<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Vara Jambak &#187; ranah Minang</title>
	<atom:link href="http://www.varajambak.com/tag/ranah-minang/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.varajambak.com</link>
	<description>On Minangkabau, matriarchy, Islam, patriarchy, politics and culture</description>
	<lastBuildDate>Wed, 28 Jul 2010 14:34:35 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<!-- podcast_generator="podPress/8.8" -->
		<copyright>&#xA9; </copyright>
		<managingEditor>vjambak@varajambak.com ()</managingEditor>
		<webMaster>vjambak@varajambak.com()</webMaster>
		<category></category>
		<itunes:keywords></itunes:keywords>
		<itunes:subtitle></itunes:subtitle>
		<itunes:summary>On Minangkabau, matriarchy, Islam, patriarchy, politics and culture</itunes:summary>
		<itunes:author></itunes:author>
		<itunes:category text="Society &amp; Culture"/>
		<itunes:owner>
			<itunes:name></itunes:name>
			<itunes:email>vjambak@varajambak.com</itunes:email>
		</itunes:owner>
		<itunes:block>No</itunes:block>
		<itunes:explicit>no</itunes:explicit>
		<itunes:image href="http://www.varajambak.com/wp-content/plugins/podpress/images/powered_by_podpress_large.jpg" />
		<image>
			<url>http://www.varajambak.com/wp-content/plugins/podpress/images/powered_by_podpress.jpg</url>
			<title>Vara Jambak</title>
			<link>http://www.varajambak.com</link>
			<width>144</width>
			<height>144</height>
		</image>
		<item>
		<title>Puti Reno Oesman&#8211;Mantan Diplomat Wanita Siap Pimpin Sumbar</title>
		<link>http://www.varajambak.com/2010/02/16/puti-reno-oesman-mantan-diplomat-wanita-siap-pimpin-sumbar/</link>
		<comments>http://www.varajambak.com/2010/02/16/puti-reno-oesman-mantan-diplomat-wanita-siap-pimpin-sumbar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Feb 2010 13:55:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Australia]]></category>
		<category><![CDATA[Bundo Kanduang]]></category>
		<category><![CDATA[Bundo Kanduang-Bundo Kanduang]]></category>
		<category><![CDATA[Bung Hatta]]></category>
		<category><![CDATA[calon gubernur Sumbar]]></category>
		<category><![CDATA[Departemen Luar Negeri]]></category>
		<category><![CDATA[Deplu]]></category>
		<category><![CDATA[H. Soetan Oesman]]></category>
		<category><![CDATA[Jerman]]></category>
		<category><![CDATA[KBRI]]></category>
		<category><![CDATA[M. Yamin]]></category>
		<category><![CDATA[Minister Counsellor]]></category>
		<category><![CDATA[Moscow]]></category>
		<category><![CDATA[Muhamad Yamin]]></category>
		<category><![CDATA[One]]></category>
		<category><![CDATA[Padang]]></category>
		<category><![CDATA[Padang Panjang]]></category>
		<category><![CDATA[Pancasila]]></category>
		<category><![CDATA[para Bundo Kanduang Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Penanggungjawab Bidang Pensosbud KBRI]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan-perempuan Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Pilkada Sumbar]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Proklamator]]></category>
		<category><![CDATA[Puti Reno Usman]]></category>
		<category><![CDATA[Rahmah El Yunusiyah]]></category>
		<category><![CDATA[raja perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[ranah Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Rusia]]></category>
		<category><![CDATA[Sumbar]]></category>
		<category><![CDATA[Sumbar pascagempa]]></category>
		<category><![CDATA[Thailand]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.varajambak.com/?p=1663</guid>
		<description><![CDATA[




Setelah menjadi seorang diplomat dan mengembara diberbagai negara karena ditugaskan pemerintah pusat, Puti Reno Oesman pulang untuk membangun Ranah Minang. Puti Reno Oesman yang akrab dipanggil &#8220;One&#8221; adalah diplomat senior di Depertemen Luar Negeri (Deplu) yang telah memiliki pengalaman selama 31 tahun. Ia merupakan Bundo Kanduang yang dilahirkan di Padang, tahun 1947  lalu. Putri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:center;margin: 12px;"><script type="text/javascript"><!--
google_ad_client = "pub-4808480940768749";
/* 468x60, created 4/9/09 */
google_ad_slot = "2872038909";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//-->
</script>
<script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js">
</script></div><p style="text-align: justify;">
<div style="margin: 2px 5px 3px 3px; float: left; width: 300px;"><a href="http://www.varajambak.com/wp-content/uploads/2010/02/thumb_puti-reno-usman.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1558" title="thumb_Puti Reno Usman" src="http://www.varajambak.com/wp-content/uploads/2010/02/thumb_puti-reno-usman.jpg" alt="" width="279" height="219" /></a></div>
<div style="padding-left: 120px; text-align: justify; margin: 2px 5px 3px 3px;">Setelah menjadi seorang diplomat dan mengembara diberbagai negara karena ditugaskan pemerintah pusat, <em><span style="color: #ff0000;">Puti Reno Oesman</span></em> pulang untuk membangun <em><span style="color: #ff0000;">Ranah Minang</span></em>. Puti Reno Oesman yang akrab dipanggil &#8220;<em><span style="color: #ff0000;">One</span></em>&#8221; adalah diplomat senior di <span style="color: #0000ff;"><em>Depertemen Luar Negeri</em></span> (<em><span style="color: #ff0000;">Deplu</span></em>) yang telah memiliki pengalaman selama 31 tahun. Ia merupakan <em><span style="color: #ff0000;">Bundo Kanduang</span></em> yang dilahirkan di <em><span style="color: #ff0000;">Padang</span></em>, tahun 1947  lalu. Putri dari <em><span style="color: #ff0000;">H. Soetan Oesman</span></em> (alm) ini telah membulatkan tekad akan ikut bertarung dalam <em><span style="color: #ff0000;">Pilkada Sumbar</span></em> pada Juni 2010 ini.</div>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Saya pulang dan ingin membangun kembali Ranah Minang. <span style="color: #0000ff;"><em>Saatnya Minangkabau merasakan sentuhan tangan perempuan dalam memimpin</em></span>, ungkapnya. Dikatakannya, sudah cukup lama dorongan untuk ia maju sebagai gubernur di <em><span style="color: #ff0000;">Sumbar</span></em>, namun <em><span style="color: #ff0000;">Minister Counsellor</span></em> ini masih memilih menyelesaikan tugas di Deplu. Terakhir One adalah <span style="color: #0000ff;"><em>Penanggungjawab Bidang Pensosbud KBRI</em></span> <em><span style="color: #ff0000;">Moscow</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Rusia</span></em>. Sebelumnya ia pernah ditugaskan di <em><span style="color: #ff0000;">Thailand</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Jerman</span></em>, dan <em><span style="color: #ff0000;">Australia</span></em>.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;<span style="color: #0000ff;"><em>Melihat langsung kondisi Sumbar pascagempa, saya bertekad harus membangun kembali berbagai sarana yang rusak, memulihkan mental masyarakat agar mereka tetap semangat menjalani hidup. Kini saya sudah pensiun dari Deplu dan ingin fokus membangun kampung halaman</em></span>, &#8220;ungkapnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakannya, dulu <em><span style="color: #ff0000;">Minangkabau</span></em> pernah memiliki<em><span style="color: #ff0000;"> raja perempuan</span></em>.<em><span style="color: #ffcc00;"> <span style="color: #0000ff;">Seorang Bundo Kanduang dengan segala potensi yang dimiliki dan perasaan yang halus akan bisa memberikan ketentraman bagi masyarakat</span></span></em>. Hingga saat ini Minangkabau menjadi terkenal di seluruh dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Saya telah berkeliling dunia dalam melaksanakan tugas kenegaraan, orang di luar tahu kalau Minangkabau adalah suku bangsa yang unik dan sangat menghargai perempuan. Kini saatnya Minangkabau mengembalikan itu semua, &#8220;ungkapnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan One, Minangkabau juga terkenal melahirkan banyak tokoh nasional yang berjuang untuk bangsa. Kemerdekaan Indonesia tak lepas dari peran besar orang Minangkabau, sebut <em><span style="color: #ff0000;">Bung Hatta</span></em> sebagai <em><span style="color: #ff0000;">Proklamator</span></em>. Lahirnya <em><span style="color: #ff0000;">Pancasila</span></em> dari pemikiran <em><span style="color: #ff0000;">M Yamin</span></em>. <em><span style="color: #ff0000;">Perempuan Minangkabau</span></em> juga telah memberikan kontribusi besar dalam perjuangan dan pendidikan, seperti <em><span style="color: #ff0000;">Rahmah El Yunusiah</span></em> di <em><span style="color: #ff0000;">Padang Panjang</span></em>.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Saya yakin kalau kita komit dalam membangun kembali Minangkabau ini, kita akan jauh lebih baik dari kondisi yang ada sekarang. Apalagi kalau sumberdaya manusia  kita digali dengan bijak,  &#8220;katanya.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><a href="http://padang-today.com/?today=news&amp;id=12745"><span style="color: #ff00ff;">Foto dan tulisan dari Padang Today</span></a></em></p>
<p style="text-align: justify;">***</p>
<p style="text-align: justify;">Tulisan ini saya peruntukkan untuk <em><span style="color: #ff0000;">para Bundo Kanduang Minangkabau</span></em> yang telah berjasa dalam membangun kebudayaan, dalam mendidik anak-anak menjadi orang yang berjiwa merdeka dan peduli terhadap masyarakat, serta yang telah membangun hubungan dalam rumah gadang dan kaum.</p>
<p>Tulisan ini juga ditujukan untuk para <em><span style="color: #ff0000;">Bundo Kanduang-Bundo Kanduang</span></em> lain di Indonesia dan seluruh dunia yang dipanggil dengan sebutan <em><span style="color: #ff0000;">Inang</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Bunda</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Ibu</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Buk’e</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Simbok</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Umi</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Mama</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Omak</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Mande</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Mandeh</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Mother</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Amma</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Amai</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Amak</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Mamak</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Mami</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Mamih</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Induak</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Induah</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Mutter</span></em>,<em> <span style="color: #ff0000;">Mutti</span>, <span style="color: #ff0000;">Ande</span>, <span style="color: #ff0000;">Madre</span>, <span style="color: #ff0000;">Maika</span></em><em>,</em><em> <span style="color: #ff0000;">Maman</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Mom</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Mère</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Mommy</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Um</span></em> dan <em><span style="color: #ff0000;">Mata</span></em>. Ini hanyalah sebagian saja dari nama-nama yang dipakai untuk menyebut perempuan yang telah mengandung dan melahirkan seluruh manusia yang ada di dunia ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><span style="color: #ff0000;">Puti Reno Oesman</span></em>, sebagaimana banyak <em><span style="color: #ff0000;">perempuan Minangkabau </span></em>lainnya, menunjukkan kepedulian kepada masyarakat, kemampuan dan kemauan perempuan Minangkabau pada umumnya dalam memimpin keluarga dan masyarakat.</p>
<p style="text-align: justify;">Tulisan mengenai Bundo Kanduang <em><span style="color: #ffcc00;"><span style="color: #0000ff;">calon gubernur Sumbar</span> </span></em>ini adalah salah satu dari rangkaian tulisan yang khusus menampilkan <em><span style="color: #ff0000;">perempuan-perempuan Minangkabau</span></em> beserta karya-karya mereka ataupun kiprah mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">***</p>
<p style="text-align: justify;">Baca juga tulisan-tulisan berikut ini mengenai <em>perempuan Minangkabau</em>:</p>
<ul>
<li><a href="http://www.varajambak.com/2009/03/21/saya-bangga-jadi-perempuan-minangkabau/"><em><span style="color:#ff00ff;">Saya Bangga Jadi Perempuan Minangkabau</span></em></a></li>
</ul>
<ul>
<li><a href="http://www.varajambak.com/2009/03/25/emakku-hj-nurma-abubakar-piliang-perempuan-minang-tulen/"><em><span style="color:#ff00ff;">Emakku Hj. Nurma Abubakar Piliang-Perempuan Minang Tulen</span></em></a></li>
</ul>
<ul>
<li><a href="http://www.varajambak.com/2010/01/20/meiy-piliang-negeri-nurani-mati/"><em><span style="color:#ff00ff;">Meiy Piliang: Negeri Nurani Mati</span></em></a></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">
<ul>
<li><a href="http://www.varajambak.com/2010/02/11/hanifah-damanhuri-oayobada-lapau-maya/"><em><span style="color: #ff00ff;">Hanifah Damanhuri Oayobada: Lapau Maya</span></em></a></li>
</ul>
<ul>
<li><a href="http://www.varajambak.com/2009/04/21/daftar-politikus-berpoligami-dan-pendukung-poligami/"><span style="color: #ff00ff;"><em>Daftar Politikus Berpoligami dan Pendukung Poligami</em></span></a></li>
</ul>
<ul>
<li><a href="http://moendg07.wordpress.com/2009/10/16/poligami-bagian-4/"><span style="color: #ff00ff;"><em>Poligami-Bagian 4</em></span></a></li>
</ul>
<ul>
<li><a href="http://www.varajambak.com/2008/12/05/perempuan-minangkabau-sebagai-mamak-dan-penghulu/"><span style="color: #ff00ff;"><em>Perempuan Minangkabau sebagai Mamak dan Penghulu</em></span></a></li>
</ul>
<ul>
<li><a href="http://www.varajambak.com/2009/06/17/hanifah-damanhuri-oayobada-bersatulah-perempuan-minang/"><span style="color: #ff00ff;"><em>Hanifah Damanhuri Oayobada: Bersatulah Perempuan Minang</em></span></a></li>
</ul>
<ul>
<li><a href="http://www.varajambak.com/2009/01/20/mamak-mamak-tidak-tahu-diuntung-bagian-1/"><em><span style="color: #ff00ff;">Mamak-mamak tidak tahu diuntung-Bagian 1</span></em></a></li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">
<p class="addtoany_share_save_container">
    <a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?sitename=Vara%20Jambak&amp;siteurl=http%3A%2F%2Fwww.varajambak.com%2F&amp;linkname=Puti%20Reno%20Oesman%26%238211%3BMantan%20Diplomat%20Wanita%20Siap%20Pimpin%20Sumbar&amp;linkurl=http%3A%2F%2Fwww.varajambak.com%2F2010%2F02%2F16%2Fputi-reno-oesman-mantan-diplomat-wanita-siap-pimpin-sumbar%2F"><img src="http://www.varajambak.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Save/Bookmark"/></a>

	</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.varajambak.com/2010/02/16/puti-reno-oesman-mantan-diplomat-wanita-siap-pimpin-sumbar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hanifah Damanhuri Oayobada: BERSATULAH PEREMPUAN MINANG</title>
		<link>http://www.varajambak.com/2009/06/17/hanifah-damanhuri-oayobada-bersatulah-perempuan-minang/</link>
		<comments>http://www.varajambak.com/2009/06/17/hanifah-damanhuri-oayobada-bersatulah-perempuan-minang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Jun 2009 22:41:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vara</dc:creator>
				<category><![CDATA[pantun/puisi]]></category>
		<category><![CDATA[egaliter]]></category>
		<category><![CDATA[Hanifah Damanhuri]]></category>
		<category><![CDATA[JK]]></category>
		<category><![CDATA[kemerdekaan]]></category>
		<category><![CDATA[kemerdekaan sejati]]></category>
		<category><![CDATA[Minang]]></category>
		<category><![CDATA[pemilu]]></category>
		<category><![CDATA[pemilu 2009]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[ranah Minang]]></category>
		<category><![CDATA[rang Sumando]]></category>
		<category><![CDATA[urang Sumando]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.varajambak.com/?p=1401</guid>
		<description><![CDATA[BERSATULAH PEREMPUAN MINANG
 
 
 
Perempuan Minang adalah
  Pewaris Ranah Minang
  Yang akan melahirkan
  Keturunan yang bersuku Minang
Tak peduli darimanapun asal ayahnya
 
 
 
Salah seorang perempuan Minang
  Telah berhasil mendampingi rang Sumando (JK)
  Baik dalam suka maupun duka
  Hingga menduduki singgasana
  Menjadi orang nomor dua di Indonesia
 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><span style="color: #0000ff;">BERSATULAH PEREMPUAN MINANG</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #0000ff;"> </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #0000ff;"> </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #0000ff;"> </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #0000ff;">Perempuan Minang adalah</span><span style="color: #ff0000;"><span style="color: #0000ff;"><br />
