<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Vara Jambak &#187; Jerman</title>
	<atom:link href="http://www.varajambak.com/tag/jerman/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.varajambak.com</link>
	<description>On Minangkabau, matriarchy, Islam, patriarchy, politics and culture</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Sep 2010 20:30:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
	<!-- podcast_generator="podPress/8.8" - maintenance_release="8.8.5.3" -->
	<copyright>2006-2007 </copyright>
	<managingEditor>vjambak@varajambak.com (Vara Jambak)</managingEditor>
	<webMaster>vjambak@varajambak.com (Vara Jambak)</webMaster>
	<category>posts</category>
	<image>
		<url>http://www.varajambak.com/wp-content/plugins/podpress/images/powered_by_podpress.jpg</url>
		<title>Vara Jambak &#187; Jerman</title>
		<link>http://www.varajambak.com</link>
		<width>144</width>
		<height>144</height>
	</image>
	<itunes:subtitle></itunes:subtitle>
	<itunes:summary>On Minangkabau, matriarchy, Islam, patriarchy, politics and culture</itunes:summary>
	<itunes:keywords></itunes:keywords>
	<itunes:category text="Society &amp; Culture" />
	<itunes:author>Vara Jambak</itunes:author>
	<itunes:owner>
		<itunes:name>Vara Jambak</itunes:name>
		<itunes:email>vjambak@varajambak.com</itunes:email>
	</itunes:owner>
	<itunes:block>no</itunes:block>
	<itunes:explicit>no</itunes:explicit>
	<itunes:image href="http://www.varajambak.com/wp-content/plugins/podpress/images/powered_by_podpress_large.jpg" />
		<item>
		<title>Puti Reno Oesman&#8211;Mantan Diplomat Wanita Siap Pimpin Sumbar</title>
		<link>http://www.varajambak.com/2010/02/16/puti-reno-oesman-mantan-diplomat-wanita-siap-pimpin-sumbar/</link>
		<comments>http://www.varajambak.com/2010/02/16/puti-reno-oesman-mantan-diplomat-wanita-siap-pimpin-sumbar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Feb 2010 13:55:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Australia]]></category>
		<category><![CDATA[Bundo Kanduang]]></category>
		<category><![CDATA[Bundo Kanduang-Bundo Kanduang]]></category>
		<category><![CDATA[Bung Hatta]]></category>
		<category><![CDATA[calon gubernur Sumbar]]></category>
		<category><![CDATA[Departemen Luar Negeri]]></category>
		<category><![CDATA[Deplu]]></category>
		<category><![CDATA[H. Soetan Oesman]]></category>
		<category><![CDATA[Jerman]]></category>
		<category><![CDATA[KBRI]]></category>
		<category><![CDATA[M. Yamin]]></category>
		<category><![CDATA[Minister Counsellor]]></category>
		<category><![CDATA[Moscow]]></category>
		<category><![CDATA[Muhamad Yamin]]></category>
		<category><![CDATA[One]]></category>
		<category><![CDATA[Padang]]></category>
		<category><![CDATA[Padang Panjang]]></category>
		<category><![CDATA[Pancasila]]></category>
		<category><![CDATA[para Bundo Kanduang Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Penanggungjawab Bidang Pensosbud KBRI]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan-perempuan Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Pilkada Sumbar]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Proklamator]]></category>
		<category><![CDATA[Puti Reno Usman]]></category>
		<category><![CDATA[Rahmah El Yunusiyah]]></category>
		<category><![CDATA[raja perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[ranah Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Rusia]]></category>
		<category><![CDATA[Sumbar]]></category>
		<category><![CDATA[Sumbar pascagempa]]></category>
		<category><![CDATA[Thailand]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.varajambak.com/?p=1663</guid>
		<description><![CDATA[Setelah menjadi seorang diplomat dan mengembara diberbagai negara karena ditugaskan pemerintah pusat, Puti Reno Oesman pulang untuk membangun Ranah Minang. Puti Reno Oesman yang akrab dipanggil &#8220;One&#8221; adalah diplomat senior di Depertemen Luar Negeri (Deplu) yang telah memiliki pengalaman selama 31 tahun. Ia merupakan Bundo Kanduang yang dilahirkan di Padang, tahun 1947 lalu. Putri dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">
<div style="margin: 2px 5px 3px 3px; float: left; width: 300px;"><a href="http://www.varajambak.com/wp-content/uploads/2010/02/thumb_puti-reno-usman.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1558" title="thumb_Puti Reno Usman" src="http://www.varajambak.com/wp-content/uploads/2010/02/thumb_puti-reno-usman.jpg" alt="" width="279" height="219" /></a></div>
<div style="padding-left: 120px; text-align: justify; margin: 2px 5px 3px 3px;">Setelah menjadi seorang diplomat dan mengembara diberbagai negara karena ditugaskan pemerintah pusat, <em><span style="color: #ff0000;">Puti Reno Oesman</span></em> pulang untuk membangun <em><span style="color: #ff0000;">Ranah Minang</span></em>. Puti Reno Oesman yang akrab dipanggil &#8220;<em><span style="color: #ff0000;">One</span></em>&#8221; adalah diplomat senior di <span style="color: #0000ff;"><em>Depertemen Luar Negeri</em></span> (<em><span style="color: #ff0000;">Deplu</span></em>) yang telah memiliki pengalaman selama 31 tahun. Ia merupakan <em><span style="color: #ff0000;">Bundo Kanduang</span></em> yang dilahirkan di <em><span style="color: #ff0000;">Padang</span></em>, tahun 1947  lalu. Putri dari <em><span style="color: #ff0000;">H. Soetan Oesman</span></em> (alm) ini telah membulatkan tekad akan ikut bertarung dalam <em><span style="color: #ff0000;">Pilkada Sumbar</span></em> pada Juni 2010 ini.</div>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Saya pulang dan ingin membangun kembali Ranah Minang. <span style="color: #0000ff;"><em>Saatnya Minangkabau merasakan sentuhan tangan perempuan dalam memimpin</em></span>, ungkapnya. Dikatakannya, sudah cukup lama dorongan untuk ia maju sebagai gubernur di <em><span style="color: #ff0000;">Sumbar</span></em>, namun <em><span style="color: #ff0000;">Minister Counsellor</span></em> ini masih memilih menyelesaikan tugas di Deplu. Terakhir One adalah <span style="color: #0000ff;"><em>Penanggungjawab Bidang Pensosbud KBRI</em></span> <em><span style="color: #ff0000;">Moscow</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Rusia</span></em>. Sebelumnya ia pernah ditugaskan di <em><span style="color: #ff0000;">Thailand</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Jerman</span></em>, dan <em><span style="color: #ff0000;">Australia</span></em>.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;<span style="color: #0000ff;"><em>Melihat langsung kondisi Sumbar pascagempa, saya bertekad harus membangun kembali berbagai sarana yang rusak, memulihkan mental masyarakat agar mereka tetap semangat menjalani hidup. Kini saya sudah pensiun dari Deplu dan ingin fokus membangun kampung halaman</em></span>, &#8220;ungkapnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakannya, dulu <em><span style="color: #ff0000;">Minangkabau</span></em> pernah memiliki<em><span style="color: #ff0000;"> raja perempuan</span></em>.<em><span style="color: #ffcc00;"> <span style="color: #0000ff;">Seorang Bundo Kanduang dengan segala potensi yang dimiliki dan perasaan yang halus akan bisa memberikan ketentraman bagi masyarakat</span></span></em>. Hingga saat ini Minangkabau menjadi terkenal di seluruh dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Saya telah berkeliling dunia dalam melaksanakan tugas kenegaraan, orang di luar tahu kalau Minangkabau adalah suku bangsa yang unik dan sangat menghargai perempuan. Kini saatnya Minangkabau mengembalikan itu semua, &#8220;ungkapnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan One, Minangkabau juga terkenal melahirkan banyak tokoh nasional yang berjuang untuk bangsa. Kemerdekaan Indonesia tak lepas dari peran besar orang Minangkabau, sebut <em><span style="color: #ff0000;">Bung Hatta</span></em> sebagai <em><span style="color: #ff0000;">Proklamator</span></em>. Lahirnya <em><span style="color: #ff0000;">Pancasila</span></em> dari pemikiran <em><span style="color: #ff0000;">M Yamin</span></em>. <em><span style="color: #ff0000;">Perempuan Minangkabau</span></em> juga telah memberikan kontribusi besar dalam perjuangan dan pendidikan, seperti <em><span style="color: #ff0000;">Rahmah El Yunusiah</span></em> di <em><span style="color: #ff0000;">Padang Panjang</span></em>.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Saya yakin kalau kita komit dalam membangun kembali Minangkabau ini, kita akan jauh lebih baik dari kondisi yang ada sekarang. Apalagi kalau sumberdaya manusia  kita digali dengan bijak,  &#8220;katanya.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><a href="http://padang-today.com/?today=news&amp;id=12745"><span style="color: #ff00ff;">Foto dan tulisan dari Padang Today</span></a></em></p>
<p style="text-align: justify;">***</p>
<p style="text-align: justify;">Tulisan ini saya peruntukkan untuk <em><span style="color: #ff0000;">para Bundo Kanduang Minangkabau</span></em> yang telah berjasa dalam membangun kebudayaan, dalam mendidik anak-anak menjadi orang yang berjiwa merdeka dan peduli terhadap masyarakat, serta yang telah membangun hubungan dalam rumah gadang dan kaum.</p>
