> yang selain mempunyai kesibukan membesarkan anak, juga bekerja sebagai dosen Matematika di salah satu universitas di <em><span style="color:#ff0000;">Bengkulu</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Sumatra</span></em>. Menulis pantun dan merangkai kata-kata adalah salah satu hobi dari <em><span style="color:#ff0000;">Uni Hanifah Oayobada</span></em> disamping berjalan-jalan, membaca dan memasak.</p>
<p style="text-align:justify;">Pantun Uni Hanifah Oayobada ini sangat rancak menggambarkan pandangan <em><span style="color:#ff0000;">orang Minangkabau</span></em> mengenai <em><span style="color:#ff0000;">warung-warung maya</span><span style="color:#ff0000;"> </span></em> seperti <span style="color:#ff0000;"><em>facebook</em></span>.</p>
<p style="text-align:justify;">***</p>
<p style="text-align:justify;">Tulisan ini saya peruntukkan untuk <em><span style="color:#ff0000;">para Bundo Kanduang Minangkabau</span></em> yang telah berjasa dalam membangun kebudayaan, dalam mendidik anak-anak menjadi orang yang berjiwa merdeka dan peduli terhadap masyarakat, serta yang telah membangun hubungan dalam rumah gadang dan kaum.</p>
<p>Tulisan ini juga ditujukan untuk para <em><span style="color:#ff0000;">Bundo Kanduang</span></em>-<em><span style="color:#ff0000;">Bundo Kanduang</span></em> lain di Indonesia dan seluruh dunia yang dipanggil dengan <em><span style="color:#ff0000;">Inang</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Bunda</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Ibu</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Buk’e</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Simbok</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Umi</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Mama</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Omak</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Mande</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Mandeh</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Mother</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Amma</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Amai</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Amak</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Mamak</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Mami</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Mamih</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Induak</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Induah</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Mutter</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Maman</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Mom</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;" lang="fr">Mère</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Mommy</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Um</span></em> dan <em><span style="color:#ff0000;">Mata</span></em>. Ini hanyalah sebagian saja dari nama-nama yang dipakai untuk menyebut perempuan yang telah mengandung dan melahirkan seluruh manusia yang ada di dunia ini.</p>
<p><em><span style="color:#ff0000;">Hanifah Oayobada</span></em>, sebagaimana yang dilakukan oleh banyak <em><span style="color:#ff0000;">orang Minangkabau</span></em> lainnya, adalah salah seorang perempuan Minangkabau yang ditengah kesibukannya yang bertimbun, masih tetap bersibuk diri dengan apa yang menjadi kekuatan <em><span style="color:#ff0000;">masyarakat matriarkal Minangkabau</span></em>; bukan senjata, otot ataupun perang melainkan <span style="color: #0000ff;"><em>kepandaian merangkai kata-kata</em></span>.</p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:#ff0000;">Pantun</span></em> ini adalah tulisan kedua dari rangkaian tulisan yang khusus menampilkan <em><span style="color:#ff0000;">perempuan-perempuan Minangkabau </span></em>beserta karya-karya mereka ataupun kiprah mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">***</p>
<p style="text-align:justify;">Baca juga:</p>
<p style="padding-left:30px;"><a href="http://www.varajambak.com/2009/03/21/saya-bangga-jadi-perempuan-minangkabau/"><em><span style="color:#ff00ff;">Saya Bangga Jadi Perempuan Minangkabau</span></em></a></p>
<p style="padding-left:30px;"><a href="http://www.varajambak.com/2009/03/25/emakku-hj-nurma-abubakar-piliang-perempuan-minang-tulen/"><em><span style="color:#ff00ff;">Emakku Hj. Nurma Abubakar Piliang-Perempuan Minang Tulen</span></em></a></p>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;"><a href="http://www.varajambak.com/2010/01/20/meiy-piliang-negeri-nurani-mati/"><em><span style="color:#ff00ff;">Meiy Piliang: Negeri Nurani Mati</span></em></a></p>
<p style="text-align:justify;">
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://www.varajambak.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.varajambak.com/2010/02/11/hanifah-damanhuri-oayobada-lapau-maya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meiy Piliang: Negeri Nurani Mati</title>
		<link>http://www.varajambak.com/2010/01/20/meiy-piliang-negeri-nurani-mati/</link>
		<comments>http://www.varajambak.com/2010/01/20/meiy-piliang-negeri-nurani-mati/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2010 07:40:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vara</dc:creator>
				<category><![CDATA[pantun/puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[Adat Matriarkat]]></category>
		<category><![CDATA[Bengkulu]]></category>
		<category><![CDATA[Bundo Kanduang]]></category>
		<category><![CDATA[Bundo Kanduang Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Fauna & Flora International]]></category>
		<category><![CDATA[FFI]]></category>
		<category><![CDATA[Harmita Desmerry Piliang]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[kaum]]></category>
		<category><![CDATA[matriarkat]]></category>
		<category><![CDATA[Medan]]></category>
		<category><![CDATA[Meiy Piliang]]></category>
		<category><![CDATA[Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan-perempuan Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Piliang]]></category>
		<category><![CDATA[Program Konservasi Gajah Sumatera & Habitatnya]]></category>
		<category><![CDATA[rumah gadang]]></category>
		<category><![CDATA[Seblat]]></category>
		<category><![CDATA[suku]]></category>
		<category><![CDATA[suku Piliang]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatra]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatran Elephant Conservation Programme]]></category>
		<category><![CDATA[Sumut]]></category>
		<category><![CDATA[Tangkahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.varajambak.com/?p=1627</guid>
		<description><![CDATA[Kututup mata, kutulikan telinga, pada berita-berita sengsara di media tak kubaca berita-berita hangat yang katanya hebat yang dijual di mana saja! aku tak mau muntah muak! Bah! Namun zaman bablas informasi ini mereka datang sendiri memaksaku Membuka surel, berita sensasi bertebaran Aku melengos televisi tetangga berbunyi berita selebriti, mencari sensasi ramai-ramai orang menonton sambil ngerumpi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">Kututup mata, kutulikan telinga,<br />
pada berita-berita sengsara di media<br />
tak kubaca berita-berita hangat<br />
yang katanya hebat<br />
yang dijual di mana saja!</p>
<p style="text-align:center;">aku tak mau muntah<br />
muak!<br />
Bah!</p>
<p style="text-align:center;">Namun<br />
zaman bablas informasi ini<br />
mereka datang sendiri<br />
memaksaku</p>
<p style="text-align:center;">Membuka surel, berita sensasi bertebaran</p>
<p style="text-align:center;">Aku melengos<br />
televisi tetangga berbunyi<br />
berita selebriti, mencari sensasi<br />
ramai-ramai orang menonton sambil ngerumpi<br />
Ada yang bangga, membuka aurat, menjual aib, demi popularitas</p>
<p style="text-align:center;">Naik kendaraan umum<br />
radio berbunyi<br />
berita negeri<br />
rakyat menangis<br />
yang mati kena bencana<br />
banjir longsor<br />
puting beliung</p>
<p style="text-align:center;">Wakil rakyat melakukan tinjauan<br />
jalan-jalan ke luar negeri<br />
mengurangi subsidi negeri<br />
Bocah-bocah kurang gizi.<br />
Dinding sekolah doyong atapnya bocor<br />
Bangku siswa bolong-bolong<br />
Perempuan pekerja mati di luar negeri</p>
<p style="text-align:center;">Masih saja kudengar dengan terpaksa<br />
berita-berita<br />
walau tak ingin<br />
Mestikah kumatikan juga nurani<br />
serupa yang dicontohkan para tetua negeri?</p>
<p style="text-align:center;">RumahCinta, Ayahanda Medan—8 Januari 2010</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p style="text-align:justify;">Tentang penulis<em> <span style="color:#ff0000;">Meiy Piliang</span></em></p>
<p style="text-align:justify;">Nama lengkap: <em><span style="color:#ff0000;">Harmita Desmerry</span></em> dari suku <em><span style="color:#ff0000;">Piliang</span></em>. Pencinta lingkungan, penyuka embun, bunga, gunung, rimba dan isinya, lukisan, bacaan, tulisan, musik, anak-anak, dll. Tinggal di Medan, bersama suami dan 3 anak (2 lelaki dan 1 perempuan). Bersyukur dilahirkan sebagai <em><span style="color:#ff0000;">perempuan Minangkabau</span></em> dan dididik secara<em><span style="color:#ff0000;"> Islam</span></em> dan <em><span style="color:#ff0000;">adat matriakat</span></em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Sepuluh tahun terakhir aktif bekerja untuk <span style="color: #0000ff;"><em>Program Konservasi Gajah Sumatera &amp; Habitatnya</em></span> pada <span style="color: #0000ff;"><em>Divisi Education and Awareness</em></span>, <span style="color: #0000ff;"><em>Fauna &amp; Flora International</em></span> &#8211; <span style="color: #0000ff;"><em>Sumatran Elephant Conservation Programme</em></span>, Medan. Bekerja mobile ke Tangkahan, Sumut, kadang-kadang ke Aceh, Seblat (Bengkulu), dll.</p>
<p style="text-align:justify;">Menulis bagi Meiy yang orang Piliang adalah untuk kebahagiaan dan keseimbangan jiwa raga.</p>
<p style="text-align:justify;">***</p>