</span><span style="color: #0000ff;"> </span></span><span style="color: #0000ff;"> Pewaris Ranah Minang</span><span style="color: #ff0000;"><span style="color: #0000ff;"><br />
</span><span style="color: #0000ff;"> </span></span><span style="color: #0000ff;"> Yang akan melahirkan</span><span style="color: #ff0000;"><span style="color: #0000ff;"><br />
</span><span style="color: #0000ff;"> </span></span><span style="color: #0000ff;"> Keturunan yang bersuku Minang</span><span style="color: #0000ff;"><br />
</span><span style="color: #0000ff;">Tak peduli darimanapun asal ayahnya</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #0000ff;"> </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #0000ff;"> </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #0000ff;"> </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #0000ff;">Salah seorang perempuan Minang</span><span style="color: #ff0000;"><span style="color: #0000ff;"><br />
</span><span style="color: #0000ff;"> </span></span><span style="color: #0000ff;"> Telah berhasil mendampingi rang Sumando (JK)</span><span style="color: #ff0000;"><span style="color: #0000ff;"><br />
</span><span style="color: #0000ff;"> </span></span><span style="color: #0000ff;"> Baik dalam suka maupun duka</span><span style="color: #ff0000;"><span style="color: #0000ff;"><br />
</span><span style="color: #0000ff;"> </span></span><span style="color: #0000ff;"> Hingga menduduki singgasana</span><span style="color: #ff0000;"><span style="color: #0000ff;"><br />
</span><span style="color: #0000ff;"> </span></span><span style="color: #0000ff;"> Menjadi orang nomor dua di Indonesia</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #0000ff;"> </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #0000ff;"> </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #0000ff;"> </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #0000ff;">Impian untuk menjadi ibu negara</span><span style="color: #ff0000;"><span style="color: #0000ff;"><br />
</span><span style="color: #0000ff;"> </span></span><span style="color: #0000ff;"> Terbuka lebar untuk beliau</span><span style="color: #ff0000;"><span style="color: #0000ff;"><br />
</span><span style="color: #0000ff;"> </span></span><span style="color: #0000ff;"> Asalkan kita semua ikut mendukung suaminya (JK)</span><span style="color: #ff0000;"><span style="color: #0000ff;"><br />
</span><span style="color: #0000ff;"> </span></span><span style="color: #0000ff;"> Pada PEMILU yang akan datang</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #0000ff;"> </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #0000ff;"> </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #0000ff;"> </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #0000ff;">Bersatulah perempuan Minang</span><span style="color: #ff0000;"><span style="color: #0000ff;"><br />
</span><span style="color: #0000ff;"> </span></span><span style="color: #0000ff;"> Dukunglah JK</span><span style="color: #ff0000;"><span style="color: #0000ff;"><br />
</span><span style="color: #0000ff;"> </span></span><span style="color: #0000ff;"> Bukankah keturunannya</span><span style="color: #ff0000;"><span style="color: #0000ff;"><br />
</span><span style="color: #0000ff;"> </span></span><span style="color: #0000ff;"> Bersuku Minang seperti kita</span><span style="color: #ff0000;"><span style="color: #0000ff;"><br />
</span><span style="color: #0000ff;"> </span></span><span style="color: #0000ff;"> Saatnya kita menunjukkan kedunia</span><span style="color: #ff0000;"><span style="color: #0000ff;"><br />
</span><span style="color: #0000ff;"> </span></span><span style="color: #0000ff;"> Perempuan Minang</span><span style="color: #ff0000;"><span style="color: #0000ff;"><br />
</span><span style="color: #0000ff;"> </span></span><span style="color: #0000ff;"> Besar pengaruhnya</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #0000ff;"> </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #0000ff;"> </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #0000ff;"> </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #0000ff;">Bersatulah perempuan Minang</span><span style="color: #0000ff;"><br />
</span><span style="color: #0000ff;">Dukunglah JK</span><span style="color: #0000ff;"><br />
</span><span style="color: #0000ff;">Saatnya kita menunjukkan pada dunia</span><span style="color: #0000ff;"><br />
</span><span style="color: #0000ff;">Egaliter yang menjadi ciri khas kita</span><span style="color: #ff0000;"><span style="color: #0000ff;"><br />
</span><span style="color: #0000ff;"> </span></span><span style="color: #0000ff;"> Mampu membuat dunia terpesona</span><span style="color: #0000ff;"><br />
</span><span style="color: #0000ff;">Sesungguhnya menjadi diri sendiri</span><span style="color: #0000ff;"><br />
</span><span style="color: #0000ff;">Wujud kemerdekaan yang sejati</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #0000ff;"> </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #0000ff;"> </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #0000ff;"> </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #0000ff;">Bengkulu, 22 Mei 2009</span></p>
<p class="addtoany_share_save_container">
    <a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?sitename=Vara%20Jambak&amp;siteurl=http%3A%2F%2Fwww.varajambak.com%2F&amp;linkname=Hanifah%20Damanhuri%20Oayobada%3A%20BERSATULAH%20PEREMPUAN%20MINANG&amp;linkurl=http%3A%2F%2Fwww.varajambak.com%2F2009%2F06%2F17%2Fhanifah-damanhuri-oayobada-bersatulah-perempuan-minang%2F"><img src="http://www.varajambak.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Save/Bookmark"/></a>

	</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.varajambak.com/2009/06/17/hanifah-damanhuri-oayobada-bersatulah-perempuan-minang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gamawan Fauzi, alat kekuasaan SBY untuk menjegal faktor &#8220;M&#8221;</title>
		<link>http://www.varajambak.com/2009/05/15/gamawan-fauzi-alat-kekuasaan-sby-untuk-menjegal-faktor-m/</link>
		<comments>http://www.varajambak.com/2009/05/15/gamawan-fauzi-alat-kekuasaan-sby-untuk-menjegal-faktor-m/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 May 2009 05:23:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[ABSSBK]]></category>
		<category><![CDATA[Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[Adat Bersendi Syarak dan Syarak bersendi Kitabullah]]></category>
		<category><![CDATA[budaya Minang]]></category>
		<category><![CDATA[faktor "M"]]></category>
		<category><![CDATA[faktor Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[fasisme global]]></category>
		<category><![CDATA[fasisme Islam]]></category>
		<category><![CDATA[fasisme Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Fitra Haris]]></category>
		<category><![CDATA[Gamawan Fauzi]]></category>
		<category><![CDATA[globalisasi]]></category>
		<category><![CDATA[gubernur Sumatra Barat]]></category>
		<category><![CDATA[Ikatan Mahasiswa Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Ikatan Mahasiswa Minang UI]]></category>
		<category><![CDATA[jihad Islam]]></category>
		<category><![CDATA[JK]]></category>
		<category><![CDATA[Jusuf Kalla]]></category>
		<category><![CDATA[kabinet SBY]]></category>
		<category><![CDATA[kebebasan]]></category>
		<category><![CDATA[kekuasaan]]></category>
		<category><![CDATA[kekuatan oposisi]]></category>
		<category><![CDATA[kelompok muda Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[kelompok Padri]]></category>
		<category><![CDATA[kepedulian terhadap nasib orang banyak]]></category>
		<category><![CDATA[khtama AL-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[mambangkik batang tarandam]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[mencoreng muko urang awak]]></category>
		<category><![CDATA[meng-Islam-kan Sumatra Barat]]></category>
		<category><![CDATA[menjilat pantat SBY]]></category>
		<category><![CDATA[militeristik]]></category>
		<category><![CDATA[Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[neoliberalisme]]></category>
		<category><![CDATA[orang Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[otoriter]]></category>
		<category><![CDATA[PDI-P]]></category>
		<category><![CDATA[pembantaian orang Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Pemda Sumbar]]></category>
		<category><![CDATA[pemerintah daerah Sumbar]]></category>
		<category><![CDATA[pemilu 2009]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[perpolitikan Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[pilpres 2009]]></category>
		<category><![CDATA[PKS]]></category>
		<category><![CDATA[ranah Minang]]></category>
		<category><![CDATA[roh budaya Minang]]></category>
		<category><![CDATA[SBY]]></category>
		<category><![CDATA[struktur kekuasaan]]></category>
		<category><![CDATA[Susilo Bambang Yudhoyono]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[UI]]></category>
		<category><![CDATA[yang paling Arabi]]></category>
		<category><![CDATA[yang paling benar]]></category>
		<category><![CDATA[zaman pergerakan kemerdekaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.varajambak.com/?p=1265</guid>
		<description><![CDATA[Kubu Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tampaknya memahami benar mengenai pentingnya menjegal faktor &#8220;M&#8221;, atau faktor Minangkabau. Orang Minangkabau dalam sejarah, entah berada dalam kekuasaan, atau di luar kekuasaan, adalah kekuatan oposisi yang paling menentukan dalam perpolitikan Indonesia.
Jusuf Kalla (JK) yang mempunyai status sebagai urang sumando karena beristrikan Mufidah, seorang perempuan Minangkabau ditengarai mempunyai kesempatan lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Kubu <em><span style="color:#ff0000;">Susilo Bambang Yudhoyono</span></em> (<span style="color:#ff0000;"><em>SBY</em></span>) tampaknya memahami benar mengenai pentingnya menjegal<span style="color: #0000ff;"> faktor &#8220;M&#8221;</span>, atau <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">faktor Minangkabau</span></em></span>.<span style="color:#ffcc00;"><em> <span style="color: #0000ff;">Orang Minangkabau</span></em></span> dalam sejarah, entah berada dalam kekuasaan, atau di luar kekuasaan, adalah kekuatan oposisi yang paling menentukan dalam <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">perpolitikan Indonesia</span></em></span>.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color:#ff0000;">Jusuf Kalla</span></em></span> (<span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color:#ff0000;">JK</span></em></span>) yang mempunyai status sebagai urang sumando karena beristrikan <span style="color:#ff0000;"><em>Mufidah</em></span>, seorang <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">perempuan Minangkabau</span></em></span> ditengarai mempunyai kesempatan lebih besar dalam meraup suara orang Minang. <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">Orang Sumando</span></em></span> adalah istilah yang diberikan kepada laki-laki bukan Minangkabau yang menjadi menantu dari masyarakat Minangkabau/beristrikan orang Minangkabau. Jusuf Kalla juga ditengarai sebagai orang yang mempunyai pengetahuan yang lebih dari memadai mengenai sejarah dan budaya Minangkabau dan juga memiliki kepedulian yang tinggi kepada masyarakat-masyarakat di Sumatra seperti <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">Aceh</span></em></span> dan <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">Minangkabau</span></em></span>.</p>
<p style="text-align:justify;">Peran <span style="color:#ff0000;"><em>Gamawan Fauzi</em></span> sebagai pembaca daripada pidato dukungan politik untuk &#8220;<span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">SBY berbudi</span></em></span>&#8221; di gedung ITB, Bandung, dikritik oleh <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">kelompok muda Minangkabau</span></em></span> sebagai &#8220;<span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">mencoreng muko urang awak</span></em></span>&#8221; (mencoreng muka orang awak/orang Minang). Pernyataan ini dikemukanan oleh <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">Ketua Ikatan Mahasiswa Minang UI</span></em></span>, <span style="color:#ff0000;"><em>Fitra Haris</em></span>. Kelompok-kelompok muda Minang lainnya, menyatakan pendapat yang senada.</p>
<p style="text-align:justify;">Pernyataan Gamawan Fauzi (<span style="color:#ff0000;"><em>GF</em></span>) sendiri yang kini sedang menjabat sebagai <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">gubernur Sumatra Barat</span></em></span>, adalah sangat tidak etis secara politik mengingat kedudukannya yang dipegangnya sekarang berasal dari <span style="color:#ff0000;"><em>PDI-P</em></span>. Tambahan lagi, GF masih menjabat sebagai gubernur, dan oleh karenanya, perbuatannya termasuk ke dalam penghianatan politik terhadap PDI-P yang menjadikannya gubernur Sumbar. Berdasarkan etika politik, selayaknyalah GF mendukung PDI-P atau bersikap netral apabila GF hendak memberikan dukungannya kepada SBY. Dukungan inipun layaknya diberikannya  setelah dia tidak lagi menjabat sebagai gubernur Sumbar. GF ditengarai sedang mengincar jabatan mentri dalam kabinet yang akan dibentuk jika SBY menang.</p>
<p style="text-align:justify;">Pendukung gerakan politik daripada GF sendiri diantaranya adalah orang-orang Minang dari kalangan tua, orang-orang Minang pendukung partai <span style="color:#ff0000;"><em>PKS</em></span>, orang-orang Minangkabau yang berpandangan akan kekuasaan dan orang-orang pendukung <span style="color:#ff0000;"><em>jargon ABSSBK</em></span> (<span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah</span></em></span>). ABSSBK ini sendiri merupakan jargon yang dipakai kelompok-kelompok dalam masyarakat Minang baik yang di ranah maupun di rantau yang umunya merupakan kelompok elit dengan tujuan untuk <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">meng-Islam-kan Sumatra Barat</span></em></span> lebih jauh lagi,<span style="color: #0000ff;"> </span><span style="color: #000000;">mentransformasi pemahaman Islam orang Minang yang &#8220;<span style="color: #0000ff;"><em>dianggap tidak benar</em></span>&#8221; atau &#8220;<span style="color: #0000ff;"><em>tidak menurut pakem tertentu</em></span>&#8221; ke pemahaman yang diklaim sebagai &#8220;<em><span style="color: #0000ff;">yang paling Arabi</span></em>&#8221; atau &#8220;<em><span style="color: #0000ff;">yang paling benar</span></em>&#8220;</span><span style="color: #0000ff;">.</span></p>
<p style="text-align:justify;">Gerakan ABSSBK ini dipakai untuk memaksa orang Minang untuk &#8220;<span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">khatam Al-Quran</span></em></span>&#8221; dengan ganjaran hukuman oleh <span style="color: #0000ff;"><em>pemerintah daerah Sumba</em><em>r</em></span>, untuk menjilbabkan kepala setiap perempuan Minangkabau  dan memperlakukan perempuan Minangkabau yang tidak memakai jilbab secara semena-mena, untuk mensamarkan buruknya kinerja <span style="color: #0000ff;"><em>pemda Sumba</em><em>r</em></span> dan untuk meletakkan seluruh kesalahan-kesalahan yang diperbuat oleh pemda Sumbar kepada <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">bagian-bagian tubuh perempuan Minangkabau</span></em></span>, untuk menghilangkan budaya Minangkabau dari muka bumi, untuk mengalihkan kepemilikan bersama kaum ke tangan laki-laki Minang yang lagi-lagi pengaturannya dilakukan oleh Pemda. Gerakan ABSSBK ini adalah sisa-sisa gaung daripada <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">penyerangan dan pembantaian oleh kelompok jihad Islam di ranah Minang</span></em></span> yang dikenal sebagai <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">kelompok Padri</span></em></span>, yang diperkuat kembali seiring dengan terbentuknya <span style="color: #0000ff;"><em>fasisme Islam global</em> </span>yang terbentuk di seluruh dunia. Fasisme Islam global ini pada gilirannnya juga adalah bagian daripada <span style="color: #0000ff;"><em>fasisme global</em> </span>itu sendiri yang dikenal sebagai <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">globalisasi</span></em></span>.</p>