<p>Tulisan ini juga ditujukan untuk para <em><span style="color: #ff0000;">Bundo Kanduang-Bundo Kanduang</span></em> lain di Indonesia dan seluruh dunia yang dipanggil dengan sebutan <em><span style="color: #ff0000;">Inang</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Bunda</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Ibu</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Buk’e</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Simbok</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Umi</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Mama</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Omak</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Mande</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Mandeh</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Mother</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Amma</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Amai</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Amak</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Mamak</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Mami</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Mamih</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Induak</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Induah</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Mutter</span></em>,<em> <span style="color: #ff0000;">Mutti</span>, <span style="color: #ff0000;">Ande</span>, <span style="color: #ff0000;">Madre</span>, <span style="color: #ff0000;">Maika</span></em><em>,</em><em> <span style="color: #ff0000;">Maman</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Mom</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Mère</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Mommy</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Um</span></em> dan <em><span style="color: #ff0000;">Mata</span></em>. Ini hanyalah sebagian saja dari nama-nama yang dipakai untuk menyebut perempuan yang telah mengandung dan melahirkan seluruh manusia yang ada di dunia ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><span style="color: #ff0000;">Puti Reno Oesman</span></em>, sebagaimana banyak <em><span style="color: #ff0000;">perempuan Minangkabau </span></em>lainnya, menunjukkan kepedulian kepada masyarakat, kemampuan dan kemauan perempuan Minangkabau pada umumnya dalam memimpin keluarga dan masyarakat.</p>
<p style="text-align: justify;">Tulisan mengenai Bundo Kanduang <em><span style="color: #ffcc00;"><span style="color: #0000ff;">calon gubernur Sumbar</span> </span></em>ini adalah salah satu dari rangkaian tulisan yang khusus menampilkan <em><span style="color: #ff0000;">perempuan-perempuan Minangkabau</span></em> beserta karya-karya mereka ataupun kiprah mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">***</p>
<p style="text-align: justify;">Baca juga tulisan-tulisan berikut ini mengenai <em>perempuan Minangkabau</em>:</p>
<ul>
<li><a href="http://www.varajambak.com/2009/03/21/saya-bangga-jadi-perempuan-minangkabau/"><em><span style="color:#ff00ff;">Saya Bangga Jadi Perempuan Minangkabau</span></em></a></li>
</ul>
<ul>
<li><a href="http://www.varajambak.com/2009/03/25/emakku-hj-nurma-abubakar-piliang-perempuan-minang-tulen/"><em><span style="color:#ff00ff;">Emakku Hj. Nurma Abubakar Piliang-Perempuan Minang Tulen</span></em></a></li>
</ul>
<ul>
<li><a href="http://www.varajambak.com/2010/01/20/meiy-piliang-negeri-nurani-mati/"><em><span style="color:#ff00ff;">Meiy Piliang: Negeri Nurani Mati</span></em></a></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">
<ul>
<li><a href="http://www.varajambak.com/2010/02/11/hanifah-damanhuri-oayobada-lapau-maya/"><em><span style="color: #ff00ff;">Hanifah Damanhuri Oayobada: Lapau Maya</span></em></a></li>
</ul>
<ul>
<li><a href="http://www.varajambak.com/2009/04/21/daftar-politikus-berpoligami-dan-pendukung-poligami/"><span style="color: #ff00ff;"><em>Daftar Politikus Berpoligami dan Pendukung Poligami</em></span></a></li>
</ul>
<ul>
<li><a href="http://moendg07.wordpress.com/2009/10/16/poligami-bagian-4/"><span style="color: #ff00ff;"><em>Poligami-Bagian 4</em></span></a></li>
</ul>
<ul>
<li><a href="http://www.varajambak.com/2008/12/05/perempuan-minangkabau-sebagai-mamak-dan-penghulu/"><span style="color: #ff00ff;"><em>Perempuan Minangkabau sebagai Mamak dan Penghulu</em></span></a></li>
</ul>
<ul>
<li><a href="http://www.varajambak.com/2009/06/17/hanifah-damanhuri-oayobada-bersatulah-perempuan-minang/"><span style="color: #ff00ff;"><em>Hanifah Damanhuri Oayobada: Bersatulah Perempuan Minang</em></span></a></li>
</ul>
<ul>
<li><a href="http://www.varajambak.com/2009/01/20/mamak-mamak-tidak-tahu-diuntung-bagian-1/"><em><span style="color: #ff00ff;">Mamak-mamak tidak tahu diuntung-Bagian 1</span></em></a></li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://www.varajambak.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.varajambak.com/2010/02/16/puti-reno-oesman-mantan-diplomat-wanita-siap-pimpin-sumbar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antara SARA, rasisme dan gugatan terhadap fasisme Jawa</title>
		<link>http://www.varajambak.com/2009/06/07/antara-sara-rasisme-dan-gugatan-terhadap-fasisme-jawa/</link>
		<comments>http://www.varajambak.com/2009/06/07/antara-sara-rasisme-dan-gugatan-terhadap-fasisme-jawa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Jun 2009 13:00:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[anti fasisme Islam]]></category>
		<category><![CDATA[anti fasisme Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[anti Islam]]></category>
		<category><![CDATA[anti Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[anti NKRI]]></category>
		<category><![CDATA[Austronesia]]></category>
		<category><![CDATA[budaya asing]]></category>
		<category><![CDATA[budaya asli]]></category>
		<category><![CDATA[budaya Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Cina Selatan]]></category>
		<category><![CDATA[fasisme Islam]]></category>
		<category><![CDATA[fasisme Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[fasisme Jerman]]></category>
		<category><![CDATA[Fidel Castro]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Jawaisme]]></category>
		<category><![CDATA[jawanisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Jawanisme]]></category>
		<category><![CDATA[Jerman]]></category>
		<category><![CDATA[kebijakan-kebijakan fasis Sukarno]]></category>
		<category><![CDATA[kekiri-kirian]]></category>
		<category><![CDATA[kelompok kiri]]></category>
		<category><![CDATA[kelompok merah]]></category>
		<category><![CDATA[kemerah-merahan]]></category>
		<category><![CDATA[kiri]]></category>
		<category><![CDATA[Lenin]]></category>
		<category><![CDATA[Mao Zedong]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat majemuk]]></category>
		<category><![CDATA[matriarchal]]></category>
		<category><![CDATA[Menuju Republik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[merah]]></category>
		<category><![CDATA[Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[multi-kulti]]></category>
		<category><![CDATA[Naar de Republiek Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Nazisme]]></category>
		<category><![CDATA[Negara Kesatuan Republik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[negara paling rasis]]></category>
		<category><![CDATA[orang Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[orang Papua]]></category>
		<category><![CDATA[oto-kritik]]></category>
		<category><![CDATA[Pandangan hidup]]></category>
		<category><![CDATA[patriarchat]]></category>
		<category><![CDATA[pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[penggugat fasisme Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[penguasa-penguasa fasis]]></category>
		<category><![CDATA[PKI]]></category>
		<category><![CDATA[praktek-praktek fasisme Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Pramudya Ananta Tour]]></category>
		<category><![CDATA[pro PKI]]></category>
		<category><![CDATA[pseudo kiri]]></category>
		<category><![CDATA[pseudo-merah]]></category>
		<category><![CDATA[ras mongoloid]]></category>
		<category><![CDATA[ras negroid]]></category>
		<category><![CDATA[rasis]]></category>
		<category><![CDATA[rasisme]]></category>
		<category><![CDATA[SARA]]></category>
		<category><![CDATA[sentralisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Stalin]]></category>
		<category><![CDATA[Suharto]]></category>
		<category><![CDATA[Sukarno]]></category>
		<category><![CDATA[suku Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Taiwan]]></category>
		<category><![CDATA[Tan Malaka]]></category>
		<category><![CDATA[tatanan politik fasis]]></category>
		<category><![CDATA[tentara fasis Jerman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.varajambak.com/?p=1338</guid>
		<description><![CDATA[Berbicara mengenai fasisme Jawa, yang lebih banyak dikenal sebagai Jawanisme atau Jawaisme di Indonesia, adalah suatu keharusan dan tanggung jawab moral bagi seluruh masyarakat Indonesia. Gugatan kepada fasisme Jawa harus dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab orang Indonesia terhadap korban-korban daripada fasisme Jawa itu sendiri. Selama ini, gugatan terhadap fasisme Jawa ataupun terhadap pelaku daripada tatanan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Berbicara mengenai <em><span style="color:#ff0000;">fasisme Jawa</span></em>, yang lebih banyak dikenal sebagai <em><span style="color:#ff0000;">Jawanisme</span></em> atau <em><span style="color:#ff0000;">Jawaisme</span></em> di Indonesia, adalah suatu keharusan dan tanggung jawab moral bagi seluruh masyarakat Indonesia. Gugatan kepada fasisme Jawa harus dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab orang Indonesia terhadap <em><span style="color: #0000ff;">korban-korban daripada fasisme Jawa</span></em> itu sendiri. Selama ini, gugatan terhadap fasisme Jawa ataupun terhadap pelaku daripada tatanan politik fasis ini dibungkam dengan dalih-dalih ataupun sebutan-sebutan yang telah dikenal oleh banyak orang, yaitu <em><span style="color: #0000ff;">anti Negara Kesatuan Republik Indonesia</span></em> (anti <em><span style="color:#ff0000;">NKRI</span></em>), anti Jawa, <em><span style="color:#ff0000;">SARA</span></em> maupun dengan sebutan rasis.</p>
