<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Vara Jambak &#187; Pramudya Ananta Tour</title>
	<atom:link href="http://www.varajambak.com/tag/pramudya-ananta-tour/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.varajambak.com</link>
	<description>On Minangkabau, matriarchy, Islam, patriarchy, politics and culture</description>
	<lastBuildDate>Wed, 28 Jul 2010 14:34:35 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<!-- podcast_generator="podPress/8.8" -->
		<copyright>&#xA9; </copyright>
		<managingEditor>vjambak@varajambak.com ()</managingEditor>
		<webMaster>vjambak@varajambak.com()</webMaster>
		<category></category>
		<itunes:keywords></itunes:keywords>
		<itunes:subtitle></itunes:subtitle>
		<itunes:summary>On Minangkabau, matriarchy, Islam, patriarchy, politics and culture</itunes:summary>
		<itunes:author></itunes:author>
		<itunes:category text="Society &amp; Culture"/>
		<itunes:owner>
			<itunes:name></itunes:name>
			<itunes:email>vjambak@varajambak.com</itunes:email>
		</itunes:owner>
		<itunes:block>No</itunes:block>
		<itunes:explicit>no</itunes:explicit>
		<itunes:image href="http://www.varajambak.com/wp-content/plugins/podpress/images/powered_by_podpress_large.jpg" />
		<image>
			<url>http://www.varajambak.com/wp-content/plugins/podpress/images/powered_by_podpress.jpg</url>
			<title>Vara Jambak</title>
			<link>http://www.varajambak.com</link>
			<width>144</width>
			<height>144</height>
		</image>
		<item>
		<title>Jilat-jilat Pantat SBY-Boediono dan Akhir Karir Tidak Terhormat Goenawan Mohamad</title>
		<link>http://www.varajambak.com/2009/12/09/jilat-jilat-pantat-sby-boediono-dan-akhir-karir-tidak-terhormat-goenawan-mohamad/</link>
		<comments>http://www.varajambak.com/2009/12/09/jilat-jilat-pantat-sby-boediono-dan-akhir-karir-tidak-terhormat-goenawan-mohamad/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Dec 2009 13:12:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[anti-komunisme]]></category>
		<category><![CDATA[AS]]></category>
		<category><![CDATA[Bank Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[BI]]></category>
		<category><![CDATA[Boediono]]></category>
		<category><![CDATA[Bondan Gunawan]]></category>
		<category><![CDATA[Bung Karno]]></category>
		<category><![CDATA[Christianto Wibisono]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Frans Aba MA]]></category>
		<category><![CDATA[GMNI]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[IMF]]></category>
		<category><![CDATA[IMF/World Bank]]></category>
		<category><![CDATA[imperialisme]]></category>
		<category><![CDATA[Marsilam Simanjuntak]]></category>
		<category><![CDATA[Marxisme]]></category>
		<category><![CDATA[National University of Malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[pasangan pilkada Jawa Timur]]></category>
		<category><![CDATA[pemuja Barat]]></category>
		<category><![CDATA[Pramudya Ananta Tour]]></category>
		<category><![CDATA[Robert Tantular]]></category>
		<category><![CDATA[SBY]]></category>
		<category><![CDATA[SBY-Boediono]]></category>
		<category><![CDATA[skandal Bank Century]]></category>
		<category><![CDATA[Susilo Bambang Yudhoyono]]></category>
		<category><![CDATA[Washington DC]]></category>
		<category><![CDATA[World Bank]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.varajambak.com/?p=1565</guid>
		<description><![CDATA[


Berikut essay dari pendukung fanatik SBY dan Boediono sejak pilpres lalu, Goenawan Mohamad. Goenawan Mohamad adalah orang Jawa pendukung fanatik pasangan pilkada Jawa Timur yang dikenal sebagai SBY-Boediono. Goenawan Mohamad mulai dikenal sebagai &#8220;intelektual&#8221; pada akhir zaman Sukarno dan di zaman Suharto karena posisinya sebagai tokoh kanan, dan tokoh anti-komunisme yang kebetulan  segaris dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:center;margin: 12px;"><script type="text/javascript"><!--
google_ad_client = "pub-4808480940768749";
/* 468x60, created 4/9/09 */
google_ad_slot = "2872038909";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//-->
</script>
<script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js">
</script></div><p style="text-align:justify;">Berikut essay dari pendukung fanatik <em><span style="color:#ff0000;">SBY</span></em> dan <em><span style="color:#ff0000;">Boediono</span></em> sejak pilpres lalu,<em><span style="color:#ff0000;"> Goenawan Mohamad</span></em>. Goenawan Mohamad adalah <span style="color: #0000ff;"><em>orang Jawa</em></span> pendukung fanatik<em><span style="color:#ffcc00;"> <span style="color: #0000ff;">pasangan pilkada Jawa Timur</span></span></em> yang dikenal sebagai<em><span style="color:#ff0000;"> SBY-Boediono</span></em>. Goenawan Mohamad mulai dikenal sebagai &#8220;intelektual&#8221; pada akhir zaman <em><span style="color:#ff0000;">Sukarno</span></em> dan di zaman <em><span style="color:#ff0000;">Suharto</span></em> karena posisinya sebagai tokoh kanan, dan tokoh <em><span style="color:#ff0000;">anti-komunisme</span></em> yang kebetulan  segaris dengan kebijakan Suharto yang &#8220;anti komunisme&#8221;. Tulisan kedua dari <span style="color: #0000ff;"><em>inilah.com</em></span> memuat skenario penyelamatan Boediono oleh tokoh pemuja Barat Goenawan Mohamad lewat tangan <em><span style="color:#ff0000;">IMF</span></em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika banyak kelompok menyebut orang-orang beragama sebagai &#8220;kanan&#8221;, maka Goenawan Mohamad yang disebut oleh <em><span style="color:#ff0000;">Pramudya Ananta Tour</span></em> sebagai &#8220;kanan&#8221;, adalah tokoh &#8220;kanan&#8221; dalam arti lainnya yaitu <span style="color: #0000ff;"><em>pemuja Barat</em></span> terutama AS.</p>
<p style="text-align:justify;">Pidato Goenawan ini, tidak jelas ujung pangkalnya walaupun penuh kata-kata keren dan berbunga seperti <em><span style="color:#ff0000;">Marxisme </span></em>dan <em><span style="color:#ff0000;">imperialisme</span></em> ataupun kata-kata Inggris seperti <span style="color: #0000ff;"><em>vote-getter</em> </span>ataupun <span style="color: #0000ff;"><em>last but not least</em></span> (yang bagi seorang pemuja Barat kurang afdol kalau tidak diselipkan satu atau dua). Pidato ini juga hampir hanya berisi hanya puja-puji dan pembelaan tanpa dasar, bahkan bernada fanatik, terhadap Boediono dan  SBY.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p style="text-align: center;">
<object width="560" height="340"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/K1wX-cG-cTw&#038;hl=de_DE&#038;fs=1&#038;"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/K1wX-cG-cTw&#038;hl=de_DE&#038;fs=1&#038;" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="560" height="340"></embed></object></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #0000ff;">Goenawan Mohamad, pembela Boediono (dan IMF/World Bank?)</span></p>
<p style="text-align:justify;">***<br />
<span style="color: #0000ff;"><em>Politik 2009, Keganjilan dan Harapan</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Assalamuaikum wr.wb.<br />
Salam sejahtera bagi kita semua.</p>
<p style="text-align:justify;">Merdeka!</p>
<p style="text-align:justify;">Para hadirin sekalian, kita ingat, di gedung ini, antara 22 Agustus sampai dengan 22 Desember di tahun 1930, <em><span style="color:#ff0000;">Bung Karno</span></em> diadili.  Kita tahu, di bangunan yang dulu tempat peradilan negeri kota Bandung ini, Bung Karno membacakan pleidoinya yang kemudian jadi dokumen sejarah perjuangan kemerdekaan nasional:  sebuah teks yang berjudul Indonesia Menggugat.</p>
<p style="text-align:justify;">Teks itu adalah uraian yang tajam dan menggugah hati tentang apa itu “<em><span style="color:#ff0000;">imperialisme</span></em>”,  khususnya “imperialisme” yang membelenggu rakyat Indonesia.  Dalam kesempatan sore ini,  saya tak bermaksud mengulang tesis-tesis termashur itu. Saya hanya ingin memakai kejadian 79 tahun yang silam itu untuk jadi pangkal percakapan tentang apa yang melibatkan perhatian kita di Indonesia hari ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Hari-hari ini adalah hari-hari pemilihan umum: kita hampir rampung menyelesaikan pemilihan anggota dewan legislatif, dan kita sedang akan memasuki tahap awal pemilihan presiden Republik dan wakilnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi yang penting bukan itu semata-mata.  Kita bertemu di sini karena kita merasa sesuatu yang ganjil tengah terjadi.  Sesuatu yang ganjil dan mengandung harap.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang ganjil adalah bahwa hari ini kita menemukan seorang yang akan dicalonkan jadi wakil presiden – dan orang itu tidak datang dari kancah partai politik.</p>