<p style="text-align:justify;">Orang-orang Minang yang menginginkan kue kekuasaan dalam pemerintahan SBY lupa, bahwa orang Minangkabau tidak pernah benar-benar masuk dalam <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">struktur kekuasaan</span></em></span>. Kedudukan mereka sebagai perdana mentri, wakil presiden, atau mentri, seperti pada zaman setelah kemerdekaan, diperoleh karena fungsi mereka sebagai pemimpin rakyat, orang yang peduli terhadap rakyat, serta sebagai pemikir. Bukan untuk kekuasaan itu sendiri. Tampaknya hal ini yang sudah dilupakan oleh orang Minangkabau yang sebenarnya sudah harus dipertanyakan ke-<span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">Minangkabau</span></em></span>-annya. Menjadi mentri dalam <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">kabinet SBY</span></em></span> tidak akan merubah apapun dalam kehidupan orang Minang. Mengingat kubu SBY sendiri sudah mulai menampakkan elemen-elemen haus kekuasaannya yang <span style="color:#ff0000;"><em>otoriter</em></span> dan <span style="color:#ff0000;"><em>militeristik</em></span>, yang berdasarkan pada <span style="color:#ff0000;"><em>fasisme Jawa</em></span>, <span style="color:#ff0000;"><em>fasisme Islam</em></span> dan <span style="color:#ff0000;"><em>neoliberalisme</em></span>.</p>
<p style="text-align:justify;">Adalah naif sekali menganggap bahwa dengan jadinya GF sebagai mentri, maka <span style="color:#ff0000;"><em>orang Minangkabau</em></span> bisa &#8220;<span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">mambangkik batang tarandam</span></em></span>&#8221; (membangkit batang (yang) terendam). Istilah &#8220;membangkik batang tarandam&#8221; ini digunakan oleh orang Minangkabau untuk kembali menghasilkan tokoh-tokoh masyarakat yang berpengaruh dan bisa berbuat untuk orang banyak, seperti orang-orang Minang <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">zaman pergerakan kemerdekaan</span></em></span> dulu. Akan tetapi mereka lupa,<span style="color: #0000ff;"> <em>tokoh-tokoh Minang</em></span> ini lahir dari <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">roh budaya Minang</span></em></span> yang berdasarkan pada <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">kebebasan</span></em></span> dan <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">kepedulian terhadap nasib orang banyak</span></em></span>, dan bukannya pada jabatan mentri.</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #ff0000;">Kekuasaan tidak pernah menjadi dasar lahirnya tokoh-tokoh Minangkabau yang terkenal itu, melainkan pemikiran serta jiwa yang bebas dari penindasan dan dari konsep kekuasaan.</span></em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Tokoh-tokoh Minang itu menjadi &#8220;tokoh&#8221; dengan sendirinya, lewat proses pergulatan hidup dan interaksi dengan banyak budaya dan masyarakat, dan bukannya dengan &#8220;<span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">menjilat pantat SBY</span></em></span>&#8221; yang ditengarai akan menjadi tokoh paling berkuasa selepas <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color:#ff0000;">pilpres 2009</span></em></span> ini. Itupun kalau menang. SBY tidak akan dengan mudah menang tanpa perlawanan dari banyak pihak yang menjadi lambang daripada korban kezaliman daripada fasisme Jawa di Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika orang Minang mengeluhkan akan ketidakadaannya &#8220;<span style="color:#ff0000;"><em>tokoh Minangkabau</em></span>&#8220;, seharusnya mereka bercermin kepada diri masing-masing mengapa hal itu terjadi. <span style="color:#ff0000;"><em>Tokoh Minangkabau</em></span> tidak muncul dari proses &#8220;jilat-menjilat pantat penguasa&#8221;, seperti yang diperankan oleh Gamawan Fauzi ini, melainkan dari pergulatan hidup. Itu yang tampaknya sudah dilupakan oleh <span style="color:#ff0000;"><em>masyarakat Minangkabau</em></span> zaman kini.</p>
<p class="addtoany_share_save_container">
    <a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?sitename=Vara%20Jambak&amp;siteurl=http%3A%2F%2Fwww.varajambak.com%2F&amp;linkname=Gamawan%20Fauzi%2C%20alat%20kekuasaan%20SBY%20untuk%20menjegal%20faktor%20%26%238220%3BM%26%238221%3B&amp;linkurl=http%3A%2F%2Fwww.varajambak.com%2F2009%2F05%2F15%2Fgamawan-fauzi-alat-kekuasaan-sby-untuk-menjegal-faktor-m%2F"><img src="http://www.varajambak.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Save/Bookmark"/></a>

	</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.varajambak.com/2009/05/15/gamawan-fauzi-alat-kekuasaan-sby-untuk-menjegal-faktor-m/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Iwan Piliang: JK Kemanusian di Dalam Iqra</title>
		<link>http://www.varajambak.com/2009/05/15/iwan-piliang-jk-kemanusian-di-dalam-iqra/</link>
		<comments>http://www.varajambak.com/2009/05/15/iwan-piliang-jk-kemanusian-di-dalam-iqra/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 May 2009 11:43:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Hamid Awaluddin]]></category>
		<category><![CDATA[Iwan Piliang]]></category>
		<category><![CDATA[JK]]></category>
		<category><![CDATA[Jusuf Kalla]]></category>
		<category><![CDATA[kompasiana]]></category>
		<category><![CDATA[NTU]]></category>
		<category><![CDATA[Nurliswandi Piliang]]></category>
		<category><![CDATA[pedagang kaki lima]]></category>
		<category><![CDATA[Pemda Sumbar]]></category>
		<category><![CDATA[pemerintah Sumatra Barat]]></category>
		<category><![CDATA[pemilu 2009]]></category>
		<category><![CDATA[profesor Chan Kap Luk]]></category>
		<category><![CDATA[ranah Minang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.varajambak.com/?p=1260</guid>
		<description><![CDATA[Politik pada akhirnya, adalah memilih. Bagi segelintir orang, memilih adalah didasarkan pada kekuasaan. Bagi segelintir yang lain, memilih berarti mendukung orang yang bisa memberikan kemaslahatan bagi orang banyak. Kalaupun tidak ada pilihan, maka memilih bagi segelintir orang seperti ini, berarti memilih orang yang paling sedikit kemungkinannya untuk menghasilkan kemudharatan (akibat buruk) bagi masyarakat. Berikut tulisan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Politik pada akhirnya, adalah memilih. Bagi segelintir orang, memilih adalah didasarkan pada kekuasaan. Bagi segelintir yang lain, memilih berarti mendukung orang yang bisa memberikan kemaslahatan bagi orang banyak. Kalaupun tidak ada pilihan, maka memilih bagi segelintir orang seperti ini, berarti memilih orang yang paling sedikit kemungkinannya untuk menghasilkan kemudharatan (akibat buruk) bagi masyarakat. Berikut tulisan <span style="color:#ff0000;"><em>Nurliswandi </em></span><em><span style="color:#ff0000;">Piliang</span></em> alias <span style="color:#ff0000;"><em>Iwan Piliang</em></span> mengenai JK di <a href="http://public.kompasiana.com/2009/05/15/iwan-piliang-jk-kemanusian-di-dalam-iqra/"><span style="color:#ff9900;"><em><span style="color:#ff00ff;">kompasiana</span></em></span></a>.</p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:#0000ff;">Sketsa</span></em></p>
<p style="text-align:center;">Jumatan hari ini saya sempatkan lagi mampir shalat di masjid di Kedubes RI di Singapura. Bertepatan hari ini Ulang Tahun <span style="color:#ff0000;"><em>Jusuf Kalla</em></span> (<span style="color:#ff0000;"><em>JK</em></span>), saya memanjatkan doa selamat, agar pribadi JK yang rajin membaca, macam apa yang dituturkan <span style="color:#ff0000;"><em>Hamid Awaludin</em></span> di buku-nya, akan memberi nilai tambah bagi mewujudkan kemaslahatan hidup. Amin.</p>
<p style="text-align:justify;">KETIKA kampanye calon legislatif lalu, dua kali saya diajak JK turut berkampanye. Pertama ketika tujuannya Martapura dan Semarang. Kedua di saat ke Padang. Di Semarang, saya lihat JK mampir ke Soto Bangkong. Lalu saya menulis <a href="http://blog-presstalk.com/?p=191"><span style="color:#ff00ff;"><em>Sketsa: Semangkok Soto Dalam Kampanye</em></span></a>.</p>
<p style="text-align:justify;">Di saat ke Padang, tidak ada kegiatan unik yang dilakukan, saya tidak menulis apa-apa. Namun menarik saya catat, JK selalu memanggil sosok rakyat biasa tampil ke panggung kampanye, berdialog. Di saat panas terik, dari kursinya yg teduh, JK justeru berdiri ke arah panas.</p>
<p style="text-align:justify;">“Saya juga harus berpanas-panas macam Saudara,” ujar JK.</p>
<p style="text-align:justify;">Bayangan saya kala itu, JK akan hadir menjenguk lapak-lapak pedagang kaki lima, yang oleh <em><span style="color: #0000ff;">Pemerintah Sumatera Barat</span></em>, juga macam di daerah lain, acap digaruk-gusur pedagang tersungkur-sungkur.</p>
<p style="text-align:justify;">Sumpah serapah pedagang kaki lima kepada <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">Pemda Sumbar</span></em></span> yang melakukan hal sama dengan daerah lain, saya amini. <span style="color: #0000ff;"><em>Mengingat pedagang kaki lima seharusnya menjadi asset luar biasa ra</em><em>nah Minan</em></span><span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">g</span></em></span>. Adalah sebuah kenaifan, bila Pemda Sumbar tidak menempatkan langgam berdagang “mandiri” itu menjadi asset utama bernilai, yang kudu ditata berdaya guna.</p>
<p style="text-align:justify;">Pulang dari Padang di jam makan siang sudah di Jakarta lagi. Rombongan JK terus ke Bekasi dan Bogor. Saya memisahkan diri dengan rombongan, mengingat petang berangkat kali ke dua ke Singapura urusan memverifikasi kasus kematian , mahasiswa Indonesia di <span style="color:#ff0000;"><em><span style="color: #0000ff;">NTU</span></em></span>, yang diduga dibunuh itu, yang hingga hari ini masih menyisakan kegundahan saya; saksi signifikan di ruang <span style="color:#ff0000;"><em>profesor Chan Kap Luk</em></span> dan di tangga darurat tak ada. Alibi kampusnya, NTU, penggalan David di tangga kaca lalu jatuh, menguatkan dia bunuh diri. Plus pula kloning data laptop David, kunci motif, belum bisa saya dapat untuk di-digital forensik secara independen.</p>
<p style="text-align:justify;">Seminggu sudah untuk ketiga kalinya saya di Singapura. Dari jauh saya mengamati peta perpolitikan di tanah air. Dari berjarak, justeru tampak, banyak hal yang membuat geli hati. Namun, satu yang tetap saya ingat, JK adalah sosok yang membaca buku. Buku itu ibarat makan, dia nasi, bukan camilan, macam koran dan majalah.</p>
<p style="text-align:justify;">Biasanya, dari orang-orang yang selalu <span style="color:#ff0000;"><em>iqra’</em></span> (membaca)lah mutu kehidupan menanjak naik, bukan ambrol ke bawah.</p>
<p class="addtoany_share_save_container">
    <a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?sitename=Vara%20Jambak&amp;siteurl=http%3A%2F%2Fwww.varajambak.com%2F&amp;linkname=Iwan%20Piliang%3A%20JK%20Kemanusian%20di%20Dalam%20Iqra&amp;linkurl=http%3A%2F%2Fwww.varajambak.com%2F2009%2F05%2F15%2Fiwan-piliang-jk-kemanusian-di-dalam-iqra%2F"><img src="http://www.varajambak.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Save/Bookmark"/></a>

	</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.varajambak.com/2009/05/15/iwan-piliang-jk-kemanusian-di-dalam-iqra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saya Bangga Jadi Perempuan Minangkabau</title>
		<link>http://www.varajambak.com/2009/03/21/saya-bangga-jadi-perempuan-minangkabau/</link>
		<comments>http://www.varajambak.com/2009/03/21/saya-bangga-jadi-perempuan-minangkabau/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Mar 2009 08:07:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[A.A Navis]]></category>
		<category><![CDATA[Aisyah Amini]]></category>
		<category><![CDATA[Arab Saudi]]></category>
		<category><![CDATA[arabisasi sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Barat]]></category>
		<category><![CDATA[Belanda]]></category>
		<category><![CDATA[Brunei]]></category>
		<category><![CDATA[budaya Bundo Kanduang]]></category>
		<category><![CDATA[budaya Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[budaya patriarkal]]></category>
		<category><![CDATA[budaya-budaya patriarkal dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Bunda]]></category>
		<category><![CDATA[Bunda-bunda Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Bundo Kanduang]]></category>
		<category><![CDATA[Cina]]></category>
		<category><![CDATA[Desi Anwar]]></category>
		<category><![CDATA[Dr. Ranny Emilia]]></category>
		<category><![CDATA[Dresden]]></category>
		<category><![CDATA[Elly Kasim]]></category>
		<category><![CDATA[eropaisasi sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Gumarang Sakti]]></category>
		<category><![CDATA[H.R. Rasuna Said]]></category>
		<category><![CDATA[Hindu]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu Alam Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu Asal Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu Pers Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu Ratu]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu Ratu bijaksana]]></category>
		<category><![CDATA[ibu-ibu pemuja phallus]]></category>
		<category><![CDATA[India]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Inggris]]></category>
		<category><![CDATA[Inul]]></category>
		<category><![CDATA[Inyiak Upiak Palatiang]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Islamisasi sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Jajang Pamuntjak]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Jerman]]></category>
		<category><![CDATA[jihad]]></category>
		<category><![CDATA[jihad Islam]]></category>
		<category><![CDATA[kaba]]></category>
		<category><![CDATA[kaum padri]]></category>
		<category><![CDATA[kekuasaan patriarkal]]></category>
		<category><![CDATA[Lany Verayanti]]></category>
		<category><![CDATA[Leila S. Chudori]]></category>
		<category><![CDATA[maestro Silat]]></category>
		<category><![CDATA[Malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[maskulinisasi pemberitaan]]></category>
		<category><![CDATA[maskulinisasi sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Melayu]]></category>
		<category><![CDATA[mesin pembuat anak]]></category>
		<category><![CDATA[negeri-negeri Melayu]]></category>
		<category><![CDATA[Niniak]]></category>
		<category><![CDATA[Niniek]]></category>
		<category><![CDATA[Ninik]]></category>
		<category><![CDATA[non-Barat]]></category>
		<category><![CDATA[patriarkal]]></category>
		<category><![CDATA[Perancis]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan-perempuan Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[phallus]]></category>
		<category><![CDATA[Prof. Dr. Dewi Fortuna Anwar]]></category>
		<category><![CDATA[Puti Reno Raudha Thaib]]></category>
		<category><![CDATA[Rahmah El Yunusiyah]]></category>
		<category><![CDATA[ranah Bundo Kanduang]]></category>
		<category><![CDATA[ranah Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Rasuna Said]]></category>
		<category><![CDATA[RCTI]]></category>
		<category><![CDATA[Rohana Kudus]]></category>
		<category><![CDATA[Saadah Alim]]></category>
		<category><![CDATA[Singapura]]></category>
		<category><![CDATA[Siti Manggopoh]]></category>
		<category><![CDATA[Sunda]]></category>
		<category><![CDATA[Sunting Melayu]]></category>
		<category><![CDATA[tambo alam Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Tan Malaka]]></category>
		<category><![CDATA[teori-teori feminisme]]></category>
		<category><![CDATA[teori-teori pembebasan perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[teori-teori pemberdayaan perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[The Weapons of Mass Destruction Commission. Swedia]]></category>
		<category><![CDATA[Yeni Rosa Damayanti]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://moendg07.wordpress.com/?p=876</guid>
		<description><![CDATA[