<p style="text-align:justify;">Tulisan ini saya peruntukkan untuk para <em><span style="color:#ff0000;">Bundo Kanduang Minangkabau</span></em> yang telah berjasa dalam membangun kebudayaan, dalam mendidik anak-anak yang berjiwa merdeka dan peduli terhadap masyarakat, serta yang telah membangun hubungan dalam <em><span style="color:#ff0000;">rumah gadang</span></em> dan <em><span style="color:#ff0000;">kaum</span></em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Tulisan ini juga ditujukan untuk para<em><span style="color:#ff0000;"> Bundo Kanduang-Bundo Kanduang</span></em> lain di Indonesia dan seluruh dunia yang dipanggil dengan <em><span style="color:#ff0000;">Inang</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Bunda</span></em>,<em><span style="color:#ff0000;"> Ibu</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Buk&#8217;e</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Simbok</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Umi</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Mama</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Mother</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Amma</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Amai</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Amak</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Mamak</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Mami</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Mamih</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Induak</span></em>,<em><span style="color:#ff0000;"> Induah</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Mutter</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Mutti</span></em>,  <em><span style="color:#ff0000;">Maman</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Mom</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Mommy</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Umm</span></em> dan <em><span style="color:#ff0000;">Mata</span></em>. Ini hanyalah sebagian dari nama-nama yang dipakai untuk menyebut seorang perempuan yang telah mengandung, melahirkan, menyusui  dan membesarkan setiap manusia di dunia ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Puisi ini adalah tulisan pertama dari rangkaian tulisan yang khusus menampilkan <em><span style="color:#ff0000;">perempuan-perempuan Minangkabau</span></em> beserta karya-karya mereka ataupun kiprah mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">***</p>
<p style="text-align:justify;">Baca juga:</p>
<p style="padding-left:30px;text-align:justify;"><a href="http://www.varajambak.com/2009/03/21/saya-bangga-jadi-perempuan-minangkabau/"><span style="color:#ff00ff;"><em>Saya Bangga Jadi Perempuan Minangkabau</em></span></a></p>
<p style="padding-left:30px;text-align:justify;"><a href="http://www.varajambak.com/2009/03/25/emakku-hj-nurma-abubakar-piliang-perempuan-minang-tulen/"><span style="color:#ff00ff;"><em>Emakku Hj. Nurma Abubakar Piliang-Perempuan Minang Tulen</em></span></a></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://www.varajambak.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.varajambak.com/2010/01/20/meiy-piliang-negeri-nurani-mati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Emakku Hj. Nurma Abubakar Piliang-Perempuan Minang Tulen</title>
		<link>http://www.varajambak.com/2009/03/25/emakku-hj-nurma-abubakar-piliang-perempuan-minang-tulen/</link>
		<comments>http://www.varajambak.com/2009/03/25/emakku-hj-nurma-abubakar-piliang-perempuan-minang-tulen/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Mar 2009 04:12:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmad Husein]]></category>
		<category><![CDATA[batalion Siliwangi]]></category>
		<category><![CDATA[Bunda]]></category>
		<category><![CDATA[Bundo Kanduang]]></category>
		<category><![CDATA[DI/TII]]></category>
		<category><![CDATA[HAMKA]]></category>
		<category><![CDATA[Ir. Sukardiman]]></category>
		<category><![CDATA[Karanaur]]></category>
		<category><![CDATA[Kartosuwirso]]></category>
		<category><![CDATA[Kuraitaji]]></category>
		<category><![CDATA[matrilineal]]></category>
		<category><![CDATA[Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Pariaman]]></category>
		<category><![CDATA[PKI]]></category>
		<category><![CDATA[PRRI]]></category>
		<category><![CDATA[Tenggelamnya kapal van der Wijk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://moendg07.wordpress.com/?p=901</guid>
		<description><![CDATA[Aku mulai epic dari Bundoku ini tahun 1965, ketika aku berumur 5 tahun. Di sebelah tangan kiri dijinjingnya dalam tas rotan sabun ATK 50 batang, tangan kanan membawa 5 kaleng susu bagian tentara, dikepala dijunjungnya garam, gula, kopi, sardencis dll seberat 25 Kg. Semuanya dia dapatkan dari ibu-ibu asrama di Cicalengka untuk minta tolong dijualkan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Aku mulai epic dari Bundoku ini tahun 1965, ketika aku berumur 5 tahun. Di sebelah tangan kiri dijinjingnya dalam tas rotan sabun ATK 50 batang, tangan kanan membawa 5 kaleng susu bagian tentara, dikepala dijunjungnya garam, gula, kopi, sardencis dll seberat 25 Kg. Semuanya dia dapatkan dari ibu-ibu asrama di <em><span style="color:#ff0000;">Cicalengka</span></em> untuk minta tolong dijualkan, sedangkan aku disuruhnya menenteng satu karung baju korsikan yang beliau dapatkan dari donsanaknya (baca: saudaranya), seorang panggaleh kaki limo (baca: pedagang kaki lima) di <span style="color:#ff0000;"><em>Bandung</em></span> dengan sistim konsinyasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Tempat tinggal kami di <span style="color:#ff0000;"><em>Rancaekek</em></span> didepan rumah <span style="color:#ffcc00;"><em>H. Maksum</em></span> yang meminta ayah kami tinggal untuk menjaga beliau karena sering ada rampok menyatroni rumahnya. Bapak haji ini kebetulan orang terkaya di Rancaekek waktu itu. Sampai sekarang , ayah kami dari bataliyon <em><span style="color:#ff0000;">Pagaruyung</span></em> yang ditugaskan untuk memberantas <span style="color:#ffcc00;"><em>DI/TII</em></span>, adalah seorang prajurut pait yang diistilahkan orang Sunda <span style="color:#ffcc00;"><em>parab mariem</em></span> (yang pertama kali dihantam meriam jika berperang).</p>
<p style="text-align: justify;">Maka berjalanlah kami setelah sembahyang subuh dan sarapan ubi rebus menyusuri kampung kampung di sekitar warung cina, melambung berputar ke desa Sayang, tembus ke Cipacing dan berhenti sejenak di Cileunyi. Dalam perjalanan door to door tersebut, aku heran karena semua orang begitu menyayangi emakku. Sambil membuka barang dagangan ada yang membeli cash, ada juga yang berhutang, selalu menyediakan makanan untuk emak ku, ada ranginang, talas rebus, goreng pisang, dan sampai di Cileunyi ada yang menyediakan makan siang dengan goreng ikan mas, lalab dan sambel, dengan nasi merah yang bergizi tinggi.</p>
<p style="text-align: justify;">Emak ku orang minang tulen dari desa <em><span style="color:#ffcc00;">Karanaur</span></em> <span style="color:#ff0000;"><em>Pariaman</em></span> yang rumah gadangnya dibakar tentara jepang karena tak mau berkolaborasi dengan mereka. Sepanjang jalan mancari pitih (baca: uang), beliau menceritakan padaku betapa pahitnya dijajah, sekarang kita harus saling bunuh antar bangsa sendiri. Orang Minang disuruh membunuh <em><span style="color:#ffcc00;">Kartosuwiryo</span></em> dengan pasukan dan pendukungnya, sedangkan orang Sunda (<em><span style="color:#ff0000;">bataliyon Siliwangi</span></em>) disuruh membunuh <span style="color:#ffcc00;"><em>Ahmad Husen</em></span> beserta dunsana-dunsana (baca: saudara-saudara) kita yang mendukungnya sebagai gerombolan pemberontak <span style="color:#ff0000;"><em>PRRI</em></span>, belum lagi <span style="color:#ff0000;"><em>PKI</em></span> yang menusuk dari belakang. Sungguh kacau dan sia-sia perjuangan para pendahulu yang memerdekan Indonesia. Setelah merdeka kita malah bertengkar karena alasan politik.</p>
<p style="text-align: justify;">Emak ku orang hebat, setidaknya bagiku yang masih berusia dini. Beban berat yang ditanggungnya dijalaninya dengan senang dan canda tawa sepanjang galengan(batas antar sawah). Sepanjang jalan dari rumah ke rumah, ada ada saja yang beliau ceritakan tentang keluhuran budaya Minang yang adiluhung, tentang perkasanya perempuan Minang yang tidak tergantung pada laki-laki seperti beliau, dimana penghasilan beliau dari berniaga seperti ini dapek labo (baca: laba/untung) dua kali lipat gajih abak ku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kau Bujang, jangan kalah sama emak. Emak dan abakmu tidak sempat mengecap pendidikan tinggi karena tak ada kesempatan dan biaya untuk itu. Hanya sampai SR (Sekolah Rakyat) dua tahun. Sekedar menulis dan membaca yang kami bisa. Bahkan abak mu masuk tentara pada usia muda agar tidak membebani ungku (kakek) dan inyik (nenek) kau karena yang hanya kusir bendi di <span style="color:#ff0000;"><em>Kuraitaji</em></span>. Emak akan berusaha menyekolahkanmu walau badan emak remuk dengan baban barek (baca: beban berat) ini. Aku menangis sepanjang jalan dan dibentak dengan sayang oleh emak bahwa laki-laki tidak boleh cengeng, harus setegar batang karambi (baca: kelapa) yang ditiup badai pun tidak pernah rubuh.</p>
<p style="text-align: justify;">Disetiap perhentian di berinya aku buku untuk dibaca. Beliau mengoleksi buku tentang petualangan Karl May, dengan tokoh Winetou dan Old Saterhand, Kho Ping Ho perpuluh puluh jilid, Maria Curie dan tokoh-tohoh dunia seperti Winston churcil, Abraham Lincoln dan buku-buku Balai Pustaka yang salah satunya adalah Tenggelamnya kapal van der Wijk karangan Buya HAMKA. Emak dan Abak mu, bagai laskar Salahudin al Ayubi yang membakar perahunya ketika sampai di pantai Gibraltar, untuk tidak kembali ke ranah minang sebelum kalian kakak baradik dapat emak pentaskan menjadi urang di rantau ini apapun yang terjadi. Pada hari tua emak nanti, emak ingin kalian dapat membangun kampung halaman, dan emak beristirahat dengan tenang di kampung, dan emak menghayalkan pagi-pagi emak bangun setelah sembahyang subuh emak makan katan jo (baca: dengan) pisang goreng, katupek (baca: ketupat) gulai paku dan kemudian emak main ka pasir Karanaur menyaksikan bagan kanai dengan ikan yang berlimpah, dan itu bagan emak sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Sungguh itu telah dicapainya. Anak-anak beliau semuanya sarjana, dan menyebar di seluruh Indonesia dan manca negara, ada yang di <span style="color:#ffcc00;"><em>Bandung</em></span>, di <span style="color:#ffcc00;"><em>Jakarta</em></span>, di <span style="color:#ffcc00;"><em>Lombok</em></span>, di <span style="color:#ffcc00;"><em>Jambi</em></span>, <span style="color:#ffcc00;"><em>Swedia</em></span>, <span style="color:#ffcc00;"><em>Amerika Serikat </em></span>dan yang paling besar di <em><span style="color:#ffcc00;">Karanaur</span></em> menemani beliau sampai akhir hayatnya di <span style="color:#ffcc00;"><em>Karanaur</em></span>. Banyak cerita tentang emakku, dan ini hanya sepenggal dari episode yang beliau lalui yang membekas dalam di sanubariku. Emakku orang Minang tulen yang tidak lekang oleh panas dan tak lapuk kehujanan dan aku bangga jadi anaknya. Lain kali aku akan ceritakan bagaimana beliau menempa kami menjadi mandiri dan berani tampil ke depan, baik dalam bermasyarakat maupun menggali ilmu pengetahuan.</p>