<p style="text-align:justify;">Tuduhan-tuduhan ini, sebagaimana layaknya tuduhan-tuduhan yang ditimpakan kepada orang-orang yang menggugat <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">penguasa-penguasa fasis</span></em></span> di banyak negara di dunia lainnya, bertujuan untuk membungkam dan menjelek-jelekkan  nama baik orang-orang tersebut. Tuduhan-tuduhan ini juga tidak beralasan dan tidak layak digunakan, karena tidak ada satupun daripada pemakaian daripada tuduhan-tuduhan ini yang sesuai dengan kenyataannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kata <em><span style="color: #ff0000;">rasis</span></em> jelas tidak layak dipakai, karena walaupun orang-orang yang menguggat <em><span style="color:#ff0000;">fasisme Jawa</span></em> ini adalah orang-orang Indonesia dari suku bukan Jawa, mereka tidaklah rasis dan bukan pemuja <em><span style="color: #ff0000;">rasisme</span></em>. Tambahan lagi, penggugat daripada fasisme Jawa ini bukan hanya orang bukan Jawa saja. <span style="color:#ff0000;"><em>Pramudya Ananta Tou</em></span><span style="color:#ff0000;"><em>r</em></span>, seorang sastrawan dan pemikir Jawa, merupakan salah satu <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">penggugat fasisme Jawa</span></em></span> yang disebutnya sebagai <span style="color:#ff0000;"><em>Jawanisme</em></span>. Walaupun pendapat Pramudya mengenai fasisme Jawapun masih agak bias -karena pernyataannya mengenai fasisme Jawa yang seolah-olah terputus pada zaman <span style="color:#ff0000;"><em>Sukarno</em></span>-, Pramudya merupakan salah satu tokoh yang tidak sungkan-sungkan mengkritisi <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">praktek-praktek fasisme Jawa</span></em></span> ini. Selain daripada itu, kata rasis hanya layak dipakai untuk orang-orang yang memang benar-benar berbeda rasnya. Akan tetapi kenyataannya adalah, orang-orang Indonesia apapun sukunya tidaklah berbeda secara ras. Baik orang Jawa maupun orang dari suku-suku lainnya yang bukan Jawa adalah berasal dari dua ras atau yang menjadi satuan utama orang Indonesia, apapun suku bangsanya, yaitu <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">ras mongoloid</span></em></span> -lewat <span style="color: #0000ff;"><em>suku bangsa-suku bangsa Austronesia</em></span> dari daerah yang disebut sebagai Taiwan sekarang ini- dan  <span style="color: #0000ff;"><em>ras negroid</em> </span>(orang kulit hitam yang telah lebih dahulu mendiami alam Indonesia). Banyak dari suku-suku di Indonesia merupakan hasil percampuran daripada kedua ras ini, yang menghasilkan orang-orang Indonesia yang berkulit coklat ataupun sawo matang. Yang membedakan mereka hanyalah budaya asli mereka maupun budaya asing yang datang yang mempengaruhi budaya asli ini, sekaligus seberapa jauh budaya asli ini menggantikan budaya-budaya &#8220;orang asli Indonesia&#8221; ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Orang-orang yang disebut sebagai orang-orang yang <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">anti Negara Kesatuan Republik Indonesia</span></em></span> (<span style="color:#ff0000;"><em>NKRI</em></span>) malahan pada umumnya adalah orang-orang yang sangat peduli dengan keutuhan <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">Republik Indonesia</span></em></span> ini. Contoh nyata adalah orang Minang yang merupakan pendiri daripada Republik Indonesia ini. Kenyataan sejarah daripada peran orang-orang Minang dalam mendirikan Republik Indonesia, <span style="color:#ff0000;"><em>Tan Malaka </em></span>sebagai pendiri dan arsitek daripada Republik Indonesia lewat tulisannya di tahun 1925, yaitu <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">Naar de Republiek Indonesia</span></em></span> (Menuju Republik Indonesia) dan perjuangan-perjuangannya yang hanya berhenti bersama dengan kematiannya, serta peran-peran daripada orang Minang disegala bidang, tidak bisa disangkal dan juga tidak pernah dibantah oleh orang-orang Minang. Orang-orang Minang sangat menyadari akan peran orang-orang tua mereka dulu, baik laki-laki maupun perempuan, demi terwujudnya tatanan masyarakat yang bernama Republik Indonesia. Karena itulah mereka menjadi orang-orang yang merasa paling bertanggung jawab akan kelangsungan Republik Indonesia ini. Lewat gerakan politik Sukarno, mereka dijadikan sebagai &#8220;pemberontak&#8221;, dan dihancurkan semangat politiknya dan semangat untuk membangun masyarakat -yang merupakan ciri utama masyarakat Minangkabau yang matriarchal ini- serta dicemarkan nama baiknya serta identitas kesukuannya. Perempuan-perempuannya diperkosa oleh tentara Sukarno dan lain-lain perbuatan biadab. Istilah NKRI kemudian dijadikan jargon untuk mengesahkan proses <em><span style="color: #ff0000;">sentralisasi</span></em> dan <em><span style="color: #ff0000;">Jawanisasi</span></em>. Kata kesatuan pada NKRI dan kata bersatu hampir selalu diartikan sebagai penyatakan setuju pada praktek-praktek sentralisasi dan <span style="color:#ffcc00;"><span style="color:#ff0000;"><em>Jawanisasi</em></span></span>.</p>
<p style="text-align:justify;">Jargon <span style="color:#ff0000;"><em>SARA</em></span> (suku, agama, ras dan antar golongan) adalah jargon yang dipakai pada zaman kekuasaan <span style="color:#ff0000;"><em>Suharto</em></span> untuk membungkam kelompok oposisi yang menentang kebijakan-kebijakan dan kekejaman rezim orba. Lewat jargon ini, wacana mengeani suku dan agama menjadi tidak dimungkinkan dan terlarang. Padahal wacana dan diskusi mengenai suku, agama dan golongan (kelompok-kelompok dalam masyarakat) adalah sangat penting pada <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">masyarakat majemuk</span></em></span> seperti Indonesia. Kata ras dalam jargon ini jelas tidak layak dipakai karena seperti telah disebut di atas, hanya ada dua ras besar yang menjadi pembentuk masyarakat Indonesia dan sebagian terbesar daripada kedua ras besar ini sudah bercampur menghasilkan manusia-manusia Indonesia baru. Sifat asli masyarakat Indonesia sebenarnya juga tidak membesar-besarkan urusan ras ini. Jargon ini membuat masyarakat Indonesia takut untuk menyebut istilah seperti &#8220;<span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">suku Jawa</span></em></span>&#8220;, &#8220;<span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">orang Jawa</span></em></span>&#8220;, &#8220;<span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">orang Papua</span></em></span>&#8221; dan lain-lain. Padahal istilah-istilah ini dan masyarakat-masyarakat yang mewakilinya ada. Tambahan lagi, wacana maupun pembahasan mengenai istilah-istilah ini adalah sangat penting untuk terciptanya suatu kondisi saling memahami dari satuan-satuan masyarakat yang berbeda yang membentuk keseluruhan masyarakat Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">Tuduhan anti Jawa misalnya adalah salah satu tuduhan yang paling tidak bertanggung jawab. Karena dari arti kata saja sudah berbeda. <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color:#ff0000;">Anti Jawa</span></em></span> dan <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color:#ff0000;">anti fasisme Jawa</span></em></span> adalah dua ungkapan yang berbeda. Menyamakan kedua ungkapan ini adalah sama dengan menyamakan kata &#8220;<span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">Jawa</span></em></span>&#8221; dengan ungkapan &#8220;<span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">fasisme Jawa</span></em></span>&#8220;. Kedua hal ini jelas berbeda. Sebagaimana layaknya <span style="color:#ff0000;"><em>fasisme Jerman</em></span> yang tidak sama dengan <span style="color:#ff0000;"><em>Jerman</em></span> sebagai satuan budaya, ataupun <span style="color:#ff0000;"><em>fasisme Islam</em></span> yang tidak sama dengan <span style="color:#ff0000;"><em>Islam</em></span> yang merupakan satuan budaya/agama, <span style="color:#ff0000;"><em>fasisme Jawa</em></span> sebagai tatanan politik tidak sama dengan <span style="color:#ff0000;"><em>Jawa</em></span> yang merupakan satuan budaya. Anti Jawa jelas tidak sama dengan anti fasisme Jawa sama halnya dengan anti Jerman yang tidak sama dengan anti fasisme Jerman (Nazisme) ataupun anti Islam yang tidak sama dengan anti fasisme Islam.</p>
<p style="text-align:justify;">Orang-orang yang menggugat fasisme Jerman ataupun yang anti fasisme Jerman tidak dapat dikatakan anti Jerman karena mereka umumnya adalah orang Jerman yang mengkritik kebiadaban daripada fasisme Jerman yang dikenal dengan Nazisme ini. Umumnya, mereka adalah orang-orang yang peduli terhadap budaya dan masyarakat Jerman. Demikian pula halnya dengan orang-orang yang menggugat fasisme Islam. Mereka pada umumnya adalah para cerdik pandai dalam ilmu-ilmu <span style="color: #ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">ke-Islam-an</span></em></span> dan mereka juga sangat peduli terhadap negara-negara, budaya dan masyarakat Arab serta negara-negara dan masyarakat dengan pengaruh Islam lainnya yang bukan merupakan negara Arab. Orang-orang yang menggugat fasisme Jawa, justru kebanyakan adalah orang-orang cerdik pandai yang peduli dengan Republik Indonesia dan yang prihatin dengan <span style="color: #ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">korban-korban daripada fasisme Jawa</span></em></span>. Korban&#8211;korban fasisme Jawa tidak hanya terdiri dari orang-orang  dari suku-suku bukan Jawa saja, melainkan<span style="color: #0000ff;"> <em>orang-orang dari suku Jawa</em></span> yang merupakan masyarakat dengan jumlah terbesar di Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">Jawa adalah nama yang terdiri dari satu kata dan berarti secara umum dalam hal ini adalah &#8220;<span style="color: #ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">budaya Jawa</span></em></span>&#8220;. <span style="color: #ff0000;"><em>Fasisme Jawa</em></span> adalah sebuah istilah atau ungkapan yang mempunyai arti suatu <span style="color: #ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">tatanan politik fasis</span></em></span> yang bersumber dari <span style="color: #ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">roh budaya Jawa</span></em></span> ataupun yang