<p style="text-align:justify;">Boediono – tamu kehormatan kita sore ini — adalah seorang ekonom; ia ekonom yang bekerja dalam pengelolaan perekonomian Indonesia; ia seorang teknokrat.  Ia bukan pemimpin partai. Ia bukan anggota dinasti pemimpin partai.  Ia bukan tokoh terkenal dalam pasaran media seperti para bintang sinetron, komedian dan penyanyi. Ia bukan seorang vote-getter.</p>
<p style="text-align:justify;">Presiden <em><span style="color:#ff0000;">Susilo Bambang Yudhoyono</span></em> memilihnya sebagai calon wakilnya karena Boediono  memenuhi sejumlah syarat.  Bagi saya, yang lebih penting ketimbang syarat-syarat itu adalah kenyataan bahwa Boediono dikenal sebagai seorang yang telah membuktikan dedikasinya untuk perbaikan kehidupan perekonomian bangsa;  dan tak kurang dari itu, ia dikenal sebagai seorang pejabat dan pribadi yang bersih.</p>
<p style="text-align:justify;">Di atas saya sebut, itulah sebuah “keganjilan” – dan di atas saya sebut juga, “keganjilan” itu membawa harap. Diakui atau tidak, ada yang merisaukan dalam kegaliban kehidupan politik kita. Kini <em><span style="color:#ff0000;">SBY</span></em>, dengan memilih Boediono, menunjukkan langkah kepemipinan yang berani – dan itu indikasi bahwa kita, sebagai bangsa, sanggup memperbaiki keadaan yang merisaukan itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Telah luas diketahui, hari-hari ini orang berpolitik dengan semacam sinisme yang gelap: di sebuah zaman ketika semua dapat diperjual-belikan,  orang cenderung percaya bahwa  bahkan partai harus juga dianggap sebagai komoditi.</p>
<p style="text-align:justify;">Para calon anggota legislatif yang berkampanye ke daerah bisa bercerita, bagaimana ratusan juta rupiah dihabiskan untuk memperoleh suara. Sebaliknya  ada juga cerita bagaimana para pemilih mengorgansiir  diri jadi kelompok dan menawarkan dukungan agar dibeli.</p>
<p style="text-align:justify;">Walhasil, ikatan yang terjadi bukanlah ikatan agenda dan cita-cita, melainkan ikatan antara penjaja dan pembeli.</p>
<p style="text-align:justify;">Di tingkat elite politik, sinisme yang lebih gelap  berlaku.  Koalisi antarpartai dibentuk atau ditiadakan bukan berdasarkan program ataupun ideologi, bukan karena apa yang akan diperbuat bagi pemilih dan dengan prinsip yang jelas.  Koalisi antar partai hampir sepenuhnya berkisar di sekitar kedudukan apa untuk siapa. Atau, lebih buruk lagi, rembugan koalisi berkisar di sekitar siapa yang membayar dan siapa yang dibayar.</p>
<p style="text-align:justify;">Di tengah sinisme itu, di antara berisiknya tawar menawar yang seperti pasar ternak itu, pertanyaan pun tumbul:  memang tidak adakah perilaku yang bukan jual-beli dalam politik? Adakah dalam politik prinsip tentang kebaikan dan kebenaran Benarkah semuanya untuk kepentingan subyektif, dan tak ada sesuatu nilai universal yang menggugah hati dan membentuk kesepakatan?</p>
<p style="text-align:justify;">Saudara Boediono dan hadirin yang saya hormati.</p>
<p style="text-align:justify;">79 tahun yang lalu, di ruangan ini, Bung Karno memulai pleidoinya dengan sebuah statement yang menarik.  Sebuah statement yang menunjukkan betapa bisa palsunya klaim pemerintah kolonial, bahwa kebenaran dan keadilan yang hendak ditegakkannya – dalam tubuh hukum – adalah kebenaran dan keadilan yang universal.</p>
<p style="text-align:justify;">Bung Karno menyebut apa yang salah dalam hukum yang dipergunakan hari itu.  “Tuan-tuan Hakim”, katanya, “kami di sini didakwa bersalah menjalankan hal-hal, yang sangat sekali memberi kesempatan lebar pada pendapat subyektif….”</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun jaksa menyatakan Bung Karno bersalah berdasarkan pasal tentang “pemberontakan”.  Tapi Bung Karno menunjukkan, pasal itu, seperti pasal yang menyebut diri “pencegah penyebaran rasa benci” (haatzai-artikelen), mengandung kata-kata yang bisa ditafsirkan seenaknya oleh yang membacanya, terutama para jaksa dan hakim kolonial.  Bung Karno mengulang apa yang sering dikatakan tentang pasal-pasal seperti itu – yakni “aturan karet yang keliwatan kekaretannya.”  Artinya aturan yang dapat direntang dan dikerutkan sesuai dengan kepentingan sepihak, atau apa yang disebut Bung Karno sebagai “subyektif”.</p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang tersirat dari pernyataan Bung Karno ialah bahwa keadilan dan kebenaran, yang seharusnya bersifat universal, telah direduksi jadi pasal-pasal.  Dengan kata lain,  yang universal, yang tak terhingga, telah dikuasai oleh bahasa yang berkuasa, oleh sistem simbolik yang terbatas kepentingannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka Bung Karno pada akhirnya dinyatakan bersalah.  Ia dihukum empat tahun penjara dan dikurung di Sukamiskin.  Tapi tak mudah menerima keputusan itu sebagai ekspresi keadilan.  Pada saat palu diketuk, terasa benarlah  apa yang selalu ditandaskan oleh <em><span style="color:#ff0000;">Marxisme</span></em> – bahwa keadilan dan kebenaran selamanya adalah keadilan dan kebenaran dari kelas yang bekrkuasa. Dengan kata lain, dalam rumusan tentang nilai-nilai selalu ada dimensi politik, pertarungan kekuasaan, dan perebutan hegemoni.</p>
<p style="text-align:justify;">Memang, Marxisme adalah suara jaman modern, bagian dari apa yang disebut hermeneutics of suspiscion, yang meragukan bahwa ada kebenaran yang tak memihak, yang tak subyektif.   Tetapi harus pula diingat, bahwa bahkan dalam Marxisme, kita senantiasa dirundung pertanyaan: benarkah politik hanyalah pergulatan kepentingan “subyektif” atau sepihak? Jika demikian, apa makna perjuangan kaum buruh untuk membebaskan manusia dari ikatan kepentingan kelas-kelas? Bila perjuangan politik tak bisa berangkat dari kebenaran dan keadilan yang berlaku bagi siapa saja, bagaimana ia bisa menggugah banyak orang, mengajak banyak orang, untuk bergerak?</p>
<p style="text-align:justify;">Saya termasuk orang yang percaya, bahwa perjuangan politik justru perjuangan yang terdorong untuk melawan kepentingan-kepentingan yang sempit.  Politik  jelas berbeda dari  pasar ternak.  Ada yang universal dalam nilai-nilai yang membuat kita memenuhi panggilan politik.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi yang universal bukanlah sesuatu yang sudah dirumuskan sepenuhnya. Menurut hemat saya, yang universal adalah apa yang justru dirasakan sebagai kekurangan.  Keadilan jadi sesuatu yang seakan-akan hadir, memanggil-manggil, ketika ketidak-adilan merajalela.  Kebenaran jadi mendesak semua orang ketika dusta menguasai percakapan.  Dalam Indonesia Menggugat, Bung Karno  mengutarakan ini dengan retorika yang memukau:</p>
<p style="text-align:justify;">….Diberi hak-hak atau tidak diberi hak-hak; diberi pegangan atau tidak diberi pegangan; diberi penguat atau tidak diberi penguat, — tiap-tiap machluk, tiap-tiap ummat, tiap-tiap bangsa tidak boleh tidak, pasti achirnja berbangkit, pasti achirnja bangun, pasti achirnja menggerakkan tenaganja, kalau ia sudah terlalu sekali merasakan tjelakanja diri teraniaja oleh suatu daja angkara murka!!”</p>
<p style="text-align:justify;">Kebangkitan mereka yang teraniaya untuk mencapai keadilan dan kebebasan, itulah yang membuat sejarah.  Tapi penting untuk kita ingat, bahwa sejarah tak pernah selesai.</p>
<p style="text-align:justify;">Saudara Boediono dan hadirin yang terhormat,</p>
<p style="text-align:justify;">Kita berada di awal abad ke-21, di sebuah zaman yang mengharuskan kita tabah dan juga berendah hati. Abad yang lalu telah menyaksikan ide-ide besar yang diperjuangkan dengan sungguh-sungguh, namun akhirnya gagal membangun sebuah masyarakat yang dicita-citakan.  Abad yang penuh harapan, tapi juga penuh korban. Abad sosialisme yang datang dengan agenda yang luhur, tapi kemudian melangkah surut.  Abad kapitalisme yang membuat beberapa negara tumbuh cepat, tapi memperburuk ketimpangan sosial dan ketakadilan internasional. Abad Perang Dingin yang tak ada lagi, tapi tapi tak lepas dari  konflik dengan darah dan besi. Abad ketika arus informasi terbuka luas, tapi tak selalu membentuk sikap toleran terhadap yang beda.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan demikian memang sejarah tak berhenti, bahkan berjalan semakin cepat. Teknologi, pengetahuan tentang manusia dan lingkungannya,  kecenderungan budaya dan politik, berubah begitu tangkas,  hingga persoalan baru timbul sebelum jawaban buat persoalan lama ditemukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kini makin jelaslah, tak ada doktrin yang mudah dan mutlak untuk memecahkan problem manusia.  Tak ada formula yang tunggal dan kekal bagi kini dan nanti.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang ada, yang dibutuhkan, justru sebuah sikap yang menampik doktrin yang tunggal dan kekal.  Kita harus selalu terbuka untuk langkah alternatif. Kita harus selalu bersedia mencoba cara yang berbeda, dengan sumber-sumber kreatif yang beraneka.</p>