Karena perempuan-perempuan Minangkabau telah dan selalu melawan kekuasaan-kekuasaan yang datang silih berganti yang berusaha menghancurkan ranah Minang entah itu atas nama jihad Islam kaum padri, Barat, pemerintah daerah ataupun pemerintah pusat yaitu para Bundo Kanduang, para Niniak/Niniek/Ninik (nenek), atau nama-nama seperti Siti Manggopoh, Rohana Kudus, Rasuna Said, Dr. Ranny Emilia, Yeni Rosa Damayanti, Prof. Dr. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena <span style="color: #0000ff;"><em>perempuan-perempuan Minangkabau</em></span> telah dan selalu melawan kekuasaan-kekuasaan yang datang silih berganti yang berusaha menghancurkan ranah Minang entah itu atas nama <span style="color: #0000ff;"><em>jihad Islam kaum padri</em></span>, <span style="color: #0000ff;"><em>Barat</em></span>, pemerintah daerah ataupun pemerintah pusat yaitu para <em><span style="color:#ff0000;">Bundo Kanduang</span></em>, para <em><span style="color:#ff0000;">Niniak</span></em>/<em><span style="color:#ff0000;">Niniek</span></em>/<em><span style="color:#ff0000;">Ninik</span></em> (nenek), atau nama-nama seperti <em><span style="color:#ff0000;">Siti Manggopoh</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Rohana Kudus</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Rasuna Sai</span><span style="color:#ff0000;">d</span></em>, <span style="color:#ff0000;"><em>Dr. Ranny Emilia</em></span>, <em><span style="color:#ff0000;">Yeni Rosa Damayanti</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Prof. Dr. Dewi Fortuna Anwar</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Lany Verayanti</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Aisyah Amini</span></em> dan banyak lagi perempuan-perempuan Minangkabau lainnya.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabau telah terbiasa memimpin masyarakat sebagai <em><span style="color:#ff0000;">Bundo Kanduang</span></em> dan juga mengambil alih kepemimpinan dari tangan laki-laki ketika laki-laki tidak berdaya apa-apa lagi seperti<em><span style="color:#ff0000;"> Siti Manggopoh</span></em> yang memimpin penyerangan bersenjata terhadap <em><span style="color:#ff0000;">Belanda</span></em> bahkan ketika anaknya masih menyusu.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabau dihargai kemampuan reproduksinya dan diakui hubungannya yang alami dengan anak dimana perempuan-perempuan lain dalam budaya patriarkal Indonesia maupun dunia hanya diperlakukan sebagai &#8220;<span style="color: #0000ff;"><em>mesin pembuat anak</em></span>&#8221; atau &#8220;<span style="color: #0000ff;"><em>pengasuh anak daripada seorang laki-laki</em></span>&#8221; dan diputuskan hubungan alaminya dengan anak-anak yang telah dikandungnya dan dilahirkannya.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuanlah yang menjadi pemilik tanah dan harta kaum, yang telah terbukti berjasa dalam mempertahankan budaya Minangkabau dan identitas Minangkabau yang membuat kaum tetap memiliki kampung halaman ke mana mereka pulang sejauh apapun mereka merantau dan di mana dalam budaya lain, hampir seluruh tanah telah diperjual-belikan oleh pihak laki-laki dan telah beralih ke tangan para elit yang utamanya adalah laki-laki.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan-perempuan Minangkabaulah yang mengatur dan mengurus keluarga dan berhasil mencetak anak-anak menjadi pribadi-pribadi yang percaya diri dan kuat, yang bisa memimpin masyarakat dan menjadi orang-orang yang perannya terkenal di Indonesia dan<em><span style="color:#ffcc00;"> <span style="color: #0000ff;">negeri-negri Melayu</span></span></em> seperti <span style="color: #0000ff;"><em>Malaysia</em></span>, <span style="color: #0000ff;"><em>Singapura</em></span> dan <em><span style="color:#ffcc00;"><span style="color: #0000ff;">Brunei</span> </span></em>dan maupun dunia.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabau selalu berhasil melawan kekuasaan daripada budaya-budaya patriarkal yang datang luar yang berusaha dan cenderung meminggirkan perempuan dari perannya dalam kehidupan masyarakat entah itu kekuasaan yang bernama <span style="color: #0000ff;"><em>Islam</em></span> (<span style="color: #0000ff;"><em>fundamentalis</em></span> ataupun tidak), kekuasaan<em><span style="color:#ffcc00;"> <span style="color: #0000ff;">Belanda</span></span></em> atau <span style="color: #0000ff;"><em>Barat</em></span> secara umum, kekuasaan yang bernama pemerintah daerah atau pusat serta kekuasaan yang berbentuk hukum yang menindas perempuan serta <span style="color: #0000ff;"><em>kekuasaan-kekuasaan patriarkal dunia</em></span> lainnya.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabaulah yang menjadi perempuan-perempuan pertama di banyak bidang kehidupan &#8220;modern&#8221; mulai dari jurnalisme/pers/media, dunia usaha, organisasi, pendidikan, seni/budaya, bidang-bidang intelektual dan lain-lain bidang.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabulah yang menjadi perempuan pertama yang menjadi pendiri partai pertama di Indonesia, yaitu <span style="color:#ff0000;"><em>H.R. Rasuna Said</em></span>.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempaun Minangkabaulah yang mendirikan surat kabar khusus perempuan pertama yaitu <em><span style="color:#ff0000;">Rohana Kudus</span></em> yaitu surat kabar<span style="color:#ffcc00;"> <span style="color: #0000ff;"><em>Sunting Melayu</em></span></span>.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabaulah yang menjadi pendiri organisasi perempuan pertama di Indonesia yaitu <em><span style="color:#ff0000;">Rohana Kudus</span></em> yaitu organisasi <span style="color: #0000ff;"><em>Kerajinan Amai Setia</em></span> pada tahun 1911.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabaulah yang memelopori bidang usaha modern untuk kaum perempuan di Indonesia yaitu<span style="color:#ff0000;"><em> Rohana Kudus</em></span> dengan bidang usaha<em><span style="color:#ffcc00;"> <span style="color: #0000ff;">Kerajinan Amai Setia</span></span></em>-nya.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabaulah yang mendirikan sekolah perempuan modern pertama yaitu <span style="color:#ffcc00;"><em><span style="color: #0000ff;">Rohana School</span> </em></span>yaitu <span style="color:#ff0000;"><em>Rohana Kudus</em></span>.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan-perempuan Minangkabau adalah perempuan-perempuan kuat yang juga memilki banyak kemampuan dan ketrampilan serta tetap dapat menjalankan fungsinya sebagai <em><span style="color:#ff0000;">Bunda Penyayang</span></em> bagi anak-anaknya.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan-perempuan Minangkabau bisa melakukan apa saja tampa harus pusing-pusing belajar dan berkutat dengan &#8220;<span style="color: #0000ff;"><em>teori feminisme</em></span>&#8220;/&#8221;<span style="color: #0000ff;"><em>teori pembebasan perempuan</em></span>&#8220;/<span style="color: #0000ff;">&#8220;<em>teori pemberdayaan perempuan</em></span>&#8221; dan lain sebagainya yang sebenarnya hanya berlaku untuk dan diperlukan oleh perempuan-perempuan dalam budaya patriarkal yang memang dilecehkan, ditindas dan dipinggirkan. Yang perlu dilakukan oleh perempuan Minangkabau adalah melawan pengaruh-pengaruh negatif dari<em><span style="color:#ffcc00;"> <span style="color: #0000ff;">budaya-budaya patriarkal dunia</span></span></em> yang masuk lewat satuan-satuan budaya dengan label agama, ideologi ataupun kekuasaan.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena ketika anak gadis-anak gadis lain diajarkan oleh Ibunya untuk menjerat laki-laki kaya walaupun sudah tua sekalipun, <em><span style="color:#ff0000;">Bunda</span></em> saya dan <em><span style="color:#ff0000;">Bunda-Bunda Minang</span></em> lain mengatakan kepada gadis-gadis Minang untuk bersama dengan laki-laki yang baik dan penyayang.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan-perempuan Minangkabau tidak dijarkan untuk patuh dan menurut kepada laki-laki lain yang dikenal sebagai suaminya, ketika gadis-gadis lainnya diajarkan untuk &#8220;melayani laki-laki yang menjadi suaminya&#8221; dan patuh tanpa syarat, dikarenakan tanggung jawab perempuan Minangkabau adalah terhadap anak dan keluarganya. Walaupun konsep-konsep  seperti ini sudah mulai masuk ke dalam budaya Minangkabau lewat <span style="color: #0000ff;"><em>budaya-budaya patriarkal</em></span> lokal maupun internasional yang berusaha menguasai <em>ranah Minang.</em></li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Ketika anak gadis-anak gadis lain dipingit dan tidak dapat melakukan apa-apa perempuan Minangkabau bisa melakukan apa saja karena tidak pernah ada pemisahan yang jelas antara &#8220;pekerjaan laki-laki&#8221; atau &#8220;pekerjaan perempuan&#8221; pada masyarakat Minangkabau.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabau diakui peranannya sebagai<em><span style="color:#ff0000;"> Bundo Kanduang</span></em> (<span style="color: #0000ff;"><em>Bunda Penyayang</em></span>), atau dalam perannya sebagai kekuatan untuk meneruskan generasi manusia di dunia. Oleh karenanya perempuan-perempuan Minangkabau yang telah memiliki keturunan diberi gelar <em><span style="color:#ff0000;">Bundo Kanduang</span></em>.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Ketika perempuan-perempuan lain dalam budaya patriarkal diberi tugas untuk harus dapat &#8220;melahirkan anak laki-laki&#8221;, &#8220;memuja anak laki-laki&#8221; dan memdiskriminisakikan anak perempuannya bahkan kalau perlu membunuhnya di kandungan ataupun setelah di luar kandungan seperti banyak terjadi di <span style="color: #0000ff;"><em>India</em></span> dan <span style="color: #0000ff;"><em>Cina</em></span> serta di dalam budaya-budaya patriarkal zaman dulu, perempuan-perempuan Minangkabau mengandung dan melahirkan anak-anak tanpa memandang jenis kelamin.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena menjadi &#8220;perempuan&#8221; dalam budaya Minangkabau tidaklah hina seperti menjadi perempuan dalam budaya-budaya patriarkal lainnya.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Kerena ketika perempuan-perempuan dalam karya sastra (dan film) dari banyak budaya patriarchal lainnya hampir selalu digambarkan sebagai pelacur, perempuan yang diperkosa, perempuan yang dipukuli, perempuan yang dibunuh, perempuan yang dijual orang tuanya ke laki-laki lainnya, perempuan yang diberikan ke laki-laki yang berkuasa seperti nasib yang harus dijalani oleh RA Kartini yang disebut-sebtut sebagai &#8220;pembebas perempuan Indonesia&#8221; itu, dan lain-lain perbuatan biadab terhadap perempuan, perempuan Minangkabau digambarkan sebagai <em><span style="color: #0000ff;">Ibu Ratu bijaksana</span><span style="color:#ffcc00;"> </span></em>dalam <span style="color: #0000ff;"><em>tambo alam Minangkabau</em></span> yaitu <em><span style="color:#ff0000;">Bundo Kanduang</span></em> dan juga sebagai perempuan-perempuan kuat dan mandiri dalam <em><span style="color:#ff0000;">kaba</span></em> (cerita klasik Minang). Sastra Minangkabau tidak mengenal perempuan sebagai pelacur atau tema-tema cerita-cerita lainnya yang melambangkan pelecehan, penindasan, kekerasan dan penhinaan serta penistaan yang menjadi tema-tema utama di dalam budaya patriarkal baik lokal maupun dunia.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena budaya Minangkabau tidak mengenal perempuan sebagai pelacur, sebagai budak, baik dalam lembaga yang bernama &#8220;rumah tangga&#8221; maupun sebagai pembantu rumah tangga murah, sebagai anak yang dijual orang tuanya kepada laki-laki kaya, perempuan sebagai &#8220;obyek seks&#8221; dan lain-lain posisi perempuan yang rendah dan tertindas.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabau sangat dihormati dalam fungsi keibuannya dan diberi gelar sama dengan gelar<span style="color: #0000ff;"> <em>Ibu Asal Minangkabau</em></span> yaitu <em><span style="color:#ff0000;">Bundo Kanduang</span></em>.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabau dihormati dalam fungsinya sebagai cerdik pandai dan diberi gelar sama dengan gelar <span style="color: #0000ff;">Ibu Asal Minangkabau</span> yaitu <span style="color:#ff0000;"><em>Bundo Kanduang</em></span>.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena budaya Minangkabau telah dan selalu melahirkan perempuan-perempuan hebat yang melawan begitu banyak kekuasaan patriarchal yang datang silih berganti ke ranah <em><span style="color:#ff0000;">Bundo Kanduang</span></em> dan yang berusaha menghancurkan  ranah maupun<span style="color: #0000ff;"> <em>budaya Bundo Kanduan</em>g</span> seperti <em><span style="color:#ff0000;">Siti Manggopoh</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Rasuna Said</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Rahmah El Yunusiyah</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Rohana Kudus</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Puti Reno Raudha Thaib</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Yeni Rosa  Damayanti</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Prof. Dr. Dewi Fortuna Anwar</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Dr. Ranny Emilia</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Lany Verayanti</span></em> dan masih banyak lagi lainnya.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena budaya Minangkabau banyak melahirkan perempuan-perempuan yang keras hati, teguh pendirian, dan kuat kemauan, kuat dalam menghadapi cobaan hidup, mandiri, dan memainkan peranan penting dalam keluarga, masyarakat Minang, Indonesia maupun dunia.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabau sebagai janda tidak dipandang rendah atau bahkan harus mati dipanggang api karenanya, seperti yang umum terjadi dalam budaya-budaya yang dipengaruhi oleh <span style="color: #0000ff;"><em>Hindu</em></span> seperti di <em><span style="color:#ffcc00;"><span style="color: #0000ff;">India</span> </span></em>dan <span style="color: #0000ff;"><em>Jawa</em></span>/<span style="color: #0000ff;"><em>Sunda</em></span>. Perempuan Minangkabau akan didorong untuk kawin lagi sehingga tidak perlu menderita karena harus &#8220;bobok sendirian&#8221; <img src='http://www.varajambak.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabau tidak dipandang dari sisi kelaminnya seperti perempuan-perempuan dalam budaya patriarkal, melainkan dari segi fungsinya sebagai Bunda bagi anak-anaknya, perannya dalam keluarga besar dan dalam masyarakat.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena ketika perempuan-perempuan lain dalam budaya patriarkal harus menelan hinaan-hinaan yang menyakitkan hati seperti kata-kata berikut dalam bahasa<em><span style="color:#ff0000;"> Jawa</span></em>/<em><span style="color:#ff0000;">Sunda</span></em>/<em><span style="color:#ff0000;">Jakarta</span></em> (sundal, pelacur, perek, ayam, perempuan murahan, dll), Inggris (whore, slut, bitch, chick, cunt), Jerman (Schlampe, Nutte, Flittchen), Perancis (putain, pute) dan banyak lagi lainnya dalam berbagai bahasa-bahasa daripada bangsa-bangsa patriarkal lokal maupun dunia, budaya Minangkabau tidak mengenal cacian dan hinaan serupa itu. Satu panggilan untuk perempuan Minangkabau yang melambangkan penghormatan dan penghargaan yang tinggi yaitu <em><span style="color:#ff0000;">Bundo Kanduang</span></em>. Lewat pengaruh-pengaruh budaya-budaya patriarkal baik lokal maupun internasional, sudah ada laki-laki dan juga sebagain kecil perempuan Minangkabau yang telah mulai menggunakan kata-kata hinaan dan cacian tersebut. Tapi hal itu masih bukan merupakan hal yang umum.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabaulah yang menjadi<span style="color: #0000ff;"> <em>pandeka Silat</em> </span>yang dikenal dunia yaitu <em><span style="color:#ff0000;">Inyiak Upiak Palatiang</span></em>.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan-perempuan Minangkabau adalah perempuan-perempuan pelopor dalam bidangnya masing-masing di Indonesia.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan-perempuan Minangkabau adalah pelopor-pelopor dalam bidang puisi di Indonesia.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena peremuan-perempuan Minangkabau adalah perempuan-perempuan menonjol dalam bidang penulisan seperti <em><span style="color:#ff0000;">Saadah Alim</span></em>,<em><span style="color:#ff0000;"> Saadah Alim</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Leila S. Choidori</span></em> dan banyak lagi lainnya.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan-perempuan Minangkabau adalah perempuan-perempuan yang berperan penting dalam dunia film dan theater seperti <em><span style="color:#ff0000;">Eva Arnaz</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Jajang Pamoentjak</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">Gusmiati Suid</span></em> dan <em><span style="color:#ff0000;">Sherina</span></em>.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabaulah yang menjadi penulis cerita pendek perempuan pertama di Indonesia yaitu <span style="color:#ff0000;"><em>Saadah Alim</em></span>.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabaulah yang aktif memperkenalkan budaya-budaya Indonesia ke manca negara yaitu <em><span style="color:#ff0000;">Elly Kasim.</span></em></li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabaulah yang aktif membela perempuan yang ditinda oleh para penguasa <span style="color: #0000ff;"><em>Islam</em></span> seperti <span style="color:#ff0000;"><em>Inul</em></span> yaitu <em><span style="color:#ff0000;">Jajang Pamoentjak</span></em> dan <em><span style="color:#ff0000;">Yeni Rosa Damayanti</span></em>.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabaulah yang menjadi <span style="color: #0000ff;"><em>Ibu Pers Indonesia</em></span> yaitu <em><span style="color:#ff0000;">Rohana Kudus</span></em>.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabaulah yang menyelamatkan per-film-an Indonesia setelah sekarat hampir 20 tahun lamanya yaitu artis kecil <em><span style="color:#ff0000;">Sherina</span></em>, yang menyelamatkan per-film-an Indonesia pada saat ia baru berumur 10 tahun lewat film-nya yang sangat terkenal yaitu <em>Petualangan Sherina</em>.