<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Vara Jambak &#187; Matriarchaat</title>
	<atom:link href="http://www.varajambak.com/topics/matriarchaat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.varajambak.com</link>
	<description>On Minangkabau, matriarchy, Islam, patriarchy, politics and culture</description>
	<lastBuildDate>Wed, 28 Jul 2010 14:34:35 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<!-- podcast_generator="podPress/8.8" -->
		<copyright>&#xA9; </copyright>
		<managingEditor>vjambak@varajambak.com ()</managingEditor>
		<webMaster>vjambak@varajambak.com()</webMaster>
		<category></category>
		<itunes:keywords></itunes:keywords>
		<itunes:subtitle></itunes:subtitle>
		<itunes:summary>On Minangkabau, matriarchy, Islam, patriarchy, politics and culture</itunes:summary>
		<itunes:author></itunes:author>
		<itunes:category text="Society &amp; Culture"/>
		<itunes:owner>
			<itunes:name></itunes:name>
			<itunes:email>vjambak@varajambak.com</itunes:email>
		</itunes:owner>
		<itunes:block>No</itunes:block>
		<itunes:explicit>no</itunes:explicit>
		<itunes:image href="http://www.varajambak.com/wp-content/plugins/podpress/images/powered_by_podpress_large.jpg" />
		<image>
			<url>http://www.varajambak.com/wp-content/plugins/podpress/images/powered_by_podpress.jpg</url>
			<title>Vara Jambak</title>
			<link>http://www.varajambak.com</link>
			<width>144</width>
			<height>144</height>
		</image>
		<item>
		<title>Masyarakat Aceh ternyata matriarkal</title>
		<link>http://www.varajambak.com/2009/04/21/masyarakat-aceh-ternyata-matriarkal/</link>
		<comments>http://www.varajambak.com/2009/04/21/masyarakat-aceh-ternyata-matriarkal/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Apr 2009 23:02:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Matriarchaat]]></category>
		<category><![CDATA[Matriarchy]]></category>
		<category><![CDATA[Cut Nyak Dien]]></category>
		<category><![CDATA[GAM]]></category>
		<category><![CDATA[Gerakan Aceh Merdeka]]></category>
		<category><![CDATA[gerakan separatis Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[Laksamana Malahayati]]></category>
		<category><![CDATA[matriarkat]]></category>
		<category><![CDATA[matrilineal]]></category>
		<category><![CDATA[Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[patriarkat]]></category>
		<category><![CDATA[Pramudya Ananto Tour]]></category>
		<category><![CDATA[Samudra Pasai]]></category>
		<category><![CDATA[Sultanah Inayatsah]]></category>
		<category><![CDATA[syariat Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.varajambak.com/?p=1157</guid>
		<description><![CDATA[


Masyarakat Aceh ternyata adalah masyarakat matriarkat. Hal ini dinyatakan oleh para wartawan asing atau orang-orang asing yang terlibat dengan masyarakat Aceh pasca Tsunami.  Tentu saja mereka tidak menyatakan bahwa masyarakat Aceh adalah masyarakat matriarkat melainkan masyarakat &#8220;matrilineal&#8220;, dikarenakan istilah matriarkat memang masih sering disalahartikan dan masih menemui perlawanan di dunia Barat. Sebaliknya, istilah masyarakat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:center;margin: 12px;"><script type="text/javascript"><!--
google_ad_client = "pub-4808480940768749";
/* 468x60, created 4/9/09 */
google_ad_slot = "2872038909";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//-->
</script>
<script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js">
</script></div><p style="text-align: justify;">Masyarakat Aceh ternyata adalah masyarakat <em><span style="color: #ff0000;">matriarkat</span></em>. Hal ini dinyatakan oleh para wartawan asing atau orang-orang asing yang terlibat dengan masyarakat Aceh pasca Tsunami.  Tentu saja mereka tidak menyatakan bahwa masyarakat Aceh adalah masyarakat <em><span style="color: #ff0000;">matriarkat</span></em> melainkan masyarakat &#8220;<em><span style="color: #ff0000;">matrilineal</span></em>&#8220;, dikarenakan istilah <em><span style="color: #ff0000;">matriarkat</span></em> memang masih sering disalahartikan dan masih menemui perlawanan di dunia Barat. Sebaliknya, istilah masyarakat &#8220;<em><span style="color: #ff0000;">matrilineal</span></em>&#8221; dan istilah-istilah lainnya lebih disukai, karena hanya menekankan pada satu pokok pemahaman saja, yaitu hanya mengenai garis keturunan.