<p style="text-align:justify;">Saudara Boediono tentu sangat akrab dengan kesadaran itu. Seorang ekonom adalah seorang yang sangat dekat dengan kekurangan dan kelangkaan, dan seorang teknokrat adalah seorang yang harus bersua tiap kali dengan kerumitan.  Itu sebabnya Boediono tahu, doktrin seperti “neo-liberalisme”  tak akan pernah akan berhasil, sebagaimana “ekonomi yang etatis”  tak akan pernah sampai di tujuan.</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi sikap pragmatik itu, sebagai sebuah keniscayaan, tak berarti sikap yang hanya mengutamakan hasil, dan tak mempedulikan nilai-nilai, tak mengacuhkan apa yang baik dan yang benar.  Seorang ekonom, terutama di Indoensia, tak mungkin mengabaikan persoalan  korupsi,  ketidak-adilan dalam aturan main, kemandirian lembaga yudikatif – dan last but not least — modal sosial yang dibangun dari sikap percaya mempercayai di masyarakat.</p>
<p style="text-align:justify;">Modal sosial itu hanya bisa dibangun dengan kesetiaan yang tak habis-habis kepada cita-cita negeri ini – kesetiaan untuk tak mementingkan diri sendiri. Kita berbahagia, dan kita bangga, bahwa di antara kita ada Boediono, yang dalam hidup sehari-harinya tak pernah mementingkan diri sendiri dalam kerja – dengan keras tapi juga dengan rendah hati.</p>
<p style="text-align:justify;">Maafkanlah jika tuntutan kami  berlebihan.  Tapi Indonesia  — yang kadang-kadang membanggakan dan kadang-kadang merisaukan  — bukan hanya tempat kita lahir dan menutup mata.  Indonesia adalah sebuah amanat. Kami percaya, Mas Boed, bersama kami, anda tak akan menyia-nyiakan amanat itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka di ruang ini, di hari ini, izinkanlah kami mengucapkan selamat bertugas.</p>
<p style="text-align:justify;">Merdeka,</p>
<p style="text-align:justify;">Wassalamulaikum wr.wb.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari <a href="http://blog.tempointeraktif.com/portal/pidato-gm-politik-2009-keganjilan-dan-harapan/"><span style="color:#ff00ff;"><em>Tempo Interaktif</em></span></a></p>
<p style="text-align:justify;">***</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color: #0000ff;"><em>Skenario Baru Penyelamatan Boediono-Sri Mulyani!</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"> </span>INILAH.COM &#8211; Berbagai upaya dilakukan oleh kelompok-kelompok kepentingan guna mencegah jangan sampai Wapres <em><span style="color:#ff0000;">Boediono</span></em> mengalami pembatalan akibat <span style="color: #0000ff;">skandal Bank Century</span>.</p>
<p style="text-align:justify;">Aktivis senior <em><span style="color:#ff0000;">Bondan Gunawan</span></em> mengungkapkan, pihaknya mendengar berbagai pertemuan dilakukan oleh kelompok intelektual tertentu untuk menjaga agar <em><span style="color:#ff0000;">Boediono-Sri Mulyani</span></em> tidak dibatalkan dari jabatannya akibat isu Century. &#8220;Saya mendengar <em><span style="color:#ff0000;">Goenawan Mohamad</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Marsilam Simanjuntak</span></em> dan lainnya kumpul-kumpul untuk itu,&#8221; kata mantan sekretaris negara era Presiden <em><span style="color:#ff0000;">Gus Dur</span></em> itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Bahkan ada rumor bahwa seorang jurnalis senior Majalah Mingguan terkemuka melalui Boediono mencoba melobi ke Presiden SBY agar bisa jadi dubes di<em><span style="color:#ffcc00;"> Washington DC</span></em>. &#8220;Jika benar rumor itu, sangat disesalkan, mungkin juga sia-sia. Saya mendengar rumor bahwa jurnalis senior mingguan ibukota itu melobi istana untuk menjadi dubes di Amerika Serikat, guna melobi <em><span style="color:#ff0000;">AS</span></em> dan<em><span style="color:#ff0000;"> IMF/World Bank</span></em> guna membantu Boediono dan Sri Mulyani agar didukung IMF dan AS untuk bertahan. Rumor itu perlu klarifikasi dari beliau sendiri, benar atau tidak. Namun rumor itu merebak di kalangan wartawan dan aktivis prodemokrasi. Kami kecewa, semoga rumor itu tak benar,&#8221; kata <em><span style="color:#ff0000;">Frans Aba MA</span></em>, kandidat PhD <em><span style="color:#ffcc00;">National Universify of Malaysia</span></em> dan aktivis <em><span style="color:#ff0000;">GMNI</span></em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Boediono dan Sri Mulyani merupakan dua pejabat tinggi yang disebut-sebut media, terseret kasus Century. Kesalahan kebijakan terkait pengucuran dana Rp6,7 triliun ke Bank Century bisa saja dimasukkan dalam kategori tindak pidana tetapi keduanya pantas dicopot.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut pengamat ekonomi <em><span style="color:#ff0000;">Chistianto Wibisono</span></em> dalam diskusi publik di Jakarta, Senin (7/12), kondisi Century sebelum diselamatkan sudah penuh dengan masalah, termasuk kasus penipuan yang dilakukan <em><span style="color:#ff0000;">Robert Tantular </span></em>selaku pemilik. Dan dia menilai, <span style="color: #0000ff;"><em>Bank Indonesia</em></span> (<em><span style="color:#ff0000;">BI</span></em>) minim dalam mengawasi pengelolaan bank tersebut. &#8220;Ini ketidaksengajaan dalam pengawasan. BI ketipu sama Robert. Mekanisme pengawasan BI ke depan harus ditingkatkan dan kontinyu,&#8221; ujarnya. [ahl/cms]</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.inilah.com/berita/politik/2009/12/07/207911/skenario-baru-penyelamatan-boediono-sri-mulyani/"><span style="color:#ff00ff;"><em> </em></span></a></p>
<p class="addtoany_share_save_container">
    <a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?sitename=Vara%20Jambak&amp;siteurl=http%3A%2F%2Fwww.varajambak.com%2F&amp;linkname=Jilat-jilat%20Pantat%20SBY-Boediono%20dan%20Akhir%20Karir%20Tidak%20Terhormat%20Goenawan%20Mohamad&amp;linkurl=http%3A%2F%2Fwww.varajambak.com%2F2009%2F12%2F09%2Fjilat-jilat-pantat-sby-boediono-dan-akhir-karir-tidak-terhormat-goenawan-mohamad%2F"><img src="http://www.varajambak.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Save/Bookmark"/></a>

	</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.varajambak.com/2009/12/09/jilat-jilat-pantat-sby-boediono-dan-akhir-karir-tidak-terhormat-goenawan-mohamad/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antara SARA, rasisme dan gugatan terhadap fasisme Jawa</title>
		<link>http://www.varajambak.com/2009/06/07/antara-sara-rasisme-dan-gugatan-terhadap-fasisme-jawa/</link>
		<comments>http://www.varajambak.com/2009/06/07/antara-sara-rasisme-dan-gugatan-terhadap-fasisme-jawa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Jun 2009 13:00:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[anti fasisme Islam]]></category>
		<category><![CDATA[anti fasisme Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[anti Islam]]></category>
		<category><![CDATA[anti Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[anti NKRI]]></category>
		<category><![CDATA[Austronesia]]></category>
		<category><![CDATA[budaya asing]]></category>
		<category><![CDATA[budaya asli]]></category>
		<category><![CDATA[budaya Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Cina Selatan]]></category>
		<category><![CDATA[fasisme Islam]]></category>
		<category><![CDATA[fasisme Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[fasisme Jerman]]></category>
		<category><![CDATA[Fidel Castro]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Jawaisme]]></category>
		<category><![CDATA[jawanisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Jawanisme]]></category>
		<category><![CDATA[Jerman]]></category>
		<category><![CDATA[kebijakan-kebijakan fasis Sukarno]]></category>
		<category><![CDATA[kekiri-kirian]]></category>
		<category><![CDATA[kelompok kiri]]></category>
		<category><![CDATA[kelompok merah]]></category>
		<category><![CDATA[kemerah-merahan]]></category>
		<category><![CDATA[kiri]]></category>
		<category><![CDATA[Lenin]]></category>
		<category><![CDATA[Mao Zedong]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat majemuk]]></category>
		<category><![CDATA[matriarchal]]></category>
		<category><![CDATA[Menuju Republik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[merah]]></category>
		<category><![CDATA[Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[multi-kulti]]></category>
		<category><![CDATA[Naar de Republiek Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Nazisme]]></category>
		<category><![CDATA[Negara Kesatuan Republik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[negara paling rasis]]></category>
		<category><![CDATA[orang Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[orang Papua]]></category>
		<category><![CDATA[oto-kritik]]></category>
		<category><![CDATA[Pandangan hidup]]></category>
		<category><![CDATA[patriarchat]]></category>
		<category><![CDATA[pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[penggugat fasisme Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[penguasa-penguasa fasis]]></category>