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena orang Minangkabaulah yang menjadi anggota kehormatan dari lembaga hak-hak asasi manusia untuk pemberitaan mengenai senjata pemusnah masal yaitu <span style="color: #0000ff;"><em>The Weapons of Mass Destruction Commission</em></span>, yang berkedudukan di <span style="color: #0000ff;"><em>Swedia</em></span> yaitu <span style="color:#ff0000;"><em>Prof. Dr. Dewi Fortuna Anwar</em></span>.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena orang Minangkabaulah yang menjadi Ibu dari dunia tari kontemporer Indonesia, yang membuat nama Indonesia diakui di dunia Internasional dengan tari kontemporernya yang berdasarkan pada budaya Minangkabau Silek (silat) yaitu <em><span style="color:#ff0000;">Gusmiati Suid</span></em>, pendiri sanggar tari <span style="color: #0000ff;"><em>Gumarang Sakti</em></span>.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena orang Minangkabaulah yang merupakan aktivis mahasiswa yang ditakuti <span style="color: #0000ff;"><em>Suharto</em></span> yaitu <em><span style="color:#ff0000;">Yeni Rosa Damayanti </span></em>yang dipenjarakan olehnya lebih dari satu tahun lamanya dalam kasus &#8220;21 mahasiswa&#8221; dan yang diasingkan olehnya di negri <span style="color: #0000ff;"><em>Belanda</em></span> setelah peristiwa di kota<em><span style="color:#ffcc00;"> <span style="color: #0000ff;">Dresden</span></span></em>, <span style="color: #0000ff;"><em>Jerman</em></span>.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena Ibu saya ada banyak, saya panggil mereka Mak Gaek, Uwo, Mama dan Etek.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena saya tidak pernah diajarkan oleh Ibu saya dan budaya saya untuk menyembah laki-laki dan memasrahkan kehidupan saya ditangan laki-laki seperti nasib banyak perempuan-perempuan lainnya dalam budaya patriarkal.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena saya sebagai perempuan bisa jauh merantau, dan karenanya bisa tau banyak hal dan bisa melihat banyak hal. Karena Ibu saya tidak pernah mengatakan hal-hal berikut ini: &#8220;Ah, kamukan perempuan tidak usah sekolah tinggi-tinggi&#8221;, &#8220;sebagai perempuan kamu harus melayani suami&#8221;, dan lain-lain ucapan yang merendahkan anak perempuan dan menghilangkan semangat anak perempuan yang biasa dilakukan oleh <span style="color: #0000ff;"><em>ibu-ibu pemuja phallus</em> </span>(kelamin laki-laki) pada budaya patriarkal.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena masyarakat Minangkabau adalah masyarakat matriarchat terbesar di dunia.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena masyarakat Minangkabau adalah masyarakat matriarchat yang &#8220;termodern&#8221; di dunia.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena masyarakat Minangkabau adalah masyarakat matriarchat yang paling stabil di dunia.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena Minangkabau menjadi lambang perlawanan budaya matriarchat yang diperangi oleh budaya patriarchat selama ribuan tahun.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan-perempuan Minangkabau berhasil bertahan dan selalu melakukan perlawanan atas penindasan dan usaha-usaha memerangi perempuan dan budaya Minangkabau. Sampai sekarang.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan-perempuan Minangkabau memainkan peranan penting dalam melawan arus  kekuatan-kekuatan patriarkal besar dunia, <span style="color: #0000ff;"><em>Hindu</em></span>/<em><span style="color:#ffcc00;"><span style="color: #0000ff;">Budha</span>-<span style="color: #0000ff;">India</span></span></em>, <em><span style="color: #0000ff;">Hindu</span></em>/<span style="color: #0000ff;"><em>Budha</em></span>-<span style="color: #0000ff;"><em>Jawa</em></span>,<em><span style="color:#0000ff;"> Konfusianisme</span></em>/<span style="color: #0000ff;"><em>Budha</em></span>-<span style="color: #0000ff;"><em>Cina</em></span>, <span style="color: #0000ff;"><em>Katolik</em></span>-<span style="color: #0000ff;"><em>Portugis</em></span>, <span style="color: #0000ff;"><em>Budha</em></span>-<span style="color: #0000ff;"><em>Sriwijaya</em></span>,<em><span style="color:#ffcc00;"> <span style="color: #0000ff;">Aceh</span></span></em>-<span style="color: #0000ff;"><em>Islam</em></span>, <span style="color: #0000ff;"><em>Arab</em></span>-<span style="color: #0000ff;"><em>Islam</em></span>, <span style="color: #0000ff;"><em>Kristen</em></span>-<span style="color: #0000ff;"><em>Belanda</em></span>, <span style="color: #0000ff;"><em>Kristen</em></span>-<span style="color: #0000ff;"><em>Inggris</em></span>, <span style="color: #0000ff;"><em>Budha</em></span>-<span style="color: #0000ff;"><em>Jepang</em></span>, <span style="color: #0000ff;"><em>Kristen</em></span>/<span style="color: #0000ff;"><em>Globalisasi</em></span>/<em><span style="color:#ffcc00;"><span style="color: #0000ff;">Kapitalisme</span> <span style="color: #0000ff;">Turbo</span></span></em>-<span style="color: #0000ff;"><em>Amerika Serikat</em></span>/<span style="color: #0000ff;"><em>Inggris</em></span> serta<em><span style="color: #0000ff;"> Kristen</span></em>/<span style="color: #0000ff;"><em>Misionaris Barat</em></span>.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan-perempuan Minangkabau memainkan peranan penting dan sangat berpengaruh di Indonesia (dalam arti yang baik tentunya) dalam bidang budaya, bahasa, sastra, politik, sejarah, pers, gastronomi, dan lain sebagainya, walaupun di dalam pemberitaan atau buku sejarah Indonesia hampir tidak disebutkan.Perempuan Minangkabau hilang dari lembaran-lembaran pemberitaan dan sejarah Indonesia lewat jawanisasi, Islamisasi, Arabisasi, Eropaisasi dan maskulinisasi sejarah.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena perempuan Minangkabaulah yang menjadi teladan bagi banyak gadis-gadis remaja di Indonesia untuk menggeluti dunia pertelevisian yaitu <span style="color:#ff0000;">Desi Anwar</span> yang menjadi presenter pertama perempuan dalam sebuah stasium televisi swasta pertama di Indonesia yaitu <em><span style="color:#ffcc00;"><span style="color: #0000ff;">RCTI</span>.</span></em></li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Karena walaupun banyak budaya-budaya patriarkal yang masuk dan mempengaruhi budaya Minangkabau, perempuan-perempuan Minangkabau tidak pernah kekurangan tokoh laki-laki yang memberitakan dan mendorong peran perempuan Minangkabau dalam masyarakat, seperti <em><span style="color:#ff0000;">Tan Malaka</span></em>, <em><span style="color:#ff0000;">A.A. Navis</span></em><em></em> dan lain-lain para cerdik pandai Minangkabau laki-laki lainnya.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Walaupun sepertinya terpinggirkan dan tidak dikenal jasa-jasanya di Indonesia dibandingkan dengan kaum laki-lakinya karena<span style="color: #0000ff;"> <em>maskulinisasi sejarah</em> </span>dan pemberitaan, perempuan Minangkabau tetap memainkan peranan penting sampai saat kini. Malah abad ke-21 tampaknya melambangkan kebangkitan kaum perempuan Minangkabau dengan munculnya tokoh-tokoh perempuan baru di ranah masyarakat.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Peran perempuan Minangkabau mengalami pasang surut, karena datangnya pengaruh dan penindasan budaya patriarkal baik lokal maupun dunia, akan tetapi perempuan-perempuan Minangkabau terus melawannya dan berhasil menghalau pengaruh-pengaruh buruk yang selalu bertujuan sama yaitu menindas dan menghilangkan peran perempuan Minang sebagai <em><span style="color:#ff0000;">Bunda</span></em> (baca: penghasil generasi baru manusia) dan dalam masyarakat.</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Mengatakan bahwa semua perempuan Indonesia bernasib sama atau seluruh perempuan di dunia bernasib sama adalah pernyataan tanpa dasar yang tidak berdasar pada kaji yang lengkap. Perempuan Minangkabau serta perempuan-perempuan dalam budaya matriarkal lainnya jelas tidak bernasib sama dengan perempuan-perempuan <span style="color: #0000ff;"><em>Jawa</em></span>/<span style="color: #0000ff;"><em>Barat</em></span>/<span style="color: #0000ff;"><em>Arab Saudi</em></span>. Menyamaratakan segala sesuatu adalah hal yang berbahaya dan tidak bertanggung jawab. Tolok ukur barat tidak bisa dipakai untuk menilai peran serta dan keadaan perempuan pada budaya-budaya <span style="color: #0000ff;"><em>non-Barat</em></span> seperti budaya Minangkabau. Perempuan Minangkabau, sebelum tolok ukur barat dijadikan sebagai penafsir &#8220;kemajuan perempuan&#8221;, selalu memainkan peranan penting dalam masyarakat dan melakukan segala jenis pekerjaan yang ada di masyarakat Minang &#8220;tradisional&#8221; kala itu.</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><em>Tulisan ini saya persembahkan bagi Niniak, Uwo, Bunda, Etek, kakak perempuan kontan saya, dunsanak-dunsanak perempuan saya yang lain, kawan-kawan perempuan saya serta para Bundo Kanduang dan para Niniak yang telah berusaha merajut hubungan keluarga besar di rumah gadang dan kaum.</em></span></p>
<p class="addtoany_share_save_container">
    <a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?sitename=Vara%20Jambak&amp;siteurl=http%3A%2F%2Fwww.varajambak.com%2F&amp;linkname=Saya%20Bangga%20Jadi%20Perempuan%20Minangkabau&amp;linkurl=http%3A%2F%2Fwww.varajambak.com%2F2009%2F03%2F21%2Fsaya-bangga-jadi-perempuan-minangkabau%2F"><img src="http://www.varajambak.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Save/Bookmark"/></a>

	</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.varajambak.com/2009/03/21/saya-bangga-jadi-perempuan-minangkabau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Militer Indonesia vs. Perempuan Aceh</title>
		<link>http://www.varajambak.com/2009/03/16/militer-indonesia-vs-perempuan-aceh/</link>
		<comments>http://www.varajambak.com/2009/03/16/militer-indonesia-vs-perempuan-aceh/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Mar 2009 23:58:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vara</dc:creator>
				<category><![CDATA[patriarchy]]></category>
		<category><![CDATA[Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[LSM]]></category>
		<category><![CDATA[militer Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[ranah Minang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://moendg07.wordpress.com/?p=866</guid>
		<description><![CDATA[Hati saya pilu, setiap kali saya mendengar kisah-kisah tentang masyarakat di Aceh dan penindasan oleh kelompok militer Indonesia. Lebih pilu lagi mendengar bagaiman perempuan diperlakukan dengan sewenang-wenang oleh tentara Indonesia, diperkosa, ditendang, dan lain-lain perbuatan biadab. Masalahnya cerita ini jarang sekali muncul di media di Indonesia. Hal ini cuma bisa diketahui dari LSM-LSM baik dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Hati saya pilu, setiap kali saya mendengar kisah-kisah tentang masyarakat di <span style="color:#ff0000;"><em>Aceh</em></span> dan penindasan oleh kelompok <span style="color:#ff0000;"><em>militer Indonesia</em></span>. Lebih pilu lagi mendengar bagaiman perempuan diperlakukan dengan sewenang-wenang oleh tentara Indonesia, diperkosa, ditendang, dan lain-lain perbuatan biadab. Masalahnya cerita ini jarang sekali muncul di media di Indonesia. Hal ini cuma bisa diketahui dari <span style="color:#ff0000;"><em>LSM-LSM</em></span> baik dalam dan luar negeri, orang Aceh sendiri ataupun orang bukan Aceh yang berkecimpung dalam masalah Aceh.</p>
<p style="text-align: justify;">Satu lagi cerita pilu dari seorang perempuan Aceh yang dibakar kampungnya dan ditendang wajahnya oleh tentara Indonesia. Saya lihat perempuan ini tidak ada bedanya dengan Ibu-Ibu di <span style="color:#ff0000;"><em>ranah Minang</em></span>, baik kain penutup kepalanya, raut mukanya maupun senyumnya. Serupa kalau kita tidak bisa bilang sama. Lebih lanjutnya klik link berikut ini: <a href="http://tapioca.tv/blog/2006/03/11/on-paya-bili-and-coconuts-and-being-very-white/"><em><span style="color:#ffcc00;">Cerita Pilu Perempuan Aceh</span></em></a></p>
<p class="addtoany_share_save_container">
    <a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?sitename=Vara%20Jambak&amp;siteurl=http%3A%2F%2Fwww.varajambak.com%2F&amp;linkname=Militer%20Indonesia%20vs.%20Perempuan%20Aceh&amp;linkurl=http%3A%2F%2Fwww.varajambak.com%2F2009%2F03%2F16%2Fmiliter-indonesia-vs-perempuan-aceh%2F"><img src="http://www.varajambak.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Save/Bookmark"/></a>

	</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.varajambak.com/2009/03/16/militer-indonesia-vs-perempuan-aceh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orang Batak, Orang Minang, Orang Jawa</title>
		<link>http://www.varajambak.com/2009/02/26/orang-batak-orang-minang-orang-jawa/</link>
		<comments>http://www.varajambak.com/2009/02/26/orang-batak-orang-minang-orang-jawa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Feb 2009 13:51:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[absurd]]></category>
		<category><![CDATA[Asia]]></category>
		<category><![CDATA[Austronesia]]></category>
		<category><![CDATA[bahas Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa Melayu]]></category>
		<category><![CDATA[Batak]]></category>
		<category><![CDATA[budaya Hindu]]></category>
		<category><![CDATA[budaya Hindu India]]></category>
		<category><![CDATA[budaya Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[budaya matriarkat]]></category>
		<category><![CDATA[budaya matriarkat Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[budaya patrilineal Batak]]></category>
		<category><![CDATA[Dolorosa Sinaga]]></category>
		<category><![CDATA[Edi Silitonga]]></category>
		<category><![CDATA[fasisme Inggris]]></category>
		<category><![CDATA[fasisme Islam]]></category>
		<category><![CDATA[fasisme Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[fasisme Jerman]]></category>
		<category><![CDATA[google]]></category>
		<category><![CDATA[Hutabarat]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Islam Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Jawaisme]]></category>
		<category><![CDATA[Juan Felix Tampubolon]]></category>
		<category><![CDATA[kanibal]]></category>
		<category><![CDATA[kanibalisme]]></category>
		<category><![CDATA[ke-Islam-an]]></category>
		<category><![CDATA[kelompok Islam fanatik]]></category>
		<category><![CDATA[kelompok Padri]]></category>
		<category><![CDATA[komunis]]></category>
		<category><![CDATA[Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[kritik budaya]]></category>
		<category><![CDATA[marga]]></category>
		<category><![CDATA[matriarkat]]></category>
		<category><![CDATA[matrilineal]]></category>
		<category><![CDATA[Melanesia]]></category>
		<category><![CDATA[Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[nama suku]]></category>
		<category><![CDATA[nilai gengsi]]></category>
		<category><![CDATA[OC Kaligis]]></category>
		<category><![CDATA[orang komunis]]></category>
		<category><![CDATA[orang Minang]]></category>
		<category><![CDATA[orang Padang]]></category>
		<category><![CDATA[orang Padang Sidempuan]]></category>
		<category><![CDATA[Padang]]></category>
		<category><![CDATA[padang bengkok]]></category>
		<category><![CDATA[Padang Sidempuan]]></category>
		<category><![CDATA[Padri]]></category>
		<category><![CDATA[palu arit]]></category>
		<category><![CDATA[patriarkalisasi]]></category>
		<category><![CDATA[patrilineal]]></category>
		<category><![CDATA[pemujaan phallus]]></category>
		<category><![CDATA[pengacara Suharto]]></category>
		<category><![CDATA[penjajah Belanda]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan-perempuan Batak]]></category>
		<category><![CDATA[pergerakan komunis]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[ranah Minang]]></category>
		<category><![CDATA[rantaunet]]></category>
		<category><![CDATA[rasis]]></category>
		<category><![CDATA[rasisme]]></category>
		<category><![CDATA[Ratna Sarumpaet]]></category>
		<category><![CDATA[rentenir]]></category>
		<category><![CDATA[rentenir-rentenir Batak]]></category>
		<category><![CDATA[SARA]]></category>
		<category><![CDATA[sistem kekeluargaan patriarkal]]></category>
		<category><![CDATA[sistem pewarisan patrilineal]]></category>
		<category><![CDATA[Suharto]]></category>
		<category><![CDATA[suku]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatra Barat]]></category>
		<category><![CDATA[tanah Batak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://moendg07.wordpress.com/?p=799</guid>
		<description><![CDATA[Saudara AOP yang orang Batak memberi tanggapan berikut ini mengenai tulisan-tulisan saya di blog ini.