lahir dari <span style="color: #ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">kandungan budaya Jawa</span></em></span>, dan yang memakai <span style="color: #ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">simbol-simbol budaya Jawa</span></em></span> dimana kelompok elit kekuasaannya terdiri dari orang Jawa atau orang yang berbudaya Jawa dan yang dalam perkembangannya mendapat pengaruh dan dukungan dari budaya-budaya fasis dunia lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Usaha-usaha untuk <span style="color: #ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">menggugat fasisme Islam</span></em></span> dan fasisme Jerman misalnya telah dilakukan oleh para cerdik pandai dari masing-masing budaya itu sendiri. Di Indonesia, usaha-usaha untuk menggugat<span style="color: #0000ff;"> <em>fasisme Indonesia</em></span> yang dikenal dengan sebutan <span style="color: #ff0000;"><em>Jawanisme</em></span> ini hampir selalu menemui jalan buntu. Seandainyapun dilakukan, orang-orang yang berusaha untuk melakukannya dikenai tuduhan dan gelar sebagai penghianat negara dan bangsa, orang yang rasis, anti Jawa, SARA, maupun anti NKRI. Salah satunya yang telah melakukan gugatan terhadap fasisme Jawa seperti telah disinggung sebelumnya adalah Pramudya Ananta Tour. Itupun masih bias, karena Pramudya sebagaimana banyak orang-orang <span style="color:#ff0000;"><em>PKI</em></span> ataupun <span style="color:#ff0000;"><em>pro PKI</em></span> pada zaman <span style="color:#ff0000;"><em>Sukarno</em></span> adalah orang-orang yang memuja Sukarno. Bagi Pramudya, masa fasisme Jawa terputus pada masa Sukarno dan dilanjutkan kembali pada masa Suharto. Suatu analisis tidak jujur dan tidak bijaksana.  Pendapat Pramudya ini jelas-jelas menyimpang karena Suharto jelas-jelas hanya melanjutkan dan menyempurnakan <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">kebijakan-kebijakan fasis Sukarno</span></em></span>. Mengenai Pramudya dan fasisme Jawa bisa dibaca pada tulisan terdahulu mengenai <span style="color:#ff00ff;">fasisme Jawa</span>.</p>
<p style="text-align:justify;">Walaupun Sukarno adalah seorang fasis, ia dilihat sebagai orang suci tanpa cela oleh orang-orang pro PKI, orang-orang PKI ataupun orang-orang yang mengaku dirinya sebagai &#8220;<em><span style="color: #0000ff;">kelompok kiri</span></em>&#8220;. Hal ini bukanlah hal yang aneh, karena itu adalah kecenderungan para &#8220;cerdik pandai&#8221; yang termasuk ke dalam &#8220;kelompok kiri&#8221;. Banyak orang-orang &#8220;kelompok kiri&#8221; adalah juga pemuja fanatik daripada diktator-diktator &#8220;kiri&#8221;, &#8220;merah&#8221;, &#8220;kekiri-kirian&#8221;, &#8220;pseudo kiri&#8221;, &#8220;pseudo merah&#8221; ataupun &#8220;kemerah-merahan&#8221; seperti <span style="color:#ff0000;"><em>Mao Zedong</em></span>, <span style="color:#ff0000;"><em>Lenin</em></span>, <span style="color:#ff0000;"><em>Stalin</em></span>, <span style="color:#ff0000;"><em>Sukarno</em></span>, ataupun <span style="color:#ff0000;"><em>Fidel Castro</em></span>.</p>
<p style="text-align:justify;">Masyarakat Jerman telah melakukan kritisi terhadap fasisme Jerman yang dikenal sebagai Nazisme ini. Ribuan laporan yang berupa tulisan, buku, film dokumenter, acara televisi dan lainnya dibuat, didiskusikan, diseminarkan dan diperdebatkan, oleh orang-orang Jerman sendiri sebagai bentuk <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">oto-kritik</span></em></span>. Bahkan oleh orang-orang Jerman yang merupakan bekas <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">tentara fasis Jerman</span></em></span>, orang-orang yang menjadi korban daripada Nazisme, orang-orang yang dahulunya dikenal sebagai kelompok rasis yang menjadi pendukung Nazisme itu sendiri maupun para cerdik pandai Jerman dari segala bidang. Jerman <span style="color: #000000;">boleh disebut sebagai berhasil, dalam usaha otokritiknya ini. Jerman yang dulu ditakuti sebagai <em>&#8220;</em></span><span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">negara paling rasis</span></em></span>&#8221; di dunia, kini boleh dikatakan menjadi negara yang telah sedikit banyaknya menghargai keragaman budaya atau yang berdasarkan istilah Jerman dikenal sebagai &#8220;<span style="color:#ff0000;"><em>multi-kulti</em></span>&#8221; (beragam budaya).</p>
<p style="text-align:justify;">Kemajuan diperoleh dari kemauan melakukan otokritik. Indonesia tampaknya bisa mencontoh Jerman untuk melakukan otokritik ini. Tidak ada yang perlu ditabukan untuk dibicarakan selagi hal itu menyangkut hajat hidup dan kemaslahatan orang banyak di Indonesia, termasuk kesalahan-kesalahan politik  dan kekejaman-kekejamandari tokoh-tokoh politik di masa lalu. Dan penulis yakin, orang Indonesia bisa melakukannya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">Catatan:</span></em></span></p>
<p style="text-align: justify;">Asal-usul mengenai masyarakat Indonesia, masih harus ditelusuri lebih lanjut. Versi terakhir adalah suku bangsa-suku bangsa Austronesia dari Taiwan serta suku bangsa-suku bangsa Melanesia yang mendiamai daerah Timur Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">Pandangan mengenai ras sebenarnya sudah tidak relefan di zaman sekarang. Ilmu genetika telah menjawab hal-hal mengenai warna kulit, warna mata, warna rambut  dan lainnya yang selama ini dipakai sebagai dasar dari &#8220;teori ras&#8221;. Rambut pirang dan mata biru, mata hijau ataupun mata coklat muda, tidaklah melulu milik orang yang disebut sebagai &#8220;ras caucasoid&#8221;  atau &#8220;ras orang kulit putih&#8221;; melainkan juga milik orang yang dikenal sebagai &#8220;ras negorid&#8221; dan &#8220;ras mongoloid&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Tulisan ini adalah tulisan ketiga dari rangkaian tulisan mengenai fasisme Jawa. Baca juga tulisan terkait:</p>
<ul> <a href="http://www.varajambak.com/2009/03/05/fasisme-jawa-bagian-1/"></a></p>
<li><a href="http://www.varajambak.com/2009/03/05/fasisme-jawa-bagian-1/"><em><span style="color:#ff00ff;">Fasisme Jawa-Bagian 1</span></em></a></li>
</ul>
<ul> <a href="http://www.varajambak.com/2009/05/21/fasisme-jawa-bagian-2/"></a></p>
<li><a href="http://www.varajambak.com/2009/05/21/fasisme-jawa-bagian-2/"><em><span style="color:#ff00ff;">Fasisme Jawa-Bagian 2</span></em></a></li>
</ul>
<ul> <a href="http://www.varajambak.com/2009/05/09/hubungan-cinta-antara-laki-laki-dan-perempuan-dalam-masyarakat-minangkabau/"></a></p>
<li><a href="http://www.varajambak.com/2009/05/09/hubungan-cinta-antara-laki-laki-dan-perempuan-dalam-masyarakat-minangkabau/"><em><span style="color:#ff00ff;">Hubungan cinta antara laki-laki dan perempuan pada masyarakat Minangkabau</span></em></a></li>
</ul>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://www.varajambak.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.varajambak.com/2009/06/07/antara-sara-rasisme-dan-gugatan-terhadap-fasisme-jawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saya Bangga Jadi Perempuan Minangkabau</title>
		<link>http://www.varajambak.com/2009/03/21/saya-bangga-jadi-perempuan-minangkabau/</link>
		<comments>http://www.varajambak.com/2009/03/21/saya-bangga-jadi-perempuan-minangkabau/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Mar 2009 08:07:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[A.A Navis]]></category>
		<category><![CDATA[Aisyah Amini]]></category>
		<category><![CDATA[Arab Saudi]]></category>
		<category><![CDATA[arabisasi sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Barat]]></category>
		<category><![CDATA[Belanda]]></category>
		<category><![CDATA[Brunei]]></category>
		<category><![CDATA[budaya Bundo Kanduang]]></category>
		<category><![CDATA[budaya Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[budaya patriarkal]]></category>
		<category><![CDATA[budaya-budaya patriarkal dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Bunda]]></category>
		<category><![CDATA[Bunda-bunda Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Bundo Kanduang]]></category>
		<category><![CDATA[Cina]]></category>
		<category><![CDATA[Desi Anwar]]></category>
		<category><![CDATA[Dr. Ranny Emilia]]></category>
		<category><![CDATA[Dresden]]></category>
		<category><![CDATA[Elly Kasim]]></category>
		<category><![CDATA[eropaisasi sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Gumarang Sakti]]></category>
		<category><![CDATA[H.R. Rasuna Said]]></category>
		<category><![CDATA[Hindu]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu Alam Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu Asal Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu Pers Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu Ratu]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu Ratu bijaksana]]></category>
		<category><![CDATA[ibu-ibu pemuja phallus]]></category>
		<category><![CDATA[India]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Inggris]]></category>
		<category><![CDATA[Inul]]></category>
		<category><![CDATA[Inyiak Upiak Palatiang]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Islamisasi sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Jajang Pamuntjak]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Jerman]]></category>
		<category><![CDATA[jihad]]></category>
		<category><![CDATA[jihad Islam]]></category>
		<category><![CDATA[kaba]]></category>
		<category><![CDATA[kaum padri]]></category>
		<category><![CDATA[kekuasaan patriarkal]]></category>
		<category><![CDATA[Lany Verayanti]]></category>
		<category><![CDATA[Leila S. Chudori]]></category>
		<category><![CDATA[maestro Silat]]></category>
		<category><![CDATA[Malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[maskulinisasi pemberitaan]]></category>
		<category><![CDATA[maskulinisasi sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Melayu]]></category>
		<category><![CDATA[mesin pembuat anak]]></category>