		<category><![CDATA[PKI]]></category>
		<category><![CDATA[praktek-praktek fasisme Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Pramudya Ananta Tour]]></category>
		<category><![CDATA[pro PKI]]></category>
		<category><![CDATA[pseudo kiri]]></category>
		<category><![CDATA[pseudo-merah]]></category>
		<category><![CDATA[ras mongoloid]]></category>
		<category><![CDATA[ras negroid]]></category>
		<category><![CDATA[rasis]]></category>
		<category><![CDATA[rasisme]]></category>
		<category><![CDATA[SARA]]></category>
		<category><![CDATA[sentralisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Stalin]]></category>
		<category><![CDATA[Suharto]]></category>
		<category><![CDATA[Sukarno]]></category>
		<category><![CDATA[suku Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Taiwan]]></category>
		<category><![CDATA[Tan Malaka]]></category>
		<category><![CDATA[tatanan politik fasis]]></category>
		<category><![CDATA[tentara fasis Jerman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.varajambak.com/?p=1338</guid>
		<description><![CDATA[Berbicara mengenai fasisme Jawa, yang lebih banyak dikenal sebagai Jawanisme atau Jawaisme di Indonesia, adalah suatu keharusan dan tanggung jawab moral bagi seluruh masyarakat Indonesia. Gugatan kepada fasisme Jawa harus dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab orang Indonesia terhadap korban-korban daripada fasisme Jawa itu sendiri. Selama ini, gugatan terhadap fasisme Jawa ataupun terhadap pelaku daripada tatanan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Berbicara mengenai <em><span style="color:#ff0000;">fasisme Jawa</span></em>, yang lebih banyak dikenal sebagai <em><span style="color:#ff0000;">Jawanisme</span></em> atau <em><span style="color:#ff0000;">Jawaisme</span></em> di Indonesia, adalah suatu keharusan dan tanggung jawab moral bagi seluruh masyarakat Indonesia. Gugatan kepada fasisme Jawa harus dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab orang Indonesia terhadap <em><span style="color: #0000ff;">korban-korban daripada fasisme Jawa</span></em> itu sendiri. Selama ini, gugatan terhadap fasisme Jawa ataupun terhadap pelaku daripada tatanan politik fasis ini dibungkam dengan dalih-dalih ataupun sebutan-sebutan yang telah dikenal oleh banyak orang, yaitu <em><span style="color: #0000ff;">anti Negara Kesatuan Republik Indonesia</span></em> (anti <em><span style="color:#ff0000;">NKRI</span></em>), anti Jawa, <em><span style="color:#ff0000;">SARA</span></em> maupun dengan sebutan rasis.</p>
<p style="text-align:justify;">Tuduhan-tuduhan ini, sebagaimana layaknya tuduhan-tuduhan yang ditimpakan kepada orang-orang yang menggugat <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">penguasa-penguasa fasis</span></em></span> di banyak negara di dunia lainnya, bertujuan untuk membungkam dan menjelek-jelekkan  nama baik orang-orang tersebut. Tuduhan-tuduhan ini juga tidak beralasan dan tidak layak digunakan, karena tidak ada satupun daripada pemakaian daripada tuduhan-tuduhan ini yang sesuai dengan kenyataannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kata <em><span style="color: #ff0000;">rasis</span></em> jelas tidak layak dipakai, karena walaupun orang-orang yang menguggat <em><span style="color:#ff0000;">fasisme Jawa</span></em> ini adalah orang-orang Indonesia dari suku bukan Jawa, mereka tidaklah rasis dan bukan pemuja <em><span style="color: #ff0000;">rasisme</span></em>. Tambahan lagi, penggugat daripada fasisme Jawa ini bukan hanya orang bukan Jawa saja. <span style="color:#ff0000;"><em>Pramudya Ananta Tou</em></span><span style="color:#ff0000;"><em>r</em></span>, seorang sastrawan dan pemikir Jawa, merupakan salah satu <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">penggugat fasisme Jawa</span></em></span> yang disebutnya sebagai <span style="color:#ff0000;"><em>Jawanisme</em></span>. Walaupun pendapat Pramudya mengenai fasisme Jawapun masih agak bias -karena pernyataannya mengenai fasisme Jawa yang seolah-olah terputus pada zaman <span style="color:#ff0000;"><em>Sukarno</em></span>-, Pramudya merupakan salah satu tokoh yang tidak sungkan-sungkan mengkritisi <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">praktek-praktek fasisme Jawa</span></em></span> ini. Selain daripada itu, kata rasis hanya layak dipakai untuk orang-orang yang memang benar-benar berbeda rasnya. Akan tetapi kenyataannya adalah, orang-orang Indonesia apapun sukunya tidaklah berbeda secara ras. Baik orang Jawa maupun orang dari suku-suku lainnya yang bukan Jawa adalah berasal dari dua ras atau yang menjadi satuan utama orang Indonesia, apapun suku bangsanya, yaitu <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">ras mongoloid</span></em></span> -lewat <span style="color: #0000ff;"><em>suku bangsa-suku bangsa Austronesia</em></span> dari daerah yang disebut sebagai Taiwan sekarang ini- dan  <span style="color: #0000ff;"><em>ras negroid</em> </span>(orang kulit hitam yang telah lebih dahulu mendiami alam Indonesia). Banyak dari suku-suku di Indonesia merupakan hasil percampuran daripada kedua ras ini, yang menghasilkan orang-orang Indonesia yang berkulit coklat ataupun sawo matang. Yang membedakan mereka hanyalah budaya asli mereka maupun budaya asing yang datang yang mempengaruhi budaya asli ini, sekaligus seberapa jauh budaya asli ini menggantikan budaya-budaya &#8220;orang asli Indonesia&#8221; ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Orang-orang yang disebut sebagai orang-orang yang <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">anti Negara Kesatuan Republik Indonesia</span></em></span> (<span style="color:#ff0000;"><em>NKRI</em></span>) malahan pada umumnya adalah orang-orang yang sangat peduli dengan keutuhan <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">Republik Indonesia</span></em></span> ini. Contoh nyata adalah orang Minang yang merupakan pendiri daripada Republik Indonesia ini. Kenyataan sejarah daripada peran orang-orang Minang dalam mendirikan Republik Indonesia, <span style="color:#ff0000;"><em>Tan Malaka </em></span>sebagai pendiri dan arsitek daripada Republik Indonesia lewat tulisannya di tahun 1925, yaitu <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">Naar de Republiek Indonesia</span></em></span> (Menuju Republik Indonesia) dan perjuangan-perjuangannya yang hanya berhenti bersama dengan kematiannya, serta peran-peran daripada orang Minang disegala bidang, tidak bisa disangkal dan juga tidak pernah dibantah oleh orang-orang Minang. Orang-orang Minang sangat menyadari akan peran orang-orang tua mereka dulu, baik laki-laki maupun perempuan, demi terwujudnya tatanan masyarakat yang bernama Republik Indonesia. Karena itulah mereka menjadi orang-orang yang merasa paling bertanggung jawab akan kelangsungan Republik Indonesia ini. Lewat gerakan politik Sukarno, mereka dijadikan sebagai &#8220;pemberontak&#8221;, dan dihancurkan semangat politiknya dan semangat untuk membangun masyarakat -yang merupakan ciri utama masyarakat Minangkabau yang matriarchal ini- serta dicemarkan nama baiknya serta identitas kesukuannya. Perempuan-perempuannya diperkosa oleh tentara Sukarno dan lain-lain perbuatan biadab. Istilah NKRI kemudian dijadikan jargon untuk mengesahkan proses <em><span style="color: #ff0000;">sentralisasi</span></em> dan <em><span style="color: #ff0000;">Jawanisasi</span></em>. Kata kesatuan pada NKRI dan kata bersatu hampir selalu diartikan sebagai penyatakan setuju pada praktek-praktek sentralisasi dan <span style="color:#ffcc00;"><span style="color:#ff0000;"><em>Jawanisasi</em></span></span>.</p>