Kepada Yang Terhormat Uni Vara Jambak,
Saya orang batak toba, protestan, lahir di Pulau Jawa. Saya sungguh salut pada kemampuan menulis Anda!

Setelah membaca artikel anda, saya jadi ingin berbagi sedikit tentang pandangan saya yang mungkin mewakili banyak orang batak toba khususnya yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saudara AOP yang orang Batak memberi tanggapan berikut ini mengenai tulisan-tulisan saya di blog ini.</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><em>Kepada Yang Terhormat Uni Vara Jambak,</em></span></p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><em>Saya orang batak toba, protestan, lahir di Pulau Jawa. </em><em>Saya sungguh salut pada kemampuan menulis Anda!</em></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><em>Setelah membaca artikel anda, saya jadi ingin berbagi sedikit tentang pandangan saya yang mungkin mewakili banyak orang batak toba khususnya yang Protestan/Katolik terhadap orang Minangkabau/Minang atau yang lebih sering disebut: orang Padang (walaupun Padang hanyalah salah satu wilayah yang relatif kecil dibandingkan Provinsi Sumatera Barat).</em></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><em>Pandangan saya pada orang Padang adalah hal-hal yang tak lain merupakan hasil &#8221;doktrinasi&#8221; yang sejak kecil ditanamkan orang tua batak (bahkan secara turun temurun diwariskan juga oleh orang batak kelahiran luar tanah batak), yaitu WASPADA dan kalau perlu JAUHI orang Padang sebab orang Padang itu (butir-butir di bawah ini yang paling sering disebut):</em></span></p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><em>- bengkok</em></span></p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><em> &#8211; fanatik Islam</em></span></p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><em>- mengincar orang batak (apalagi yang non muslim) untuk dijelek-jelekkan dan dijatuhkan, misalnya lewat isu agama atau isu-isu kejelekan etnis lainnya.</em></span></p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><em>- persahabatannya tergantung ekonomi/duit</em></span></p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><em>Hampir tak ada orang Padang yang hadir dalam sanubari orang Batak tanpa disertai rasa curiga. Kalaupun ada, paling orangnya adalah Proklamator kita, Bung Hatta, tapi kalau yang lainnya, tunggu dulu. Pandangan orang batak terhadap orang Padang sangat berbeda dibandingkan terhadap orang Jawa walaupun yang paling punya andil besar dalam rusaknya Indonesia masih orang Jawa juga.</em></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><em>Saya yakin Uni Vara Jambak pasti pernah tahu akan hal ini.</em></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><em>Nah, bolehkah saya tahu pandangan Uni Vara Jambak akan fenomena pada orang batak ini dan kalau boleh apa pandangan Uni pada orang batak?</em></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><em>Terima kasih dan mohon maaf sebelumnya jika ada yang tersinggung.</em></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><em>Salam.</em></span></p>
<p style="text-align: justify;">Pertama-tama, Uni ingin katakan, agar lebih baik sejak saat ini kita tidak usah mengatakan maaf apabila kita mengatakan orang <em><span style="color:#ff0000;">Batak</span></em>, orang <span style="color:#ff0000;"><em>Minang</em></span>, orang <span style="color:#ff0000;"><em>Jawa</em></span>, dll. Tidak usah dipikirkan soal jargon atau tuduhan-tuduhan seperti  &#8220;<span style="color:#ff0000;"><em>SARA</em></span>&#8220;, <span style="color:#ff0000;"><em>rasis</em></span> dan lain-lain. Minang, Jawa, Batak, Inggris, Kristen, Islam dan lain-lain adalah budaya. Kritik terhadap budaya tidak sama dengan <span style="color:#ff0000;"><em>rasisme</em></span> atau &#8220;<span style="color:#ff0000;"><em>SARA</em></span>&#8221; yang mempunyai konotasi menjelek-jelekkan. Kritik terhadap suku bangsa tertentu tidak lantas berarti &#8220;<span style="color:#ff0000;"><em>rasisme</em></span>&#8220;. Kalau kita berbicara mengenai ras, maka baik orang Minang, Batak maupun Jawa sebenarnya berasal dari ras yang sama, yaitu <span style="color:#ff0000;"><em>Asia</em></span> dan lebih spesifik lagi, <span style="color:#ff0000;"><em>Austronesia</em></span> yang sebagian sudah bercampur dengan orang dari ras <span style="color:#ff0000;"><em>Melanesia</em></span> yang sudah mendiami Bumi Indonesia ini sebelumnya, ditambah dengan orang India, orang Arab, orang Cina dan lain-lain yang datang kemudian. Perbedaan daripada kebudayaan dari masing-masing suku bangsa di Indonesia tidak saja diakibatkan oleh tempat tinggal yang berjauhan, akan tetapi juga diakibatkan dari pengaruh-pengaruh budaya lainnya yang masuk ke Bumi Indonesia lewat pendatang-pendatang dari berbagai belahan dunia, dan seberapa kuat budaya tersebut menggantikan budaya sebelumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Mengenai <span style="color:#ff0000;"><em>fasisme Jawa</em></span> atau <span style="color:#ff0000;"><em>Jawaisme</em></span> itu, kita tidak usah sungkan-sungkan lagi untuk membahas hal tersebut karena hal itu nyata dan memang terjadi. Kritik budaya harus dilakukan, baik dari pihak Jawa maupun bukan Jawa, karena hal tersebut melibatkan nyawa dan kehidupan puluhan juta orang, sama seperti bentuk-bentuk <span style="color:#ff0000;"><em>fasisme</em></span> di dunia lainnya seperti <span style="color:#ff0000;"><em>fasisme Inggris</em></span>, <span style="color:#ff0000;"><em>fasisme Jerman</em></span> maupun <span style="color:#ff0000;"><em>fasisme Islam</em></span>.  Sebagai seorang peneliti mengenai budaya <span style="color:#ff0000;"><em>Minangkabau</em></span> Uni tahu banyak sekali kata-kata makian atau cacian yang ditujukan terhadap <span style="color:#ff0000;"><em>orang Padang</em></span> (atau lebih tepatnya <span style="color:#ff0000;"><em>orang Minang</em></span>). Uni akan bahas pada postingan berikutnya tentang serangan-serangan terhadap orang Minang ini, karena ada banyak sekali. Terutama yang menyangkut budaya orang Minang yang <span style="color:#ff0000;"><em>matriarkat</em></span>. Serangan itu bahkan kerap langsung ditujukan kepada Uni yang merupakan orang Padang (orang Minang). Untuk kali ini Uni akan bahas mengenai pendapat yang beredar di kalangan <span style="color:#ff0000;"><em>orang Batak</em></span>. Serta pendapat Uni mengenai orang Batak secara umum.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span style="color:#ff0000;"><em>Padang </em></span>sebagai kata atau nama sebenarnya tidak hanya milik orang Minang saja melainkan milik orang Batak atau orang-orang Sumatra lainnya. Di Sumatra banyak kota atau tempat yang bernama &#8220;Padang&#8221; atau diawali dengan Padang seperti <span style="color:#ff0000;"><em>Padang Sidempuan</em></span>, ataupun kota Padang di <span style="color:#ff0000;"><em>Sumatra Barat</em></span>. Padang sendiri sebagai kata berarti tempat yang luas dan terbuka seperti dalam kata padang rumput. Kata lain adalah alat pemangkas yang berbentuk bengkok atau arit (Jawa) seperti dalam lambang kelompok <span style="color:#ff0000;"><em>komunis </em></span>yaitu <span style="color:#ff0000;">palu arit</span>. Dari sinilah istilah <span style="color:#ff0000;"><em>padang bengkok</em></span> itu berasal. Adapun sampai kata itu digunakan untuk memberi nama yang jelek pada orang Minang ada beberapa versi. Salah satu yang Uni pikir lebih mewakili kenyataan sebenarnya adalah mengenai orang Belanda yang mencari orang-orang <span style="color:#ff0000;"><em>komunis</em></span> di Sumatra Barat. Yang ditanyakan adalah apakah ada &#8220;padang bengkok&#8221;. Padang bengkok di sini mengacu kepada &#8220;padang yang bengkok&#8221; atau arit dalam lambang kelompok <span style="color:#ff0000;"><em>komunis</em></span>. Jadi, istilah padang bengkok itu sebenarnya mengacu kepada arit (padang bengkok) daripada lambang komunis palu arit, sebagai kata lain untuk &#8220;<span style="color:#ff0000;"><em>orang komunis</em></span>&#8221; di <span style="color:#ff0000;">Minangkabau</span> pada zaman Belanda yang dianggap sebagai perusuh. Dan memang, pada zaman <span style="color:#ff0000;"><em>pergerakan komunis</em></span> dulu <span style="color:#ff0000;"><em>orang Minang </em></span>sangat aktif sampai ke tingkat desa.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Cerita ini yang paling bisa dipercaya karena hanya kata Padang tidak berarti orang Minang, karena bahasa Indonesia menggunakan kata &#8220;orang&#8221; ditambah dengan kata keterangan darimana orang itu berasal seperti orang Padang, orang Batak, orang Jawa dan lain-lain ketika yang dimaksud adalah orang dan bukan benda. Kata Padang yang berdiri sendiri berarti padang dalam artian tempat atau dalam artian alat pemangkas. Dalam sejarah <span style="color:#ff0000;"><em>Bahasa Melayu</em></span>, Minangkabau atau <span style="color:#ff0000;"><em>Bahasa Indonesia</em></span> yang merupakan bahasa serumpun, hanya kata Padang tidak pernah dipakai untuk menggantikan orang Minang. Akan selalu dikatakan orang Padang, atau <span style="color:#ff0000;"><em>orang Padang Sidempuan</em></span>. Kata &#8220;orang&#8221; tidak pernah lepas. Orang Minang sendiri hanya menggunakan istilah &#8220;orang Padang&#8221; agar tidak repot menjelaskan bahwa Padang adalah sebagian kecil saja daripada <span style="color:#ff0000;"><em>ranah Minang</em></span>. Jadi bisa disimpulkan bahwa penggunaan ini berasal dari orang yang tidak benar-benar mengenal <span style="color:#ff0000;"><em>bahasa Melayu/Minang/Indonesia</em></span> atau tidak bisa berbahasa Indonesia yang benar atau yang bermaksud melecehkan.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Mengenai pendapat orang Batak bahwa orang Minang sebagai  orang Islam yang fanatik, kemungkinan itu berasal pada saat berkobarnya penyerangan <span style="color:#ff0000;"><em>kelompok Islam fanatik</em></span> yang melakukan pembantaian terhadap orang Minang di daerah <span style="color:#ff0000;"><em>Sumatra Barat</em></span> yang akhirnya juga merambat ke daerah orang Batak dengan bantuan orang Batak tentunya. Tapi memang mereka asalnya dari &#8220;orang-orang Minang&#8221; yang fanatik yang awalnya bertujuan untuk menghapuskan budaya Minang dan menggantinya dengan Islam versi Arab Saudi pada waktu itu yang dikenal sebagai <span style="color:#ff0000;"><em>Islam Wahabi</em></span>. Jadi dalam hal ini baik orang Minang maupun orang Batak adalah korban daripada kelompok orang fanatik ini. Tapi hendaklah tidak dilupakan bahwa para pemimpin perang yang menggila di tanah Batak juga banyak diantaranya adalah orang Batak yang telah memeluk <span style="color:#ff0000;"><em>Islam Wahabi</em></span> ini. Hal seperti ini memang kisah menyedihkan yang terjadi dibanyak tempat di dunia yang berkenaan dengan serangan kelompok agama kepada orang-orang yang dianggap &#8220;tidak beragama yang benar&#8221;. Tapi secara umum, orang Minang tidak dapat dikatakan sebagai orang Islam yang fanatik, karena <span style="color:#ff0000;"><em>ke-Islam-an</em></span> orang Minang itu sendiri selalu dihadapakan dengan perdebatannya dengan <span style="color:#ff0000;"><em>budaya Minang</em></span> yang <span style="color:#ff0000;"><em>matriarkat</em></span> serta dengan ide-ide lainnya sebagai hasil daripada <span style="color:#ff0000;"><em>orang-orang Minang perantauan</em></span>.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Mengenai orang Minang yang mengincar orang Batak untuk dijelek-jelekkan menurut saya ini hanya &#8220;ekses&#8221; daripada kasus di atas, terkait dengan penyerangan kelompok Padri di tanah Batak. Orang Minang sendiri setahu Uni tidak punya kata-kata miring untuk suku-suku lain dan tidak pernah berkata jelek tentang suku-suku yang ada di Indonesia. <span style="color:#ff0000;"><em>Kritik budaya</em></span> memang dilakukan oleh orang Minang terhadap <span style="color:#ff0000;"><em>budaya Jawa</em></span> dan orang Jawa yang merupakan pelaku daripada budaya Jawa. Diskusi-diskusi orang Minang sudah penuh dengan diskusi-diskusi politik, filsafat, budaya, ekonomi dan lain-lain. Orang Minang hampir tidak punya waktu untuk menjelek-jelekkan suku-suku lainnya di Indonesia karena orang Minang tahu bahwa pendahulu-pendahulu mereka berjuang untuk Indonesia, dan itu berarti untuk seluruh suku bangsa di Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Mengenai persahabatan tergantung duit, ini sepertinya memang sudah berlebihan <img src='http://www.varajambak.