<p><em><span style="color:#ff0000;">Catatan:</span></em></p>
<p style="text-align: justify;">Kisah di atas adalah kisah nyata daripada Bunda dari Ir. Sukardiman yang pernah menulis <span style="color:#ffcc00;"><em><a href="http://moendg07.wordpress.com/2009/03/11/orang-minangkabau-orang-padang-orang-melayu-atau-orang-awak/"><span style="color:#ffcc00;">pengakuan mengenai orang Batak</span></a></em> </span>di blog ini. Kisah ini merupakan kisah pertama dari rangkaian kisah-kisah mengenai para Bundo Kanduang di ranah Minang yang akan saya tampilkan di blog ini. Kisah ini bisa dijadikan pelajaran bagi orang-orang yang telah, sedang merencanakan atau akan &#8220;merevolusi&#8221; tatanan kekeluargaan <span style="color:#ff0000;"><em>matrilineal</em></span> atau bahkan melecehkan Bunda dan merendahkan <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color:#ff0000;">Bunda</span></em></span> mereka sendiri. Kisah ini membuktikan bahwa para <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color:#ff0000;">Bunda</span></em></span> memang merupakan <span style="color:#ffcc00;"><em>super hero</em></span> sejati bagi setiap pribadi-pribadi manusia yang lahir ke dunia ini. Apakah kisah di atas adalah mengenai &#8220;kekuasaan Ibu&#8221; seperti yang banyak diklaim oleh beberapa pihak, ataukah perbuatan yang berdasarkan rasa kasih Ibu untuk anak-anaknya? Saya rasa kita semua bisa menilainya sendiri.</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://www.varajambak.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.varajambak.com/2009/03/25/emakku-hj-nurma-abubakar-piliang-perempuan-minang-tulen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saya Bangga Jadi Perempuan Minangkabau</title>
		<link>http://www.varajambak.com/2009/03/21/saya-bangga-jadi-perempuan-minangkabau/</link>
		<comments>http://www.varajambak.com/2009/03/21/saya-bangga-jadi-perempuan-minangkabau/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Mar 2009 08:07:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[A.A Navis]]></category>
		<category><![CDATA[Aisyah Amini]]></category>
		<category><![CDATA[Arab Saudi]]></category>
		<category><![CDATA[arabisasi sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Barat]]></category>
		<category><![CDATA[Belanda]]></category>
		<category><![CDATA[Brunei]]></category>
		<category><![CDATA[budaya Bundo Kanduang]]></category>
		<category><![CDATA[budaya Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[budaya patriarkal]]></category>
		<category><![CDATA[budaya-budaya patriarkal dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Bunda]]></category>
		<category><![CDATA[Bunda-bunda Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Bundo Kanduang]]></category>
		<category><![CDATA[Cina]]></category>
		<category><![CDATA[Desi Anwar]]></category>
		<category><![CDATA[Dr. Ranny Emilia]]></category>
		<category><![CDATA[Dresden]]></category>
		<category><![CDATA[Elly Kasim]]></category>
		<category><![CDATA[eropaisasi sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Gumarang Sakti]]></category>
		<category><![CDATA[H.R. Rasuna Said]]></category>
		<category><![CDATA[Hindu]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu Alam Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu Asal Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu Pers Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu Ratu]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu Ratu bijaksana]]></category>
		<category><![CDATA[ibu-ibu pemuja phallus]]></category>
		<category><![CDATA[India]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Inggris]]></category>
		<category><![CDATA[Inul]]></category>
		<category><![CDATA[Inyiak Upiak Palatiang]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Islamisasi sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Jajang Pamuntjak]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Jerman]]></category>
		<category><![CDATA[jihad]]></category>
		<category><![CDATA[jihad Islam]]></category>
		<category><![CDATA[kaba]]></category>
		<category><![CDATA[kaum padri]]></category>
		<category><![CDATA[kekuasaan patriarkal]]></category>
		<category><![CDATA[Lany Verayanti]]></category>
		<category><![CDATA[Leila S. Chudori]]></category>
		<category><![CDATA[maestro Silat]]></category>
		<category><![CDATA[Malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[maskulinisasi pemberitaan]]></category>
		<category><![CDATA[maskulinisasi sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Melayu]]></category>
		<category><![CDATA[mesin pembuat anak]]></category>
		<category><![CDATA[negeri-negeri Melayu]]></category>
		<category><![CDATA[Niniak]]></category>
		<category><![CDATA[Niniek]]></category>
		<category><![CDATA[Ninik]]></category>
		<category><![CDATA[non-Barat]]></category>
		<category><![CDATA[patriarkal]]></category>
		<category><![CDATA[Perancis]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan-perempuan Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[phallus]]></category>
		<category><![CDATA[Prof. Dr. Dewi Fortuna Anwar]]></category>
		<category><![CDATA[Puti Reno Raudha Thaib]]></category>
		<category><![CDATA[Rahmah El Yunusiyah]]></category>
		<category><![CDATA[ranah Bundo Kanduang]]></category>
		<category><![CDATA[ranah Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Rasuna Said]]></category>
		<category><![CDATA[RCTI]]></category>
		<category><![CDATA[Rohana Kudus]]></category>
		<category><![CDATA[Saadah Alim]]></category>
		<category><![CDATA[Singapura]]></category>
		<category><![CDATA[Siti Manggopoh]]></category>
		<category><![CDATA[Sunda]]></category>
		<category><![CDATA[Sunting Melayu]]></category>
		<category><![CDATA[tambo alam Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Tan Malaka]]></category>
		<category><![CDATA[teori-teori feminisme]]></category>
		<category><![CDATA[teori-teori pembebasan perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[teori-teori pemberdayaan perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[The Weapons of Mass Destruction Commission. Swedia]]></category>
		<category><![CDATA[Yeni Rosa Damayanti]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://moendg07.wordpress.com/?p=876</guid>
		<description><![CDATA[Karena perempuan-perempuan Minangkabau telah dan selalu melawan kekuasaan-kekuasaan yang datang silih berganti yang berusaha menghancurkan ranah Minang entah itu atas nama jihad Islam kaum padri, Barat, pemerintah daerah ataupun pemerintah pusat yaitu para Bundo Kanduang, para Niniak/Niniek/Ninik (nenek), atau nama-nama seperti Siti Manggopoh, Rohana Kudus, Rasuna Said, Dr. Ranny Emilia, Yeni Rosa Damayanti, Prof. Dr. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena <span style="color: #0000ff;"><em>perempuan-perempuan Minangkabau</em></span> telah dan selalu melawan kekuasaan-kekuasaan yang datang silih berganti yang berusaha menghancurkan ranah Minang entah itu atas nama <span style="color: #0000ff;"><em>jihad Islam kaum padri</em></span>, <span style="color: #0000ff;"><em>Barat</em></span>, pemerintah daerah ataupun pemerintah pusat yaitu para <em><span style="color:#ff0000;">Bundo Kanduang</span></em>, para <em><span style="color:#ff0000;">Niniak</span></em>/<em><span style="color:#ff0000;">Niniek</span></em>/<em><span style="color:#ff0000;">Ninik</span></em> (nenek), atau nama-nama seperti <em><span style="color:#ff0000;">Siti Manggopoh</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Rohana Kudus</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Rasuna Sai</span><span style="color:#ff0000;">d</span></em>, <span style="color:#ff0000;"><em>Dr. Ranny Emilia</em></span>, <em><span style="color:#ff0000;">Yeni Rosa Damayanti</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Prof. Dr. Dewi Fortuna Anwar</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Lany Verayanti</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Aisyah Amini</span></em> dan banyak lagi perempuan-perempuan Minangkabau lainnya.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabau telah terbiasa memimpin masyarakat sebagai <em><span style="color:#ff0000;">Bundo Kanduang</span></em> dan juga mengambil alih kepemimpinan dari tangan laki-laki ketika laki-laki tidak berdaya apa-apa lagi seperti<em><span style="color:#ff0000;"> Siti Manggopoh</span></em> yang memimpin penyerangan bersenjata terhadap <em><span style="color:#ff0000;">Belanda</span></em> bahkan ketika anaknya masih menyusu.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabau dihargai kemampuan reproduksinya dan diakui hubungannya yang alami dengan anak dimana perempuan-perempuan lain dalam budaya patriarkal Indonesia maupun dunia hanya diperlakukan sebagai &#8220;<span style="color: #0000ff;"><em>mesin pembuat anak</em></span>&#8221; atau &#8220;<span style="color: #0000ff;"><em>pengasuh anak daripada seorang laki-laki</em></span>&#8221; dan diputuskan hubungan alaminya dengan anak-anak yang telah dikandungnya dan dilahirkannya.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuanlah yang menjadi pemilik tanah dan harta kaum, yang telah terbukti berjasa dalam mempertahankan budaya Minangkabau dan identitas Minangkabau yang membuat kaum tetap memiliki kampung halaman ke mana mereka pulang sejauh apapun mereka merantau dan di mana dalam budaya lain, hampir seluruh tanah telah diperjual-belikan oleh pihak laki-laki dan telah beralih ke tangan para elit yang utamanya adalah laki-laki.