		<category><![CDATA[negeri-negeri Melayu]]></category>
		<category><![CDATA[Niniak]]></category>
		<category><![CDATA[Niniek]]></category>
		<category><![CDATA[Ninik]]></category>
		<category><![CDATA[non-Barat]]></category>
		<category><![CDATA[patriarkal]]></category>
		<category><![CDATA[Perancis]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan-perempuan Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[phallus]]></category>
		<category><![CDATA[Prof. Dr. Dewi Fortuna Anwar]]></category>
		<category><![CDATA[Puti Reno Raudha Thaib]]></category>
		<category><![CDATA[Rahmah El Yunusiyah]]></category>
		<category><![CDATA[ranah Bundo Kanduang]]></category>
		<category><![CDATA[ranah Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Rasuna Said]]></category>
		<category><![CDATA[RCTI]]></category>
		<category><![CDATA[Rohana Kudus]]></category>
		<category><![CDATA[Saadah Alim]]></category>
		<category><![CDATA[Singapura]]></category>
		<category><![CDATA[Siti Manggopoh]]></category>
		<category><![CDATA[Sunda]]></category>
		<category><![CDATA[Sunting Melayu]]></category>
		<category><![CDATA[tambo alam Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Tan Malaka]]></category>
		<category><![CDATA[teori-teori feminisme]]></category>
		<category><![CDATA[teori-teori pembebasan perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[teori-teori pemberdayaan perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[The Weapons of Mass Destruction Commission. Swedia]]></category>
		<category><![CDATA[Yeni Rosa Damayanti]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://moendg07.wordpress.com/?p=876</guid>
		<description><![CDATA[Karena perempuan-perempuan Minangkabau telah dan selalu melawan kekuasaan-kekuasaan yang datang silih berganti yang berusaha menghancurkan ranah Minang entah itu atas nama jihad Islam kaum padri, Barat, pemerintah daerah ataupun pemerintah pusat yaitu para Bundo Kanduang, para Niniak/Niniek/Ninik (nenek), atau nama-nama seperti Siti Manggopoh, Rohana Kudus, Rasuna Said, Dr. Ranny Emilia, Yeni Rosa Damayanti, Prof. Dr. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena <span style="color: #0000ff;"><em>perempuan-perempuan Minangkabau</em></span> telah dan selalu melawan kekuasaan-kekuasaan yang datang silih berganti yang berusaha menghancurkan ranah Minang entah itu atas nama <span style="color: #0000ff;"><em>jihad Islam kaum padri</em></span>, <span style="color: #0000ff;"><em>Barat</em></span>, pemerintah daerah ataupun pemerintah pusat yaitu para <em><span style="color:#ff0000;">Bundo Kanduang</span></em>, para <em><span style="color:#ff0000;">Niniak</span></em>/<em><span style="color:#ff0000;">Niniek</span></em>/<em><span style="color:#ff0000;">Ninik</span></em> (nenek), atau nama-nama seperti <em><span style="color:#ff0000;">Siti Manggopoh</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Rohana Kudus</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Rasuna Sai</span><span style="color:#ff0000;">d</span></em>, <span style="color:#ff0000;"><em>Dr. Ranny Emilia</em></span>, <em><span style="color:#ff0000;">Yeni Rosa Damayanti</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Prof. Dr. Dewi Fortuna Anwar</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Lany Verayanti</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Aisyah Amini</span></em> dan banyak lagi perempuan-perempuan Minangkabau lainnya.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabau telah terbiasa memimpin masyarakat sebagai <em><span style="color:#ff0000;">Bundo Kanduang</span></em> dan juga mengambil alih kepemimpinan dari tangan laki-laki ketika laki-laki tidak berdaya apa-apa lagi seperti<em><span style="color:#ff0000;"> Siti Manggopoh</span></em> yang memimpin penyerangan bersenjata terhadap <em><span style="color:#ff0000;">Belanda</span></em> bahkan ketika anaknya masih menyusu.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabau dihargai kemampuan reproduksinya dan diakui hubungannya yang alami dengan anak dimana perempuan-perempuan lain dalam budaya patriarkal Indonesia maupun dunia hanya diperlakukan sebagai &#8220;<span style="color: #0000ff;"><em>mesin pembuat anak</em></span>&#8221; atau &#8220;<span style="color: #0000ff;"><em>pengasuh anak daripada seorang laki-laki</em></span>&#8221; dan diputuskan hubungan alaminya dengan anak-anak yang telah dikandungnya dan dilahirkannya.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuanlah yang menjadi pemilik tanah dan harta kaum, yang telah terbukti berjasa dalam mempertahankan budaya Minangkabau dan identitas Minangkabau yang membuat kaum tetap memiliki kampung halaman ke mana mereka pulang sejauh apapun mereka merantau dan di mana dalam budaya lain, hampir seluruh tanah telah diperjual-belikan oleh pihak laki-laki dan telah beralih ke tangan para elit yang utamanya adalah laki-laki.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan-perempuan Minangkabaulah yang mengatur dan mengurus keluarga dan berhasil mencetak anak-anak menjadi pribadi-pribadi yang percaya diri dan kuat, yang bisa memimpin masyarakat dan menjadi orang-orang yang perannya terkenal di Indonesia dan<em><span style="color:#ffcc00;"> <span style="color: #0000ff;">negeri-negri Melayu</span></span></em> seperti <span style="color: #0000ff;"><em>Malaysia</em></span>, <span style="color: #0000ff;"><em>Singapura</em></span> dan <em><span style="color:#ffcc00;"><span style="color: #0000ff;">Brunei</span> </span></em>dan maupun dunia.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabau selalu berhasil melawan kekuasaan daripada budaya-budaya patriarkal yang datang luar yang berusaha dan cenderung meminggirkan perempuan dari perannya dalam kehidupan masyarakat entah itu kekuasaan yang bernama <span style="color: #0000ff;"><em>Islam</em></span> (<span style="color: #0000ff;"><em>fundamentalis</em></span> ataupun tidak), kekuasaan<em><span style="color:#ffcc00;"> <span style="color: #0000ff;">Belanda</span></span></em> atau <span style="color: #0000ff;"><em>Barat</em></span> secara umum, kekuasaan yang bernama pemerintah daerah atau pusat serta kekuasaan yang berbentuk hukum yang menindas perempuan serta <span style="color: #0000ff;"><em>kekuasaan-kekuasaan patriarkal dunia</em></span> lainnya.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabaulah yang menjadi perempuan-perempuan pertama di banyak bidang kehidupan &#8220;modern&#8221; mulai dari jurnalisme/pers/media, dunia usaha, organisasi, pendidikan, seni/budaya, bidang-bidang intelektual dan lain-lain bidang.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabulah yang menjadi perempuan pertama yang menjadi pendiri partai pertama di Indonesia, yaitu <span style="color:#ff0000;"><em>H.R. Rasuna Said</em></span>.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempaun Minangkabaulah yang mendirikan surat kabar khusus perempuan pertama yaitu <em><span style="color:#ff0000;">Rohana Kudus</span></em> yaitu surat kabar<span style="color:#ffcc00;"> <span style="color: #0000ff;"><em>Sunting Melayu</em></span></span>.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabaulah yang menjadi pendiri organisasi perempuan pertama di Indonesia yaitu <em><span style="color:#ff0000;">Rohana Kudus</span></em> yaitu organisasi <span style="color: #0000ff;"><em>Kerajinan Amai Setia</em></span> pada tahun 1911.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabaulah yang memelopori bidang usaha modern untuk kaum perempuan di Indonesia yaitu<span style="color:#ff0000;"><em> Rohana Kudus</em></span> dengan bidang usaha<em><span style="color:#ffcc00;"> <span style="color: #0000ff;">Kerajinan Amai Setia</span></span></em>-nya.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabaulah yang mendirikan sekolah perempuan modern pertama yaitu <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">Rohana School</span> </em></span>yaitu <span style="color:#ff0000;"><em>Rohana Kudus</em></span>.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan-perempuan Minangkabau adalah perempuan-perempuan kuat yang juga memilki banyak kemampuan dan ketrampilan serta tetap dapat menjalankan fungsinya sebagai <em><span style="color:#ff0000;">Bunda Penyayang</span></em> bagi anak-anaknya.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan-perempuan Minangkabau bisa melakukan apa saja tampa harus pusing-pusing belajar dan berkutat dengan &#8220;<span style="color: #0000ff;"><em>teori feminisme</em></span>&#8220;/&#8221;<span style="color: #0000ff;"><em>teori pembebasan perempuan</em></span>&#8220;/<span style="color: #0000ff;">&#8220;<em>teori pemberdayaan perempuan</em></span>&#8221; dan lain sebagainya yang sebenarnya hanya berlaku untuk dan diperlukan oleh perempuan-perempuan dalam budaya patriarkal yang memang dilecehkan, ditindas dan dipinggirkan. Yang perlu dilakukan oleh perempuan Minangkabau adalah melawan pengaruh-pengaruh negatif dari<em><span style="color:#ffcc00;"> <span style="color: #0000ff;">budaya-budaya patriarkal dunia</span></span></em> yang masuk lewat satuan-satuan budaya dengan label agama, ideologi ataupun kekuasaan.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena ketika anak gadis-anak gadis lain diajarkan oleh Ibunya untuk menjerat laki-laki kaya walaupun sudah tua sekalipun, <em><span style="color:#ff0000;">Bunda</span></em> saya dan <em><span style="color:#ff0000;">Bunda-Bunda Minang</span></em> lain mengatakan kepada gadis-gadis Minang untuk bersama dengan laki-laki yang baik dan penyayang.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan-perempuan Minangkabau tidak dijarkan untuk patuh dan menurut kepada laki-laki lain yang dikenal sebagai suaminya, ketika gadis-gadis lainnya diajarkan untuk &#8220;melayani laki-laki yang menjadi suaminya&#8221; dan patuh tanpa syarat, dikarenakan tanggung jawab perempuan Minangkabau adalah terhadap anak dan keluarganya. Walaupun konsep-konsep  seperti ini sudah mulai masuk ke dalam budaya Minangkabau lewat <span style="color: #0000ff;"><em>budaya-budaya patriarkal</em></span> lokal maupun internasional yang berusaha menguasai <em>ranah Minang.