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Orang Minang yang Uni tahu mendasarkan persahabatan pada hal-hal lain selain uang, karena &#8220;<span style="color:#ff0000;"><em>nilai gengsi</em></span>&#8221; seorang Minang biasanya dilihat dari seberapa jauhnya orang tersebut merantau, keberhasilan dirantau, apa yang telah diperbuat untuk masyarakat banyak, keberhasilan intelektual dan lain-lain. Uang sebagai &#8220;tanda keberhasilan di rantau&#8221; bisa menjadi tolok ukur keberhasilan di rantau, tapi bukan uang itu sendiri yang dianggap penting. Mungkin sudah banyak orang Minang yang berubah sekarang, tapi setahu Uni sebagian besar orang Minang masih seperti itu, kalau kita tidak bisa mengatakan semuanya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Mengenai pendapat Uni mengenai orang Batak, Uni rasa mungkin sama seperti banyak orang Minang lain, yaitu bahwa orang sama seperti orang Minang hanya dengan budaya yang berbeda. Uni pernah dengar hal-hal yang buruk mengenai orang Batak, seperti bahwa orang Batak itu tukang copet atau <span style="color:#ff0000;">kanibal</span>. Mengenai <span style="color:#ff0000;"><em>orang Batak kanibal di zaman dahuku</em></span>, Uni selain pernah mendengar juga pernah membaca dari buku. Budaya <span style="color:#ff0000;"><em>kanibalisme</em></span> itu kemungkinan berasal dari <span style="color:#ff0000;"><em>budaya Hindu Ind</em></span><em><span style="color:#ff0000;">ia</span></em>, sebelum <em><span style="color:#ff0000;">Kristen</span></em> datang dibawa oleh <span style="color:#ff0000;"><em>penjajah Belanda</em></span> ke <span style="color:#ff0000;"><em>tanah Batak</em></span>. Mengenai tukang copet, Uni walaupun pernah dicopet, tapi Uni tidak tahu orang mana yang mencopet. Jadi tidak pernah terfikir benar-benar bahwa orang Batak itu benar &#8220;tukang copet&#8221;. Orang Minang setahu Uni, tidak pernah berfikir buruk terhadap orang dari suku-suku lainnya di Indonesia, karena seperti Uni telah sebut di atas, diskusi-diskusi orang Minang sudah sangat-sangat padat dengan tema-tema lainnya yang lebih menguras daya intelektual seperti<span style="color:#ff0000;"><em> politik</em></span> dan <span style="color:#ff0000;"><em>Islam</em></span> <img src='http://www.varajambak.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Seandainya kita mendengar tentang kata-kata miring tersebut, baik mengenai orang Minang maupun orang dari suku-suku lainnya, maka akan diusahakan ditemukan asal-usulnya. Diskusi orang Minang lebih jujur, tidak hanya membicarakan &#8220;kebaikan&#8221; orang Minang saja, akan tetapi juga banyak kritik terhadap orang Minang sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Uni sendiri ada kawan-kawan orang Batak, tidak ada Uni temukan keanehan dibandingkan dengan teman-teman Uni dari suku-suku lain. Ada orang Batak yang berasal dari Medan, berbicara sudah dengan logat Melayu. Selebihnya Uni kenal nama-nama Batak seperti <span style="color:#ff0000;"><em>Eddy Silitonga dan Viktor Hutabarat</em></span> yang sudah mengeluarkan album lagu Minang dengan gaya Batak <img src='http://www.varajambak.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Uni sebenarnya tidak melihat perbedaan yang mendasar antara orang Minang dan Batak selain budayanya yang <span style="color:#ff0000;"><em>matrilineal</em></span> dan <em><span style="color:#ff0000;">patrilineal</span></em> atau agama mayoritas <span style="color:#ff0000;"><em>Islam</em></span> dan <em><span style="color:#ff0000;">Kristen</span></em>. <span style="color:#ff0000;"><em>Budaya patrilineal Batak</em></span> berasal dari <span style="color:#ff0000;">budaya Hindu</span> ditambah dengan pengaruh <span style="color:#ff0000;"><em>Kristen</em></span><em></em>. Selebihnya, tidak ada perbedaan yang hakiki pada orang Minang dan orang Batak. Rumahnya, bahkan ada baju dan penutup kepala perempuan Minang yang Uni lihat sama dengan baju dan penutup kepala perempuan Batak. Dan banyak lagi hal-hal yang sama lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Orang Batak, Uni lihat masih pada tahap awal dari proses <span style="color:#ff0000;"><em>patriarkalisasi</em></span>. Hanya nilai-nilai <span style="color:#ff0000;"><em>patrilinea</em></span>l (garis keturunan Bapak) dan pewarisan <span style="color:#ff0000;"><em>patrilineal </em></span>(warisan ke anak laki-laki) yang sangat kental. Selebihnya, Uni lihat perempuan Batak, seperti layaknya perempuan Minang sangat mandiri dan dihormati dilingkungan keluarga serta bisa berperan dalam masyarakat tanpa ada hambatan yang berarti dibandingkan dengan masyarakat lainnya yang sudah sangat <span style="color:#ff0000;"><em>patriarkat</em></span> seperti masyarakat Jawa (yang juga tidak bisa kita samaratakan).</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Yang terasa mengganjal di hati Uni ada tiga hal, yaitu soal orang Batak yang banyak menjadi <span style="color:#ff0000;"><em>rentenir</em></span>, <span style="color:#ff0000;"><em>sistem pewarisan patrilineal</em></span> yang sangat ektrim yang memperlihatkan konsep <span style="color:#ff0000;">pemujaan phallus</span> (batang kelamin laki-laki) yang kental, serta profesi pengacara-pengacara Batak sebagai <span style="color:#ff0000;"><em>pengacara Suharto</em></span>.  Mengenai profesi orang Batak sebagai <span style="color:#ff0000;"><em>rentenir</em></span>, Uni saksikan sendiri. Bagaimana sebuah keluarga karena berutang kepada seorang Batak sampai kehilangan rumah dan hidup miskin walaupun jumlah uang yang dipinjam jauh lebih kecil dari nilai rumah. Di pasar-pasar tradisional di Jakarta misalnya, <span style="color:#ff0000;"><em>rentenir-rentenir Batak </em></span>sangat ditakuti tapi juga &#8220;diperlukan&#8221; oleh pada pedagang kecil yang tidak punya modal dan membutuhkan modal berdagang.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Kedua adalah <span style="color:#ff0000;"><em>sistem pewarisan patrilineal</em></span> yang menurut Uni sangat ekstrim. Uni kenal sendiri dengan keluarga Batak yang walaupun mempunyai anak perempuan, tapi tetap mengangkat anak lainnya hanya karena anak tersebut laki-laki untuk diberikan seluruh harta warisan dan untuk meneruskan &#8220;nama keluarga&#8221;. Menurut Uni praktek ini sangat berlebihan, karena merendahkan anak perempaun dalam keluarga dan menunjukkan <span style="color:#ff0000;"><em>pemujaan &#8220;phallus</em></span>&#8221; yang kental. Praktek ini juga menunjukkan bahwa anak kandung sendiri tidak ada artinya hanya karena mereka perempuan, sementara anak orang lain menjadi sangat berharga hanya karena laki-laki (baca: memilki phallus). Menurut Uni konsep ini <span style="color:#ff0000;"><em>absurd</em></span>.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Nama keluarga <span style="color:#ff0000;"><em>Hutabarat</em></span> misalnya tidak akan hilang hanya karena seorang keluarga tidak mempunyai anak laki-laki, karena banyak lagi laki-laki lainnya yang bermarga Hutabarat, dan harta keluarga ini akan lebih bermanfaat apabila dipergunakan oleh keluarga besar dairpada orang itu sendiri. Orang Minang tidak mengenal konsep warisan yang ekstrim seperti itu, karena harta adalah harta seluruh keluarga, yang dikelola oleh pihak perempuan dengan bantuan pihak laki-laki. Bahwa memang <span style="color:#ff0000;"><em>nama suku</em></span> (Batak: marga) diturunkan lewat anak perempuan, tapi tidak ada praktek mengangkat anak perempuan, hanya karena seorang Ibu tidak memiliki anak perempuan, karena sudah ada banyak orang perempuan dalam keluarga besar. Memang <span style="color:#ff0000;"><em>sistem kekeluargaan patriarkal </em></span>yang merupakan keluarga kecil yang terdiri dari hanya Bapak, Ibu dan anak menyebabkan praktek tersebut mungkin. Tapi tetap saja Uni pandang absurd. Hal ini menimbulkan perasaan tidak berharga sebagai perempuan kepada para anak-anak perempuan di dalam keluarga Batak.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Soal anak laki-laki yang lebih bernilai daripada anak perempuan dalam keluarga Batak bisa kita lihat dalam kasus berikut. Ada seorang Ibu Batak yang menangis mengerung-gerung karena anak laki-lakinya yang pertama, karenanya anak yang terpenting, meninggal dunia. Berhari-hari dia mengangis, meraung-raung sampai semua tetangga mendengarnya. Kebetulan tetangga Uni. Hal ini menunjukkan pemujaan yang tak terkira Ibu-Ibu Batak terhadap anak laki-lakinya. Hal ini jelas-jelas mendorong rasa rendah diri sebagai perempuan dalam keluarga Batak yang sangat nyata dan tidak dapat dipungkiri. Bagaimana perasaan anak perempuannya terhadap kenyataan itu, Uni tidak bisa bayangkan. Dalam budaya Minang tidak dikenal pembeda-bedaan anak perempuan dengan anak laki-laki yang ekstrim seperti itu. Karena itu, laki-laki Minangkabau tumbuh menjadi orang yang sangat percaya diri &#8220;walaupun hidup dalam <span style="color:#ff0000;"><em>budaya matriarka</em></span>t&#8221;, karena <span style="color:#ff0000;"><em>budaya matriarkat Minangkabau</em></span> yang mendukung anak-anak baik mereka itu anak perempuan maupun anak laki-laki. Hal ini terlihat daripada peran laki-laki Minang di segala bidang yang menandakan kepercayaan diri yang tinggi. Hal ini tidak bisa dibantah.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Dan yang ketiga, ketika kebanyakan orang Minang menentang<span style="color:#ff0000;"><em> Suharto</em></span>, pengacara-pengacara Batak malah menjadi pengacara Suharto, seperti <span style="color:#ff0000;"><em>Juan Felix Tampubol</em></span><em><span style="color:#ff0000;">on </span></em>dan dan <span style="color:#ff0000;"><em>OC Kaligis</em></span>. Akan tetapi nipun tidak bisa digeneralisasi. Uni banyak kenal juga dengan orang-orang Batak penentang <span style="color:#ff0000;"><em>Suharto</em></span>. Perempuan-perempuan Batak seperti <span style="color:#ff0000;"><em>Ratna Sarumpaet</em></span> dan <span style="color:#ff0000;"><em>Dolorosa Sinaga</em></span> adalah <span style="color:#ff0000;"><em>perempuan-perempuan Batak</em></span> yang masih mencerminkan kekuatan dan kemandirian perempuan-perempuan yang berasal dari Sumatra pada umumnya.  Hubungan orang Minang dengan orang Batak sebenarnya jauh lebih dekat karena budaya yang masih serumpun walaupun &#8220;perbedaan agama&#8221;, daripada dengan orang Jawa yang sudah sangat Hindu sekali. Dan seperti orang Minang yang tidak semuanya Muslim, demikian halnya dengan orang Batak, tidak semua orang Batak Kristen walaupun dicitrakan begitu. Jadi dengan alasan agama dan lain-lain, sebenarnya tidak ada alasan bagi orang Batak untuk tidak berteman dengan orang Minang. Kesan yang Uni tangkap memang bahwa orang Batak lebih suka berteman dengan orang Cina, orang Jawa dan orang Barat. Dengan orang Cina dan orang Barat bisa dimaklumi, karena anggapan mengenai bahwa orang Cina dan orang Barat mewakili &#8220;agama yang sama&#8221;, sedangkan dengan orang Jawa mungkin karena orang Jawa dianggap mewakili &#8220;kelompok ynag berkuasa&#8221; oleh karenanya mungkin dianggap &#8220;lebih beradab&#8221;.</p>
<p class="addtoany_share_save_container">
    <a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?sitename=Vara%20Jambak&amp;siteurl=http%3A%2F%2Fwww.varajambak.com%2F&amp;linkname=Orang%20Batak%2C%20Orang%20Minang%2C%20Orang%20Jawa&amp;linkurl=http%3A%2F%2Fwww.varajambak.com%2F2009%2F02%2F26%2Forang-batak-orang-minang-orang-jawa%2F"><img src="http://www.varajambak.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Save/Bookmark"/></a>

	</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.varajambak.com/2009/02/26/orang-batak-orang-minang-orang-jawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mamak-mamak tidak tahu diuntung-Bagian 1</title>
		<link>http://www.varajambak.com/2009/01/20/mamak-mamak-tidak-tahu-diuntung-bagian-1/</link>
		<comments>http://www.varajambak.com/2009/01/20/mamak-mamak-tidak-tahu-diuntung-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Jan 2009 14:51:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Arab]]></category>
		<category><![CDATA[Arab Saudi]]></category>
		<category><![CDATA[Bunda]]></category>
		<category><![CDATA[Bundo Kanduang]]></category>
		<category><![CDATA[garis bapak]]></category>
		<category><![CDATA[garis ibu]]></category>
		<category><![CDATA[harta pusaka]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Israel]]></category>
		<category><![CDATA[kaum]]></category>
		<category><![CDATA[mafia]]></category>
		<category><![CDATA[Mamak]]></category>
		<category><![CDATA[mamak laki-laki]]></category>
		<category><![CDATA[mamak perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat Yahudi]]></category>
		<category><![CDATA[matrilineal]]></category>
		<category><![CDATA[matrilinealitas]]></category>
		<category><![CDATA[nenek]]></category>
		<category><![CDATA[Niniak]]></category>
		<category><![CDATA[Niniak Mamak]]></category>
		<category><![CDATA[ninik mamak]]></category>
		<category><![CDATA[Palestina]]></category>
		<category><![CDATA[Partai Komunis Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[patrilinealitas]]></category>
		<category><![CDATA[penguasa fasis Jerman]]></category>
		<category><![CDATA[penguasa Inggris dan AS]]></category>
		<category><![CDATA[PKI]]></category>
		<category><![CDATA[ranah Bundo Kanduang]]></category>
		<category><![CDATA[ranah Minang]]></category>
		<category><![CDATA[rantau]]></category>
		<category><![CDATA[rapat agung]]></category>
		<category><![CDATA[Syech Achmad Chatib]]></category>
		<category><![CDATA[tanah kaum]]></category>
		<category><![CDATA[tanah Palestina]]></category>
		<category><![CDATA[tanah pusaka]]></category>
		<category><![CDATA[tanah ulayat]]></category>
		<category><![CDATA[Uni Sabina Lucia]]></category>
		<category><![CDATA[Yahudi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://moendg07.wordpress.com/?p=724</guid>
		<description><![CDATA[Ternyata selain masalah matrilinealitas (keturunan dari garis ibu) dan &#8220;warisan&#8221; (baca: harta bersama kaum), ulah-ulah para mamak yang tidak tahu diuntung, merupakan alasan daripada banyak orang Minangkabau untuk &#8220;membenci&#8221; budayanya atau bahkan untuk &#8220;keluar&#8221; dari budaya Bundanya tersebut.