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan-perempuan Minangkabaulah yang mengatur dan mengurus keluarga dan berhasil mencetak anak-anak menjadi pribadi-pribadi yang percaya diri dan kuat, yang bisa memimpin masyarakat dan menjadi orang-orang yang perannya terkenal di Indonesia dan<em><span style="color:#ffcc00;"> <span style="color: #0000ff;">negeri-negri Melayu</span></span></em> seperti <span style="color: #0000ff;"><em>Malaysia</em></span>, <span style="color: #0000ff;"><em>Singapura</em></span> dan <em><span style="color:#ffcc00;"><span style="color: #0000ff;">Brunei</span> </span></em>dan maupun dunia.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabau selalu berhasil melawan kekuasaan daripada budaya-budaya patriarkal yang datang luar yang berusaha dan cenderung meminggirkan perempuan dari perannya dalam kehidupan masyarakat entah itu kekuasaan yang bernama <span style="color: #0000ff;"><em>Islam</em></span> (<span style="color: #0000ff;"><em>fundamentalis</em></span> ataupun tidak), kekuasaan<em><span style="color:#ffcc00;"> <span style="color: #0000ff;">Belanda</span></span></em> atau <span style="color: #0000ff;"><em>Barat</em></span> secara umum, kekuasaan yang bernama pemerintah daerah atau pusat serta kekuasaan yang berbentuk hukum yang menindas perempuan serta <span style="color: #0000ff;"><em>kekuasaan-kekuasaan patriarkal dunia</em></span> lainnya.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabaulah yang menjadi perempuan-perempuan pertama di banyak bidang kehidupan &#8220;modern&#8221; mulai dari jurnalisme/pers/media, dunia usaha, organisasi, pendidikan, seni/budaya, bidang-bidang intelektual dan lain-lain bidang.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabulah yang menjadi perempuan pertama yang menjadi pendiri partai pertama di Indonesia, yaitu <span style="color:#ff0000;"><em>H.R. Rasuna Said</em></span>.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempaun Minangkabaulah yang mendirikan surat kabar khusus perempuan pertama yaitu <em><span style="color:#ff0000;">Rohana Kudus</span></em> yaitu surat kabar<span style="color:#ffcc00;"> <span style="color: #0000ff;"><em>Sunting Melayu</em></span></span>.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabaulah yang menjadi pendiri organisasi perempuan pertama di Indonesia yaitu <em><span style="color:#ff0000;">Rohana Kudus</span></em> yaitu organisasi <span style="color: #0000ff;"><em>Kerajinan Amai Setia</em></span> pada tahun 1911.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabaulah yang memelopori bidang usaha modern untuk kaum perempuan di Indonesia yaitu<span style="color:#ff0000;"><em> Rohana Kudus</em></span> dengan bidang usaha<em><span style="color:#ffcc00;"> <span style="color: #0000ff;">Kerajinan Amai Setia</span></span></em>-nya.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabaulah yang mendirikan sekolah perempuan modern pertama yaitu <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">Rohana School</span> </em></span>yaitu <span style="color:#ff0000;"><em>Rohana Kudus</em></span>.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan-perempuan Minangkabau adalah perempuan-perempuan kuat yang juga memilki banyak kemampuan dan ketrampilan serta tetap dapat menjalankan fungsinya sebagai <em><span style="color:#ff0000;">Bunda Penyayang</span></em> bagi anak-anaknya.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan-perempuan Minangkabau bisa melakukan apa saja tampa harus pusing-pusing belajar dan berkutat dengan &#8220;<span style="color: #0000ff;"><em>teori feminisme</em></span>&#8220;/&#8221;<span style="color: #0000ff;"><em>teori pembebasan perempuan</em></span>&#8220;/<span style="color: #0000ff;">&#8220;<em>teori pemberdayaan perempuan</em></span>&#8221; dan lain sebagainya yang sebenarnya hanya berlaku untuk dan diperlukan oleh perempuan-perempuan dalam budaya patriarkal yang memang dilecehkan, ditindas dan dipinggirkan. Yang perlu dilakukan oleh perempuan Minangkabau adalah melawan pengaruh-pengaruh negatif dari<em><span style="color:#ffcc00;"> <span style="color: #0000ff;">budaya-budaya patriarkal dunia</span></span></em> yang masuk lewat satuan-satuan budaya dengan label agama, ideologi ataupun kekuasaan.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena ketika anak gadis-anak gadis lain diajarkan oleh Ibunya untuk menjerat laki-laki kaya walaupun sudah tua sekalipun, <em><span style="color:#ff0000;">Bunda</span></em> saya dan <em><span style="color:#ff0000;">Bunda-Bunda Minang</span></em> lain mengatakan kepada gadis-gadis Minang untuk bersama dengan laki-laki yang baik dan penyayang.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan-perempuan Minangkabau tidak dijarkan untuk patuh dan menurut kepada laki-laki lain yang dikenal sebagai suaminya, ketika gadis-gadis lainnya diajarkan untuk &#8220;melayani laki-laki yang menjadi suaminya&#8221; dan patuh tanpa syarat, dikarenakan tanggung jawab perempuan Minangkabau adalah terhadap anak dan keluarganya. Walaupun konsep-konsep  seperti ini sudah mulai masuk ke dalam budaya Minangkabau lewat <span style="color: #0000ff;"><em>budaya-budaya patriarkal</em></span> lokal maupun internasional yang berusaha menguasai <em>ranah Minang.</em></li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Ketika anak gadis-anak gadis lain dipingit dan tidak dapat melakukan apa-apa perempuan Minangkabau bisa melakukan apa saja karena tidak pernah ada pemisahan yang jelas antara &#8220;pekerjaan laki-laki&#8221; atau &#8220;pekerjaan perempuan&#8221; pada masyarakat Minangkabau.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabau diakui peranannya sebagai<em><span style="color:#ff0000;"> Bundo Kanduang</span></em> (<span style="color: #0000ff;"><em>Bunda Penyayang</em></span>), atau dalam perannya sebagai kekuatan untuk meneruskan generasi manusia di dunia. Oleh karenanya perempuan-perempuan Minangkabau yang telah memiliki keturunan diberi gelar <em><span style="color:#ff0000;">Bundo Kanduang</span></em>.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Ketika perempuan-perempuan lain dalam budaya patriarkal diberi tugas untuk harus dapat &#8220;melahirkan anak laki-laki&#8221;, &#8220;memuja anak laki-laki&#8221; dan memdiskriminisakikan anak perempuannya bahkan kalau perlu membunuhnya di kandungan ataupun setelah di luar kandungan seperti banyak terjadi di <span style="color: #0000ff;"><em>India</em></span> dan <span style="color: #0000ff;"><em>Cina</em></span> serta di dalam budaya-budaya patriarkal zaman dulu, perempuan-perempuan Minangkabau mengandung dan melahirkan anak-anak tanpa memandang jenis kelamin.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena menjadi &#8220;perempuan&#8221; dalam budaya Minangkabau tidaklah hina seperti menjadi perempuan dalam budaya-budaya patriarkal lainnya.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Kerena ketika perempuan-perempuan dalam karya sastra (dan film) dari banyak budaya patriarchal lainnya hampir selalu digambarkan sebagai pelacur, perempuan yang diperkosa, perempuan yang dipukuli, perempuan yang dibunuh, perempuan yang dijual orang tuanya ke laki-laki lainnya, perempuan yang diberikan ke laki-laki yang berkuasa seperti nasib yang harus dijalani oleh RA Kartini yang disebut-sebtut sebagai &#8220;pembebas perempuan Indonesia&#8221; itu, dan lain-lain perbuatan biadab terhadap perempuan, perempuan Minangkabau digambarkan sebagai <em><span style="color: #0000ff;">Ibu Ratu bijaksana</span><span style="color:#ffcc00;"> </span></em>dalam <span style="color: #0000ff;"><em>tambo alam Minangkabau</em></span> yaitu <em><span style="color:#ff0000;">Bundo Kanduang</span></em> dan juga sebagai perempuan-perempuan kuat dan mandiri dalam <em><span style="color:#ff0000;">kaba</span></em> (cerita klasik Minang). Sastra Minangkabau tidak mengenal perempuan sebagai pelacur atau tema-tema cerita-cerita lainnya yang melambangkan pelecehan, penindasan, kekerasan dan penhinaan serta penistaan yang menjadi tema-tema utama di dalam budaya patriarkal baik lokal maupun dunia.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena budaya Minangkabau tidak mengenal perempuan sebagai pelacur, sebagai budak, baik dalam lembaga yang bernama &#8220;rumah tangga&#8221; maupun sebagai pembantu rumah tangga murah, sebagai anak yang dijual orang tuanya kepada laki-laki kaya, perempuan sebagai &#8220;obyek seks&#8221; dan lain-lain posisi perempuan yang rendah dan tertindas.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabau sangat dihormati dalam fungsi keibuannya dan diberi gelar sama dengan gelar<span style="color: #0000ff;"> <em>Ibu Asal Minangkabau</em></span> yaitu <em><span style="color:#ff0000;">Bundo Kanduang</span></em>.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabau dihormati dalam fungsinya sebagai cerdik pandai dan diberi gelar sama dengan gelar <span style="color: #0000ff;">Ibu Asal Minangkabau</span> yaitu <span style="color:#ff0000;"><em>Bundo Kanduang</em></span>.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena budaya Minangkabau telah dan selalu melahirkan perempuan-perempuan hebat yang melawan begitu banyak kekuasaan patriarchal yang datang silih berganti ke ranah <em><span style="color:#ff0000;">Bundo Kanduang</span></em> dan yang berusaha menghancurkan  ranah maupun<span style="color: #0000ff;"> <em>budaya Bundo Kanduan</em>g</span> seperti <em><span style="color:#ff0000;">Siti Manggopoh</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Rasuna Said</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Rahmah El Yunusiyah</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Rohana Kudus</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Puti Reno Raudha Thaib</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Yeni Rosa  Damayanti</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Prof. Dr. Dewi Fortuna Anwar</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Dr. Ranny Emilia</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Lany Verayanti</span></em> dan masih banyak lagi lainnya.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena budaya Minangkabau banyak melahirkan perempuan-perempuan yang keras hati, teguh pendirian, dan kuat kemauan, kuat dalam menghadapi cobaan hidup, mandiri, dan memainkan peranan penting dalam keluarga, masyarakat Minang, Indonesia maupun dunia.