<p style="text-align:justify;">Jargon <span style="color:#ff0000;"><em>SARA</em></span> (suku, agama, ras dan antar golongan) adalah jargon yang dipakai pada zaman kekuasaan <span style="color:#ff0000;"><em>Suharto</em></span> untuk membungkam kelompok oposisi yang menentang kebijakan-kebijakan dan kekejaman rezim orba. Lewat jargon ini, wacana mengeani suku dan agama menjadi tidak dimungkinkan dan terlarang. Padahal wacana dan diskusi mengenai suku, agama dan golongan (kelompok-kelompok dalam masyarakat) adalah sangat penting pada <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">masyarakat majemuk</span></em></span> seperti Indonesia. Kata ras dalam jargon ini jelas tidak layak dipakai karena seperti telah disebut di atas, hanya ada dua ras besar yang menjadi pembentuk masyarakat Indonesia dan sebagian terbesar daripada kedua ras besar ini sudah bercampur menghasilkan manusia-manusia Indonesia baru. Sifat asli masyarakat Indonesia sebenarnya juga tidak membesar-besarkan urusan ras ini. Jargon ini membuat masyarakat Indonesia takut untuk menyebut istilah seperti &#8220;<span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">suku Jawa</span></em></span>&#8220;, &#8220;<span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">orang Jawa</span></em></span>&#8220;, &#8220;<span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">orang Papua</span></em></span>&#8221; dan lain-lain. Padahal istilah-istilah ini dan masyarakat-masyarakat yang mewakilinya ada. Tambahan lagi, wacana maupun pembahasan mengenai istilah-istilah ini adalah sangat penting untuk terciptanya suatu kondisi saling memahami dari satuan-satuan masyarakat yang berbeda yang membentuk keseluruhan masyarakat Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">Tuduhan anti Jawa misalnya adalah salah satu tuduhan yang paling tidak bertanggung jawab. Karena dari arti kata saja sudah berbeda. <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color:#ff0000;">Anti Jawa</span></em></span> dan <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color:#ff0000;">anti fasisme Jawa</span></em></span> adalah dua ungkapan yang berbeda. Menyamakan kedua ungkapan ini adalah sama dengan menyamakan kata &#8220;<span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">Jawa</span></em></span>&#8221; dengan ungkapan &#8220;<span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">fasisme Jawa</span></em></span>&#8220;. Kedua hal ini jelas berbeda. Sebagaimana layaknya <span style="color:#ff0000;"><em>fasisme Jerman</em></span> yang tidak sama dengan <span style="color:#ff0000;"><em>Jerman</em></span> sebagai satuan budaya, ataupun <span style="color:#ff0000;"><em>fasisme Islam</em></span> yang tidak sama dengan <span style="color:#ff0000;"><em>Islam</em></span> yang merupakan satuan budaya/agama, <span style="color:#ff0000;"><em>fasisme Jawa</em></span> sebagai tatanan politik tidak sama dengan <span style="color:#ff0000;"><em>Jawa</em></span> yang merupakan satuan budaya. Anti Jawa jelas tidak sama dengan anti fasisme Jawa sama halnya dengan anti Jerman yang tidak sama dengan anti fasisme Jerman (Nazisme) ataupun anti Islam yang tidak sama dengan anti fasisme Islam.</p>
<p style="text-align:justify;">Orang-orang yang menggugat fasisme Jerman ataupun yang anti fasisme Jerman tidak dapat dikatakan anti Jerman karena mereka umumnya adalah orang Jerman yang mengkritik kebiadaban daripada fasisme Jerman yang dikenal dengan Nazisme ini. Umumnya, mereka adalah orang-orang yang peduli terhadap budaya dan masyarakat Jerman. Demikian pula halnya dengan orang-orang yang menggugat fasisme Islam. Mereka pada umumnya adalah para cerdik pandai dalam ilmu-ilmu <span style="color: #ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">ke-Islam-an</span></em></span> dan mereka juga sangat peduli terhadap negara-negara, budaya dan masyarakat Arab serta negara-negara dan masyarakat dengan pengaruh Islam lainnya yang bukan merupakan negara Arab. Orang-orang yang menggugat fasisme Jawa, justru kebanyakan adalah orang-orang cerdik pandai yang peduli dengan Republik Indonesia dan yang prihatin dengan <span style="color: #ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">korban-korban daripada fasisme Jawa</span></em></span>. Korban&#8211;korban fasisme Jawa tidak hanya terdiri dari orang-orang  dari suku-suku bukan Jawa saja, melainkan<span style="color: #0000ff;"> <em>orang-orang dari suku Jawa</em></span> yang merupakan masyarakat dengan jumlah terbesar di Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">Jawa adalah nama yang terdiri dari satu kata dan berarti secara umum dalam hal ini adalah &#8220;<span style="color: #ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">budaya Jawa</span></em></span>&#8220;. <span style="color: #ff0000;"><em>Fasisme Jawa</em></span> adalah sebuah istilah atau ungkapan yang mempunyai arti suatu <span style="color: #ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">tatanan politik fasis</span></em></span> yang bersumber dari <span style="color: #ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">roh budaya Jawa</span></em></span> ataupun yang lahir dari <span style="color: #ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">kandungan budaya Jawa</span></em></span>, dan yang memakai <span style="color: #ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">simbol-simbol budaya Jawa</span></em></span> dimana kelompok elit kekuasaannya terdiri dari orang Jawa atau orang yang berbudaya Jawa dan yang dalam perkembangannya mendapat pengaruh dan dukungan dari budaya-budaya fasis dunia lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Usaha-usaha untuk <span style="color: #ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">menggugat fasisme Islam</span></em></span> dan fasisme Jerman misalnya telah dilakukan oleh para cerdik pandai dari masing-masing budaya itu sendiri. Di Indonesia, usaha-usaha untuk menggugat<span style="color: #0000ff;"> <em>fasisme Indonesia</em></span> yang dikenal dengan sebutan <span style="color: #ff0000;"><em>Jawanisme</em></span> ini hampir selalu menemui jalan buntu. Seandainyapun dilakukan, orang-orang yang berusaha untuk melakukannya dikenai tuduhan dan gelar sebagai penghianat negara dan bangsa, orang yang rasis, anti Jawa, SARA, maupun anti NKRI. Salah satunya yang telah melakukan gugatan terhadap fasisme Jawa seperti telah disinggung sebelumnya adalah Pramudya Ananta Tour. Itupun masih bias, karena Pramudya sebagaimana banyak orang-orang <span style="color:#ff0000;"><em>PKI</em></span> ataupun <span style="color:#ff0000;"><em>pro PKI</em></span> pada zaman <span style="color:#ff0000;"><em>Sukarno</em></span> adalah orang-orang yang memuja Sukarno. Bagi Pramudya, masa fasisme Jawa terputus pada masa Sukarno dan dilanjutkan kembali pada masa Suharto. Suatu analisis tidak jujur dan tidak bijaksana.  Pendapat Pramudya ini jelas-jelas menyimpang karena Suharto jelas-jelas hanya melanjutkan dan menyempurnakan <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">kebijakan-kebijakan fasis Sukarno</span></em></span>. Mengenai Pramudya dan fasisme Jawa bisa dibaca pada tulisan terdahulu mengenai <span style="color:#ff00ff;">fasisme Jawa</span>.</p>
<p style="text-align:justify;">Walaupun Sukarno adalah seorang fasis, ia dilihat sebagai orang suci tanpa cela oleh orang-orang pro PKI, orang-orang PKI ataupun orang-orang yang mengaku dirinya sebagai &#8220;<em><span style="color: #0000ff;">kelompok kiri</span></em>&#8220;. Hal ini bukanlah hal yang aneh, karena itu adalah kecenderungan para &#8220;cerdik pandai&#8221; yang termasuk ke dalam &#8220;kelompok kiri&#8221;. Banyak orang-orang &#8220;kelompok kiri&#8221; adalah juga pemuja fanatik daripada diktator-diktator &#8220;kiri&#8221;, &#8220;merah&#8221;, &#8220;kekiri-kirian&#8221;, &#8220;pseudo kiri&#8221;, &#8220;pseudo merah&#8221; ataupun &#8220;kemerah-merahan&#8221; seperti <span style="color:#ff0000;"><em>Mao Zedong</em></span>, <span style="color:#ff0000;"><em>Lenin</em></span>, <span style="color:#ff0000;"><em>Stalin</em></span>, <span style="color:#ff0000;"><em>Sukarno</em></span>, ataupun <span style="color:#ff0000;"><em>Fidel Castro</em></span>.</p>
<p style="text-align:justify;">Masyarakat Jerman telah melakukan kritisi terhadap fasisme Jerman yang dikenal sebagai Nazisme ini. Ribuan laporan yang berupa tulisan, buku, film dokumenter, acara televisi dan lainnya dibuat, didiskusikan, diseminarkan dan diperdebatkan, oleh orang-orang Jerman sendiri sebagai bentuk <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">oto-kritik</span></em></span>. Bahkan oleh orang-orang Jerman yang merupakan bekas <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">tentara fasis Jerman</span></em></span>, orang-orang yang menjadi korban daripada Nazisme, orang-orang yang dahulunya dikenal sebagai kelompok rasis yang menjadi pendukung Nazisme itu sendiri maupun para cerdik pandai Jerman dari segala bidang. Jerman <span style="color: #000000;">boleh disebut sebagai berhasil, dalam usaha otokritiknya ini. Jerman yang dulu ditakuti sebagai <em>&#8220;</em></span><span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">negara paling rasis</span></em></span>&#8221; di dunia, kini boleh dikatakan menjadi negara yang telah sedikit banyaknya menghargai keragaman budaya atau yang berdasarkan istilah Jerman dikenal sebagai &#8220;<span style="color:#ff0000;"><em>multi-kulti</em></span>&#8221; (beragam budaya).</p>
<p style="text-align:justify;">Kemajuan diperoleh dari kemauan melakukan otokritik. Indonesia tampaknya bisa mencontoh Jerman untuk melakukan otokritik ini. Tidak ada yang perlu ditabukan untuk dibicarakan selagi hal itu menyangkut hajat hidup dan kemaslahatan orang banyak di Indonesia, termasuk kesalahan-kesalahan politik  dan kekejaman-kekejamandari tokoh-tokoh politik di masa lalu. Dan penulis yakin, orang Indonesia bisa melakukannya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">Catatan:</span></em></span></p>