</em></li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Ketika anak gadis-anak gadis lain dipingit dan tidak dapat melakukan apa-apa perempuan Minangkabau bisa melakukan apa saja karena tidak pernah ada pemisahan yang jelas antara &#8220;pekerjaan laki-laki&#8221; atau &#8220;pekerjaan perempuan&#8221; pada masyarakat Minangkabau.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabau diakui peranannya sebagai<em><span style="color:#ff0000;"> Bundo Kanduang</span></em> (<span style="color: #0000ff;"><em>Bunda Penyayang</em></span>), atau dalam perannya sebagai kekuatan untuk meneruskan generasi manusia di dunia. Oleh karenanya perempuan-perempuan Minangkabau yang telah memiliki keturunan diberi gelar <em><span style="color:#ff0000;">Bundo Kanduang</span></em>.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Ketika perempuan-perempuan lain dalam budaya patriarkal diberi tugas untuk harus dapat &#8220;melahirkan anak laki-laki&#8221;, &#8220;memuja anak laki-laki&#8221; dan memdiskriminisakikan anak perempuannya bahkan kalau perlu membunuhnya di kandungan ataupun setelah di luar kandungan seperti banyak terjadi di <span style="color: #0000ff;"><em>India</em></span> dan <span style="color: #0000ff;"><em>Cina</em></span> serta di dalam budaya-budaya patriarkal zaman dulu, perempuan-perempuan Minangkabau mengandung dan melahirkan anak-anak tanpa memandang jenis kelamin.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena menjadi &#8220;perempuan&#8221; dalam budaya Minangkabau tidaklah hina seperti menjadi perempuan dalam budaya-budaya patriarkal lainnya.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Kerena ketika perempuan-perempuan dalam karya sastra (dan film) dari banyak budaya patriarchal lainnya hampir selalu digambarkan sebagai pelacur, perempuan yang diperkosa, perempuan yang dipukuli, perempuan yang dibunuh, perempuan yang dijual orang tuanya ke laki-laki lainnya, perempuan yang diberikan ke laki-laki yang berkuasa seperti nasib yang harus dijalani oleh RA Kartini yang disebut-sebtut sebagai &#8220;pembebas perempuan Indonesia&#8221; itu, dan lain-lain perbuatan biadab terhadap perempuan, perempuan Minangkabau digambarkan sebagai <em><span style="color: #0000ff;">Ibu Ratu bijaksana</span><span style="color:#ffcc00;"> </span></em>dalam <span style="color: #0000ff;"><em>tambo alam Minangkabau</em></span> yaitu <em><span style="color:#ff0000;">Bundo Kanduang</span></em> dan juga sebagai perempuan-perempuan kuat dan mandiri dalam <em><span style="color:#ff0000;">kaba</span></em> (cerita klasik Minang). Sastra Minangkabau tidak mengenal perempuan sebagai pelacur atau tema-tema cerita-cerita lainnya yang melambangkan pelecehan, penindasan, kekerasan dan penhinaan serta penistaan yang menjadi tema-tema utama di dalam budaya patriarkal baik lokal maupun dunia.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena budaya Minangkabau tidak mengenal perempuan sebagai pelacur, sebagai budak, baik dalam lembaga yang bernama &#8220;rumah tangga&#8221; maupun sebagai pembantu rumah tangga murah, sebagai anak yang dijual orang tuanya kepada laki-laki kaya, perempuan sebagai &#8220;obyek seks&#8221; dan lain-lain posisi perempuan yang rendah dan tertindas.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabau sangat dihormati dalam fungsi keibuannya dan diberi gelar sama dengan gelar<span style="color: #0000ff;"> <em>Ibu Asal Minangkabau</em></span> yaitu <em><span style="color:#ff0000;">Bundo Kanduang</span></em>.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabau dihormati dalam fungsinya sebagai cerdik pandai dan diberi gelar sama dengan gelar <span style="color: #0000ff;">Ibu Asal Minangkabau</span> yaitu <span style="color:#ff0000;"><em>Bundo Kanduang</em></span>.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena budaya Minangkabau telah dan selalu melahirkan perempuan-perempuan hebat yang melawan begitu banyak kekuasaan patriarchal yang datang silih berganti ke ranah <em><span style="color:#ff0000;">Bundo Kanduang</span></em> dan yang berusaha menghancurkan  ranah maupun<span style="color: #0000ff;"> <em>budaya Bundo Kanduan</em>g</span> seperti <em><span style="color:#ff0000;">Siti Manggopoh</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Rasuna Said</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Rahmah El Yunusiyah</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Rohana Kudus</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Puti Reno Raudha Thaib</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Yeni Rosa  Damayanti</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Prof. Dr. Dewi Fortuna Anwar</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Dr. Ranny Emilia</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Lany Verayanti</span></em> dan masih banyak lagi lainnya.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena budaya Minangkabau banyak melahirkan perempuan-perempuan yang keras hati, teguh pendirian, dan kuat kemauan, kuat dalam menghadapi cobaan hidup, mandiri, dan memainkan peranan penting dalam keluarga, masyarakat Minang, Indonesia maupun dunia.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabau sebagai janda tidak dipandang rendah atau bahkan harus mati dipanggang api karenanya, seperti yang umum terjadi dalam budaya-budaya yang dipengaruhi oleh <span style="color: #0000ff;"><em>Hindu</em></span> seperti di <em><span style="color:#ffcc00;"><span style="color: #0000ff;">India</span> </span></em>dan <span style="color: #0000ff;"><em>Jawa</em></span>/<span style="color: #0000ff;"><em>Sunda</em></span>. Perempuan Minangkabau akan didorong untuk kawin lagi sehingga tidak perlu menderita karena harus &#8220;bobok sendirian&#8221; <img src='http://www.varajambak.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabau tidak dipandang dari sisi kelaminnya seperti perempuan-perempuan dalam budaya patriarkal, melainkan dari segi fungsinya sebagai Bunda bagi anak-anaknya, perannya dalam keluarga besar dan dalam masyarakat.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena ketika perempuan-perempuan lain dalam budaya patriarkal harus menelan hinaan-hinaan yang menyakitkan hati seperti kata-kata berikut dalam bahasa<em><span style="color:#ff0000;"> Jawa</span></em>/<em><span style="color:#ff0000;">Sunda</span></em>/<em><span style="color:#ff0000;">Jakarta</span></em> (sundal, pelacur, perek, ayam, perempuan murahan, dll), Inggris (whore, slut, bitch, chick, cunt), Jerman (Schlampe, Nutte, Flittchen), Perancis (putain, pute) dan banyak lagi lainnya dalam berbagai bahasa-bahasa daripada bangsa-bangsa patriarkal lokal maupun dunia, budaya Minangkabau tidak mengenal cacian dan hinaan serupa itu. Satu panggilan untuk perempuan Minangkabau yang melambangkan penghormatan dan penghargaan yang tinggi yaitu <em><span style="color:#ff0000;">Bundo Kanduang</span></em>. Lewat pengaruh-pengaruh budaya-budaya patriarkal baik lokal maupun internasional, sudah ada laki-laki dan juga sebagain kecil perempuan Minangkabau yang telah mulai menggunakan kata-kata hinaan dan cacian tersebut. Tapi hal itu masih bukan merupakan hal yang umum.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabaulah yang menjadi<span style="color: #0000ff;"> <em>pandeka Silat</em> </span>yang dikenal dunia yaitu <em><span style="color:#ff0000;">Inyiak Upiak Palatiang</span></em>.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan-perempuan Minangkabau adalah perempuan-perempuan pelopor dalam bidangnya masing-masing di Indonesia.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan-perempuan Minangkabau adalah pelopor-pelopor dalam bidang puisi di Indonesia.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena peremuan-perempuan Minangkabau adalah perempuan-perempuan menonjol dalam bidang penulisan seperti <em><span style="color:#ff0000;">Saadah Alim</span></em>,<em><span style="color:#ff0000;"> Saadah Alim</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Leila S. Choidori</span></em> dan banyak lagi lainnya.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan-perempuan Minangkabau adalah perempuan-perempuan yang berperan penting dalam dunia film dan theater seperti <em><span style="color:#ff0000;">Eva Arnaz</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Jajang Pamoentjak</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Gusmiati Suid</span></em> dan <em><span style="color:#ff0000;">Sherina</span></em>.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabaulah yang menjadi penulis cerita pendek perempuan pertama di Indonesia yaitu <span style="color:#ff0000;"><em>Saadah Alim</em></span>.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabaulah yang aktif memperkenalkan budaya-budaya Indonesia ke manca negara yaitu <em><span style="color:#ff0000;">Elly Kasim.</span></em></li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabaulah yang aktif membela perempuan yang ditinda oleh para penguasa <span style="color: #0000ff;"><em>Islam</em></span> seperti <span style="color:#ff0000;"><em>Inul</em></span> yaitu <em><span style="color:#ff0000;">Jajang Pamoentjak</span></em> dan <em><span style="color:#ff0000;">Yeni Rosa Damayanti</span></em>.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabaulah yang menjadi <span style="color: #0000ff;"><em>Ibu Pers Indonesia</em></span> yaitu <em><span style="color:#ff0000;">Rohana Kudus</span></em>.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabaulah yang menyelamatkan per-film-an Indonesia setelah sekarat hampir 20 tahun lamanya yaitu artis kecil <em><span style="color:#ff0000;">Sherina</span></em>, yang menyelamatkan per-film-an Indonesia pada saat ia baru berumur 10 tahun lewat film-nya yang sangat terkenal yaitu <em>Petualangan Sherina</em>.