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabau sebagai janda tidak dipandang rendah atau bahkan harus mati dipanggang api karenanya, seperti yang umum terjadi dalam budaya-budaya yang dipengaruhi oleh <span style="color: #0000ff;"><em>Hindu</em></span> seperti di <em><span style="color:#ffcc00;"><span style="color: #0000ff;">India</span> </span></em>dan <span style="color: #0000ff;"><em>Jawa</em></span>/<span style="color: #0000ff;"><em>Sunda</em></span>. Perempuan Minangkabau akan didorong untuk kawin lagi sehingga tidak perlu menderita karena harus &#8220;bobok sendirian&#8221; <img src='http://www.varajambak.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabau tidak dipandang dari sisi kelaminnya seperti perempuan-perempuan dalam budaya patriarkal, melainkan dari segi fungsinya sebagai Bunda bagi anak-anaknya, perannya dalam keluarga besar dan dalam masyarakat.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena ketika perempuan-perempuan lain dalam budaya patriarkal harus menelan hinaan-hinaan yang menyakitkan hati seperti kata-kata berikut dalam bahasa<em><span style="color:#ff0000;"> Jawa</span></em>/<em><span style="color:#ff0000;">Sunda</span></em>/<em><span style="color:#ff0000;">Jakarta</span></em> (sundal, pelacur, perek, ayam, perempuan murahan, dll), Inggris (whore, slut, bitch, chick, cunt), Jerman (Schlampe, Nutte, Flittchen), Perancis (putain, pute) dan banyak lagi lainnya dalam berbagai bahasa-bahasa daripada bangsa-bangsa patriarkal lokal maupun dunia, budaya Minangkabau tidak mengenal cacian dan hinaan serupa itu. Satu panggilan untuk perempuan Minangkabau yang melambangkan penghormatan dan penghargaan yang tinggi yaitu <em><span style="color:#ff0000;">Bundo Kanduang</span></em>. Lewat pengaruh-pengaruh budaya-budaya patriarkal baik lokal maupun internasional, sudah ada laki-laki dan juga sebagain kecil perempuan Minangkabau yang telah mulai menggunakan kata-kata hinaan dan cacian tersebut. Tapi hal itu masih bukan merupakan hal yang umum.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabaulah yang menjadi<span style="color: #0000ff;"> <em>pandeka Silat</em> </span>yang dikenal dunia yaitu <em><span style="color:#ff0000;">Inyiak Upiak Palatiang</span></em>.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan-perempuan Minangkabau adalah perempuan-perempuan pelopor dalam bidangnya masing-masing di Indonesia.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan-perempuan Minangkabau adalah pelopor-pelopor dalam bidang puisi di Indonesia.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena peremuan-perempuan Minangkabau adalah perempuan-perempuan menonjol dalam bidang penulisan seperti <em><span style="color:#ff0000;">Saadah Alim</span></em>,<em><span style="color:#ff0000;"> Saadah Alim</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Leila S. Choidori</span></em> dan banyak lagi lainnya.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan-perempuan Minangkabau adalah perempuan-perempuan yang berperan penting dalam dunia film dan theater seperti <em><span style="color:#ff0000;">Eva Arnaz</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Jajang Pamoentjak</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Gusmiati Suid</span></em> dan <em><span style="color:#ff0000;">Sherina</span></em>.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabaulah yang menjadi penulis cerita pendek perempuan pertama di Indonesia yaitu <span style="color:#ff0000;"><em>Saadah Alim</em></span>.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabaulah yang aktif memperkenalkan budaya-budaya Indonesia ke manca negara yaitu <em><span style="color:#ff0000;">Elly Kasim.</span></em></li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabaulah yang aktif membela perempuan yang ditinda oleh para penguasa <span style="color: #0000ff;"><em>Islam</em></span> seperti <span style="color:#ff0000;"><em>Inul</em></span> yaitu <em><span style="color:#ff0000;">Jajang Pamoentjak</span></em> dan <em><span style="color:#ff0000;">Yeni Rosa Damayanti</span></em>.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabaulah yang menjadi <span style="color: #0000ff;"><em>Ibu Pers Indonesia</em></span> yaitu <em><span style="color:#ff0000;">Rohana Kudus</span></em>.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabaulah yang menyelamatkan per-film-an Indonesia setelah sekarat hampir 20 tahun lamanya yaitu artis kecil <em><span style="color:#ff0000;">Sherina</span></em>, yang menyelamatkan per-film-an Indonesia pada saat ia baru berumur 10 tahun lewat film-nya yang sangat terkenal yaitu <em>Petualangan Sherina</em>.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena orang Minangkabaulah yang menjadi anggota kehormatan dari lembaga hak-hak asasi manusia untuk pemberitaan mengenai senjata pemusnah masal yaitu <span style="color: #0000ff;"><em>The Weapons of Mass Destruction Commission</em></span>, yang berkedudukan di <span style="color: #0000ff;"><em>Swedia</em></span> yaitu <span style="color:#ff0000;"><em>Prof. Dr. Dewi Fortuna Anwar</em></span>.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena orang Minangkabaulah yang menjadi Ibu dari dunia tari kontemporer Indonesia, yang membuat nama Indonesia diakui di dunia Internasional dengan tari kontemporernya yang berdasarkan pada budaya Minangkabau Silek (silat) yaitu <em><span style="color:#ff0000;">Gusmiati Suid</span></em>, pendiri sanggar tari <span style="color: #0000ff;"><em>Gumarang Sakti</em></span>.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena orang Minangkabaulah yang merupakan aktivis mahasiswa yang ditakuti <span style="color: #0000ff;"><em>Suharto</em></span> yaitu <em><span style="color:#ff0000;">Yeni Rosa Damayanti </span></em>yang dipenjarakan olehnya lebih dari satu tahun lamanya dalam kasus &#8220;21 mahasiswa&#8221; dan yang diasingkan olehnya di negri <span style="color: #0000ff;"><em>Belanda</em></span> setelah peristiwa di kota<em><span style="color:#ffcc00;"> <span style="color: #0000ff;">Dresden</span></span></em>, <span style="color: #0000ff;"><em>Jerman</em></span>.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena Ibu saya ada banyak, saya panggil mereka Mak Gaek, Uwo, Mama dan Etek.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena saya tidak pernah diajarkan oleh Ibu saya dan budaya saya untuk menyembah laki-laki dan memasrahkan kehidupan saya ditangan laki-laki seperti nasib banyak perempuan-perempuan lainnya dalam budaya patriarkal.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena saya sebagai perempuan bisa jauh merantau, dan karenanya bisa tau banyak hal dan bisa melihat banyak hal. Karena Ibu saya tidak pernah mengatakan hal-hal berikut ini: &#8220;Ah, kamukan perempuan tidak usah sekolah tinggi-tinggi&#8221;, &#8220;sebagai perempuan kamu harus melayani suami&#8221;, dan lain-lain ucapan yang merendahkan anak perempuan dan menghilangkan semangat anak perempuan yang biasa dilakukan oleh <span style="color: #0000ff;"><em>ibu-ibu pemuja phallus</em> </span>(kelamin laki-laki) pada budaya patriarkal.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena masyarakat Minangkabau adalah masyarakat matriarchat terbesar di dunia.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena masyarakat Minangkabau adalah masyarakat matriarchat yang &#8220;termodern&#8221; di dunia.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena masyarakat Minangkabau adalah masyarakat matriarchat yang paling stabil di dunia.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena Minangkabau menjadi lambang perlawanan budaya matriarchat yang diperangi oleh budaya patriarchat selama ribuan tahun.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan-perempuan Minangkabau berhasil bertahan dan selalu melakukan perlawanan atas penindasan dan usaha-usaha memerangi perempuan dan budaya Minangkabau. Sampai sekarang.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan-perempuan Minangkabau memainkan peranan penting dalam melawan arus  kekuatan-kekuatan patriarkal besar dunia, <span style="color: #0000ff;"><em>Hindu</em></span>/<em><span style="color:#ffcc00;"><span style="color: #0000ff;">Budha</span>-<span style="color: #0000ff;">India</span></span></em>, <em><span style="color: #0000ff;">Hindu</span></em>/<span style="color: #0000ff;"><em>Budha</em></span>-<span style="color: #0000ff;"><em>Jawa</em></span>,<em><span style="color:#0000ff;"> Konfusianisme</span></em>/<span style="color: #0000ff;"><em>Budha</em></span>-<span style="color: #0000ff;"><em>Cina</em></span>, <span style="color: #0000ff;"><em>Katolik</em></span>-<span style="color: #0000ff;"><em>Portugis</em></span>, <span style="color: #0000ff;"><em>Budha</em></span>-<span style="color: #0000ff;"><em>Sriwijaya</em></span>,<em><span style="color:#ffcc00;"> <span style="color: #0000ff;">Aceh</span></span></em>-<span style="color: #0000ff;"><em>Islam</em></span>, <span style="color: #0000ff;"><em>Arab</em></span>-<span style="color: #0000ff;"><em>Islam</em></span>, <span style="color: #0000ff;"><em>Kristen</em></span>-<span style="color: #0000ff;"><em>Belanda</em></span>, <span style="color: #0000ff;"><em>Kristen</em></span>-<span style="color: #0000ff;"><em>Inggris</em></span>, <span style="color: #0000ff;"><em>Budha</em></span>-<span style="color: #0000ff;"><em>Jepang</em></span>, <span style="color: #0000ff;"><em>Kristen</em></span>/<span style="color: #0000ff;"><em>Globalisasi</em></span>/<em><span style="color:#ffcc00;"><span style="color: #0000ff;">Kapitalisme</span> <span style="color: #0000ff;">Turbo</span></span></em>-<span style="color: #0000ff;"><em>Amerika Serikat</em></span>/<span style="color: #0000ff;"><em>Inggris</em></span> serta<em><span style="color: #0000ff;"> Kristen</span></em>/<span style="color: #0000ff;"><em>Misionaris Barat</em></span>.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan-perempuan Minangkabau memainkan peranan penting dan sangat berpengaruh di Indonesia (dalam arti yang baik tentunya) dalam bidang budaya, bahasa, sastra, politik, sejarah, pers, gastronomi, dan lain sebagainya, walaupun di dalam pemberitaan atau buku sejarah Indonesia hampir tidak disebutkan.Perempuan Minangkabau hilang dari lembaran-lembaran pemberitaan dan sejarah Indonesia lewat jawanisasi, Islamisasi, Arabisasi, Eropaisasi dan maskulinisasi sejarah.