<p style="text-align: justify;">Asal-usul mengenai masyarakat Indonesia, masih harus ditelusuri lebih lanjut. Versi terakhir adalah suku bangsa-suku bangsa Austronesia dari Taiwan serta suku bangsa-suku bangsa Melanesia yang mendiamai daerah Timur Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">Pandangan mengenai ras sebenarnya sudah tidak relefan di zaman sekarang. Ilmu genetika telah menjawab hal-hal mengenai warna kulit, warna mata, warna rambut  dan lainnya yang selama ini dipakai sebagai dasar dari &#8220;teori ras&#8221;. Rambut pirang dan mata biru, mata hijau ataupun mata coklat muda, tidaklah melulu milik orang yang disebut sebagai &#8220;ras caucasoid&#8221;  atau &#8220;ras orang kulit putih&#8221;; melainkan juga milik orang yang dikenal sebagai &#8220;ras negorid&#8221; dan &#8220;ras mongoloid&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Tulisan ini adalah tulisan ketiga dari rangkaian tulisan mengenai fasisme Jawa. Baca juga tulisan terkait:</p>
<ul> <a href="http://www.varajambak.com/2009/03/05/fasisme-jawa-bagian-1/"></a></p>
<li><a href="http://www.varajambak.com/2009/03/05/fasisme-jawa-bagian-1/"><em><span style="color:#ff00ff;">Fasisme Jawa-Bagian 1</span></em></a></li>
</ul>
<ul> <a href="http://www.varajambak.com/2009/05/21/fasisme-jawa-bagian-2/"></a></p>
<li><a href="http://www.varajambak.com/2009/05/21/fasisme-jawa-bagian-2/"><em><span style="color:#ff00ff;">Fasisme Jawa-Bagian 2</span></em></a></li>
</ul>
<ul> <a href="http://www.varajambak.com/2009/05/09/hubungan-cinta-antara-laki-laki-dan-perempuan-dalam-masyarakat-minangkabau/"></a></p>
<li><a href="http://www.varajambak.com/2009/05/09/hubungan-cinta-antara-laki-laki-dan-perempuan-dalam-masyarakat-minangkabau/"><em><span style="color:#ff00ff;">Hubungan cinta antara laki-laki dan perempuan pada masyarakat Minangkabau</span></em></a></li>
</ul>
<p class="addtoany_share_save_container">
    <a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?sitename=Vara%20Jambak&amp;siteurl=http%3A%2F%2Fwww.varajambak.com%2F&amp;linkname=Antara%20SARA%2C%20rasisme%20dan%20gugatan%20terhadap%20fasisme%20Jawa&amp;linkurl=http%3A%2F%2Fwww.varajambak.com%2F2009%2F06%2F07%2Fantara-sara-rasisme-dan-gugatan-terhadap-fasisme-jawa%2F"><img src="http://www.varajambak.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Save/Bookmark"/></a>

	</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.varajambak.com/2009/06/07/antara-sara-rasisme-dan-gugatan-terhadap-fasisme-jawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Acehnese people of northern Sumatra are matriarchal</title>
		<link>http://www.varajambak.com/2009/04/23/acehnese-people-of-northern-sumatra-are-matriarchal/</link>
		<comments>http://www.varajambak.com/2009/04/23/acehnese-people-of-northern-sumatra-are-matriarchal/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Apr 2009 12:38:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Matriarchy]]></category>
		<category><![CDATA[Acehnese Sultanas]]></category>
		<category><![CDATA[Acehnese Sultanate]]></category>
		<category><![CDATA[Cut Nyak Dien]]></category>
		<category><![CDATA[GAM]]></category>
		<category><![CDATA[Inong Balee]]></category>
		<category><![CDATA[Laksamana Malahayati]]></category>
		<category><![CDATA[matriarchal]]></category>
		<category><![CDATA[matriarchal societies]]></category>
		<category><![CDATA[matriarkat]]></category>
		<category><![CDATA[matrilineage]]></category>
		<category><![CDATA[matrilineal]]></category>
		<category><![CDATA[matrilineally communal ownerships]]></category>
		<category><![CDATA[Pramudya Ananta Tour]]></category>
		<category><![CDATA[Samudra Pasai]]></category>
		<category><![CDATA[Sharia Law]]></category>
		<category><![CDATA[Sultana Inayat Syah]]></category>
		<category><![CDATA[the Free Aceh Movement]]></category>
		<category><![CDATA[the Minangkabaus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.varajambak.com/?p=1194</guid>
		<description><![CDATA[The Acehnese people of northern Sumatra, Indonesia is a matriarchal society. This was stated by some foreign journalists and foreigners involved with the people of Aceh after the Tsunami. It goes without saying that they did not claim that the people of Aceh is &#8220;matriarchal&#8221; but rather &#8220;matrilineal&#8220;, as the term matriarchal itself is often [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><em>The Acehnese people</em></span> of northern Sumatra, Indonesia is a <em><span style="color: #ff0000;">matriarchal society</span></em>. This was stated by some foreign journalists and foreigners involved with the people of Aceh after the Tsunami. It goes without saying that they did not claim that the people of Aceh is &#8220;<em><span style="color: #ff0000;">matriarchal</span></em>&#8221; but rather &#8220;<em><span style="color: #ff0000;">matrilineal</span></em>&#8220;, as the term matriarchal itself is often misinterpreted and still meets strong resistance in the Western world. Conversely, the term &#8220;matrilineal&#8221; and other terms are preferred, because it only emphasizes the basic understanding of just one characteristic of those societies, e.g, only about the lineage (in this case <em><span style="color: #ff0000;">matrilineage</span></em>) or about their egalitarian characteristics.</p>
<p style="text-align: justify;">An interpreter who worked for groups which helped the victims of the Tsunami in Aceh and who was also aware of the existence of matriarchal societies in Indonesia such as the <em><span style="color: #ff0000;">Minangkabau</span></em>, also expressed the same thing. &#8220;<em>The Acehnese society is matriarchal</em>&#8220;, the interpreter said. The interpreter, a Javanese woman who was studying German literature at a university in Berlin as the Tsunami occurred, said that she got the information from the results of some interviews with some male victims of the Tsunami  that the land which was considered as the property of these men, turned out to be that of their wives and their wives&#8217; family.</p>
<p style="text-align: justify;">Up to the present time, newspapers and news about Aceh  almost only deal with stories deemed suitable for the media consumption such as &#8220;separatist movements of Aceh&#8221;, <em><span style="color: #0000ff;">the Free Aceh Movement</span></em> (<em><span style="color: #0000ff;">GAM</span></em>), <em><span style="color: #0000ff;">Samudra Pasai</span></em> (<em><span style="color: #0000ff;">Acehnese Sultanate</span></em>), implementation of <em><span style="color: #0000ff;">Sharia Law</span></em> in Aceh, the source of gas and oil which also was and still is the source of the sufferings of the  Acehnese people, and other similar stories. There is almost no report on the culture and the Acehnese people. In fact, stories about <em><span style="color: #ff0000;">Cut Nyak Dien</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">laksamana Malahayati</span></em>, the resistance of the Acehnese people against the oppression, Acehnese queens (Acehnese sultanas) like <em><span style="color: #ff0000;">S</span><span style="color: #ff0000;"><span style="color: #ff0000;">u</span>ltana Inayat Syah</span></em>, and Acehnese women who were extraordinarily strong and independent, only showed the characteristics of a matriarchal society. Women like <em><span style="color: #ff0000;">Cut Nyak Dien</span></em> (the leader of the guerilla war of the Acehnese people against the Dutch colonials), <em><span style="color: #ff0000;">Sultana Inayat Syah</span></em>, other <em><span style="color: #ff0000;">Acehnese Sultanas </span></em> and <em><span style="color: #ff0000;">laksamana Malahayati</span></em> -the commander-in-chief of female warriors made up of widows known as  <em><span style="color: #ff0000;">Inong Balee</span></em>, who waged wars against the Portuguese and Dutch conquest-,  would not exist in a patriarchal culture which indeed humble, marginalize, demean and abuse women. Sultanas or queens in the world kingdoms, based on whichever religion, would not exist due to the fact that the realm of power and patriarchal religions be &#8220;masculine.&#8221; The nature of the Acehnese resistance against the oppression,  praised by <em><span style="color: #ff0000;">Pramudya Ananta Tour</span></em> -a Javanese writer and author- as &#8220;<span style="color: #0000ff;">people with strong individual courage</span>&#8220;, is the true character of people or individuals coming from <em><span style="color: #ff0000;">matriarchal societies </span></em>which can not accept oppression.</p>