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena orang Minangkabaulah yang menjadi anggota kehormatan dari lembaga hak-hak asasi manusia untuk pemberitaan mengenai senjata pemusnah masal yaitu <span style="color: #0000ff;"><em>The Weapons of Mass Destruction Commission</em></span>, yang berkedudukan di <span style="color: #0000ff;"><em>Swedia</em></span> yaitu <span style="color:#ff0000;"><em>Prof. Dr. Dewi Fortuna Anwar</em></span>.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena orang Minangkabaulah yang menjadi Ibu dari dunia tari kontemporer Indonesia, yang membuat nama Indonesia diakui di dunia Internasional dengan tari kontemporernya yang berdasarkan pada budaya Minangkabau Silek (silat) yaitu <em><span style="color:#ff0000;">Gusmiati Suid</span></em>, pendiri sanggar tari <span style="color: #0000ff;"><em>Gumarang Sakti</em></span>.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena orang Minangkabaulah yang merupakan aktivis mahasiswa yang ditakuti <span style="color: #0000ff;"><em>Suharto</em></span> yaitu <em><span style="color:#ff0000;">Yeni Rosa Damayanti </span></em>yang dipenjarakan olehnya lebih dari satu tahun lamanya dalam kasus &#8220;21 mahasiswa&#8221; dan yang diasingkan olehnya di negri <span style="color: #0000ff;"><em>Belanda</em></span> setelah peristiwa di kota<em><span style="color:#ffcc00;"> <span style="color: #0000ff;">Dresden</span></span></em>, <span style="color: #0000ff;"><em>Jerman</em></span>.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena Ibu saya ada banyak, saya panggil mereka Mak Gaek, Uwo, Mama dan Etek.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena saya tidak pernah diajarkan oleh Ibu saya dan budaya saya untuk menyembah laki-laki dan memasrahkan kehidupan saya ditangan laki-laki seperti nasib banyak perempuan-perempuan lainnya dalam budaya patriarkal.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena saya sebagai perempuan bisa jauh merantau, dan karenanya bisa tau banyak hal dan bisa melihat banyak hal. Karena Ibu saya tidak pernah mengatakan hal-hal berikut ini: &#8220;Ah, kamukan perempuan tidak usah sekolah tinggi-tinggi&#8221;, &#8220;sebagai perempuan kamu harus melayani suami&#8221;, dan lain-lain ucapan yang merendahkan anak perempuan dan menghilangkan semangat anak perempuan yang biasa dilakukan oleh <span style="color: #0000ff;"><em>ibu-ibu pemuja phallus</em> </span>(kelamin laki-laki) pada budaya patriarkal.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena masyarakat Minangkabau adalah masyarakat matriarchat terbesar di dunia.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena masyarakat Minangkabau adalah masyarakat matriarchat yang &#8220;termodern&#8221; di dunia.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena masyarakat Minangkabau adalah masyarakat matriarchat yang paling stabil di dunia.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena Minangkabau menjadi lambang perlawanan budaya matriarchat yang diperangi oleh budaya patriarchat selama ribuan tahun.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan-perempuan Minangkabau berhasil bertahan dan selalu melakukan perlawanan atas penindasan dan usaha-usaha memerangi perempuan dan budaya Minangkabau. Sampai sekarang.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan-perempuan Minangkabau memainkan peranan penting dalam melawan arus  kekuatan-kekuatan patriarkal besar dunia, <span style="color: #0000ff;"><em>Hindu</em></span>/<em><span style="color:#ffcc00;"><span style="color: #0000ff;">Budha</span>-<span style="color: #0000ff;">India</span></span></em>, <em><span style="color: #0000ff;">Hindu</span></em>/<span style="color: #0000ff;"><em>Budha</em></span>-<span style="color: #0000ff;"><em>Jawa</em></span>,<em><span style="color:#0000ff;"> Konfusianisme</span></em>/<span style="color: #0000ff;"><em>Budha</em></span>-<span style="color: #0000ff;"><em>Cina</em></span>, <span style="color: #0000ff;"><em>Katolik</em></span>-<span style="color: #0000ff;"><em>Portugis</em></span>, <span style="color: #0000ff;"><em>Budha</em></span>-<span style="color: #0000ff;"><em>Sriwijaya</em></span>,<em><span style="color:#ffcc00;"> <span style="color: #0000ff;">Aceh</span></span></em>-<span style="color: #0000ff;"><em>Islam</em></span>, <span style="color: #0000ff;"><em>Arab</em></span>-<span style="color: #0000ff;"><em>Islam</em></span>, <span style="color: #0000ff;"><em>Kristen</em></span>-<span style="color: #0000ff;"><em>Belanda</em></span>, <span style="color: #0000ff;"><em>Kristen</em></span>-<span style="color: #0000ff;"><em>Inggris</em></span>, <span style="color: #0000ff;"><em>Budha</em></span>-<span style="color: #0000ff;"><em>Jepang</em></span>, <span style="color: #0000ff;"><em>Kristen</em></span>/<span style="color: #0000ff;"><em>Globalisasi</em></span>/<em><span style="color:#ffcc00;"><span style="color: #0000ff;">Kapitalisme</span> <span style="color: #0000ff;">Turbo</span></span></em>-<span style="color: #0000ff;"><em>Amerika Serikat</em></span>/<span style="color: #0000ff;"><em>Inggris</em></span> serta<em><span style="color: #0000ff;"> Kristen</span></em>/<span style="color: #0000ff;"><em>Misionaris Barat</em></span>.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan-perempuan Minangkabau memainkan peranan penting dan sangat berpengaruh di Indonesia (dalam arti yang baik tentunya) dalam bidang budaya, bahasa, sastra, politik, sejarah, pers, gastronomi, dan lain sebagainya, walaupun di dalam pemberitaan atau buku sejarah Indonesia hampir tidak disebutkan.Perempuan Minangkabau hilang dari lembaran-lembaran pemberitaan dan sejarah Indonesia lewat jawanisasi, Islamisasi, Arabisasi, Eropaisasi dan maskulinisasi sejarah.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabaulah yang menjadi teladan bagi banyak gadis-gadis remaja di Indonesia untuk menggeluti dunia pertelevisian yaitu <span style="color:#ff0000;">Desi Anwar</span> yang menjadi presenter pertama perempuan dalam sebuah stasium televisi swasta pertama di Indonesia yaitu <em><span style="color:#ffcc00;"><span style="color: #0000ff;">RCTI</span>.</span></em></li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena walaupun banyak budaya-budaya patriarkal yang masuk dan mempengaruhi budaya Minangkabau, perempuan-perempuan Minangkabau tidak pernah kekurangan tokoh laki-laki yang memberitakan dan mendorong peran perempuan Minangkabau dalam masyarakat, seperti <em><span style="color:#ff0000;">Tan Malaka</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">A.A. Navis</span></em><em></em> dan lain-lain para cerdik pandai Minangkabau laki-laki lainnya.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Walaupun sepertinya terpinggirkan dan tidak dikenal jasa-jasanya di Indonesia dibandingkan dengan kaum laki-lakinya karena<span style="color: #0000ff;"> <em>maskulinisasi sejarah</em> </span>dan pemberitaan, perempuan Minangkabau tetap memainkan peranan penting sampai saat kini. Malah abad ke-21 tampaknya melambangkan kebangkitan kaum perempuan Minangkabau dengan munculnya tokoh-tokoh perempuan baru di ranah masyarakat.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Peran perempuan Minangkabau mengalami pasang surut, karena datangnya pengaruh dan penindasan budaya patriarkal baik lokal maupun dunia, akan tetapi perempuan-perempuan Minangkabau terus melawannya dan berhasil menghalau pengaruh-pengaruh buruk yang selalu bertujuan sama yaitu menindas dan menghilangkan peran perempuan Minang sebagai <em><span style="color:#ff0000;">Bunda</span></em> (baca: penghasil generasi baru manusia) dan dalam masyarakat.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Mengatakan bahwa semua perempuan Indonesia bernasib sama atau seluruh perempuan di dunia bernasib sama adalah pernyataan tanpa dasar yang tidak berdasar pada kaji yang lengkap. Perempuan Minangkabau serta perempuan-perempuan dalam budaya matriarkal lainnya jelas tidak bernasib sama dengan perempuan-perempuan <span style="color: #0000ff;"><em>Jawa</em></span>/<span style="color: #0000ff;"><em>Barat</em></span>/<span style="color: #0000ff;"><em>Arab Saudi</em></span>. Menyamaratakan segala sesuatu adalah hal yang berbahaya dan tidak bertanggung jawab. Tolok ukur barat tidak bisa dipakai untuk menilai peran serta dan keadaan perempuan pada budaya-budaya <span style="color: #0000ff;"><em>non-Barat</em></span> seperti budaya Minangkabau. Perempuan Minangkabau, sebelum tolok ukur barat dijadikan sebagai penafsir &#8220;kemajuan perempuan&#8221;, selalu memainkan peranan penting dalam masyarakat dan melakukan segala jenis pekerjaan yang ada di masyarakat Minang &#8220;tradisional&#8221; kala itu.</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><em>Tulisan ini saya persembahkan bagi Niniak, Uwo, Bunda, Etek, kakak perempuan kontan saya, dunsanak-dunsanak perempuan saya yang lain, kawan-kawan perempuan saya serta para Bundo Kanduang dan para Niniak yang telah berusaha merajut hubungan keluarga besar di rumah gadang dan kaum.</em></span></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://www.varajambak.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.varajambak.com/2009/03/21/saya-bangga-jadi-perempuan-minangkabau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Zeitgeist-the movie</title>
		<link>http://www.varajambak.com/2009/02/04/zeitgeist-the-movie/</link>
		<comments>http://www.varajambak.com/2009/02/04/zeitgeist-the-movie/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Feb 2009 19:28:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Patriarchaat]]></category>
		<category><![CDATA[9/11]]></category>
		<category><![CDATA[agama langit]]></category>
		<category><![CDATA[agama-agama masyarakat patriarchat]]></category>