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabaulah yang menjadi teladan bagi banyak gadis-gadis remaja di Indonesia untuk menggeluti dunia pertelevisian yaitu <span style="color:#ff0000;">Desi Anwar</span> yang menjadi presenter pertama perempuan dalam sebuah stasium televisi swasta pertama di Indonesia yaitu <em><span style="color:#ffcc00;"><span style="color: #0000ff;">RCTI</span>.</span></em></li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena walaupun banyak budaya-budaya patriarkal yang masuk dan mempengaruhi budaya Minangkabau, perempuan-perempuan Minangkabau tidak pernah kekurangan tokoh laki-laki yang memberitakan dan mendorong peran perempuan Minangkabau dalam masyarakat, seperti <em><span style="color:#ff0000;">Tan Malaka</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">A.A. Navis</span></em><em></em> dan lain-lain para cerdik pandai Minangkabau laki-laki lainnya.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Walaupun sepertinya terpinggirkan dan tidak dikenal jasa-jasanya di Indonesia dibandingkan dengan kaum laki-lakinya karena<span style="color: #0000ff;"> <em>maskulinisasi sejarah</em> </span>dan pemberitaan, perempuan Minangkabau tetap memainkan peranan penting sampai saat kini. Malah abad ke-21 tampaknya melambangkan kebangkitan kaum perempuan Minangkabau dengan munculnya tokoh-tokoh perempuan baru di ranah masyarakat.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Peran perempuan Minangkabau mengalami pasang surut, karena datangnya pengaruh dan penindasan budaya patriarkal baik lokal maupun dunia, akan tetapi perempuan-perempuan Minangkabau terus melawannya dan berhasil menghalau pengaruh-pengaruh buruk yang selalu bertujuan sama yaitu menindas dan menghilangkan peran perempuan Minang sebagai <em><span style="color:#ff0000;">Bunda</span></em> (baca: penghasil generasi baru manusia) dan dalam masyarakat.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Mengatakan bahwa semua perempuan Indonesia bernasib sama atau seluruh perempuan di dunia bernasib sama adalah pernyataan tanpa dasar yang tidak berdasar pada kaji yang lengkap. Perempuan Minangkabau serta perempuan-perempuan dalam budaya matriarkal lainnya jelas tidak bernasib sama dengan perempuan-perempuan <span style="color: #0000ff;"><em>Jawa</em></span>/<span style="color: #0000ff;"><em>Barat</em></span>/<span style="color: #0000ff;"><em>Arab Saudi</em></span>. Menyamaratakan segala sesuatu adalah hal yang berbahaya dan tidak bertanggung jawab. Tolok ukur barat tidak bisa dipakai untuk menilai peran serta dan keadaan perempuan pada budaya-budaya <span style="color: #0000ff;"><em>non-Barat</em></span> seperti budaya Minangkabau. Perempuan Minangkabau, sebelum tolok ukur barat dijadikan sebagai penafsir &#8220;kemajuan perempuan&#8221;, selalu memainkan peranan penting dalam masyarakat dan melakukan segala jenis pekerjaan yang ada di masyarakat Minang &#8220;tradisional&#8221; kala itu.</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><em>Tulisan ini saya persembahkan bagi Niniak, Uwo, Bunda, Etek, kakak perempuan kontan saya, dunsanak-dunsanak perempuan saya yang lain, kawan-kawan perempuan saya serta para Bundo Kanduang dan para Niniak yang telah berusaha merajut hubungan keluarga besar di rumah gadang dan kaum.</em></span></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://www.varajambak.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.varajambak.com/2009/03/21/saya-bangga-jadi-perempuan-minangkabau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mamak-mamak tidak tahu diuntung-Bagian 1</title>
		<link>http://www.varajambak.com/2009/01/20/mamak-mamak-tidak-tahu-diuntung-bagian-1/</link>
		<comments>http://www.varajambak.com/2009/01/20/mamak-mamak-tidak-tahu-diuntung-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Jan 2009 14:51:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Arab]]></category>
		<category><![CDATA[Arab Saudi]]></category>
		<category><![CDATA[Bunda]]></category>
		<category><![CDATA[Bundo Kanduang]]></category>
		<category><![CDATA[garis bapak]]></category>
		<category><![CDATA[garis ibu]]></category>
		<category><![CDATA[harta pusaka]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Israel]]></category>
		<category><![CDATA[kaum]]></category>
		<category><![CDATA[mafia]]></category>
		<category><![CDATA[Mamak]]></category>
		<category><![CDATA[mamak laki-laki]]></category>
		<category><![CDATA[mamak perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat Yahudi]]></category>
		<category><![CDATA[matrilineal]]></category>
		<category><![CDATA[matrilinealitas]]></category>
		<category><![CDATA[nenek]]></category>
		<category><![CDATA[Niniak]]></category>
		<category><![CDATA[Niniak Mamak]]></category>
		<category><![CDATA[ninik mamak]]></category>
		<category><![CDATA[Palestina]]></category>
		<category><![CDATA[Partai Komunis Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[patrilinealitas]]></category>
		<category><![CDATA[penguasa fasis Jerman]]></category>
		<category><![CDATA[penguasa Inggris dan AS]]></category>
		<category><![CDATA[PKI]]></category>
		<category><![CDATA[ranah Bundo Kanduang]]></category>
		<category><![CDATA[ranah Minang]]></category>
		<category><![CDATA[rantau]]></category>
		<category><![CDATA[rapat agung]]></category>
		<category><![CDATA[Syech Achmad Chatib]]></category>
		<category><![CDATA[tanah kaum]]></category>
		<category><![CDATA[tanah Palestina]]></category>
		<category><![CDATA[tanah pusaka]]></category>
		<category><![CDATA[tanah ulayat]]></category>
		<category><![CDATA[Uni Sabina Lucia]]></category>
		<category><![CDATA[Yahudi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://moendg07.wordpress.com/?p=724</guid>
		<description><![CDATA[Ternyata selain masalah matrilinealitas (keturunan dari garis ibu) dan &#8220;warisan&#8221; (baca: harta bersama kaum), ulah-ulah para mamak yang tidak tahu diuntung, merupakan alasan daripada banyak orang Minangkabau untuk &#8220;membenci&#8221; budayanya atau bahkan untuk &#8220;keluar&#8221; dari budaya Bundanya tersebut. Syech Achmad Chatib adalah contoh orang Minangkabau yang memilih keluar dari budaya Minangkabau dan masuk ke budaya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ternyata selain masalah <em><span style="color:#ff0000;"><strong>matrilinealitas </strong></span></em>(keturunan dari garis ibu) dan &#8220;warisan&#8221; (baca: harta bersama kaum),<span style="color:#ffcc00;"><em> ulah-ulah para mamak yang tidak tahu diuntung</em></span>, merupakan alasan daripada banyak orang Minangkabau untuk &#8220;membenci&#8221; budayanya atau bahkan untuk &#8220;keluar&#8221; dari budaya Bundanya tersebut.</p>
<p><em><span style="color:#ff0000;"><strong>Syech Achmad Chatib</strong></span></em> adalah contoh orang Minangkabau yang memilih keluar dari budaya Minangkabau dan masuk ke budaya <em><strong><span style="color:#ff0000;">Arab</span></strong>/<span style="color:#ff0000;"><strong>Islam</strong></span></em> dan memilih untuk hidup di <em><span style="color:#ff0000;"><strong>Arab Saudi</strong></span></em> dan tidak kembali lagi ke <span style="color:#ff0000;">ranah Bundo Kanduang</span> karena &#8220;jijik&#8221; dengan budaya <span style="color:#ff0000;">matrilineal</span> dan &#8220;pewarisan&#8221; <span style="color:#ff0000;">matrilineal</span> yang berlaku di <span style="color:#ff0000;">ranah Bundo Kanduang</span>.</p>
<p>Seorang bekas anggota <span style="color:#ff0000;">Partai Komunis Indonesia</span> (<span style="color:#ff0000;">PKI</span>) dan wartawan di masa Sukarno berkuasa menyatakan kebenciannya kepada budaya Minangkabau karena tidak sesuai dengan budaya<strong><span style="color:#ff0000;"> <em>patrilineal</em></span></strong><em> </em>(keturunan dari garis bapak) yang menurutnya merupakan budaya yang &#8220;modern&#8221; yang menjadi dasar acuan <span style="color:#ff0000;">PKI</span> dan karena mamaknya, tambahnya lagi,  bukannya membantunya malah menipunya.</p>
<p>Pernyataan serupa mengenai mamak yang tidak membantu diutarakan oleh <span style="color:#ff0000;">dr. Hardy</span> seperti tertulis dalam tulisan saya terdahulu yaitu <span style="color: #0000ff;"><a href="http://moendg07.wordpress.com/2008/10/10/kebanggaan-orang-minang-di-ranah/"><em>Kebanggaan orang Minang di ranah</em></a></span>. Berikut adalah kutipannya:</p>
<p style="padding-left: 30px;"><span style="color: #0000ff;"><em>seberapa banyak mamak mamak kita yang mengaku kemenakan hanya jika kita berhasil dirantau, tanpa peduli sebelumnya bagaimana keadaan kita, bagaimana perjuangan kita.  menurut uni bagaimana?</em></span></p>
<p><span style="color:#ff0000;">Mamak-mamak</span> yang menjual <em><strong><span style="color:#ff0000;">tanah ulayat</span></strong> </em>(tanah kaum), yang semestinya dikelola oleh pihak perempuan dalam kaum, tanpa izin dari <em><strong><span style="color:#ff0000;">Bundo Kanduang</span></strong></em> dan pihak anggota kaum yang lain adalah kenyataan lain yang harus dihadapi oleh budaya dan orang Minangkabau dan yang menyebabkan berkurangnya kepercayaan kepada budaya mereke sendiri.</p>
<p>Mamak-mamak yang berlaku sewenang-wenang dan kejam terhadap kemenakannya adalah cerita lain lagi yang menambah ketidaksukaan dan kekecewaan orang Minangkabau terhadap para mamak. Yang dimaksud dengan mamak dalam hal ini adalah mamak laki-laki dalam keluarga yang semestinya membantu <em><strong><span style="color:#ff0000;">Niniak</span></strong></em> dan keluarga besar dalam masalah-masalah keluarga besar dan kaum dan melindungi harta keluarga besar/kaum (termasuk didalamnya <em><strong><span style="color:#ff0000;">harta pusaka</span></strong></em>). Mengenai <span style="color:#ff0000;">mamak perempuan</span> bisa dibaca dalam tulisan mengenai <span style="color: #0000ff;"><em><a href="http://moendg07.wordpress.com/2008/12/05/perempuan-minangkabau-sebagai-mamak-dan-penghulu/">Perempuan Minangkabau sebagai Mamak dan Penghulu</a></em></span>.</p>
<p>Berikut adalah kisah <span style="color:#ff0000;">Uni Sabina Lucia</span> mengenai bagaimana para mamak telah menipu dan menjual paksa <span style="color:#ff0000;">tanah ulayat</span>, dan kekecewaannya mengenai hal tersebut. Kisah ini dipostingkan di grup dengan nama <em><strong><span style="color:#ff0000;">Bundo Kanduang </span></strong></em>di facebook.</p>