</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang penterjemah Indonesia di Berlin yang bekerja untuk kelompok-kelompok yang membantu korban Tsunami di Aceh dan yang juga mengetahui mengenai keberadaan masyarakat <em><span style="color: #ff0000;">matriarkat</span></em> di Indonesia seperti masyarakat <em><span style="color: #ff0000;">Minangkaba</span><span style="color: #ff0000;">u</span></em>, juga menyatakan hal yang sama. Masyarakat Aceh adalah masyarakat <em><span style="color: #ff0000;">matriarkat</span></em>, demikian pernyataan penterjemah tersebut. Hal ini ia ketahui dari data-data korban Tsunamai yang menyangkut masalah tanah milik masyarakat. Sang penterjemah, seorang perempuan Jawa yang mengambil studi sastra Jerman di Berlin ini menyatakan bahwa dari hasil pembicaraannya dengan beberapa laki-laki korban Tsunami diketahui bahwa tanah-tanah yang dianggap milik bapak-bapak tersebut ternyata adalah milik sang istri dan keluarga daripada sang istri.</p>
<p style="text-align: justify;">Selama ini, kabar-kabar ataupun berita-berita dari Aceh hanya berkisar pada hal-hal bombastis yang cocok untuk makanan media seperti &#8220;<em><span style="color: #ff0000;">gerakan separatis Aceh</span></em>&#8220;, <em><span style="color: #ff0000;">Gerakan Aceh Merdeka </span></em>(<em><span style="color: #ff0000;">GAM</span></em>), kesultanan <em><span style="color: #ff0000;">Samudra Pasai</span></em>, penerapan <em><span style="color: #ff0000;">syariat Islam </span></em>di Aceh, sumber minyak yang menjadi sumber penderitaan rakyat Aceh, dan lain-lain berita serupa. Mengenai tatanan dan budaya masyarakat Aceh tidak begitu sering dibahas. Sebenarnya, dari cerita-cerita mengenai <em><span style="color: #ff0000;">Cut Nyak Dien</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Laksamana Malahayati</span></em>, perlawanan rakyat Aceh terhadap penindasan, ratu-ratu Aceh (sultanah-sultanah Aceh) seperti <em><span style="color: #ff0000;">Sultanah Inayatsah</span></em>, dan perempuan-perempuan Aceh lainnya yang bermental kuat dan mandiri, sudah terbaca bahwa masyarakat Aceh masih menganut <em><span style="color: #ff0000;">matriarkat</span></em>. Seorang <em><span style="color: #ff0000;">Cut Nyak Dien</span></em>, <em><span style="color: #ff0000;">Laksamana Malahayati</span></em> dan <em><span style="color: #ff0000;">Sultanah Inayatsah</span></em> tidak akan lahir dari budaya <em><span style="color: #ff0000;">patriarkat</span></em> yang memang merendahkan, melecehkan dan meminggirkan perempuan. Sultanah-sultanah atau ratu-ratu dalam kerajaan-kerajan dunia yang berdasarkan agama-agama manapun sulit untuk bisa muncul, karena ranah kekuasaan yang memang bersifat &#8220;maskulin&#8221;. Sifat perlawanan orang Aceh akan penindasan, yang dipuji-puji oleh seorang <em><span style="color: #ff0000;">Pramudya Ananta Tour</span></em> sebagai &#8220;mempunyai keberanian individu&#8221;, adalah sifat orang-orang atau individu-individu yang berasal dari masyarakat matriarkat yang tidak bisa menerima penindasan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sayangnya, lewat Tsunami, kepemilikan tanah masarakat di Aceh mengalami perubahan yang signifikan. Menurut wartawan asing yang berkecimpung dalam masalah Aceh, kepemilikan tanah menjadi permasalahan, karena umumnya pemilik aslinya tidak bisa lagi memiliki tanah tersebut dan pengaturannya lebih terarah kepada pemilikan pribadi dan tidak lagi merupakan pemilikan bersama kaum yang berdasarkan tatanan masyarakat <em><span style="color: #ff0000;">matrilineal</span></em>.</p>
<p class="addtoany_share_save_container">
    <a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?sitename=Vara%20Jambak&amp;siteurl=http%3A%2F%2Fwww.varajambak.com%2F&amp;linkname=Masyarakat%20Aceh%20ternyata%20matriarkal&amp;linkurl=http%3A%2F%2Fwww.varajambak.com%2F2009%2F04%2F21%2Fmasyarakat-aceh-ternyata-matriarkal%2F"><img src="http://www.varajambak.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Save/Bookmark"/></a>

	</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.varajambak.com/2009/04/21/masyarakat-aceh-ternyata-matriarkal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