		<category><![CDATA[agama-agama patriarchat]]></category>
		<category><![CDATA[astrologi]]></category>
		<category><![CDATA[bapak-bapak penguasa dunia]]></category>
		<category><![CDATA[budaya matriarchat Arab]]></category>
		<category><![CDATA[Budha]]></category>
		<category><![CDATA[Bunda]]></category>
		<category><![CDATA[ciri-ciri budaya patriarchat]]></category>
		<category><![CDATA[Dewa/Tuhan]]></category>
		<category><![CDATA[divide and conquer]]></category>
		<category><![CDATA[evolusi agama-agama patriarkat]]></category>
		<category><![CDATA[global village]]></category>
		<category><![CDATA[heaven]]></category>
		<category><![CDATA[Himmel]]></category>
		<category><![CDATA[Hindu]]></category>
		<category><![CDATA[Inggris]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jerman]]></category>
		<category><![CDATA[kartel perbankan internasional]]></category>
		<category><![CDATA[kekaisaran Romawi]]></category>
		<category><![CDATA[Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat matriarchat dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Matriarchat]]></category>
		<category><![CDATA[Mesir Kuno]]></category>
		<category><![CDATA[mikrochip RFID]]></category>
		<category><![CDATA[pandangan hidup patriarchat]]></category>
		<category><![CDATA[patriarch]]></category>
		<category><![CDATA[pecah-belah dan hancurkan]]></category>
		<category><![CDATA[pemujaan alam/bumi]]></category>
		<category><![CDATA[penguasa budaya patriarchat]]></category>
		<category><![CDATA[peristiwa 11 September]]></category>
		<category><![CDATA[peristiwa 9/11]]></category>
		<category><![CDATA[ritual mencium bumi]]></category>
		<category><![CDATA[Sanskrit]]></category>
		<category><![CDATA[sarugo]]></category>
		<category><![CDATA[sumber kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>
		<category><![CDATA[svarga]]></category>
		<category><![CDATA[Yahudi]]></category>
		<category><![CDATA[Yunani Kuno]]></category>
		<category><![CDATA[Zeitgeist]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://moendg07.wordpress.com/?p=754</guid>
		<description><![CDATA[Berikut bisa disaksikan video dari youtube yang berjudul Zeitgeist yang berkisah mengenai asal-usul agama langit yang merupakan agama-agama masyarakat patriarchat, 9/11, kritik terhadap lembaga-lembaga keagamaan, pandangan hidup Kristen, kartel perbankan internasional dan mengenai perang, perampokan, pembantaian, penghancuran, penindasan, pembunuhan, dan penjajahan yang merupakan ciri-ciri budaya patriarchat yang bertumpu pada cara-cara divide and conquer (pecah-belah dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Berikut bisa disaksikan video dari <span style="color:#ffcc00;"><span style="color:#ffcc00;"><a href="http://www.youtube.com"><em>youtube</em></a></span> </span>yang berjudul <strong><span style="color:#ff0000;">Zeitgeist</span></strong> yang berkisah mengenai asal-usul agama langit yang merupakan <span style="color:#ff0000;"><em>agama-agama masyarakat patriarchat</em></span>, <em><span style="color:#ff0000;">9/11</span></em>, kritik terhadap lembaga-lembaga keagamaan, pandangan hidup <em><span style="color:#ff0000;">Kristen</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">kartel perbankan internasional</span></em> dan mengenai perang, perampokan, pembantaian, penghancuran, penindasan, pembunuhan, dan penjajahan yang merupakan <span style="color: #ff9900;"><a href="http://moendg07.wordpress.com/2008/06/24/ciri-ciri-masyarakat-patriarchal/">ciri-ciri budaya patriarchat</a></span> yang bertumpu pada cara-cara <em><span style="color:#ff0000;">divide and conquer</span></em> (pecah-belah dan hancurkan).</p>
<p style="text-align: center;"><object width="425" height="344"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/UHiuaGJ46zo&#038;hl=de&#038;fs=1"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/UHiuaGJ46zo&#038;hl=de&#038;fs=1" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="344"></embed></object></p>
<p style="text-align: justify;"><em><span style="color:#ff0000;">Agama langit</span></em> adalah penyembahan benda-benda langit yang bertumpu pada ilmu mengenai benda-benda langit (<em><span style="color:#ff0000;">astrologi</span></em>). <em><span style="color:#ff0000;">Surga</span></em> atau <span style="color:#ff0000;"><em>sarugo</em></span> (Minang) dalam bahasa Inggris adalah <span style="color: #0000ff;"><em>heaven</em></span> yang berarti langit dan dalam bahasa Jerman <span style="color: #0000ff;"><em>Himmel</em> </span>yang juga berarti langit. Kata <em><span style="color:#ff0000;">surga</span></em> sendiri berasal dari bahasa<span style="color: #0000ff;"> <em>sanskrit</em></span> <strong><span style="color:#ff0000;">svarga </span></strong>yang juga berarti langit. Bahasa <em><span style="color:#ff0000;">Sanskrit</span></em> itu sendiri adalah bahasa yang dipakai oleh agama <em><span style="color:#ff0000;">Hindu</span></em>/<em><span style="color:#ff0000;">Budha India</span></em>. Di video ini dijelaskan mengenai <em><span style="color:#ff0000;">evolusi agama-agama patriarkat</span></em> dari penyembahan benda-benda langit terutama matahari dari masa <em><span style="color:#ff0000;">Mesir Kuno</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Yahudi, </span></em><em><span style="color:#ff0000;">Kristen</span></em> (yang dimulai pada masa <em><span style="color:#ff0000;">kekaisaran Romawi</span></em>), sampai sekarang.</p>
<p style="text-align: justify;">Di film dijelaskan mengenai bagaimana para <em><strong><span style="color:#ff0000;">patriarch</span></strong></em> (<span style="color: #0000ff;"><em>bapak-bapak penguasa dunia</em></span>) merencanakan peristiwa peledakan gedung <em><span style="color:#ff0000;">WTC</span></em> atau yang lebih dikenal sebagai <em><span style="color:#ff0000;">peristiwa 9/11</span></em> (<em><span style="color:#ff0000;">peristiwa 11 September</span></em>).</p>
<p style="text-align: justify;">Lebih lanjut lagi dijelaskan bagaimana <em><span style="color:#ff0000;">globalisasi</span></em> atau pembentukan satu pemerintahan dunia di bawah para <em><span style="color:#ff0000;">patriarch </span></em>(<span style="color: #0000ff;"><em>penguasa budaya patriarchat</em></span>) yang utamanya terdiri dari para <em><span style="color:#ff0000;">patriarch</span></em> daripada <em><span style="color:#ff0000;">kartel perbankan internasional</span></em> dengan tujuan akhir: kendali mutlak atas tiap manusia di dunia lewat penguasaan media dan cuci otak lewat televisi serta penanaman <strong><em><span style="color:#ff0000;">mikrochip RFID</span></em></strong> (<span style="color: #0000ff;"><em>Radio  Frequency Identification</em></span>) di tubuh tiap anggota masyarakat desa dunia atau yang lebih dikenal lewat jargon <strong><em><span style="color:#ff0000;">global village</span></em></strong>.</p>
<p style="text-align: justify;">Agama <em><span style="color:#ff0000;">Islam</span></em> dalam hal ini tidaklah merupakan <em><span style="color:#ff0000;">agama langit</span></em> sepenuhnya melainkan merupakan campuran daripada <span style="color:#ff0000;"><em>agama-agama</em></span> atau <em><span style="color:#ff0000;">pandangan hidup patriarchat</span></em> dan <em><span style="color:#ff0000;">budaya matriarchat Arab</span></em>, karena pada saat masyarakat Eropa telah lama menganut budaya patriarchat seperti di <em><span style="color:#ff0000;">Yunani Kuno</span></em> dan <em><span style="color:#ff0000;">kekaisaran Romawi</span></em>, masyarakat Arab masih berbudaya <em><span style="color:#ff0000;">matriarchat</span></em>. <em><span style="color:#ff0000;">Masyarakat Arab</span></em> pada masa itu sebagaimana layaknya <em><span style="color:#ff0000;">masyarakat matriarchat dunia</span></em> lainnya memuja <em><span style="color:#ff0000;">alam</span></em>/<span style="color:#ff0000;"><em>bumi</em></span> bukan sebagai Dewa/Tuhan yang bersifat menghukum melainkan alam/bumi yang merupakan <em><span style="color:#ff0000;">sumber kehidupan</span></em> yang memberi segalanya untuk manusia sebagaimana layaknya <strong><span style="color:#ff0000;">Bunda</span></strong> yang menyayangi seluruh anak-anaknya dan yang memberikan segala yang dibutuhkan oleh anak-anaknya. Oleh karena itulah masih banyak ajaran-ajaran dalam <em><span style="color:#ff0000;">Islam</span></em> ataupun pandangan-pandangan hidup dalam Islam yang sama dan mirip-mirip dengan pandangan hidup masyarakat <span style="color:#ff0000;"><em>matriarchat</em></span>. <span style="color:#ff0000;">Ritual mencium tanah</span>/<em><span style="color:#ff0000;">bumi</span></em> pada saat sembahyang adalah ritual yang biasa dilakukan oleh masyarakat Arab sebelum pengaruh dari <em><span style="color:#ff0000;">agama-agama</span></em>/<em><span style="color:#ff0000;">pandangan hidup patriarchat</span></em> seperti <em><span style="color:#ff0000;">Yahudi</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Nasrani</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Yunani Kuno</span></em> dan lainnya datang dan menguasai tanah Arab.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff9900;"><em>Catatan:</em></span></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><em>Walaupun video ini berbahasa Inggris dan pembaca tidak menguasai bahasa Inggris, dicoba saja untuk menontonnya. Bisa diulang bagian mana yang tidak terlalu mengerti. Kalau memang sudah berusaha, dan tetap tidak mengerti, bisa dituliskan di komentar, pada menit ke berapa sampai menit ke berapa yang pembaca tidak bisa mengerti. Saya akan tuliskan ringkasannya. Selamat menonton <img src='http://www.varajambak.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </em></span></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://www.varajambak.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.varajambak.com/2009/02/04/zeitgeist-the-movie/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