<p><strong><em><span style="color:#ff0000;">Bunda</span></em></strong>, saya mempunyai seorang nenek asli dari minang kabau yang sejak kecil sampai berangkat tua beliau (alm) tinggal di kampung halamanya. Beliau adalah anak perempuan satu-satunya yang dihasilkan dari kedua orang tuanya.</p>
<p>Kemudian lahir Ibu saya yang juga merupakan anak perempuan satu-satunya dari empat bersaudara. Ibu saya hanya tinggal di kampung semasa kanak-kanak saja, selanjutnya Ibu merantau utk bersekolah dan berkeluarga ke tanah Jawa.</p>
<p>Dari Ibu dan Ayah saya lahirlah saya yang kebetulan juga merupakan anak perempuan satu-satunya dalam keluarga dan saya sekeluarga juga menetap di tanah Jawa.<br />
Alhamdulillah sekarang saya dikaruniai dua anak perempuan dan satu anak laki-laki.</p>
<p><em><strong><span style="color:#ff0000;">Bunda</span></strong></em>, dua tahun sebelum Nenek wafat, beliau ingin menyumbangkan tanahnya untuk keperluan masyarakan . Dari hasil musyawarah dengan <span style="color:#ff0000;">orang yang dituakan </span>dikampung kami dan <span style="color:#ff0000;">ninik mamak-ninik mamak</span> (baca: mamak-mamak laki-laki) yang berada disana maka di putuskan akan didirikan sebuah puskesmas karena kebetulan tanah tersebut berlokasi di tempat yang strategis/pinggir jalan.</p>
<p>Maka pada suatu kesempatan ada upacara <span style="color:#ff0000;">penobatan para ninik ma<span style="color:#ff0000;">ma</span></span><span style="color:#ff0000;">k</span> di kampung kami, kami sekeluarga menyempatkan datang untuk melihat upacara tersebut sekaligus menyerahkan tanah kepada pemerintah daerah. Saya ingat pada saat upacara itu juga , penyerahan tanah dilakukan yang di wakilkan oleh kakak saya yang tertua dengan memberikan sepatah dua patah kata menyampaikan amanah nenek untuk menyerahkan tanah tersebut. Hebat semua hadirin meberikan tepuk tangan applause..</p>
<p><em><strong><span style="color:#ff0000;">Bunda</span></strong></em>, setelah kami kembali ke pulau jawa.. apa yang terjadi?&#8230;.,</p>
<p>Orang yang kami tuakan di kampung kami meninggal dunia.., selanjutnya<br />
Para <span style="color:#ff0000;">ninik mamak</span> (baca: mamak laki-laki) yang sudah memberikan kesaksian dan menyetujui serta menerima tanah <span style="color:#ff0000;">nenek</span> kami untuk keperluan mayarakat, semua berubah haluan !!!!!&#8230;,</p>
<p>Hanya karena iming2 uang dan menurut kabar tanah tersebut bisa di beli oleh siapa (kami tidak jelas), mereka/beberapa <span style="color:#ff0000;">ninik-mamak</span> (baca: mamak laki-laki) mengadakan persekongkolan serta mengadakan pertemuan dan pertemuan (rapat-rapat adat)yang semuanya tidak bisa kami hadiri karena kami di pulau jawa</p>
<p>Mereka menghasut seseorang yang ketika <span style="color:#ff0000;">nenek</span> masih hidup, orang tersebut itu sebetulnya di beri izin tinggal di tanah tersebut hanya untuk mengurus kebun/tanah tersebut saja. Sebetulnya penjaga kebun tersebut sudah menyerahkan kembali kembali hak mengurus tanah kepada nenek kami dan mengatakan terimakasihnya kepada nenek.</p>
<p>Hebatnya dan ajaib sekali, para <span style="color:#ff0000;">n</span><span style="color:#ff0000;"><span style="color:#ff0000;">i</span>nik mamak</span> (baca: mamak laki-laki) bisa merubah dan mempengaruhi pengurus kebun tersebut untuk mengakui bahwa dialah sebenarnya pemilik tanah itu..?!.</p>
<p>Saat itu nenek masih hidup, dan dia sangat sedih serta menyesali sekali perbuatan para <span style="color:#ff0000;">ninik mamak</span> (baca: mamak laki-laki) di kampung kami. Dia merasa sedih karena seumur hidupnya dia dan orang tua serta orang tua dari orang tuanya sudah memiliki ,tinggal dan mengelola tanah tersebut. Dan itu sudah diakui oleh seluruh penduduk isi kampung serta orang2 yang dituakan. Oleh karena itu mereka sangat gembira ketika nenek berniat memberikan tanahnya untuk keperluan mereka disana.</p>
<p>Hanya karena ulah sekelompok <span style="color:#ff0000;">ninik mamak</span> (baca: mamak laki-laki) yang baru-baru ini diangkat saja (atau yang mengangkat dirinya sendiri sebagai mamak), kami sekeluarga merasa sedih, dan orang-orang dikampung kami menjadi sangat kecewa .</p>
<p>Kami mendengar kabar bahwa mereka para <span style="color:#ff0000;">ninik mamak</span> (baca: mamak laki-laki) itu telah menerima uang dari hasil penjualan tanah nenek kami tersebut. ( Innalillahi wa innaillaihi rojiun..).</p>
<p>Sebelum <span style="color:#ff0000;">nenek</span> meninggal karena sedih, saya sempat berucap beliau:</p>
<p style="padding-left:30px;">&#8220;<em><span style="color:#ffcc00;">Apapun yang sudah kita berikan kepada orang lain( dalam hal ini diberikan kepada penduduk kampung kami) adalah bukan milik kita lagi, biarlah itu mungkin sudah Tuhan yang mengaturnya , jangan terlalu dirisaukan karena karena kami telah rela melepaskan dan memberikan tanah itu kepada masyarakat dengan niat agar bisa dipergunakan untuk kebaikan.</span></em>&#8220;</p>
<p>Dan itu bukan milik kita lagi.</p>
<p>Terserah lah para penjarah itu, mereka mereka yang menanam mereka pula yang akan menuainya ( itu sepertinya sudah hukum alam)</p>
<p>Kami keluarga besar dari kampung kami yang tinggal di pulau jawa tentunya kecewa dengan peristiwa itu dan kami sudah sepakat bahwa:</p>
<p>&#8220;Jangan ada <span style="color:#ff0000;">ninik mamak</span> (baca: mamak laki-laki) dari kampung kami datang ke pulau jawa dan minta sumbangan untuk pembangunan Puskesmas diatas tanah yang telah diberikan oleh nenek kami secara sukarela kepada penduduk kampung tersebut &#8221;</p>
<p>&#8220;<em><span style="color:#ffcc00;">Dan kami tidak mengakui lagi ninik mamak kami itu</span></em>&#8221; ( tapi nyatanya dia masih menjadi <span style="color:#ff0000;">ninik mamak </span>(baca: mamak laki-laki) tanpa persetujuan kami yang seharusnya menjadi anak buahnya).</p>
<p>Karena kemudian ternyata kami ketahui tanah tersebut telah diperjual belikan oleh sekelompok orang yang rakus yang di setujui dan &#8220;diatur&#8221; oleh &#8220;<span style="color:#ff0000;">rapat agung</span>&#8221; (baca: rapat-rapat rahasia yang tidak melibatkan pihak-pehak terkait dan sama sekali tidak melibatkan <span style="color:#ff0000;">Bundo Kanduang</span>) para <span style="color:#ff0000;">ninik mamak</span> (baca: mamak laki-laki), demi mendapatkan sedikit uang haram.</p>
<p><strong><em><span style="color:#ff0000;">Bunda</span></em></strong>, sebenarnya masih ada banyak lagi <span style="color:#ff0000;">tanah pusako</span> yang diturunkan kepada nenek dan ibu saya dan menurut mereka akan diturunkan kepada saya dan kedua puteri saya.</p>
<p>Tapi saya rasa saya tidak akan mewariskan budaya adat yang sekarang berlaku dikampung kami kepada kedua puteri saya.</p>
<p>Biarlah puteri kami hidup tenang tanpa mengharapkan atau mendapatkan kekecewaan demi kekecewaan lagi dari kampung halamannya.</p>
<p>Kami yang di <strong><span style="color:#ff0000;"><em>rantau</em></span></strong> toh tidak akan dapat berbuat banyak lagi.</p>
<p><em><strong><span style="color:#ff0000;">Bunda</span></strong></em>, sampai sekarang saya masih trauma kalau mendengar istilah &#8220;<span style="color:#ff0000;">ninik mamak</span> (baca: mamak laki-laki)&#8221;, dan anak saya sendiri pernah berucap &#8220;<em>seperti mafia ya?</em>&#8221;<br />
(aha.. saya sendiri tidak tahu apa arti <span style="color:#ff0000;">mafia</span> itu?)</p>
<p><strong><span style="color:#ffcc00;"><em>Catatan</em>:</span></strong></p>
<p>1. <em>Yang dimaksud dengan <span style="color:#ff0000;">ninik mamak</span> di sini adalah &#8220;pengertian umum&#8221; yaitu kelompok para mamak laki-laki dan bukannya pengertian asalnya yaitu <span style="color:#ff0000;">niniak</span> (para nenek/nenek)~ bersama dengan para mamak/mamak sebagai suatu kesatuan).</em></p>
<p>2. <em>Kisah ini memberi gambaran kepada kita betapa sewenang-wenangnya para mamak laki-laki yang semetinya membantu para Bundo Kanduang dalam mempertahankan harta kaum dan bukannya melakukan penipuan untuk isa menjual paksa tanah kaum tersebut untuk kepentingan pribadi. Kekuasaan mamak laki-laki di ranah Bundo Kanduang tampaknya semakin diperbesar dengan berbagai cara. Dalam hal ini tanah cuma diberikan kepada masyarakat sementara untuk pembangunan puskesmas untuk masyarakat, bukan untuk diperjual belikan.</em></p>
<p>3. <span style="color:#ffcc00;"><em>Permasalahan mengenai tanah ulayat di ranah Minang merupakan permasalahan penting yang memerlukan penanganan yang menyeluruh. Tidak hanya para mamak mengambil tanah ulayat melainkan juga militer (untuk kepentingan bisnis mereka), negara atas nama penguasaan tanah, perusahaan swasta dengan bantuan pemerintah dan lain-lain</em></span><em>. Ketika <span style="color:#ff0000;">masyarakat Yahudi </span>harus terhina karena diusir terus-menerus dari daerah manapun mereka tinggal, sampai peristiwa pembantaian besar-besaran di Jerman dan negara-negara lain di Eropa oleh <span style="color:#ff0000;">penguasa fasis Jerman</span>, sampai dijanjikan <span style="color:#ff0000;">negara Israel</span> di <span style="color:#ff0000;">tanah Palestina</span> oleh <span style="color:#ff0000;">penguasa Inggris dan AS</span> karena tidak mempunyai ranah Bundo Kanduang, seharusnya orang Minangkabau berfikir mengenai perjuangan para <span style="color:#ff0000;">Bundo Kanduang</span> untuk mempertahankan <span style="color:#ff0000;">tanah ulayat</span> agar tidak diperjualbelikan, agar supaya kaum selalu memiliki kampung halaman kemana mereka bisa pulang sejauh apapun mereka pergi merantau dan bukannya memberikan kekuasaan kepada penipu-penipu yang bernama mamak (laki-laki) untuk membuat orang Minangkabau di suatu saat tidak lagi memiliki ranah untuk pulang, seperti masyarakat Yahudi. Masyarakat Yahudi sekarang &#8220;memiliki ranah Bundo Kanduang, tapi sebagai imbalannya harus terus-menerus berperang dengan negara-negara Arab dan harus pula dinistakan oleh orang-orang dari seluruh dunia.</em></p>
<p>4. <em><span style="color:#ff0000;">Uni Sabina Lucia</span> adalah seorang <span style="color:#ff0000;">Bundo Kanduang</span> lulusan dari <span style="color:#ff0000;">Universitas Salzburg </span>di Austria dalam bidang Hotel dan Pariwisata dan sekarang mengasuh blog <a href="http://dapursabina.blogspot.com/"><span style="color:#ff0000;">Dapur Sabina</span></a> yang membahas mengenai aneka resep masakan. Sangat cocok untuk para mahasiswa dan mahasiswi yang hidup di kos-kosan ataupun para pekerja kantoran yang ingin memasak dengan cepat dan murah meriah.</em></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://www.varajambak.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.varajambak.com/2009/01/20/mamak-mamak-tidak-tahu-diuntung-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perempuan Minangkabau sebagai Mamak dan Penghulu</title>