Syech Achmad Chatib adalah contoh orang Minangkabau yang memilih keluar dari budaya Minangkabau dan masuk ke budaya Arab/Islam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ternyata selain masalah <em><span style="color:#ff0000;"><strong>matrilinealitas </strong></span></em>(keturunan dari garis ibu) dan &#8220;warisan&#8221; (baca: harta bersama kaum),<span style="color:#ffcc00;"><em> ulah-ulah para mamak yang tidak tahu diuntung</em></span>, merupakan alasan daripada banyak orang Minangkabau untuk &#8220;membenci&#8221; budayanya atau bahkan untuk &#8220;keluar&#8221; dari budaya Bundanya tersebut.</p>
<p><em><span style="color:#ff0000;"><strong>Syech Achmad Chatib</strong></span></em> adalah contoh orang Minangkabau yang memilih keluar dari budaya Minangkabau dan masuk ke budaya <em><strong><span style="color:#ff0000;">Arab</span></strong>/<span style="color:#ff0000;"><strong>Islam</strong></span></em> dan memilih untuk hidup di <em><span style="color:#ff0000;"><strong>Arab Saudi</strong></span></em> dan tidak kembali lagi ke <span style="color:#ff0000;">ranah Bundo Kanduang</span> karena &#8220;jijik&#8221; dengan budaya <span style="color:#ff0000;">matrilineal</span> dan &#8220;pewarisan&#8221; <span style="color:#ff0000;">matrilineal</span> yang berlaku di <span style="color:#ff0000;">ranah Bundo Kanduang</span>.</p>
<p>Seorang bekas anggota <span style="color:#ff0000;">Partai Komunis Indonesia</span> (<span style="color:#ff0000;">PKI</span>) dan wartawan di masa Sukarno berkuasa menyatakan kebenciannya kepada budaya Minangkabau karena tidak sesuai dengan budaya<strong><span style="color:#ff0000;"> <em>patrilineal</em></span></strong><em> </em>(keturunan dari garis bapak) yang menurutnya merupakan budaya yang &#8220;modern&#8221; yang menjadi dasar acuan <span style="color:#ff0000;">PKI</span> dan karena mamaknya, tambahnya lagi,  bukannya membantunya malah menipunya.</p>
<p>Pernyataan serupa mengenai mamak yang tidak membantu diutarakan oleh <span style="color:#ff0000;">dr. Hardy</span> seperti tertulis dalam tulisan saya terdahulu yaitu <span style="color: #0000ff;"><a href="http://moendg07.wordpress.com/2008/10/10/kebanggaan-orang-minang-di-ranah/"><em>Kebanggaan orang Minang di ranah</em></a></span>. Berikut adalah kutipannya:</p>
<p style="padding-left: 30px;"><span style="color: #0000ff;"><em>seberapa banyak mamak mamak kita yang mengaku kemenakan hanya jika kita berhasil dirantau, tanpa peduli sebelumnya bagaimana keadaan kita, bagaimana perjuangan kita.  menurut uni bagaimana?</em></span></p>
<p><span style="color:#ff0000;">Mamak-mamak</span> yang menjual <em><strong><span style="color:#ff0000;">tanah ulayat</span></strong> </em>(tanah kaum), yang semestinya dikelola oleh pihak perempuan dalam kaum, tanpa izin dari <em><strong><span style="color:#ff0000;">Bundo Kanduang</span></strong></em> dan pihak anggota kaum yang lain adalah kenyataan lain yang harus dihadapi oleh budaya dan orang Minangkabau dan yang menyebabkan berkurangnya kepercayaan kepada budaya mereke sendiri.</p>
<p>Mamak-mamak yang berlaku sewenang-wenang dan kejam terhadap kemenakannya adalah cerita lain lagi yang menambah ketidaksukaan dan kekecewaan orang Minangkabau terhadap para mamak. Yang dimaksud dengan mamak dalam hal ini adalah mamak laki-laki dalam keluarga yang semestinya membantu <em><strong><span style="color:#ff0000;">Niniak</span></strong></em> dan keluarga besar dalam masalah-masalah keluarga besar dan kaum dan melindungi harta keluarga besar/kaum (termasuk didalamnya <em><strong><span style="color:#ff0000;">harta pusaka</span></strong></em>). Mengenai <span style="color:#ff0000;">mamak perempuan</span> bisa dibaca dalam tulisan mengenai <span style="color: #0000ff;"><em><a href="http://moendg07.wordpress.com/2008/12/05/perempuan-minangkabau-sebagai-mamak-dan-penghulu/">Perempuan Minangkabau sebagai Mamak dan Penghulu</a></em></span>.</p>
<p>Berikut adalah kisah <span style="color:#ff0000;">Uni Sabina Lucia</span> mengenai bagaimana para mamak telah menipu dan menjual paksa <span style="color:#ff0000;">tanah ulayat</span>, dan kekecewaannya mengenai hal tersebut. Kisah ini dipostingkan di grup dengan nama <em><strong><span style="color:#ff0000;">Bundo Kanduang </span></strong></em>di facebook.</p>
<p><strong><em><span style="color:#ff0000;">Bunda</span></em></strong>, saya mempunyai seorang nenek asli dari minang kabau yang sejak kecil sampai berangkat tua beliau (alm) tinggal di kampung halamanya. Beliau adalah anak perempuan satu-satunya yang dihasilkan dari kedua orang tuanya.</p>
<p>Kemudian lahir Ibu saya yang juga merupakan anak perempuan satu-satunya dari empat bersaudara. Ibu saya hanya tinggal di kampung semasa kanak-kanak saja, selanjutnya Ibu merantau utk bersekolah dan berkeluarga ke tanah Jawa.</p>
<p>Dari Ibu dan Ayah saya lahirlah saya yang kebetulan juga merupakan anak perempuan satu-satunya dalam keluarga dan saya sekeluarga juga menetap di tanah Jawa.<br />
Alhamdulillah sekarang saya dikaruniai dua anak perempuan dan satu anak laki-laki.</p>
<p><em><strong><span style="color:#ff0000;">Bunda</span></strong></em>, dua tahun sebelum Nenek wafat, beliau ingin menyumbangkan tanahnya untuk keperluan masyarakan . Dari hasil musyawarah dengan <span style="color:#ff0000;">orang yang dituakan </span>dikampung kami dan <span style="color:#ff0000;">ninik mamak-ninik mamak</span> (baca: mamak-mamak laki-laki) yang berada disana maka di putuskan akan didirikan sebuah puskesmas karena kebetulan tanah tersebut berlokasi di tempat yang strategis/pinggir jalan.</p>
<p>Maka pada suatu kesempatan ada upacara <span style="color:#ff0000;">penobatan para ninik ma<span style="color:#ff0000;">ma</span></span><span style="color:#ff0000;">k</span> di kampung kami, kami sekeluarga menyempatkan datang untuk melihat upacara tersebut sekaligus menyerahkan tanah kepada pemerintah daerah. Saya ingat pada saat upacara itu juga , penyerahan tanah dilakukan yang di wakilkan oleh kakak saya yang tertua dengan memberikan sepatah dua patah kata menyampaikan amanah nenek untuk menyerahkan tanah tersebut. Hebat semua hadirin meberikan tepuk tangan applause..</p>
<p><em><strong><span style="color:#ff0000;">Bunda</span></strong></em>, setelah kami kembali ke pulau jawa.. apa yang terjadi?&#8230;.,</p>
<p>Orang yang kami tuakan di kampung kami meninggal dunia.., selanjutnya<br />
Para <span style="color:#ff0000;">ninik mamak</span> (baca: mamak laki-laki) yang sudah memberikan kesaksian dan menyetujui serta menerima tanah <span style="color:#ff0000;">nenek</span> kami untuk keperluan mayarakat, semua berubah haluan !!!!!&#8230;,</p>
<p>Hanya karena iming2 uang dan menurut kabar tanah tersebut bisa di beli oleh siapa (kami tidak jelas), mereka/beberapa <span style="color:#ff0000;">ninik-mamak</span> (baca: mamak laki-laki) mengadakan persekongkolan serta mengadakan pertemuan dan pertemuan (rapat-rapat adat)yang semuanya tidak bisa kami hadiri karena kami di pulau jawa</p>
<p>Mereka menghasut seseorang yang ketika <span style="color:#ff0000;">nenek</span> masih hidup, orang tersebut itu sebetulnya di beri izin tinggal di tanah tersebut hanya untuk mengurus kebun/tanah tersebut saja. Sebetulnya penjaga kebun tersebut sudah menyerahkan kembali kembali hak mengurus tanah kepada nenek kami dan mengatakan terimakasihnya kepada nenek.</p>
<p>Hebatnya dan ajaib sekali, para <span style="color:#ff0000;">n</span><span style="color:#ff0000;"><span style="color:#ff0000;">i</span>nik mamak</span> (baca: mamak laki-laki) bisa merubah dan mempengaruhi pengurus kebun tersebut untuk mengakui bahwa dialah sebenarnya pemilik tanah itu..?!.</p>
<p>Saat itu nenek masih hidup, dan dia sangat sedih serta menyesali sekali perbuatan para <span style="color:#ff0000;">ninik mamak</span> (baca: mamak laki-laki) di kampung kami. Dia merasa sedih karena seumur hidupnya dia dan orang tua serta orang tua dari orang tuanya sudah memiliki ,tinggal dan mengelola tanah tersebut. Dan itu sudah diakui oleh seluruh penduduk isi kampung serta orang2 yang dituakan. Oleh karena itu mereka sangat gembira ketika nenek berniat memberikan tanahnya untuk keperluan mereka disana.</p>
<p>Hanya karena ulah sekelompok <span style="color:#ff0000;">ninik mamak</span> (baca: mamak laki-laki) yang baru-baru ini diangkat saja (atau yang mengangkat dirinya sendiri sebagai mamak), kami sekeluarga merasa sedih, dan orang-orang dikampung kami menjadi sangat kecewa .</p>
<p>Kami mendengar kabar bahwa mereka para <span style="color:#ff0000;">ninik mamak</span> (baca: mamak laki-laki) itu telah menerima uang dari hasil penjualan tanah nenek kami tersebut. ( Innalillahi wa innaillaihi rojiun..).</p>
<p>Sebelum <span style="color:#ff0000;">nenek</span> meninggal karena sedih, saya sempat berucap beliau:</p>
<p style="padding-left:30px;">&#8220;<em><span style="color:#ffcc00;">Apapun yang sudah kita berikan kepada orang lain( dalam hal ini diberikan kepada penduduk kampung kami) adalah bukan milik kita lagi, biarlah itu mungkin sudah Tuhan yang mengaturnya , jangan terlalu dirisaukan karena karena kami telah rela melepaskan dan memberikan tanah itu kepada masyarakat dengan niat agar bisa dipergunakan untuk kebaikan.</span></em>&#8220;</p>
<p>Dan itu bukan milik kita lagi.</p>
<p>Terserah lah para penjarah itu, mereka mereka yang menanam mereka pula yang akan menuainya ( itu sepertinya sudah hukum alam)</p>
<p>Kami keluarga besar dari kampung kami yang tinggal di pulau jawa tentunya kecewa dengan peristiwa itu dan kami sudah sepakat bahwa:</p>
<p>&#8220;Jangan ada <span style="color:#ff0000;">ninik mamak</span> (baca: mamak laki-laki) dari kampung kami datang ke pulau jawa dan minta sumbangan untuk pembangunan Puskesmas diatas tanah yang telah diberikan oleh nenek kami secara sukarela kepada penduduk kampung tersebut &#8221;</p>
<p>&#8220;<em><span style="color:#ffcc00;">Dan kami tidak mengakui lagi ninik mamak kami itu</span></em>&#8221; ( tapi nyatanya dia masih menjadi <span style="color:#ff0000;">ninik mamak </span>(baca: mamak laki-laki) tanpa persetujuan kami yang seharusnya menjadi anak buahnya).</p>
<p>Karena kemudian ternyata kami ketahui tanah tersebut telah diperjual belikan oleh sekelompok orang yang rakus yang di setujui dan &#8220;diatur&#8221; oleh &#8220;<span style="color:#ff0000;">rapat agung</span>&#8221; (baca: rapat-rapat rahasia yang tidak melibatkan pihak-pehak terkait dan sama sekali tidak melibatkan <span style="color:#ff0000;">Bundo Kanduang</span>) para <span style="color:#ff0000;">ninik mamak</span> (baca: mamak laki-laki), demi mendapatkan sedikit uang haram.</p>
<p><strong><em><span style="color:#ff0000;">Bunda</span></em></strong>, sebenarnya masih ada banyak lagi <span style="color:#ff0000;">tanah pusako</span> yang diturunkan kepada nenek dan ibu saya dan menurut mereka akan diturunkan kepada saya dan kedua puteri saya.</p>
<p>Tapi saya rasa saya tidak akan mewariskan budaya adat yang sekarang berlaku dikampung kami kepada kedua puteri saya.</p>
<p>Biarlah puteri kami hidup tenang tanpa mengharapkan atau mendapatkan kekecewaan demi kekecewaan lagi dari kampung halamannya.</p>
<p>Kami yang di <strong><span style="color:#ff0000;"><em>rantau</em></span></strong> toh tidak akan dapat berbuat banyak lagi.</p>
<p><em><strong><span style="color:#ff0000;">Bunda</span></strong></em>, sampai sekarang saya masih trauma kalau mendengar istilah &#8220;<span style="color:#ff0000;">ninik mamak</span> (baca: mamak laki-laki)&#8221;, dan anak saya sendiri pernah berucap &#8220;<em>seperti mafia ya?</em>&#8221;<br />
(aha.. saya sendiri tidak tahu apa arti <span style="color:#ff0000;">mafia</span> itu?)</p>
<p><strong><span style="color:#ffcc00;"><em>Catatan</em>:</span></strong></p>
<p>1. <em>Yang dimaksud dengan <span style="color:#ff0000;">ninik mamak</span> di sini adalah &#8220;pengertian umum&#8221; yaitu kelompok para mamak laki-laki dan bukannya pengertian asalnya yaitu <span style="color:#ff0000;">niniak</span> (para nenek/nenek)~ bersama dengan para mamak/mamak sebagai suatu kesatuan).</em></p>
<p>2. <em>Kisah ini memberi gambaran kepada kita betapa sewenang-wenangnya para mamak laki-laki yang semetinya membantu para Bundo Kanduang dalam mempertahankan harta kaum dan bukannya melakukan penipuan untuk isa menjual paksa tanah kaum tersebut untuk kepentingan pribadi. Kekuasaan mamak laki-laki di ranah Bundo Kanduang tampaknya semakin diperbesar dengan berbagai cara. Dalam hal ini tanah cuma diberikan kepada masyarakat sementara untuk pembangunan puskesmas untuk masyarakat, bukan untuk diperjual belikan.</em></p>
<p>3. <span style="color:#ffcc00;"><em>Permasalahan mengenai tanah ulayat di ranah Minang merupakan permasalahan penting yang memerlukan penanganan yang menyeluruh. Tidak hanya para mamak mengambil tanah ulayat melainkan juga militer (untuk kepentingan bisnis mereka), negara atas nama penguasaan tanah, perusahaan swasta dengan bantuan pemerintah dan lain-lain</em></span><em>. Ketika <span style="color:#ff0000;">masyarakat Yahudi </span>harus terhina karena diusir terus-menerus dari daerah manapun mereka tinggal, sampai peristiwa pembantaian besar-besaran di Jerman dan negara-negara lain di Eropa oleh <span style="color:#ff0000;">penguasa fasis Jerman</span>, sampai dijanjikan <span style="color:#ff0000;">negara Israel</span> di <span style="color:#ff0000;">tanah Palestina</span> oleh <span style="color:#ff0000;">penguasa Inggris dan AS</span> karena tidak mempunyai ranah Bundo Kanduang, seharusnya orang Minangkabau berfikir mengenai perjuangan para <span style="color:#ff0000;">Bundo Kanduang</span> untuk mempertahankan <span style="color:#ff0000;">tanah ulayat</span> agar tidak diperjualbelikan, agar supaya kaum selalu memiliki kampung halaman kemana mereka bisa pulang sejauh apapun mereka pergi merantau dan bukannya memberikan kekuasaan kepada penipu-penipu yang bernama mamak (laki-laki) untuk membuat orang Minangkabau di suatu saat tidak lagi memiliki ranah untuk pulang, seperti masyarakat Yahudi. Masyarakat Yahudi sekarang &#8220;memiliki ranah Bundo Kanduang, tapi sebagai imbalannya harus terus-menerus berperang dengan negara-negara Arab dan harus pula dinistakan oleh orang-orang dari seluruh dunia.</em></p>
<p>4. <em><span style="color:#ff0000;">Uni Sabina Lucia</span> adalah seorang <span style="color:#ff0000;">Bundo Kanduang</span> lulusan dari <span style="color:#ff0000;">Universitas Salzburg </span>di Austria dalam bidang Hotel dan Pariwisata dan sekarang mengasuh blog <a href="http://dapursabina.blogspot.com/"><span style="color:#ff0000;">Dapur Sabina</span></a> yang membahas mengenai aneka resep masakan. Sangat cocok untuk para mahasiswa dan mahasiswi yang hidup di kos-kosan ataupun para pekerja kantoran yang ingin memasak dengan cepat dan murah meriah.</em></p>
<p class="addtoany_share_save_container">
    <a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?sitename=Vara%20Jambak&amp;siteurl=http%3A%2F%2Fwww.varajambak.com%2F&amp;linkname=Mamak-mamak%20tidak%20tahu%20diuntung-Bagian%201&amp;linkurl=http%3A%2F%2Fwww.varajambak.com%2F2009%2F01%2F20%2Fmamak-mamak-tidak-tahu-diuntung-bagian-1%2F"><img src="http://www.varajambak.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Save/Bookmark"/></a>

	</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.varajambak.com/2009/01/20/mamak-mamak-tidak-tahu-diuntung-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