<p style="text-align: justify;">Unfortunately, after the Tsunami, the nature of land ownerships in Acehnese society has changed significantly. According to foreign journalists working on Tsunami issues in Aceh, the problem of land ownership arose because in general the original owners can no longer get their land back and it is no longer based on <em><span style="color: #ff0000;">matrilineally communal ownerships</span></em> but private ownerships.</p>
<p class="addtoany_share_save_container">
    <a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?sitename=Vara%20Jambak&amp;siteurl=http%3A%2F%2Fwww.varajambak.com%2F&amp;linkname=Acehnese%20people%20of%20northern%20Sumatra%20are%20matriarchal&amp;linkurl=http%3A%2F%2Fwww.varajambak.com%2F2009%2F04%2F23%2Facehnese-people-of-northern-sumatra-are-matriarchal%2F"><img src="http://www.varajambak.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Save/Bookmark"/></a>

	</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.varajambak.com/2009/04/23/acehnese-people-of-northern-sumatra-are-matriarchal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fasisme Jawa-Bagian 1</title>
		<link>http://www.varajambak.com/2009/03/05/fasisme-jawa-bagian-1/</link>
		<comments>http://www.varajambak.com/2009/03/05/fasisme-jawa-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Mar 2009 09:47:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vara</dc:creator>
				<category><![CDATA[patriarkat]]></category>
		<category><![CDATA[180 000 jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Adnan Buyung Nasution]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Semua Bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[bangsawan-bangsawan Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Belanda]]></category>
		<category><![CDATA[Bumi manusia]]></category>
		<category><![CDATA[China]]></category>
		<category><![CDATA[Exil: Conversations With Pramudya Ananta Tour]]></category>
		<category><![CDATA[fasisme Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[fasisme Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[fasisme Jerman]]></category>
		<category><![CDATA[Jawaisme]]></category>
		<category><![CDATA[Jawanisme]]></category>
		<category><![CDATA[Jejak Langkah]]></category>
		<category><![CDATA[Jenderal Sarwo Edhi Wibowo]]></category>
		<category><![CDATA[Jenderal Soeharto]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[Kaisar China]]></category>
		<category><![CDATA[Kathulistiwa Award]]></category>
		<category><![CDATA[kolonialisme Belanda]]></category>
		<category><![CDATA[Komandan Para Komando Angkatan Darat]]></category>
		<category><![CDATA[kudeta militer di tanah Jawa tahun 1965]]></category>
		<category><![CDATA[Laksamana Sudomo]]></category>
		<category><![CDATA[LEKRA]]></category>
		<category><![CDATA[LEKRA vs. Manikebu]]></category>
		<category><![CDATA[Lembaga Kebudayaan Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Manifesto Kebudayaan]]></category>
		<category><![CDATA[Manikebu]]></category>
		<category><![CDATA[Mao Tze Dong]]></category>
		<category><![CDATA[Marsilam Simanjuntak]]></category>
		<category><![CDATA[mental budak dan kaisar]]></category>
		<category><![CDATA[mental China]]></category>
		<category><![CDATA[Pandangan hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban]]></category>
		<category><![CDATA[Partai Komunis Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[pemerkosaan massal perempuan Indonesia oleh Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[perang Timor]]></category>
		<category><![CDATA[PKI]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Pram]]></category>
		<category><![CDATA[Pramudya]]></category>
		<category><![CDATA[Pramudya Ananta Tour]]></category>
		<category><![CDATA[pro PKI]]></category>
		<category><![CDATA[Prof. Soepomo]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Buru]]></category>
		<category><![CDATA[revolusi budaya]]></category>
		<category><![CDATA[revolusi dari titik nol]]></category>
		<category><![CDATA[revolusi nasional]]></category>
		<category><![CDATA[rezim Belanda]]></category>
		<category><![CDATA[rezim Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[rezim Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[rezim Soeharto]]></category>
		<category><![CDATA[rezim-rezim komunis dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Kaca]]></category>
		<category><![CDATA[serdadu Nippon]]></category>
		<category><![CDATA[Soepomo]]></category>
		<category><![CDATA[Suharto]]></category>
		<category><![CDATA[Sungai Brantas]]></category>
		<category><![CDATA[tetralogi pulau buru]]></category>
		<category><![CDATA[Timor Leste]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://moendg07.wordpress.com/?p=818</guid>
		<description><![CDATA[Berikut adalah kritik atas fasisme Jawa dari seorang pemikir dan sastrawan Jawa terkenal Pramudya Ananta Tour. Pramudya telah menghasilkan banyak sekali karya sastra yang diantaranya adalah tetraloginya yang terkenal yaitu Bumi manusia. Pramudya selain dikenal sebagai sastrawan juga dikenal karena keterlibatannya dalam LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakjat) yang ditengarai sebagai pro PKI (Partai Komunis Indonesia) dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Berikut adalah kritik atas <em><span style="color:#ff0000;">fasisme Jawa</span></em> dari seorang pemikir dan sastrawan Jawa terkenal <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pramoedya_Ananta_Toer"><span style="color: #ff9900;">Pramudya Ananta Tou</span><span style="color: #ff9900;">r</span></a>. Pramudya telah menghasilkan banyak sekali karya sastra yang diantaranya adalah <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Tetralogy"><span style="color: #ff9900;">tetralogin<span style="color: #ff9900;">y</span></span><span style="color: #ff9900;">a</span></a> yang terkenal yaitu <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tetralogi_Buru"><span style="color: #ff9900;">Bumi manusia</span></a>. <a href="http://tokohindonesia.com/ensiklopedi/p/pramoedya-ananta-toer/index.shtml">Pramudya</a> selain dikenal sebagai sastrawan juga dikenal karena keterlibatannya dalam <span style="color: #000000;">LEKRA</span> (<span style="color: #0000ff;"><em>Lembaga Kebudayaan Rakjat</em></span>) yang ditengarai sebagai pro <span style="color: #000000;">PKI</span> (<span style="color: #0000ff;"><em>Partai Komunis Indonesia</em></span>) dan konflik antara <a href="http://books.coffee-cat.net/2006/11/pramoedya-sastra-realisme-sosialis/"><span style="color: #ff9900;">LEKRA vs. Manikebu</span></a></span> (<span style="color: #0000ff;"><em>Manifesto Kebudayaa</em><em>n</em>).</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;"><strong>Saya Terbakar Amarah Sendirian:</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Pramoedya Ananta Toer Dalam Perbincangan dengan Andre Vltchek &amp; Rossie Indira</p>
<p style="text-align: justify;">PRAMOEDYA Ananta Toer kembali angkat bicara. Kini Pram menggugat apa yang disebutnya sebagai &#8220;<span style="color:#ff0000;"><em>fasisme Jawa</em></span>&#8221; atau &#8220;<span style="color:#ff0000;"><em>Jawanisme</em></span>&#8221; &#8211;faham yang berkembang di kepulauan ini sejak ratusan tahun silam hingga hari ini.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;<em><span style="color: #0000ff;">Jawanisme adalah taat dan setia membabi buta pada atasan</span></em>,&#8221; kata Pram. Kesetiaan dan ketaatan ini membuat orang mudah bertekuk lutut kepada rezim Belanda, Jepang dan sekarang Indonesia. Fasisme Jawa ini mengakar. <span style="color:#ff0000;"><em>Fasisme Jaw</em></span>a ini membuat orang Indonesia hanya berdiam diri saat dijajah dan dijarah.</p>
<p style="text-align: justify;">Dulu<span style="color:#ff0000;"><em> bangsawan-bangsawan Jawa</em></span> membantu pemerintah Hindia Belanda mengatur dan mengisap kekayaan alam dan manusia di Jawa, Sumatera, Borneo, Ambon, Celebes dan sebagainya. <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">Selama berpuluh-puluh tahun, kata Pram, Jawa mengirimkan serdadu-serdadu bayaran ke luar Jawa. Pasukan &#8220;kumpeni&#8221; ini ikut membantai para pejuang Aceh dan lainnya yang melawan Belanda</span><span style="color: #000000;">.</span></em></span></p>
<p style="text-align: justify;">Keluar mulut harimau, masuk mulut buaya. Belum bebas dari kolonialisme Belanda, kuku-kuku Jepang datang mencengkeram. Cuma dalam tempo tiga hari setelah mendarat di Pulau Jawa, nyaris semua serdadu Nippon terlibat pemerkosaan massal perempuan lokal. Jepang merekrut <span style="color:#ff0000;"><em>700 ribu petani</em></span> dalam program romusha. Mereka jadi tenaga kerja paksa dan sekitar<span style="color:#ff0000;"><em> 300 ribu</em></span> orang mati.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu Indonesia merdeka. Tapi kenangan Pram terkait erat dengan <span style="color:#ff0000;"><em>kudeta militer di tanah Jawa pada 1965</em></span>. Hiruk-pikuk Jakarta berubah menjadi sunyi. Di <span style="color:#ff0000;"><em>Sungai Brantas</em></span> mayat-mayat mengapung.</p>