		<link>http://www.varajambak.com/2008/12/05/perempuan-minangkabau-sebagai-mamak-dan-penghulu/</link>
		<comments>http://www.varajambak.com/2008/12/05/perempuan-minangkabau-sebagai-mamak-dan-penghulu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Dec 2008 06:47:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Bundo Kanduang]]></category>
		<category><![CDATA[Desa Pianggu]]></category>
		<category><![CDATA[Dr VE Korn]]></category>
		<category><![CDATA[Drs Yulrizal Baharin MSi]]></category>
		<category><![CDATA[Edy Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Gadih Reno Ranti]]></category>
		<category><![CDATA[kaba]]></category>
		<category><![CDATA[kaba Cinduo Mato]]></category>
		<category><![CDATA[Kerajaan Pararuyung]]></category>
		<category><![CDATA[Mamak]]></category>
		<category><![CDATA[Megawati Soekarnoputri]]></category>
		<category><![CDATA[nagari]]></category>
		<category><![CDATA[penghulu]]></category>
		<category><![CDATA[Peraturan Daerah (Perda) Nomor 9 Tahun 2000]]></category>
		<category><![CDATA[Prof Dr Mursal Esten]]></category>
		<category><![CDATA[Rancak di Labuah]]></category>
		<category><![CDATA[Ranny Emilia]]></category>
		<category><![CDATA[Rohana Kuddus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://moendg07.wordpress.com/?p=646</guid>
		<description><![CDATA[Berikut adalah artikel yang dimuat di Rubrik, Harian Kompas, tanggal 6 Agustus 2001 dengan judul Vitalnya Partisipasi Politik Wanita Minang. Artikel ini berisi kenyataan sejarah mengenai perempuan-perempuan Minangkabau yang berperan sebagai mamak dan penghulu dan kaitannya dengan posisi wali nagari atau bahkan presiden serta anggapan banyak orang Minangkabau (terutama laki-lakinya) bahwa penghulu dan wali nagari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berikut adalah artikel yang dimuat di <em><span style="color: #0000ff;">Rubrik, Harian Kompas, tanggal 6 Agustus 2001</span></em> dengan judul <strong><span style="color:#ff0000;">Vitalnya Partisipasi Politik Wanita Minang</span></strong>. Artikel ini berisi kenyataan sejarah mengenai perempuan-perempuan Minangkabau yang berperan sebagai <strong><span style="color:#ff0000;">mamak</span></strong> dan<strong><span style="color:#ff0000;"> penghulu</span></strong> dan kaitannya dengan posisi <strong><span style="color:#ff0000;">wali nagari</span></strong> atau bahkan presiden serta anggapan banyak orang Minangkabau (terutama laki-lakinya) bahwa penghulu dan wali nagari tidak boleh dijabat oleh perempuan, walaupun<span style="color:#ff0000;"> <strong>A.A. Navis</strong></span> sendiri telah menyatakan pendapatnya mengenai tidak ada larangan dalam budaya Minangkabau bagi perempuan Minangkabau untuk menjadi wali nagari.<br />
<strong><span style="color:#ff0000;">Vitalnya Partisipasi Politik Wanita Minang</span></strong><br />
Dalam era otonomi daerah, Sumatera Barat sejak awal Januari 2001 kembali ke <span style="color: #0000ff;"><em>sistem pemerintahan nagari</em></span> (institusi terendah dalam sistem pemerintahan, menggantikan desa), menyusul keluarnya Peraturan Daerah (Perda) Nomor 9 Tahun 2000.</p>
<p>&#8220;Nagari dalam tradisi masyarakat Minangkabau merupakan identitas kultural yang menjadi lambang mikrokosmik sebuah tatanan makrokosmik lebih luas. Di dalam dirinya terkandung sistem yang memenuhi persyaratan embrional sebuah sistem negara. Nagari adalah negara dalam artian miniatur, dan merupakan republik kecil yang sifatnya self contained, otonom, dan mampu membenahi diri sendiri,&#8221;  kata <strong><span style="color:#ff0000;">Drs Yulrizal Baharin, MSi</span></strong>, ahli pakar nagari.</p>
<p>Yang menjadi sorotan luas di kalangan masyarakat Sumatera Barat adalah, bila Indonesia sekarang dipimpin seorang perempuan, <strong><span style="color:#ff0000;">Megawati Soekarnoputri</span></strong>, apa tidak mungkin nagari juga dipimpin perempuan?  Pertanyaan ini sangat mendasar dan beralasan, karena dalam kaba (cerita tradisi yang memasyarakat dan tumbuh subur di Minangkabau) peran vital perempuan di Minangkabau sering diungkapkan.  Menurut pakar sastra dari Universitas Negeri Padang, <strong><span style="color:#ff0000;">Prof Dr Mursal Esten</span></strong>, pada umumnya pengungkapan permasalahan perempuan dalam kaba adalah permasalahan perempuan di dalam nagari-nagari. Peranan perempuan di dalam masyarakat Minangkabau, sebagaimana diungkapkan dalam kaba, besar sekali.</p>
<p><strong><span style="color:#ff0000;">Bundo Kanduang</span></strong></p>
<p>Di dalam kaba, <strong><span style="color:#ff0000;">Rancak di Labuah </span></strong>misalnya, digambarkan laki-laki lebih banyak merusak masyarakat yang akhirnya diselamatkan perempuan. Seolah-olah rumah tangga itu dikendalikan perempuan.</p>
<p>&#8220;Banyak kaba lain memperlihatkan perempuan menyelamatkan masyarakat, anak, putra-putri. Sedangkan mamak-nya atau bahkan bapaknya kadang-kadang malah tidak muncul dalam kaba,&#8221;  ujar Mursal.</p>
<p>Bahkan, dalam kaba Cindua Mato, sebagaimana dikemukakan budayawan <strong><span style="color:#ff0000;">Edy Utama</span></strong>, Bundo Kanduang (sebutan untuk perempuan Minang) digambarkan sebagai orang yang sangat berkuasa. Tidak saja karena sistem sosial matrilineal, tetapi juga punya kekuasaan memerintah. Posisi Bundo Kanduang begitu sentral dan amat menentukan.</p>
<p>&#8220;Dalam banyak hal, secara realitas, perempuan Minangkabau dari dulu sampai sekarang sudah banyak berperan dalam bidang ekonomi, sosial-budaya, politik, dan sebagainya. Bahkan, perempuan-perempuan Minang juga membuat perubahan, seperti yang dilakukan <strong><span style="color:#ff0000;">Rohana Kuddus</span></strong>. Hanya saja karena dominasi kaum lelaki, peran wanita tersebut tidak begitu mencuat ke permukaan,&#8221;  katanya.</p>
<p><strong><span style="color:#ff0000;">Fungsi Politik Wanita Minang</span></strong></p>
<p>Sementara itu, pakar politik dari Universitas Andalas, Padang, <strong><span style="color:#ff0000;">Ranny Emilia</span></strong>, dalam suatu diskusi menegaskan, perempuan Minangkabau memiliki fungsi politik dan telah menjalani peranan itu sejak lama.</p>
<p>Penelitian yang dilakukan Ranny tentang peranan politik perempuan Minangkabau semakin memperjelas bahwa meskipun laki-laki diberikan kepercayaan sebagai pemimpin politik dalam komunitas nagari, tetapi sistem politik Minangkabau tidak bersifat patrialistik, tidak disusun berdasarkan fondasi yang membedakan laki-laki dan perempuan di dalam sistem itu.</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><em>&#8220;Saya melihat susunannya atau pengaruh seseorang di dalam sistem politik Minangkabau memang tidak didasarkan jender, tetapi dilihat dari kemampuan dan pengalaman seseorang menyediakan perlindungan serta pengawasan dari kerusakan kultural dan material kelompok yang diwakilinya,&#8221; katanya.</em></span></p>
<p>Menurut Ranny, berdasarkan logika matrilineal, sangatlah mungkin perempuan dan laki-laki sama pentingnya dalam struktur sosial dan politik Minangkabau. Karena beberapa kewenangan yang diberikan kepada perempuan, merupakan dasar bagi perempuan memiliki peranan dan pengaruh dalam struktur politik Minangkabau.</p>
<p>Dari fakta yang ditemukan, perempuan memiliki posisi dan peranan dalam struktur politik Minangkabau. Dan sesungguhnya, partisipasi politik perempuan Minangkabau bersifat vital.</p>
<p>Ranny menjelaskan, peranan aktif perempuan di dalam formasi politik Minangkabau bersifat integral dalam setiap proses pengambilan keputusan dan kebijaksanaan. Karena perempuan Minangkabau, berdasarkan fakta yang ada, dapat menggunakan peranan dan politiknya secara efektif, kalau kondisi material cukup untuk melaksanakan kekuasaan tersebut secara baik.</p>
<p>&#8220;Jadi, di sinilah letaknya kenapa perempuan tidak bisa dipisahkan sama sekali dari fungsi dan struktur politik Minangkabau. Dan, di sini pula letaknya kenapa perempuan bisa saja secara natural mengambil alih posisi dan kekuasaan laki-laki,&#8221; tegasnya.</p>
<p><em><span style="color:#ffcc00;"><span style="color: #0000ff;">Bahkan, dalam beberapa hal yang dijumpai oleh</span> </span></em><span style="color:#ffcc00;"><strong><span style="color:#ff0000;">Dr VE Korn</span></strong></span><span style="color: #0000ff;"><em>, demikian Ranny, sesungguhnya perempuan Minangkabau itu bisa menjadi pemimpin. Dalam perhitungan Korn, atau dalam perhitungan Belanda tahun 1930, ada 1.908 perempuan Minangkabau menganggap dirinya mamak, dan ini aneh buat orang Belanda. Karena orang Minangkabau sendiri bilang, perempuan tidak boleh menjadi mamak, perempuan tidak boleh menjadi penghulu. Akan tetapi, ternyata dia juga menemukan perempuan menjadi penghulu di Desa Pianggu.</em></span></p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Kerajaan Pararuyung</strong></span></p>
<p>Dengan demikian, artinya perempuan Minangkabau sangat mungkin menjadi elite politik atau menjadi pimpinan politik Minangkabau. &#8220;Jadi, seorang perempuan Minangkabau &#8211; sebagaimana laki-laki Minangkabau &#8211; kalau ia memiliki kualifikasi materi yang kuat maka ia tidak akan dapat dihalangi menjadi pemimpin politik di dalam kaumnya. Ia tidak akan dihambat karena ia perempuan. Saya kira begitulah kenyataanya dulu,&#8221; katanya.</p>
<p>Buktinya, seperti yang dilakukan <strong><span style="color:#ff0000;">Gadih Reno Ranti</span></strong>. Karena mamak, ayah, dan saudara laki-lakinya yang lain tidak dapat melakukan tugas sebagai pemimpin, maka ia mengambil alih tugas kepemimpinan politik tersebut. Ia kemudian memimpin Kerajaan Pagaruyung yang telah hancur karena serangan Belanda. Dengan contoh ini, artinya perempuan memang bisa menjadi pimpinan politik yang efektif di Minangkabau.</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://www.varajambak.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.varajambak.com/2008/12/05/perempuan-minangkabau-sebagai-mamak-dan-penghulu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