<p style="text-align: justify;">Naiknya <span style="color:#ff0000;"><em>Jenderal Soeharto</em></span> ke kursi presiden Indonesia dibayar nyawa <span style="color: #0000ff;"><em>dua juta penduduk di Jawa</em></span>. Itu menurut versi <span style="color:#ff0000;"><em>Laksamana Sudomo</em></span>, <span style="color: #0000ff;"><em>Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban</em></span> ketika itu. Hitungan komandan Para Komando Angkatan Darat <span style="color:#ff0000;"><em>Jenderal Sarwo Edhi Wibowo</em></span> (mertua <span style="color:#ff0000;"><em>Susilo Bambang Yudhoyono</em></span>), yang langsung memimpin operasi, jumlahnya lebih mengerikan: <span style="color:#ff0000;"><em>tiga juta jiwa</em></span>!</p>
<p style="text-align: justify;">Jumlah korban itu belum ditambah lagi yang dibui, hilang entah di mana rimbanya, atau terpaksa mengasing ke negeri orang. Sedangkan Pram, dia ditangkap dua minggu setelah peristiwa pembunuhan enam jenderal.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari keseluruhan<span style="color:#ff0000;"><em> tahanan Pulau Buru </em></span>yang berjumlah 14.000, Pram termasuk 500 orang tahanan pertama. Dia menjalani kerja paksa selama sepuluh tahun di kamp konsentrasi tersebut. Di sanalah lahir empat novel sekuel dengan judul <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">Bumi Manusia</span><span style="color: #000000;">,</span></em></span><span style="color: #0000ff;"><em> Anak Semua Bangs</em><em>a</em></span>, <span style="color: #0000ff;"><em>Jejak Langkah</em></span> dan <span style="color: #0000ff;"><em>Rumah Kaca</em></span>. Mahakarya yang dikenal dengan <span style="color:#ff0000;"><em>Tetralogi Pulau Buru</em></span> ini mensejajarkan Pram penulis kelas dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">Sadar bahwa pemerintah akan merampas tulisannya, di Pulau Buru Pram mengetik naskahnya dalam beberapa salinan. Satu salinan disebarkan di antara para tahanan, yang lain dilayangkan ke gereja. Nah, rupanya salinan naskah inilah yang kemudian diselundupkan ke luar Pulau Buru dan dikirim ke Eropa, Amerika dan Australia.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai sekarang Pram masih merasa marah bila mengingat peristiwa pembakaran perpustakaan pribadi dan delapan naskahnya oleh segerombolan tentara Indonesia. &#8220;Pembakaran buku sama dengan perbuatan setan!&#8221; ungkapnya, geram.</p>
<p style="text-align: justify;">Amarah Pram ini direkam dalam wawancara selama empat bulan dengan pasangan suami-isteri Andre Vltchek, jurnalis dan pembuat film asal Amerika, serta Rossie Indira, mantan seorang aktivis Partai Komunis Indonesia, yang bekerja sebagai arsitek dan kolumnis. Mereka merekam jawaban atas 150 pertanyaan yang diajukan Vltchek-Indira dari Desember 2003 hingga Maret 2004.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum diterbitkan di Jakarta, versi Inggris muncul duluan dengan judul <span style="color:#ff0000;"><em>Exile: Conversations With Pramoedya Ananta Toer</em></span>. Dalam edisi bahasa Melayu, buku ini disunting Linda Christanty, penerima <span style="color: #0000ff;"><em>Khatulistiwa Literary Award</em></span>.</p>
<p style="text-align: justify;">Pram memaparkan bagaimana Jawanisme masih dominan Indonesia hari ini. <span style="color:#ff0000;"><em>Rezim Soehart</em></span>o telah merontokkan cita-cita pendiri bangsa dan menggantinya dengan Jawanisme. Sejak terhentinya &#8220;<span style="color: #0000ff;"><em>revolusi nasional</em>&#8220;</span> pada 1965, Pram melihat proses pembusukan yang terus-menerus. Korupsi di birokrasi kian berurat akar. Para elit dan penguasa dibiarkan menjarah sumber daya alam milik masyarakat di Aceh, Riau, Kalimantan, Papua dan sebagainya. Sedangkan para pembunuh dan jenderal-jenderalnya bebas pelesiran.</p>
<p style="text-align: justify;">Pram mendukung <span style="color:#ff0000;"><em>Timor Leste </em></span>untuk menjadi negeri yang merdeka dari Indonesia. Sekitar<span style="color:#ffcc00;"><em> <span style="color: #0000ff;">180.000 jiwa</span></em></span> terbunuh selama perang Timor. Dan Soeharto, kata Pram, harus bertanggung jawab atas kebiadaban itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Soeharto juga bertanggung jawab atas pembantaian ribuan orang di Aceh. Ini menunjukkan ketidakmampuan Belanda maupun Jawa menundukkan Aceh. Apalagi, seperti Pram bilang,&#8221;Orang Aceh punya keberanian individu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Berbicara tentang Indonesia, diakui Pram, membuatnya kebakaran sendirian. <span style="color: #0000ff;"><em>Dia menyesali tak lahirnya pemimpin di Indonesia sejak Soekarno</em></span>. Saat ini tak ada calon presiden yang bisa dipilih karena tak ada seorang pun memiliki wawasan keindonesiaan dan prestasi individu. Begitupun masyarakatnya. Konsumtif dan cenderung acuh terhadap keadaan bangsanya.</p>
<p>&#8220;Yang mereka lakukan dari hari ke hari hanyalah beternak, konsumsi dan mengemis tanpa melakukan produksi!&#8221; dia geram.</p>
<p style="text-align: justify;">Argumentasi Pram soal fasisme ini sama dengan ide kritisi terhadap <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color:#ff0000;">Prof. Soepomo</span></em></span>, salah satu arsitek negara Indonesia. <span style="color:#ff0000;"><em>Marsillam Simanjuntak</em> </span>dalam buku &#8220;<em><span style="color: #0000ff;">Pandangan Negara Integralistik: sumber, unsur, dan riwayatnya dalam persiapan UUD 1945</span></em>,&#8221; menerangkan bahwa Soepomo mengagumi <span style="color:#ff0000;"><em>fasisme Jerman dan Jepang</em></span>. <span style="color:#ff0000;"><em>Adnan Buyung Nasution</em></span> dalam tesisnya juga mengatakan rezim Soeharto lebih kejam dan membunuh lebih banyak orang dari Belanda dan Jepang.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff9900;"><a href="http://andreasharsono.blogspot.com/2006/03/pram-soal-fasisme-jawa.html">Lebih lengkapnya di sini</a></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color:#ff0000;"><em>Catatan:</em></span></p>
<p style="text-align: justify;">Seperti layaknya orang-orang yang menjadi <span style="color:#ff0000;"><em>anggota PKI</em></span> ataupun <span style="color:#ff0000;"><em>pendukung PKI</em></span>, Pramudya menampakkan &#8220;pemujaan&#8221; kepada tokoh <span style="color:#ff0000;"><em>Sukarno</em></span> yang dibibir orang-orang ini menjadi layaknya orang suci yang tidak ada cela. Hal ini bukan tanpa sebab. Sukarno dianggap &#8220;memberi angin segar&#8221; bagi PKI. Walaupun mengenai bila waktu kekuasaan akan diserahkan kepada PKI tidak pernah jelas. Yang terbukti adalah Sukarno berkuasa selama <span style="color: #0000ff;"><em>20 tahun</em></span>, dan itupun harus dijatuhkan dulu oleh Suharto lewat <span style="color: #0000ff;"><em>kudeta militer 1965</em></span>.</p>
<p style="text-align: justify;">Pramudya juga mempercayai konsep &#8220;<span style="color:#ff0000;"><em>revolusi dari titik nol</em></span>&#8220;. Suatu konsep untuk menghancurkan tiang-tiang kemasyarakatan dengan sepenuhnya sebelum kemudian membangun hal yang &#8220;benar-benar baru&#8221; dari awal. Konsep ini telah dipakai oleh <em><span style="color:#ff0000;">rezim-rezim komunis dun<span style="color: #ff0000;">i</span></span><span style="color: #ff0000;">a</span></em> untuk membunuhi jutaan manusia dengan alasan-alasan seperti &#8220;<span style="color:#ff0000;"><em>revolusi budaya</em></span>&#8221; di <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">China</span><span style="color: #000000;">.</span></em></span><span style="color: #000000;"> &#8220;Revolusi budaya&#8221; ini </span>sama sekali tidak merubah &#8220;<em><span style="color:#ff0000;">mental China</span></em>&#8221; dari <span style="color: #0000ff;"><em>mental budak dan kaisar</em></span>. <em><span style="color:#ff0000;">Mao Zedong</span></em> berkuasa di China layaknya seorang <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">Kaisar Ch<span style="color: #0000ff;">in</span></span><span style="color: #0000ff;">a</span></em></span><span style="color: #0000ff;"> </span>yang &#8220;<span style="color: #0000ff;"><em>telah dijatuhkannya</em></span>&#8220;.</p>
<p class="addtoany_share_save_container">
    <a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?sitename=Vara%20Jambak&amp;siteurl=http%3A%2F%2Fwww.varajambak.com%2F&amp;linkname=Fasisme%20Jawa-Bagian%201&amp;linkurl=http%3A%2F%2Fwww.varajambak.com%2F2009%2F03%2F05%2Ffasisme-jawa-bagian-1%2F"><img src="http://www.varajambak.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Save/Bookmark"/></a>

	</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.varajambak.com/2009/03/05/fasisme-jawa-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
